Perjuangan Raden Ronggo Prawirodirjo III Melindungi Yogyakarta dari Taktik Belanda

 Perjuangan Raden Ronggo Prawirodirjo III Melindungi Yogyakarta dari Taktik Belanda

Pusara tanpa nisan adalah bekas makam Raden Prawirodirjo III /Foto: tribunnews.com

SANTRIKERTONYONO – Pada tahun 1810, Gubernur Jendral H. W. Daendels menggelar rapat rahasia dengan Panglima Van Broom dan disusul oleh Patih Danuredjo III, Residen Yogyakarta, minister Engelhard. Dari rapat itu memutuskan bahwa dalam waktu dekat Sultan Hamengku Buwono II akan dicopot dan diganti oleh Putra Mahkota.

Hal itu merujuk pada sikap Sultan yang dinilai lebih condong melindungi dan membantu perlawanan Bupati Madiun. Kecuali, jika ada keputusan yang sungguh-sungguh dari Sultan Hamengku Buwono II untuk segera memberantas segala bentuk perlawanan dan pemberontak dari Bupati Madiun.

Dari keputusan di Semarang itu, Sri Sultan Hamengku Buwono II terpaksa mengirim pasukan kerajaan sebanyak 1.000 prajuit infanteri dan 12 prajurit kavaleri di bawah kepemimpinan Panglima Perang Raden Tumenggung Purwodipuro. Pengiriman pasukan tersebut juga dibantu oleh 2 ahli tempur Belanda yakni Letnan Paulus dan Sersan Leberfeld untuk melakukan penangkapan kepada Ronggo Prawirodirjo III, entah hidup atau mati.

Sementara, di pihak Bupati Madiun hanya ada 300 prajurit yang tetap setia dibawah pimpinan Panglima Perang Tumenggung Sumonegoro, dan beberapa pasukan sukarela yang cukup banyak.

Menurut Babad Tanah Jawa, Kabupaten Jipang dan Panolan yang sebelumnya menjadi pusat pertahanan prajurit Kasultanan Yogyakarta berhasil dikepung dan dihancurkan oleh pasukan Madiun. Bisa dikatakan jika pasukan Madiun selalu unggul dalam peperangan ini.

Beberapa literatur menyebutkan bahwa Panglima Perang Raden Tumenggung Purwodipuro adalah seorang yang penakut dan enggan melawan Ronggo Prawirodirjo III. Maka dari itulah, ia lebih memilih menarik pasukannya untuk kembali ke Kasultanan Yogyakarta.

Kegagalan dalam perang ekspedisi pertama ini membuat Sultan marah, Tumenggung Purwodipuro langsung di pecat dari jabatan Bupati Dalam. Lalu, Pangeran Adinegara diangkat sebagai panglima baru yang dibantu oleh Raden Wirjokusumo, Raden Wirjotaruno, Raden Sosrowidjaja serta Raden Tirtodiwrdjo untuk langsung memimpin ekspedisi yang kedua.

Namun naas, ekspedisi yang kedua inipun juga menemui kegagalan. Ada beberapa wilayah di Kabupaten Madiun yang nyatanya belum tersentuh oleh pasukan dari Kasultanan Yogyakarta, karena medan peperangan hanya berpusat di perbatasaan Ngawi dan di perbatasan Magetan.

Selanjutnya ekspedisi ketiga dibawah kepemimpinan Pangeran Purwokusumo mulai dilancarkan dan lagi-lagi hanya kegagalan yang didapat. Lantas, pada tanggal 7 Desember 1810 diangkatlah panglima perang baru yakni Pangeran Dipokusumo, yang masih memiliki hubungan darah dengan Pangeran Diponegoro. Ekspedisi itu juga mendapat bantuan dari Letnan Paulus dan Sersan Leberfeld dengan 12 pasukan kavaleri.

Peperangan besar terjadi di pusat-pusat pertahanan Kabupaten Madiun, namun Pangeran Dipokusumo berhasil menguasai medan perang dengan sangat baik. Dan pusat perlawanan berikutnya adalah di pusat Kabupaten Madiun.

Tepat di malam tanggal 7 Desember 1810, Kabupaten Madiun khususnya Istana Maospati berhasil diduduki oleh pasukan Yogyakarta tanpa ada sedikitpun perlawanan. Pangeran Dipokusumo bahkan berhasil menduduki Istana Maospati selama tiha hari berturut-turut dan sama sekali tidak mendapat gangguan dari musuh. Hal itu dikarenakan pusat pertahanan yang sebelumnya sudah di pindahkan ke Istana Raden Ronggo Prawirodirjo III yang di Wonosari Madiun.

Namun, pada tanggal 11 Desember 1810, Istana Wonosari dan sekitarnya juga berhasil dikuasai oleh Pasukan Yogyakarta. Karena kekacauan itu, keluarga Bupati Madiun terpisah dengan pasukan induk yang seharusnya melakukan penjagaan dengan ketat. Pasukan Raden Ronggo Prawirodirjo III akhirnya mundur ke arah timur, tepatnya ke Kabupaten Kertosono.

Keluarga Ronggo Prawirodirjo III yang sebelumnya terpisah dengan pasukan induk akhirnya tertangkap oleh pasukan Pangeran Dipokusumo. Mulai dari Ibunda Raden Ronggo Prawirodirjo III, dua adiknya serta beberapa anak kecil ditangkap dan diserahkan kepada Sultan sebagai tawanan di Yogyakarta.

Pada bulan Desember 1810, situasi Kabupaten Madiun sudah mulai aman dan cukup bersih dari kekacauan. Bahkan, Letnan Paulus melakukan pengamatan terhadap situasi di Madiun, yang selanjutnya akan digunakan untuk kepentingan Pemerintah Belanda. Secara garis besar, sosok Letnan Paulus adalah orang Belanda pertama yang mengetahui seluk beluk Madiun secara detail.

Masih di bulan yang sama, pusat pertahanan Raden Ronggo Prawirodirjo III dipindahkan ke Kertosono dengan sisa-sisa prajurit yang ada, kurang lebih hanya 100 orang. Namun, posisi Ronggo Prawirodirjo juga belum aman, pasalnya Pangeran Dipokusumo kembali memerintahkan pasukan Yogyakarta untuk mengepung Kertosono dan menangkap Raden Prawirodirjo III.

Pengepungan tersebut di bawah pimpinan Bupati Wirianagara, Bupati Martolojo, Bupati Judokusumo, Bupati Sumodiwirjo yang sekaligus didampingi oleh Sersan Leberfeld. Tepat pada tanggal 17 Desember 1810, meletuslah pertempuran dahsyar di Desa Sekaran Bojonegoro. Puluhan korban jatuh tak terhingga dari kedua belah pihak.

Akhirnya, Raden Ronggo Prawirodirjo III dan Bupati Sumonegoro berhadapan langsung dengan Pasukan Yogyakarta. Uniknya, seluruh prajurit serta para bupati utusan malah tidak ada yang berani melawan Raden Ronggo Prawirodirjo III.

Atas nama keluarga perlawanan pun dihentikan, namun yang dihadapi sekarang bukanlah Belanda melainkan Pangeran Dipokusumo yang notabene masih satu garis keluarga dengan Raden Ronggo Prawirodirjo III. Pendiriannya sangat kuat, lebih baik mati daripada harus menyerah kepada Belanda.

Namun, disisi lain ada rasa dilema didalam benaknya. Di satu sisi, Pangeran Dipokusumo tidak tahu apa-apa, dia hanya sekedar menjalankan perintah ayahnya yakni Sultan Yogyakarta yang kini ditawan oleh Belanda. Disisi lain, jika Pangeran Diponegoro tewas dalam peperangan, maka keinginan Belanda untuk menguasai Keraton Yogyakarta akan tercapai.

Dengan dua pertimbangan yang sangat berat itu, akhirnya Raden Ronggo Prawirodirjo III memilih mati dengan pusakanya sendiri, yakni tombak sakti Kiai Blabar. Ia pun rela berpura-pura perang melawan Pangeran Dipokusumo agar bisa tewas dalam medan pertempuran.

Sosok Bupati Madiun yang sekaligus merangkap sebagai Bupati Wedono Mancanegara Timur akhirnya dinyatakan gugur sebagai Kusuma Bangsa pada tanggal 17 Desember 1810 di Desa Sekaran, Bojonegoro. Jenazahnya di bawa alun-alun utara Yogyakarta dan dimakamkan di pemakaman Banyu Sumurup dekat dengan kompleks Makam Imogiri.

Pada tahun 1957, atas perintah Sultan Hamengku Buwono IX dan pertimbangan dari pihak keluarga, makam Raden Ronggo Prawirodirjo III dipindahkan ke samping makam sang istri, GKR Maduretno di Gunung Bancak setelah sebelumnya disemayamkan terlebih dahulu di Masjid Taman Madiun.

Untuk mengisi jabatan sebagai Bupati Madiun dan Wedono Mancanegara Timur yang kosong, Sultan Hamengku Buwono II lantas mengangkat Pangeran Dipokusumo untuk sementara mengisi jabatan tersebut. Pengangkatan jabatan ini sebelumnya sudah mengacu pada tradisi kerajaan bahwa yang seharusnya menjadi ahli waris dari Prawirodirjo III adalah putra sulungnya.

Namun, karena putra sulungnya yang bernama Prawirodiningrat ini belum dewasa dan masih mengenyam pendidikan di Yogyakarta, maka kedudukan sebagai Bupati Madiun untuk sementara waktu dilimpahkan kepada Pangeran Dipokusumo.

Pangeran Dipokusumo menjabat sebagai Bupati Madiun dan Wedono Mancanegara Timur dari tahun 1810 hingga 1822. Politik pemerintahannya pun masih melanjutkan politik Ronggo Prawirodirjo III yang sepenuhnya tunduk dan patuh pada Yogyakarta dan tidak lagi mengikuti perintah dari Belanda.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related post

%d blogger menyukai ini: