Sosok Dalang Agung Magetan, Dalang Gaul Pengidola Puntadewa dan Baladewa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Dalang Agung,Magetan,Dalang Gaul,Puntadewa,Baladewa,Anies Baswedan
Dalang Ki Agung Budi Dewanto saat mendalang /Foto: Kabar Panekan Channel

SANTRI KERTONYONO – Mungkin banyak orang yang kecele. Apalagi kalau ageman (kostum) dalang wayang kulit sudah dikenakan. Siapa yang mengira, ternyata usianya masih muda. Bahkan tiga puluh tahun saja belum sampai. Begitulah Agung Budi Dewanto, dalang asal Magetan, Jawa Timur.

Saya masih 26 tahun lho mas. Kelahiran 1996,” kata Agung sembari tertawa. Mas Dalang Agung, begitu ia akrab disapa. Namun tak sedikit penikmat wayang kulit Magetan memanggilnya: Ki Dalang Agung. Ki yang berasal dari kata Aki adalah sebutan untuk laki-laki tua di Jawa.

Dan sudah menjadi tradisi di pewayangan. Seorang dalang, kata Agung selalu mendapat posisi dituakan atau disepuhkan. Selalu dianggap paling tua meski secara usia lebih muda dibanding sinden maupun para penabuh gamelannya. “Dan usia saya paling muda dibandingkan yang lain,” ungkapnya.

Perawakan Agung sedang. Tak gemuk, juga tidak kurus. Saat tidak sedang mendalang, penampilan hariannya serupa pemuda pada umumnya. Kaos oblong dipadu celana pendek. Mungkin untuk melengkapi penampilannya yang gaul, di saat ndalang sebuah anting kerap menghiasi daun telinganya.

Agung merupakan salah satu dalang wayang kulit Magetan yang lagi moncer. Rekam jejaknya sebagai dalang tak diragukan. Sebelum terjun sebagai pekerja seni profesional, Agung membekali diri dengan sejumlah prestasi. Pada tahun 2017 ia menyabet penghargaan sebagai dalang terbaik.

Penghargaan itu diraih Agung dalam ajang festival dalang yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pada tahun 2018, di acara festival tingkat Pulau Jawa, ia kembali dinobatkan sebagai dalang terbaik di Jawa. “Tahun 2019 karena ada kendala tekhnis, festival tingkat nasional gagal dilaksanakan,” katanya.

Nama Agung tidak hanya tersohor di Magetan. Namanya juga populer di Madiun, Ngawi, Ponorogo dan sekitarnya. Jam terbangnya juga lumayan tinggi. Seorang pengusaha tambang asal Ngawi, belum lama ini mengundangnya pentas di Kalimantan. “Sejauh ini tanggapan paling jauh di Kalimantan,” terangnya.

Saat ini Agung juga terlibat aktif dalam road show pentas wayang kulit di wilayah Kabupaten Magetan. Pentas seni budaya yang masih berlangsung ini digelar oleh Komunitas Pelestari Seni Budaya Nusantara (KPSBN) bersama Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia).

Acara kebudayaan ini mengusung tema “Merajut Kearifan Lokal Membangun Jati Diri Bangsa”. KPSBN merupakan komunitas orang-orang yang peduli dengan seni budaya peninggalan leluhur nusantara. KPSBN berdiri sejak tahun 2015 dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai pembinanya.

Para dalang sangat berterima kasih dengan Pak Anies Baswedan. Acara yang digelar KPSBN sangat membantu dalang beserta krunya, mengingat sebelumnya banyak yang mati suri karena hantaman pandemi Covid-19,” tuturnya.

Dalang Agung,Magetan,Dalang Gaul,Puntadewa,Baladewa,Anies Baswedan
Dalang Ki Agung Budi Dewanto /Foto: Istimewa

Lahir di Atas Panggung

Terlahir di Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Agung tumbuh dari lingkungan keluarga seni. Ayahnya seorang dalang wayang kulit asli Magetan. Sedangkan ibunya yang berasal dari Ngawi, seorang sinden. Dalam bekerja ibunya selalu bertandem dengan ayahnya.

Agung mengenal wayang sejak usia dini (Paud). Sejak memori ingatannya bisa merekam, ia mengaku sudah menggumuli wayang. “Saya selalu ikut bapak sejak kecil. Kemanapun bapak pentas (ndalang) saya selalu ikut. Kadang sampai tertidur di belakangnya,” kenang Agung.

Seiring bertambahnya usia, kesenangan Agung terhadap wayang kulit makin menjadi-jadi. Ketika para bocah seusianya asyik bermain kelereng, ia memilih bercengkrama dengan wayang-wayang. Bahkan di usia dini itu, ia sudah mulai menghafal lakon wayang.

Usia 9 tahun saya sudah noto (menata) wayang atau menjadi penyumping untuk bapak,” tambahnya.
Darah seni yang mengalir di tubuhnya memang datang dari kedua orang tuanya. Kendati demikian, semua itu kata Agung tak lepas dari peristiwa kelahirannya. Ia mendapat cerita kalau dirinya nyaris mbrojol (lahir) di atas panggung. Lahir di atas panggung dalam arti yang sesungguhnya.

Ceritanya, saat hamil tua mengandung dirinya, sang ibu masih juga manggung. Saat itu di wilayah Plaosan, di mana ayahnya sedang ada tanggapan wayang. “Ibu saya tetap nyinden, dan seperti biasa dalangnya bapak,” tutur Agung.

Di tengah pentas, gejala melahirkan itu tiba-tiba datang. Tidak hanya serangan rasa mules di perut. Air ketuban bahkan sudah kececeran. Situasi pun sontak gaduh. Ibunya langsung dinaikkan ke atas becak, dan dilarikan ke tempat persalinan.

Tak berlangsung lama, tangis bayi pun pecah. Bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Agung Budi Dewanto itu, lahir.“Jadi saya ini nyaris lahir di atas panggung wayang. Bukan sebagai kiasan, tapi dalam arti sebenarnya,” ungkap Agung.

Mulai umur 12 tahun, Agung menimba ilmu di sanggar pedalangan Ngawi. Waktu itu, dan bahkan hingga hari ini, soal wayang kulit, utamanya pedalangan, Ngawi memang paling maju. Lebih maju dibanding Magetan dan Madiun. Agung ngangsu ilmu pedalangan sampai lulus SMP.

Sebelum masuk sanggar, pada waktu kelas 5 SD, Agung sudah beberapa kali memainkan wayang di atas panggung. Di sela-sela pentas, terutama saat lakon wayang sudah mau berakhir, ayahnya sering memberinya kesempatan memainkan wayang. Biasanya adegan perang, di mana penonton mulai sepi.

Ayo ngganteni perang, kata bapak saat itu. Biasanya sekitar jam 3 dini hari saat penonton mulai sepi,” ungkap Agung mengenang perjalanannya menjadi seorang dalang.

Selama 2-3 tahun Agung belajar sabetan, yakni adegan perang wayang kulit. Kemudian juga mendalami jejeran, suluk, limbukan, termasuk bagaimana mengolah dialog menjadi menarik sekaligus kontekstual.

Sebab penonton wayang kulit terbagi atas klaster penyuka limbukan, suluk serta sabetan. Dan wayang kulit merupakan seni penokohan.“Karenanya setiap dalang wayang kulit selalu punya cara menjaga penonton agar tidak bubar. Dan itu terkait dengan jam terbang,” tambahnya.

Pada saat naik kelas 3 SMP, Agung resmi ditahbiskan sebagai dalang wayang kulit. Istilah orang Jawa: gebyakan atau udar gelung. Agung pertama kalinya berpentas di depan banyak penonton, di mana pagelarannya berlangsung di rumahnya.

Agung ngugemi (memegang) pesan bapaknya. Sebagai dalang ia harus selalu menjaga kualitas, yakni mulai dari dirinya sendiri, sinden, gamelan beserta penabuhnya, harus dijaga.

Pada tahun 2012 Agung pertama kali ditanggap secara profesional. Ia menerima honor Rp 11 juta, sementara bandrol ayahnya saat itu sekitar Rp 25juta-30 juta. “Pesan bapak, ojo ndalang disik nek durung apik tenanan (jangan ndalang dulu sebelum bagus betulan),” terang Agung.

Seperti halnya kebanyakan para penikmat wayang. Seorang dalang juga memiliki lakon favorit serta tokoh idolanya sendiri. Agung mengaku mengidolakan Prabu Baladewa. Bagi bapak satu anak ini, Baladewa memiliki watak kstaria sejati.

Baladewa memang dikenal temperamental: berwatak keras, omongannya blak-blakan, das –des, blokosutho, dan sekaligus pemarah. Namun amarah yang diluapkan kakak Sri Kresna itu selalu untuk membela kebenaran.
“Marahnya Baladewa pada tempatnya. Kalau salah, langsung mengakui kesalahanya,” terangnya. Dalang Agung juga mengagumi watak Puntadewa, sulung dari Pandawa. Puntadewa yang memiliki arti pusat keluhuran adalah seorang pemimpin yang pemikir sekaligus berbudi pekerti luhur.

Puntadewa tak pernah bermusuhan dengan siapapun. Meski sering didzalimi, difitnah, disudutkan, dan bahkan dibunuh karakternya oleh Kurawa, Puntadewa tak pernah menganggapnya sebagai musuh. Hatinya senantiasa baik, pikirannya selalu positif.

Karenanya di pewayangan Mahabarata, Puntadewa atau Yudisthira memiliki nama lain Anjoto Satru, yang berarti tidak pernah punya musuh. “Dan pemimpin saat ini yang memiliki watak seperti Puntadewa adalah Pak Anies (Anies Baswedan),” pungkasnya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

SERING DIBACA

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: