Peran Para Bupati Kabupaten Magetan di Masa Transisi Pemerintahan Mataram

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
magetan,jawa timur,sejarah,indonesia,tempo dulu,santrikertonyono,kolonial,belanda,madiun
Hotel di Telaga Plaosan, Sarangan , Magetan, Juni 1931 /Foto: tripjalanjalan.com

SANTRI KERTONYONO – Kehadiran kompeni Belanda membuat pemerintahan Mataram cukup kacau, hingga memunculkan perubahan-perubahan peraturan pada Mataram yang banyak dikenal dengan istilah transisi Mataram. Di masa transisi ini tak hanya pemerintahan Mataram yang berubah, lebih dari itu daerah yang kekuasaannya Mataram juga ikut terkena dampak.

Kabupaten Magetan sendiri kala itu termasuk dalam daerah Mancanegara Mataram yang terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, dipimpin oleh seorang penguasa daerah bergelar Adipati bernama Kanjeng Kiai Adipati Purwodiningrat.

Kanjeng Kiai Adipati Purwodiningrat tak lain merupakan putra dari Raden Tumenggung Sasrawinata, seorang Bupati dari Pasuruan yang jenazahnya juga dimakamkan di tempat yang sama. Ia adalah sosok keturunan dari Panembahan Cakradiningrat I yang telah wafat pada tahun 1630 di daerah Kamal. Selanjutnya, Panembahan Cakradiningrat dimakamkan di Astana Hermata Madura.

Sebagai seorang pemimin, ia memiliki tugas utama untuk mengamankan daerah-daerah perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah, lebih tepatnya di wilayah Kabupaten Magetan. Kanjeng Kiai Adipati Purwodiningrat memiliki tanggung jawab melindugi Magetan dari kekacauan, terlebih yang diakibatkan dari perang saudara di pusat pemerintahan Mataram.

Sebelumnya, Kanjeng Kiai Adipati Purwodiningrat merupakan seorang Tumenggung yang menjabat sebagai Bupati Kertosono. Setelah itu, ia baru di percaya untuk memimpin Kabupaten Magetan.

Dibawah kepemimpinan Kanjeng Kiai Adipati Purwodiningrat, Kabupaten Magetan bertumbuh menjadi daerah yang maju dan tentram, sedangkan pemerintahannya menjadi satu dengan daerah Mancanegara dari wilayah Mataram.

Melihat kondisi Mataram yang sangat leluasa di jajah Belanda, Kanjeng Kiai Adipati Purwodiningrat menyimpulkan bahwa para raja di Mataram sebenarnya tidak nyaman dan tidak senang dengan kehadiran Belanda. Tapi, Mataram tidak mempunyai pilihan lain selain menurut dan tunduk kepada Belanda.

Kebencian yang berangsur-angsur membesar di batin Kanjeng Kiai Adipati Purwodiningrat seringkali dikaitkan dengan beberapa tragedi pemberontakan di pusat pemerintahan yang berlangsung cukup lama. Belum lagi, pemberontakan itu disinyalir mendapat pengaruh dari Belanda.

Sosok Kiai Adipati Purwodiningrat sebenarnya sangat membenci Belanda, namun ia juga menyadari adanya keterbatasan tenaga dan kemampuan di Mataram, apalagi sudah terlalu banyak kejadian-kejadian yang terjadi Mataram sejak kedatangan Belanda.

Alhasil, ia lebih memilih untuk memprioritaskan kepentingan dan kebutuhan Kabupaten Magetan, terutama pada keamanan dan kesejahteraan rakyat. Kerja kerasnya untuk melindungi Magetan terbayar lunas, hingga ia wafat pun, Kabupaten Magetan selalu dalam keadaan yang baik, dari segi ekonomi dan lainnya.

magetan,jawa timur,sejarah,indonesia,tempo dulu,santrikertonyono,kolonial,belanda,madiun
Jalan utama di Magetan, Madiun, Jawa /Foto: tripjalanjalan.com

Para Bupati Magetan Anti Belanda

Meskipun menjadi wilayah yang masuk di Mancanegara Mataram, Kabupaten Magetan selalu berhasil menjaga kedamaian wilayahnya. Meskipun, di pusat pemerintahan Mataram sendiri terjadi banyak konflik bahkan perang saudara yang biasa dikenal dengan istilah suksesi oorlog.

Jenazah Kiai Adipati Purwodiningrat dimakamkan di sebuah tanah bekas perdikan yang berlokasi di Desa Pacalan Kecamatan Plaosan. Sementara, makam Nyai Mas Purwodiningrat berada di tanah bekas perdikan di Desa Pakuncen Kertosono.

Sepanjang hidupnya, Kanjeng Kiai Adipati Purwodiningrat memiliki dua orang putri. Masing-masing Putri Sepuh Gusti Kanjeng Ratu Kedaton sebagai anak pertama garwo dalem Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II. Dan putri yang kedua yakni Putri Anom Gusti Kanjeng Ratu Anom, garwo dalem Pangeran Paku Alam yang selanjutnya dikenal sebagai Gusti Kanjeng Paku Alam I.

Setelah wafatnya Kanjeng Kiai Adipati Purwodiningrat, takhta Bupati Magetan diserahkan kepada Raden Tumenggung Sasradipura yang wafat pada tahun 1825. Selama pemerintahannya, Raden Tumenggung Sasradipura juga tak jauh berbeda dari Kanjeng Kiai Adipati Purwodiningrat.

Raden Tumenggung Sasradipura sebenarnya masih satu kerabat dengan Sultan Hamengku Buwono II. Ia menanggung beban yang cukup berat karena ketentraman Kabupaten Magetan sempat terganggu akibat dari perang saudara di pusat pemerintahan Mataram.

Hal itu diperparah dengan kejadian pada tahun 1742 dimana Raden Mas Garendi melakukan penyerbuan ke Keraton Kartosuro yang mengakibatkan Paku Buwono II melarikan diri ke wilayah Magetan melalui Tawangmangu menuju Ponorogo.

Salah satu saudara Paku Buwono II yang bernama Pangeran Mangku Bumi memberontak atas pemerintahan Mataram yang kala itu dipimpin oleh Paku Buwono II sendiri. Melihat kerusuhan itu, kompeni Belanda akhirnya campur tangan dan melahirkan Perjanjian Gianti pada tanggal 13 Desember 1755.

Akibat dari perpecahan wilayah kerajaan Mataram tersebut, susunan Mataram terpecah menjadi beberapa bagian. Seperti Nagara atau kota tempat kedudukan kerja, Nagara Agung yakni daerah-daerah yang berada di sekitar tempat kedudukan raja serta Mancanegara yang berarti daerah-daerah di luar Nagara dan Nagara Agung.

Wilayah Mancanegara dipimpin oleh seorang Bupati atau Wedana. Sementara, daerah-daerah Mancanegara Yogyakarta Surakarta terpecah berikut wilayah-wilayah didalamnya.

Mancanegara Yogyakarta meliputi Madiun, Magetan, Caruban, separuh Pacitan, Kalangbret, Kertosono, Ngrawa Tulungagung, Japan di Mojokerto, Gerobogan, dan Bojonegoro.

Sedangkan Mancanegara Surakarta meliputi Jogorogo, Ponorogo, separuh Pacitan, Blitar, Kediri, Srengat, Lodoso, Nganjuk meliputi Pace dan Brebek, Wirosobo di Mojoagung, Blora, Banyumas serta Keduwang.

Selanjutnya, Kabupaten Magetan dipimpin oleh Raden Tumenggung Sasrawinata. Dimasa pemerintahannya ini terdapat beberapa peristiwa penting, salah satunya yakni peristiwa yang terjadi pada tanggal 4 Juli 1830 atau 3 Sura tahun ke 1758.

Pada saat itu Belanda mengadakan konferensi di Desa Sepreh Ngawi. Dalam konferensi tersebut turut mengundang seluruh bupati dari Mancanegara wetan, yang akhirnya menetapkan bahwa seluruh bupati di Mancanegara Wetan harus menolak kekuasaan Sultan Yogyakarta serta Susuhunan Surakarta sekaligus harus tunduk kepada Belana yang bermarkas di Batavia.

Masih di tahun yang sama, Kabupaten Magetan menjadi daerah jajahan Belanda. Akibatnya, Bupati Magetan Raden Tumenggung Sasrawinata harus rela memecah wilayah menjadi 7 daerah kabupaten. Diantaranya, Kabupaten Magetan Kota, Kabupaten Plaosan, Kabupaten Panekan, Kabupaten Goranggareng Genengan, Kabupaten Goranggareng Ngadirejo, Kabupaten Maospati, serta Kabupaten Purwodadi.

Masa Kolonial, Magetan disebut sebagai kota wisata gunung /Foto: tripjalanjalan.com
Masa Kolonial, Magetan disebut sebagai kota wisata gunung /Foto: tripjalanjalan.com

Namun, pada tahun 1837 Kabupaten Plaosan dan Kabupaten Panekan dijadikan satu dengan Kabupaten Magetan Kota. Pada tahun 1866 Kabupaten Goranggareng dihapuskan, menyusul pada tahun 1870 Kabupaten Purwodadi iku dihapuskan. Tak lama setelah itu, pada tahun 1880, Kabupaten Maospati juga dihapus.

Selanjutnya, Kabupaten Magetan dipimpin oleh Raden Mas Arja Kertonegoro pada tahun 1837. Pemimpin yang sebelumnya menjabat sebagai Bupati Mojokerto ini bertugas untuk menentramkan masyarakat Magetan dari segala macam insiden yangterjadi.

Ia hanya menurunkan seorang putri yang menikah dengan Raden Mas Arya Surohadiningrat II, merupakan Bupati Ponorogo yang kini makamnya bisa ditemukan di Gondoloyo Kabupaten Ponorogo.

Takhta Kabupaten Magetan berikutnya diberikan kepada Raden Mas Arja Hadipati Surohadiningrat pada tahun 1862 untuk menggantikan Raden Mas Arja Kertonagara. Lalu pada tahun 1887, dipegang oleh Raden Mas Arja Kerto Hadinegoro, tak lain adalah putra dari Raden Mas Arya Surohadiningrat. Banyak dari masyarakat Magetan yang menyebutnya sebagai Gusti Ridder.

Pada tahun 1912, Raden Mas Arya Hadiwinoto menjadi Bupati Magetan selanjutnya. Ia merupakan anak dari Raden Mas Arja Kerto Hadinegoro. Lalu, Raden Mas Tumenggung Surjo dipercaya untuk memimpin Kabupaten Magetan di tahun 1938.

Raden Mas Tumenggung Surjo sendiri merupakan menantu dari Raden Mas Arja Hadiwinoto. Setelah memegang kuasa di Kabupaten Magetan, ia menjabat sebagai Su Cho Kan Bojonegoro pada tahun 1943, dan menjadi Gubernur Republik Indonesia pertama di Jawa Timur pada tahun 1945 hingga 1948.

Namun, pada 13 November 1948, Raden Mas Tumenggung Surjo gugur saat pemberontakkan PKI di Madiun. Saat itu, ia sedang dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju ke Surabaya. Tepatnya di tengah perjalanan di hutan jati Peleng Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi, ia dihadang lalu dibunuh oleh pemberontak PKI.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

SERING DIBACA

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: