Pesantren Langitan Tuban, Tempat Lahirnya Kiai-kiai Besar Tanah Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Icon Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur /Foto: youtube-Santri Sejati

santrikertonyonoBanyak yang mengira istilah Langitan yang melekat pada nama pondok pesantren Langitan Tuban, Jawa Timur merujuk dari kata Langit yang mengandung arti spiritual. Padahal bukan.

Sebutan Langitan bersumber dari kebiasaan masyarakat mengucapkan posisi pondok pesantren. “Berasal dari dua kata, plang dan wetan,” tulis M Solahudin dalam Napak Tilas Masyayikh, Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa dan Madura.

Plang dalam bahasa Jawa berarti papan nama. Dan wetan adalah timur. Papan nama yang berjumlah dua buah itu bersebelahan dengan pesantren saat awal berdiri. Pesantren bertempat di sisi timurnya, dan karena itu orang-orang menyebut Pesantren Plang Wetan.

Sebutan plang wetan lama kelamaan berubah bunyi menjadi Langitan. Dalam channel YouTube yang membahas Sejarah Pondok Pesantren Langitan Tuban, Aditya Agus Setiawan menyebut asal kata langitan adalah Plangitan yang bersumber dari Plang Wetan.

Ini ditulis dalam kitab Fath al-Mu’in milik Kiai Ahmad Sholeh, putra Kiai Muhammad Nur,” katanya. Perubahan bunyi plang wetan menjadi langitan dalam lidah masyarakat Jawa, adalah hal yang lumrah.

Dalam Napak Tilas Masyayikh, Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa dan Madura, M Solahudin mengatakan perubahan bunyi plang wetan menjadi Langitan mengingatkan pada tradisi sekatenan di Yogyakarta dan Surakarta.

Sekaten berasal dari kata “syahadatain”, yakni ucapan dua kalimat syahadah yang menjadi “tiket” mereka yang ingin melihat acara sekaten. Dalam perkembangannya “syahadatain” berubah bunyi menjadi sekatenan. “Jadi, istilah langitan tidak ada hubungannya dengan langit,” tulisnya.

Berawal dari Sebuah Langgar

Pondok Pesantren Langitan berdiri pada tahun 1852. Berlokasi persis di sebelah aliran Bengawan Solo, awalnya hanya sebuah surau kecil atau langgar tempat KH Muhammad Nur, yakni pendiri pesantren Langitan mengajarkan ilmunya.

Mula-mula santri yang belajar hanya sanak keluarga serta tetangga dekat. Namun lama- kelamaan banyak orang berdatangan ke Dusun Mandungan, Desa Widangan Kecamatan Widang, untuk berguru kepada Kiai Muhammad Nur.

Mereka tidak hanya mendapat pelajaran ilmu agama, tapi juga digembleng semangat perjuangan melawan kompeni Belanda di tanah Jawa. Dikutip dari langitan.net, pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, juga pernah nyantri ke pesantren Langitan.

Selain itu KH Syaikhona Muhammad Cholil atau Mbah Cholil pendiri pesantren Kademangan Bangkalan Madura. Kemudian juga KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Syamsul Arifin, KH Muhammad Siddiq Jember, KH Hasyim Padangan Bojonegoro, dan KH Umar Dahlan, Sarang Rembang juga pernah berguru di Pesantren Langitan.

Banyak alumni pesantren (Ponpes Langitan) yang kemudian hari menjadi kiai besar,” tulis M Solahudin. Kiai Muhammad Nur merupakan keturunan seorang ulama dari Desa Tuyuhan, Rembang, Jawa Tengah. Jika silsilahnya ditelusuri, Kiai Muhammad Nur masih berdzuriyah (keturunan) kepada Pangeran Sambo atau Mbah Abdurrahman yang makamnya di Lasem, Rembang.

pondok pesantren langitan
Pintu Masuk PP Langitan, Widang, Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur /Foto: googlemap

Berlanjut Kepemimpinan Menantu

Kiai Muhammad Nur mengasuh Pesantren Langitan selama 18 tahun (1852-1870). Sebuah sumber menyebut, pada Senin 1297 H atau 1880 M, Pesantren Langitan berduka. Kiai Muhammad Nur tutup usia. Pendiri salah satu pesantren tua di Pulau Jawa itu dimakamkan di komplek pesarean Sunan Bejagung Lor, Tuban.

Sepeninggal Kiai Muhammad Nur, estafet kepemimpinan Pesantren Langitan Tuban berlanjut di tangan KH Ahmad Sholeh. Kiai Ahmad Sholeh memiliki rekam jejak panjang sebagai santri. Selain mengaji kepada ayahnya sendiri, Kiai Ahmad Sholeh juga pernah nyantri kepada Kiai Abdul Qodir, pengasuh Pondok Pesantren Sidoresmo Surabaya.

Saat berada di tanah suci, Kiai Ahmad Sholeh pernah melakukan tabarrukan kepada Syekh Zaini Dahlan dan sejumlah ulama besar di Masjidil Haram. Pada masa Kiai Ahmad Sholeh, Pesantren Langitan maju pesat. Banyak santri Langitan yang kemudian menjadi kiai besar di Pulau Jawa.

Kiai Ahmad Sholeh memimpin Pesantren Langitan selama 32 tahun (1870-1902). Mbah Ahmad Sholeh wafat pada tahun 1902 dan dimakamkan di pemakaman umum Desa Mandungan, yakni 400 meter dari lokasi Pesantren Langitan.

Kepemimpinan Pesantren Langitan kemudian berlanjut di tangan Kiai Muhammad Khazin. Mbah Muhammad Khazin yang merupakan menantu Kiai Ahmad Sholeh adalah putra KH Syihabuddin Rengel, Tuban. Sebelum dinikahkan dengan Nyai Shofiyah, putri Mbah Sholeh, Muhammad Khazim dikenal sebagai santri Mbah Sholeh yang alim.

Muhammad Khazim juga pernah nyantri kepada Mbah Cholil Bangkalan, Madura. Saat pergi haji, ia juga menyempatkan tabarrukan kepada Syekh Mahfudz al-Turmusi dan sejumlah ulama lain di Masjidil Haram. Di era kepengasuhan Kiai Muhammad Khazin, Pesantren Langitan diterjang banjir yang berasal dari luapan Bengawan Solo.

Agar musibah tidak terulang, Mbah Muhammad Khazin memindahkan empat bangunan pondok ke sisi utara, menjauhi bantaran bengawan. Mbah Muhammad Khazin mengasuh Pesantren Langitan selama 19 tahun (1902-1921). Ia wafat pada tahun 1921 dan juga dimakamkan di tempat pemakaman umum Desa Mandungan.

Rantai kepemimpinan Pesantren Langitan diteruskan KH Abdul Hadi Zahid, menantu Mbah Muhammad Khazin. Kiai Abdul Hadi Zahid yang berasal dari Kedungpring, Kabupaten Lamongan merupakan putra sulung KH Zahid. Ia nyantri di Pesantren Langitan sejak usia 11 tahun hingga 19 tahun.

Sama dengan mertuanya, Abdul Hadi Zahid juga pernah nyantri kepada Mbah Cholil, Bangkalan. Ketekunannya mendalami ilmu agama, membawannya belajar di Pesantren Jamsaren Surakarta (Solo). “Kiai Abdul Hadi Zahid dipercaya sebagai pengasuh Pesantren Langitan pada usia 35 tahun,” demikian sumber yang berkembang.

Para era Kiai Abdul Hadi Zahid wajah Pesantren Langitan banyak mengalami perubahan. Kiai Abdul Hadi Zahid yang memprakarasai berdirinya sistem madrasi (klasikal). Di madrasah baru yang bernama Al-Falahiyah, santri mengenal pendidikan madrasah ibtidaiyah dan madrasah muallimin.

Kiai Abdul Hadi Zahid juga mengenalkan sejumlah pendidikan ekstra kurikuler, seperti bahtsul masail, jam’iyyah muballighin, jam’iyah qurra wal huffazh, dan lainnya. Kendati demikian, sistem pengajaran sorogan, bandongan dan wetonan tetap dipertahankan.

Kiai Abdul Hadi Zahid yang mengasuh Pesantren Langitan selama 50 tahun wafat pada 5 April 1971. Sebagai penerusnya adalah Kiai Ahmad Marzuqi, adik kandungnya. Dalam memimpin pesantren selama 29 tahun (1971-2000), Kiai Ahmad Marzuqi dibantu Kiai Abdullah Faqih, keponakannya.

Kiai Ahmad Marzuqi membuat sejumlah terobosan yang membuat Pesantren Langitan makin maju pesat. Diantaranya berdirinya Pusat Pelatihan Bahasa Arab, kursus komputer, adminsitrasi dan manajemen, diklat jurnalistik, pertanian dan peternakan, mendirikan TK dan TPQ.

“Dalam bidang ekonomi didirikan Badan Usaha Milik Pondok (BUMP) berupa toko induk, toko pondok, dan kantin sayur”. Pada 24 Juni 2000, Kiai Ahmad Marzuqi wafat dan kepemimpinan Pesantren Langitan dilanjutkan Kiai Abdullah Faqih.

Madrasah Aliyah Al-Falahiyah PP. Langitan
Madrasah Aliyah Al-Falahiyah PP. Langitan /Foto: langitan.net

Kiai Faqih yang lahir 2 Mei 1932 merupakan putra pasangan Kiai Muhammad Rafi’i dan Nyai Khadijah. Selain pernah nyantri selama empat tahun di Pesantren Langitan, Kiai Faqih muda juga pernah nyantri di Pesantren Lasem Rembang.

Kemudian juga nyantri di Pesantren Senori Tuban dan Pesantren Watucongol, Magelang. Kiai Faqih menikah dengan Nyai Hunainah, keponakan Kiai Ma’shum Lasem. Dalam kepemimpinannya Kiai Faqih membentuk empat pilar kepengurusan pesantren yang disebut Majlis Idarah, Majlis an-Nuwwab, Majlis Tahkim dan Majlis Amn.

Kemudian juga didirikan madrasah al-Mujibiyah untuk santri perempuan. Mengutip dari Tribunnews.com, pada tahun 2010 Pesantren Langitan memberlakukan aturan larangan merokok di lingkungan pesantren. Aturan yang awalnya berlaku untuk santri di bawah usia 18 tahun, meningkat di bawah 20 tahun.

Kiai Faqih dikenal sebagai ulama yang berani menyikapi penguasa yang dinilai zalim. Pada masa Orde Baru, Kiai Faqih bersama sejumlah tokoh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) pernah menghimbau penguasa Orde Baru (Presiden Soeharto) untuk mengundurkan diri.

Saat dicalonkan Presiden RI oleh Poros Tengah pimpinan Amien Rais, Gus Dur terlebih dahulu meminta izin dan restu kepada para kiai Poros Langitan di mana Kiai Faqih sebagai tokoh utamanya. Kiai Faqih wafat pada 29 Februari 2012. Jalan pantura lumpuh total oleh membanjirnya pentakziah sejauh lima kilometer.

Di hari pemakaman itu hadir pula para kiai sepuh dan banyak tokoh nasional. Sepeninggal Kiai Abdullah Faqih, kepemimpinan Pesantren Langitan Tuban dilanjutkan oleh putranya, Kiai Ubaidillah Faqih.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

SERING DIBACA

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: