Seni Taledek, Pesona Ritual Sakral Masyarakat Agraris Magetan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Seni Taledek Magetan
Salah satu warga sedang melakukan seni taledek /Foto: Nanang Diyanto-kompasiana

SANTRI KERTONYONO – Kesenian Taledek atau seni Taledek merupakan hiburan tradisional masyarakat Jawa yang menampilkan sinden dengan iringan gamelan Jawa. Sepanjang pertunjukkan taledek, sinden melatunkan tembang Jawa.

Sinden tak sendiri. Terpikat oleh pesona sinden, sejumlah lelaki terundang untuk bersolah tari dengannya. Beksan. Begitu sebutan untuk para laki-laki yang hasratnya terpanggil untuk menari di dekat sinden.

Sudah menjadi tradisi taledek. Di sela “mabuk kepayang”, seorang beksan mengulurkan saweran. Dulu, diiringi tawa puas, uang saweran diselipkan ke balik lipatan kemben penutup dada sinden.

Dalam perjalanan waktu, beksan cukup meletakkan saweran ke dalam wadah atau baskom yang telah disediakan. Hingga kini tradisi taledekan masih berlaku di kehidupan sosial warga Desa Lembeyan Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Terutama saat memasuki musim tanam, khususnya saat musim hujan tak kunjung datang. Warga Lambeyan menggelar seni taledekan. Begitu juga pada saat bulan suro atau hari jumat legi.

Sebagian besar warga meyakini musibah akan datang jika seni taledekan ditiadakan. Warga percaya, taledekan akan berpengaruh pada mampetnya aliran sungai di desa atau hasil panen yang berkurang.

Nungky Iwana dan Muhammad Hanif dalam jurnal “Kesenian Taledek dalam Upacara Minta Hujan di Lembeyan Magetan (Kajian Nilai Budaya dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah)” (2019), menyebut padi di Magetan merupakan sumber penghasilan utama masyarakat.

Selain memiliki berharga jual tinggi, padi juga dapat disimpan lama. Padi merupakan tanaman yang membutuhkan banyak air. Saat terjadi musim yang tidak menentu para petani mulai cemas, termasuk mengkhawatirkan kualitas panen.

Berangkat dari ketergantungan alam itu, masyarakat merawat tradisi seni Taledek. Dalam perkembangannya tidak hanya semata meminta hujan, tapi juga mewariskan tradisi peninggalan leluhur.

Nilai Seni Taledek

Masyarakat Desa Lembeyan merupakan masyarakat agraris yang sebagian besar sebagai pemeluk Islam. Kendati demikian tradisi Taledek masih melekat kuat. Sejumlah sejarawan menyatakan, ledhek merupakan istilah umum untuk menyebut penari perempuan dalam pertunjukan tayub. Sementara, Taledek merupakan penari wanita dalam tayub.

Tarian Taledek atau Tayub konon merupakan sumber atau induk dari tari Gambyong seperti yang tertulis dalam dalam Serat Chentini abad XVIII.

Menurut Serat Sastramiruda, tarian Tayub ini ada sejak zaman Kerajaan Jenggala abad ke XII. Sementara tarian Taledek dikenal sejak zaman Demak, yakni abad XV, di mana mendapat sebutan Tledhek Mbarangan.

Sinden Seni Taledek Magetan
Salah satu sinden dalam seni taledek /Foto: Nanang Diyanto-kompasiana

Sumber lain menyebut awal mula istilah Gambyong konon berawal dari nama seorang penari taledek. Penari Gambyong ini hidup pada zaman Susuhunan Paku Buwana IV di Surakarta.

Adanya penari taledek bernama Gambyong juga disebut dalam kitab Cariyos Lelampahanipun Suwargi R. Ng. Ronggowarsito.

Gambyong pada mulanya adalah nama seorang waranggana yang piawai menari. Nama lengkapnya Mas Ajeng Gambyong dan tariannya bernama Glondrong. Dari sana kemudian ditarikan oleh waranggana dan dikenalkan kepada umum.

Kini, tarian Taledhek secara umum memiliki fungsi utama untuk menyambut tamu dalam sebuah kunjungan daerah. Bahkan, dilombakan pada beberapa ajang festival tari.

Masyarakat Desa Lembeyan juga menggelar seni Taledek untuk memeriahkan acara pernikahan, khitanan, wayangan, dan malam resepsi yang biasanya dilakukan pada tanggal 17 Agustus.

Sebagian besar lebih mengenal dengan sebutan slametan urung-urung atau slametan neng ndauhan. Setelah selamatan selesai, akan dilanjutkan dengan penyembelihan dua ekor kambing tepat di tengah-tengah sungai.

“Darah kambing mengalir mengikuti arus air sungai. Bersama dengan itu kepala kambing ikut dilarung”.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

SERING DIBACA

IKUTI KAMI