Siraman Gong Kiai Pradah, Cara Orang Blitar Rayakan Maulid Nabi 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Prosesi Siraman Gong Kiai Pradah /Foto: Istimewa

PERINGATAN maulid Nabi Muhammad SAW di Nusantara sangat beragam. Ekspresi kecintaan kepada nabi akhir zaman itu menyatu dengan tradisi yang sudah melekat di berbagai daerah. Dengan karakter dan tipologi masyarakat yang sudah terbangun jauh sebelum Islam hadir di tengah-tengah masyarakat.

Di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, perayaan Maulid Nabi yang jatuh pada bulan Rabiul awal ditandai dengan ritual jamasan atau siraman gong Kiai Pradah di alun-alun Lodoyo, Kecamatan Sutojayan. Di atas menara yang berdiri menjulang, seorang juru kunci atau kuncen memandikan pusaka yang berwujud gong atau canang dengan air kembang tujuh rupa.

Dengan tangan telanjang, bobok kapur putih (Enjet atau gamping campur warangan) yang melindungi gong Kiai Pradah dari sergapan karat, ia bersihkan dengan penuh hati-hati. Permukaan logam beserta lekuk-lekuknya, ia basuh perlahan sampai betul-betul tak bersisa. Begitu bersih, kepala daerah yang hadir selama prosesi, lantas menabuhnya.

Sebanyak tujuh kali pukulan serta diiringi pertanyaan ke warga : pusaka niki sae nopo awon (pusaka ini bagus atau jelek)? Pada setiap tabuhan yang menimbulkan gema, masyarakat yang menyaksikan proses siraman, akan serentak berseru : “sae” (bagus). Asap dupa pun terbakar menyebar di mana-mana. Di saat bersamaan seluruh doa dilantunkan oleh Sang pranata cara, memakai bahasa Arab bercampur Jawa.

Asal mula perayaan itu dilakukan pada awal berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati menabuh gong Kiai Pradah atau Kiai Becak untuk meneror prajurit Kerajaan Pajang yang menyerang. Saat itu, Perang berkecamuk di kawasan Prambanan, antara pasukan Mataram dengan pasukan Pajang yang berjumlah lebih besar, saling berhadap-hadapan.

Baca juga : Tradisi Sekaten: Kemeriahan Orang Jawa Rayakan Maulid Nabi

Tiba-tiba bergema canang Kiai Becak bertalu-talu. Saat terjadi perang kala itu, Panembahan Senopati sengaja menciptakan suasana mistis. Api yang berasal dari tumpukan kayu yang sengaja dibakar, berkobar di mana-mana. Di saat yang sama, Gunung Merapi mengalami erupsi. Dari langit hujan debu menderas, melihat semesta yang begitu mencekam, nyali pasukan Pajang pun mendadak ciut.

siraman-gong-kiai-pradah-cara-orang-blitar-rayakan-maulid-nabi
Prosesi upacara siraman gong kiai pradah /Foto: Santrikertonyono

Raja Pajang Hadiwijaya (1560-1582) atau Mas Karebet atau Jaka Tingkir beserta menantunya, Adipati Demak serta Adipati Tuban, memilih menarik pasukan. “Canang Ki Becak dipukul-pukul. Kombinasi antara gejala alam dan kecerdikan ini dimaksudkan untuk menakut-nakuti orang Pajang,” tulis H.J. Dr Graaf dalam “Awal Kebangkitan Mataram, Masa Pemerintahan Senopati”.

Saat menjalani hukuman pengasingan di hutan Lodoyo, Sutojayan Blitar, Pangeran Prabu membawa serta pusaka gong Kiai Pradah. Pangeran Prabu merupakan adik tiri Pakubuwono I. Ia dihukum buang karena ketahuan berniat mencelakai Pakubuwono I yang baru dinobatkan sebagai raja Mataram.

Di Lodoyo yang masih berupa kawasan hutan belantara. Setiap menabuh gong Kiai Pradah, konon harimau-harimau hutan Lodoyo pada berdatangan. Setiap bulan 1 Muharram atau Suro dan 12 Rabiul Awal atau Mulud, Pangeran Prabu rutin menjamas pusaka gong Kiai Pradah. Tradisi siraman disusul proses penyimpanan kembali itu, terus berlanjut hingga kini.

Kisah sejarah asal gong Kiai Pradah sampai saat ini masih beragam versi. Dalam portal resmi Pemkab Blitar juga diulas bahwa hasil dari pelacakan Bupati Blitar dan Asisten Kediri di tahun 1927, ditemukan data riwayat tentang Kiai Pradah.

Informasi sejarah Kiai Pradah, saat itu tentara Demak menggempur Kerajaan Majapahit. Salah satu Walisongo, Sunan Kudus membuntuti dengan membawa Kiai Pradah. Kondisi pasukan Kerajaan Demak yang lebih sedikit itulah membuat mereka saling berpencar. Dalam kondisi medan yang masih hutan lebat, Gong Kiai Pradah itu ditabuh dan suara yang keluar menyerupai raungan macan. Suara yang menyerupai macan itu bergema ke berbagai arah.

Para pasukan Kerajaan Majapahit pun ketakutan dan lari tunggang langgang meninggalkan pos penjagaannya masing-masing. Mereka mengira suara gong Kiai Pradah yang menyerupai harimau meraung itu adalah sosok siluman yang dikerahkan oleh pasukan Kerajaan Demak. Akhirnya pasukan Kerajaan Demak dengan mudah menduduki dan menaklukkan Majapahit.

Memang cerita tentang Gong Kiai Pradah bermacam versi, namun yang pasti tradisi penghormatan pada Gong Kiai Pradah dengan siraman menjadi bukti autentik bahwa masyarakat Blitar sampai saat ini menjalankan ritual dengan penuh kekhusyukan.

Begitu juga pada Kamis siang (21/10/2021). Karena situasi pandemi Covid-19, warga Blitar melakukan siraman pusaka gong Kiai Pradah dengan dialihkan ke gedung sanggar penyimpanan pusaka. Pemkab Blitar membatasi jumlah pengunjung yang datang. Pemkab juga mengatur air bekas jamasan yang biasanya diperebutkan warga.

Biasanya, dalam ritual yang dilakukan pada tahun sebelumnya, air yang berwarna keruh itu, sebagian warga mempercayai tersimpan berkah. Banyak masyarakat setempat, meyakini dengan berhasil merebut air siraman itu akan dapat membebaskan diri dari segala penyakit. []

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

2 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: