Puasa Weton, Tradisi Masyarakat Kejawen yang Masih Lestari

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Masyarakat penganut Kejawen /Foto: suaramerdeka.com

santrikertonyonoIstilah puasa weton tentunya sudah sering terdengar di kalangan masyarakat Jawa, salah satu bentuk tradisi yang menggabungkan antara kepercayaan lokal dengan agama Islam ini sangat familiar bagi seseorang yang mempunyai darah Jawa asli. Siapa yang tidak mengetahui jenis puasa ini? Warisan leluhur tersebut konon memiliki nilai yang sangat dalam.

Secara umum, weton merupakan hitungan hari lahir seseorang yang mana akan digunakan sebagai patokan untuk menerawang atau bahkan meramal suatu hal, baik tentang kehidupannya atau masa depannya kelak. Cara menghitung weton kelahiran terbilang cukup mudah, yakni hanya dengan melihat hari atau pasaran saat seseorang tersebut lahir.

Sebagai salah satu contoh, seseorang tersebut lahir pada hari Selasa dengan pasaran Jawa Kliwon, maka orang itu bisa melakukan puasa weton pada hari-hari yang jatuh pada Selasa Kliwon. Hal itu sudah jelas merujuk pada neptu atau weton dalam istilah tradisi Jawa.

Namun, tak hanya berhenti disitu saja, beberapa masyarakat Jawa juga melakukan penghitungan weton kelahiran dengan menggunakan urutan bulan dan tahun kelahiran. Bagi orang Jawa khususnya, setiap tanggal, hari, bulan dan tahun memiliki makna sendiri-sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lain.

Dalam praktiknya hari kelahiran atau weton, banyak dari masyarakat Jawa yang memperingatinya dengan sebuah kebiasaan rutin dan dilakukan secara turun temurun. Kebiasaan itu biasanya disebut dengan istilah puasa weton atau puasa kelahiran. Tak jarang, puasa weton ini dilaksakan juga sebagai wujud syukur karena telah diberi umur panjang.

Secara harfiah, puasa weton mempunyai definisi puasa yang hanya dilakukan saat hari kelahiran atau weton yang tentunya harus sesuai dengan penanggalan Jawa. Bukan tanpa tujuan, seseorang yang melaksanakan puasa weton ini biasanya memiliki tujuan atau hajat tertentu. Dimana saat ia berpuasa, ia berharap hajatnya bisa dipermudah atau bahkan diwujudkan.

Konon, tak sedikit masyarakat Jawa asli yang meyakini bahwa dengan meruntinkan puasa weton ini bisa mendatangkan banyak hal baik, positif dan bermanfaat untuk kehidupan. Lebih dari itu, puasa-puasa kejawen seperti puasa weton ini diyakini bisa menambah energi spiritual dan mempererat tali komunikasi dengan leluhur.

Bentuk dari energi spiritual yang terdapat pada puasa kejawen ini pun tidak hanya dalam satu bentuk, namun itu semua tergantung niat, hajat yang diinginkan, doa-doa yang dipanjatkan serta jenis puasa yang tengah dilaksanakan. Beberapa energi spiritual yang konon bisa didapatkan bisa berupa kewibawaan, kekebalan, kesuksesan, pengasihan bahkan ilmu kesaktian.

Menurut kepercayaan orang Jawa, untuk memperoleh atau memiliki suatu ilmu tertentu bukanlan hal yang mudah dan cepat. Pasalnya, akan banyak proses khusus yang harus ditempuh. Dari sekian panjang dan banyaknya proses itu, puasa dan membaca beberapa mantera adalah hal wajib yang tidak boleh terlewatkan.

Menurut Islam, seperti dikutip dari Republika.co.id (tayang 22 Septembr 2020), Direktur Aswaja Center Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH. Ma’ruf Khozin menjelaskan bahwa puasa weton atau puasa kelahiran belum banyak ditemukan dalam kitab-kitab fiqih yang menyatakan sunnah.

Namun, hal tersebut juga tidak berarti bahwa puasa kelahiran itu diharamkan, sebab masih bisa dikategorikan sebagai puasa sunnah secara umum dengan niat hanya kepada Allah SWT. Sesuai dengan Sa’id RA yang pernah berkata bahwa ia mendengan Nabi Muhammad SAW bersabda dengan arti : “Barangsiapa berpuasa sehari di jalan Allah, maka Allah SWT menjauhkan dirinya dari neraka selama tujuh puluh tahun.” (Dalam Shahih al-Bukhari (2685) dan Shahih Muslim (1152)).

Weton dalam Perhitungan Kalender Jawa

Weton sendiri dalam bahasa jawa berasal dari sebuah kata “wetu” yang memiliki arti lahir atau keluar dengan mendapatkan akhiran “an” sehingga kata tersebut berubah menjadi kata benda. Namun, ada beberapa pengamat sejarah yang mengartikan bahwa weton berarti hari lahir seseorang lengkap dengan pasarannya.

Selain itu, weton juga seringkali disebut sebagai kalendernya orang Jawa, hal itu merujuk pada sistem penanggalan yang sering digunakan oleh Kesultanan Mataram dan berbagai kerajaan pecahannya serta kerajaan-kerajaan yang mendapat pengaruhnya.

Jika di telisik lebih dalam, penanggalan Jawa ini sungguh istimewa pasalnya hasil kolaborasi dengan memadukan sistem penanggalan Islam, sistem penanggalan Hindu, dan sedikit campuran dari penanggalan budaya Barat.

Seperti yang telah diketahui, pasaran dalam istilah kalender Jawa memiliki beberapa jenis atau penyebutan. Diantaranya seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Sedangkan secara terminologi, weton merupakan gabungan siklus kalender matahari dengan penanggalan Jawa yang terdiri dari 5 hari dalam setiap siklusnya.

Tradisi yang kini telah mendarah daging dalam masyarakat Jawa memang secara langsung tidak bisa dilepaskan dengan pengaruh dinamisme dan animisme yang lebih dulu dianut oleh nenek moyang. Kepercayaan yang memuliakan para roh alam dan leluhur ini tentunya berkaitan erat dengan ramalan-ramalan Jawa dalam weton yang santer sering terdengar.

Kala itu, berbagai jenis kejadian atau peristiwa yang terjadi akan langsng di kait-kaitkan dengan fenomena alam dan campur tangan dari para roh. Itulah yang menyebabkan kenapa para nenek moyang suku Jawa begitu terdorong untuk mempelajari semua gejala alam untuk memudahkan penyampaian informasi kepada generasi selanjutnya.

Jika beberapa orang menganggap hal itu adalah suatu hal yang dianggap diluar nalar, tapi mau bagaimanapun begitulah para leluhur bekerja. Informasi-informasi tersebut akan disimpan rapi atau disampaikan kepada tetua adat yang lalu akan diabadikan dalam sebuah naskah-naskah yang kini lebih dikenal dengan istilah Primbon.

Bagi sebagian masyarakat Jawa, weton adalah hal yang sangat penting untuk dipelajari dan diamalkan. Mereka meyakini bahwa weton adalah penentu dari segala hal yang terjadi, baik di kehidupan sehari-hari atau bahkan kejadian di masa depan.

Uniknya, weton ini juga memiliki beragam fungsi diantara digunakan untuk menghitung angka neptu menjelang pernikahan, mengetahui watak dan perilaku seseorang, menentukan hari-hari penting seperti perhitungan membangun rumah, bahkan ada yang meyakini bahwa weton bisa menentukan nasib seseorang.

Manfaat Puasa untuk Kebatinan

Jika dikupas lebih dalam, puasa weton ini terbagi menjadi tiga jenis puasa masing-masing yakni puasa satu hari penuh, puasa ngebleng tiga hari serta puasa ngebleng tujuh kali yang dilakukan secara berturut-berturut tanpa terputus.

Singkatnya, puasa weton sehari penuh ini memiliki artian menjalankan puasa selama 24 jam atau sehari penuh. Puasa tersebut juga bisa dilaksanakan satu hari sebelum hari kelahiran tiba atau bisa juga melangsungkan puasa hingga hari kelahiran tiba.

Lalu, ada puasa ngebleng tiga hari yang biasanya dilakukan satu hari sebelum hari lahir tiba dan diakhiri pada satu hari setelah hari lahir tersebut, seperti melangsungkan puasa pada H-1 dan H+1 dari hari kelahiran. Uniknya, ada beberapa informasi yang menyebutkan bahwa pada puasa ini dilarang melakukan sahur dan berbuka selama tiga hari.

Jika ada puasa ngebleng 3 hari maka selanjutnya ada puasa ngebleng yang dilaksanakan selama 7 kali berturu-turut di setiap bulannya dan tidak boleh terputus. Konon katanya, bagi seseorang yang mempunyai hajat besar dan ingin cepat terwujud dianjurkan untuk melakukan puasa ngebleng yang dilakukan selama 7 kali ini.

Sebagian besar dari masyarakat Jawa juga sangat meyakini bahwa dari ketiga jenis puasa yang lain, puasa ngebleng 7 kali inilah yang paling membawa dampak dan manfaat sangat besar. Karena, usai melakukan puasa ini biasanya akan diadakan syukuran dengan mengundang tokoh agama dan membagi-bagikan makanan ke tetangga dan sanak saudara.

Terlepas dari tradisi yang telah diturunkan secara turun-temurun ini, eksistensi puasa weton masih bisa dibuktikan hingga sekarang. Praktik puasa-puasa kejawen khususnya puasa weton masing bisa dijumpai di era perkembangan seperti sekarang ini. Karena, seperti apapun zaman berubah, selama darah Jawa masih mengalir, maka tradisi akan tetap ada.

Perihal niat puasa weton, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan niat puasa yang lain dan biasanya, niat puasa ini dilafalkan dengan menggunakan bahasa Jawa. Tentunya mengandung makna berniat untuk melakukan puasa yang ditujukan kepada Allah SWT.

Niat ingsung pasa ing dina kelahiran tanpa mangan tanpa ngombe kerono Allah Ta’ala”, yang mempunyai arti “Aku niat berpuasa pada hari kelahiran tanpa makan dan minum karena Allah Ta’ala”. Namun tak menutup kemungkinan apabila ada perbedaan dalam pelafalan niat di setiap daerah, hal itu kembali akan niat dan hajat yang ingin ditunaikan.

Sementara, tata pelaksanaan puasa weton juga tidak berbeda dengan puasa pada umumnya. Bermula dengan melakukan makan sahur dan menyegerakan berbuka saat adzan maghrib berkumandang. Namun, ada beberapa poin spesial yang membedakan puasa weton ini dengan puasa lainnya termasuk puasa Ramadhan.

Pada puasa weton, biasanya dianjurkan untuk menjaga wudhu sepanjang hari, melakukan sholat sunnah, menyiapkan tujuh jenis jajanan pasar, atau boleh dengan menyertakan bubur merah dan putih saat berbuka, dan bahkan ada juga yang menyiapkan kembang tujuh rupa untuk mandi dengan syarat ujung rambut hingga ujung kaki harus terkena air tersebut.

Tradisi yang masih bertahan hingga era saat ini, tentunya memiliki manfaat, tujuan yang baik serta banyak manfaat. Tak sedikit masyarakat Jawa yang mengakui kekuatan puasa weton ini, diantara dari mereka bahkan merasakan kepekaan batin yang luar biasa. Kepekaan spiritual inilah yang nantinya digunakan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Lebih dari itu, manfaat yang terasa nyata saat melakukan ibadah puasa kelahiran ini seperti membuat tubuh menjadi lebih sehat, memperkuat mental, melancarkan doa dan hajat, menjadikan diri penuh kasih, mempermudah urusan, hingga dipercaya bisa menjauhkan diri dari segala macam bentuk kesialan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: