Perang Suksesi Jawa III, Kabupaten Madiun Terseret Dampak dari Perjanjian Giyanti

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
perjanjian-giyanti
Situs Perjanjian Giyanti /Foto: kompas.com

Santrikertonyono – Palihan negeri atau bisa lebih dikenal dengan sebutan Perang Jawa III merupakan moment peperangan yang melibatkan antara Susuhan Paku Buwono III yang kala itu dibantu oleh pasukan VOC dengan melawan Pangeran Mangkubumi yang di bantu oleh Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa.

Meledaknya peperangan ini diakibatkan adanya campur tangan VOC pada tata Pemerintahan Surakarta serta dicabutnya hak Pangeran Mangkubumi atas kepemilikan tanah di di daerah Sukowati di Sragen oleh Paku Buwono II. Pasalnya, hal itu merupakan strategi politik penjajah ”devide et impera” Kompeni Belanda.

Peperangan Suksesi Jawa III dimulai pada 11 Desember 1749 hingga 13 Februari 1755. Dalam perang tersebut, rakyat Jawa Timur tak terkecuali Kabupaten Madiun memberikan dukungan penuh kepada perjuangan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said.

Pangeran Mangkudipuro saat itu menjabat sebagai Bupati Madiun, tak lain merupakan sosok bangsawan dari Surakarta dan berkedudukan di Istana Kranggan. Sebagai bupati, ia membawahi 14 bupati lainnya dari Mancanegara Timur dengan memperkuat pertahanan di wilayah Brangwetan.

Sementara, sebagian besar tata kelola pemerintahan sehari-hari diserahkan dan dipercayakan kepada seorang Patih dengan kedudukan pejabat Bupati Madiun. Patih tersebut adalah Raden Tumenggung Mertoloyo yang memerintah pada tahun 1726 hingga 1749.

Kompeni Belanda merasa sangat kewalahan saat menghadapi serangan dari Pasukan Mangkubumi. Hal itu terlihat dari beberapa wilayah yang berhasil direbut kembali kekuasaannya seperti sebagian pesisir utara meliputi Pekalongan, Tegal dan Semarang.

Kondisi tersebut tentu tidak bisa dianggap enteng oleh pihak Belanda. Gubernur Jenderal Jacob Mossel yang memegang kuasa Bumi Nusantara langsung menugaskan Jendral Van Hogendorf untuk menggelar perundingan tentang politik perdamaian dengan para pemimpin perang.

Namun, Raden Mas Said atau Pangeran Surjokusumo Prang Wadono, Pangeran Mangkudipuro serta Tumenggung Mertoloyo masih terus mengumpulkan kekuatan untuk bertempur dengan penjajah kompeni Belanda. Pertempuran itu tak lepas dari dendan Raden Mas Said yang menyaksikan sang ayah yakni Pangeran Mangkunegara diasingkan oleh Belanda ke Sri Lanka.

Meletusnya Perjanjian Giyanti

Karena Belanda terus meneru melakukan tekanan, tepat pada tanggal 4 November 1754 Susuhan Paku Buwono III mengirimkan surat kepada sang nenek yang tembusannya di sampaikan langsung kepada Gubernur Jendral Jacob Mossel.

“Saya permaklumkan kepada nenek saya, kepada Tuan Gubernur Jendral, sesuai surat Gubernur serta Direktur Nicolaos Hartings yang ditujukan kepada saya, tentang penyerahan setengah wilayah Pulau Jawa yang mencakup Desa dan cacah jiwa penghuninya kepada Pangeran Mangkubumi, saya amat senang dan gemira, mudah-mudahan penyerahan itu membawa kebahagiaan kepada pulau Jawa. yang diperlu diperhatikan mohon dengan hormat jangan kiranya saya dilupakan. Segala yang ada dalam hati cucunda dan tuan, telah tertulis dalam surat ini.”

Isi surat tersebut nyatanya menjadi puncak lahirnya Perjanjian Giyanti, pada hari Kamis 13 Februari 1755. Ditandai dengan pecahnya Kerajaan Mataram dengen kemelut politiknya antara Pangeran Mangkubumi, Paku Buwana III dan para kompeni Belanda.

Isi perjanjian tersebut membahas tentang beberapa poin penting seperti pada poin pertama pengangkatan Mangkubumi sebagai seorang sultan yang sah atas wilayah separoh dari pedalaman Mataram dan memerintah provinsi atau distrik di wilayah masing-masing.

 

Poin kedua, VOC yang saat itu diwakili oleh Gubernur Nicolaos Hartings sejak saat itu bisa ikut mengangkat, menetapkan serta mengakuinya sebagai sultan yang sah atas tanah yang telah diserahkan kepada para sultan sebagai tanah pinjaman dengan hak turun temurun.

Poin ketiga, para sultan, patih, bupati wedana, serta bupati yang diangkat sultan sebelum melaksanakan tugasnya diwajibkan untuk menghadap ke Semarang guna menyatakan kesetiannya kepada Belanda.

Poin keempat, sultan tidak diperkenankan mengangkat ataupun memecat patih, bupati, dan wedana sebelum memberikan atau menjelaskan alasan-alasan mengenai pemecatan kepada Gubernur Jendral.

Poin kelima, sultan tidak memiliki hak atas daerah pulau Mataram serta pesisir Jawa bagian utara. Dikarenakan daerah tersebut merupakan daerah milik VOC yang didapat dari almarhum Susuhunan Paku Buwono II pada perjanjian 18 Mei 1748.

Poin keenam, sultan berjanji mengadakan ikatan, memberikan, memerintahkan serta menyerahkan hasil bumi yang ada dari daerah-daerah pedalaman ke pihak VOC atau pihak lain yang sebelumnya telah mendapatkan ijin dari VOC untuk tetap berhubungan langsung ke daerah pedalaman dengan harga yang telah ditentukan.

Dan poin ketujuh, sultan memberikan pengakuan ke segala bentuk perjanjian yang pernah dibuat oleh para sultan-sultan sebelumnya yang telah mendapatkan persetujuan dari VOC. Diantaranya perjanjian pada tahun 1705, 1733, 1743, 1746 serta 1749.

Namun perlu digarisbawahi, jika sultan dan para pengganti-penggantinya melakukan penyimpangan dari apa yang telah disepakati atau secara sadar merubah isi perjanjian yang bertentangan dengan perjanjian yang telah ada, maka hak atas seluruh tanah di wilayah kasultanan tersebut akan hilang atau kembali ke VOC.

Jika dilihat dari segi adat Jawa, Prof. Dr. Purbotjaraka yang pernah menjadi sentono dalem Keraton Kasunanan Surakarta ini menilai bahwa keputusan yang diambil oleh Paku Buwana II tersebut sudah selaras dengan adat Jawa. Yakni, apabila seseorang hendak meninggalkan rumah, ladang dan pekarangannya, maka akan meitipkannya kepada tetangga terdekat.

Jadi, pihak VOC tidak mempunyai hak apapun untuk menetapkan diri sebagai pemilik wilayah Kerajaan Mataram. Maka dari itu, Bupati Madiun yakni Pangeran Mangkudipuro tetap hanya tunduk kepada perintah-perintah dari Sultan.

Perpecahan Mataram

Jika melihat dari isi Perjanjian Giyanti, Kerajaan Mataram dipecah menjadi dua bagian yang telah ditentukan bersama oleh Gubernur Hartings, Hamengku Buwono dengan didampingi Patih Danurejo I, dan Susuhunan Paku Buwono III yang didampingi oleh Patih Raden Adipati Mangkupradja I.

Pembagian wilayah Mataram menjadi dua bagian, masing-masing Kasunanan Surakarta Hadinigrat yang meliputi Negara Agung dan Mancanegara, masing-masing Kabupaten Jagaraga atau Ngawi, Ponorogo, separuh Pacitan, Kediri, Blitar, Srengat, Loaadaya, Pace (Nganjuk), Wirasaba (Mojoagung), Blora, Banyumas serta Kaduwang.

Bagian yang kedua yakni Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat meliputi Negari Agung dan Mancanegara, masing-masing Kabupaten Madiun, Magetan, Caruban, separuh Pacitan, Kertosono, Kalangbret (Tulungagung), Ngrawa (Tulungagung), Japan (Mojokerto), Jipang (Bojonegoro), Keras (Ngawi), Selowarung (Wonogiri), dan Grobogan (Jawa Tengah).

Sementara, dalam tata kelola pemerintahan sehari-harinya, Kabupaten Madiun hanya mendapatkan otonomi terbatas sebagai kerajaan, hanya dalam hal-hal tertentu saja harus tunduk dan patuh pada Belanda. Salah satu ikatan VOC yang dianggap berat adalah sistem penyerahan wajib atau verplichteleverantien dengan memberikan harga hasil-hasil bumi yang cukup rendah.

Kala itu, penduduk Kabupaten Madiun berkisar sebanyak 12.000 kepala keluarga yang disebut sebagai karya atau mempunyai tugas di desa sekaligus sebagai pemilik tanah garapan, sementara di Kabupaten Caruban terdapat 500 karya.

Ketentuan-ketentuan dari penyerahan wajib ini adalah dua per lima bagian dari hasil tanah garapan yang dikerjakan selama setahun sekali. Penyerahan tersebut dilakukan pada perayaan Maulud kepada Bupati, lantas Bupati Wedono akan menyerahkannya kepada Belanda atau perwakilannya.

Kabupaten Madiun, Caruban dan sekitarnya termasuk daerah yang memiliki hasil tanah garapan cukup melimpah. Diantaranya seperti beras, kopi, gula, nila, tembakau dan kapas. Hingga tahun 1800, hasil beras yang wajib diserahkan dari wilayah Kabupaten Madiun dan sekitarnya sejumlah 2.000 koyang atau setara 60.000 pikul dalam setahun.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

SERING DIBACA

IKUTI KAMI