Misteri Ki Ageng Tukum dan Cerita Gajah Mada Memeluk Islam di Kediri 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Makam Ki Ageng Tukum, Kec. Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur /Foto:twitter-@sarangpanjalu21

PARA peziarah makam Ki Ageng Tukum mempercayai pusara yang mereka ziarahi di Desa Badal, Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri tersebut adalah makam Mahapatih Gajah Mada. Dari cerita tutur yang berkembang. Sebelum mangkat, Gajah Mada memeluk Islam sekaligus bersalin nama Ki Ageng Tukum.

Dalam sebuah artikel, Abu Manshur, Ketua Yayasan Syekh Abdul Mursyad mengatakan : secara bahasa, “Tu” mengandung arti “keluar”. Sedangkan “Kum” berarti “hukuman”. Secara harfiah, Tukum bermakna orang yang keluar dari hukuman.

Berbagai sumber sejarah mencatat, paska meletus peristiwa Bubat (1357) yang menewaskan Dyah Pithaloka Citrarasmi, calon istri Hayam Wuruk, Gajah Mada menjadi pesakitan. Tentara Majapahit memburunya. Raja Wengker yang murka mengumpulkan seluruh menteri Majapahit.

Raja Wengker atau Raden Kuda Amreta atau Bhreng Prameswara ring Pamotan, suami Bhre Daha atau Haji Rajadewi, mendesak Gajah Mada untuk dihukum. Eksekusi pun dilakukan. Diiringi bunyi kentong titir, tentara Majapahit menyerbu kediaman Gajah Mada.

Dengan beringas mereka mengobrak-abrik apa saja. “Pagar halaman telah dirusak, batasnya telah terhapus. Bala tentara berdesak masuk halaman,” tulis Slamet Muljana dalam buku “Puncak Kemegahan, Sejarah Kerajaan Majapahit”.

Tentara Majapahit hanya menjumpai istri Gajah Mada dengan sebilah keris bersiap di tangan. Saat tentara Majapahit datang menyerbu, Gajah Mada tenggelam dalam semedi yang khusyuk. Permintaan istrinya agar menyerah, ia diamkan.

Dikutip dari Kidung Sundayana, Gajah Mada hanya mengenakan cawat geringsing dengan selembar kain putih menyelubungi tubuh. Pada pinggangnya melingkar sabuk atmaraksi. Anehnya, tentara Majapahit tidak melihatnya. Tentara Majapahit yang murka melakukan pengerusakan dan penjarahan.

Kidung Sundayana juga menyebut, Gajah Mada telah moksa. Jiwa raganya pulang ke Wisnuloka. Tentara Majapahit terus melakukan perburuan dengan menyisir seluruh desa-desa Di Majapahit. Namun mereka tidak berhasil menemukan jejak Gajah Mada.

Mertua Syekh Abdullah Mursyad

Awal menjejakkan kaki di Kediri, Ki Ageng Tukum bertempat tinggal di wilayah Mrican (Sekarang Kota Kediri). Mrican berasal dari kata “Murca” yang berarti menghilang. Ada yang menafsirkan makna Murca sebagai hilangnya Gajah Mada dari ibukota Majapahit.

Bagi Gajah Mada, Kediri adalah masa lalu. Di awal karirnya sebagai Bekel Bhayangkara Majapahit, Gajah Mada pernah menjalani pendadaran di Kediri. Usai menumpas Pemberontakan Kuti pada tahun 1319, Gajah Mada mendapat pangkat jabatan Patih Kahuripan.

Baru dua tahun memerintah, ia dimutasi menjadi Patih Daha (sekarang Kediri) lantaran Patih Daha Aria Tilam mangkat. Selama di Daha, Gajah Mada memperoleh mentor Patih Amangku Bumi Aria Tadah yang kelak jabatannya ia gantikan.

Dari berbagai sumber yang dihimpun, di Mrican Kediri, Ki Ageng Tukum mendirikan sebuah tempat untuk pendalaman agama Islam. Salah satu santrinya adalah Pangeran Demang II, yang kemudian dikenal sebagai penyebar Islam di Kediri.

Ada cerita tentang Ki Ageng Tukum yang bertemu dengan Syekh Abdullah Mursyad yang berlanjut keduanya menjadi mertua dan menantu. Mbah Mursyad merupakan dzuriyah (keturunan) Sunan Giri, putra Maulana Ishak.

Dalam sebuah artikel, Abu Manshur, Ketua Yayasan Syekh Abdul Mursyad mengatakan, Mbah Mursyad dikenal memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Pada suatu ketika Ki Ageng Tukum menggelar sayembara untuk pernikahan putrinya.

Barang siapa yang mampu mengalahkan dirinya dan sekaligus bisa membelokkan arus Sungai Brantas, ia akan menikahkan dengan putrinya. Mendengar itu, Syekh Abdullah Mursyad mendaftar sebagai peserta.

Kesaktian Ki Ageng Tukum berhasil ia lampaui. Dengan kesaktiannya, Mbah Mursyad juga dengan mudah mengalihkan arus sungai Brantas. Sesuai janji, Ki Ageng Tukum kemudian menikahkan Syekh Abdullah Mursyad dengan putrinya.

Kelak, dari para dzuriyah Syekh Abdullah Mursyad lahir para kiai dan pondok pesantren besar di wilayah Kediri. Saat Ki Ageng Tukum mangkat, Syekh Abdullah Mursyad juga yang melanjutkan jejaknya. Terutama dalam hal mendalami sekaligus menyebarkan agama Islam.

Makam Ki Ageng Tukum awalnya berada di pinggir kanal Sungai Brantas, wilayah Mrican. Sebuah pohon beringin tua menjadi penandanya. Penduduk Kediri mengenal makam berpunden tersebut dengan nama Gajah Oling (Oleng). Sementara sesuai Negarakertagama, Gajah Mada mangkat pada tahun Saka 1286 atau Masehi 1364.

Pada tahun 1920, Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan pabrik gula di wilayah Mrican, Kediri. Proses pembangunan menggusur apa saja. Termasuk makam Ki Ageng Tukum, turut tergusur. Bersama Pangeran Demang II, makam Ki Ageng Tukum dipindah di Desa Badal, Kecamatan Ngadiluwih. Hingga kini anggapan Ki Ageng Tukum adalah Gajah Mada yang menyamar, masih menjadi perdebatan.

Dosen sejarah Universitas Nusantara PGRI (UNP) Zainal Affandi adalah salah satu orang yang meragukan. Dalam sebuah artikel, Zainal berpendapat nama “gajah” pada punden Gajah Oling tidak serta merta merujuk pada Gajah Mada. Sebab patih Majapahit yang memakai nama gajah ada empat orang.

Penerimaan sosok Ki Ageng Tukum sebagai Gajah Mada yang tengah melakukan penyamaran di Kediri kata Zainal masih membutuhkan bukti yang lebih kuat. “Karena tidak ada bukti-bukti sejarah yang mendukung argumentasi yang dikaitkan dengan Gajah Mada,” tulisnya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: