Menggali Ritus Kebudayaan Masyarakat Jawa dan Pengaruh Islam

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
ritus-grebeg-jogja
Grebeg/ Gunungan merupakan salah satu ritus perbaduan dua kebudayaan, yang masih lestari hingga kini /Foto: kratonjogja.id

santrikertonyonoJauh sebelum kedatangan agama Hindu, Budha maupun Islam di tanah Jawa, masyarakat telah memiliki keyakinan sendiri dengan melakukan pemujaan dan beberapa doa yang tujukan kepada para leluhur atau makhluk ghaib yang mendiami suatu tempat. Mereka menyakini, bahwa limpah kehidupan yang telah tersedia ada campur tangan dari sang leluhur.

Kepercayaan yang di anut oleh masyarakat Jawa ini lebih dikenal dengan sebutan animisme dan dinamisme, dimana mereka sangat mempercayai keberadaan dan kekuatan roh nenek moyang serta mempercayai bahwa benda-benda keramat seperti halnya keris, tombak ataupun senjata lainnya memiliki “jiwa” yang harus dihormati.

Namun, saat agama Hindu masuk ke tanah Jawa, beberapa sejarawan berspekulasi bahwa Hindu bukanlah sebatas agama dalam definisi yang biasa. Lebih dari itu, agama Hindu merupakan bidang keagamaan yang menyatu dengan kebudayaan.

Dalam perjalanannya selama berabad-abad itu, agama Hindu mengalami perubahan yang sangat signifikan hingga mengalami perubahan di beberapa unsurnya. Dimana, ada beberapa poin dalam pelaksanaan ibadah Hindu yang masih sangat diutamakan namun ada juga yang perlahan mulai ditinggalkan.

Secara harfiah, masyarakat Jawa pada zaman dahulu memang begitu dekat dengan kekuatan alam. Bak sudah menjadi satu kesatuan yang saling memberi manfaat. Hal itulah yang akhirnya melahirkan pemahaman baru di kalangan orang Jawa pada umumnya, dimana setiap gerakan, kekuatan serta kejadian dalam hidup disebabkan oleh makhluk-makhluk yang ada di sekitar mereka.

Secara otomatis, apa yang mereka lihat dan apa yang mereka rasakan memberikan kesan dalam pemikiran mereka hingga tentu saja membawa pengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Jawa menjadi memiliki pedoman dan pelindung saat mereka menjalani kehidupan selama di bumi.

Sementara, dalam menjalani kehidupannya, orang Jawa mayoritas mengacu pada sesuatu yang memiliki kekuatan tertentu. Mereka menyakini bahwa para roh leluhur tersebut menyatu dengan kepercayaan terhadap kekuatan yang dimiliki oleh alam hingga berhasil membawa pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan manusia.

Corak yang begitu khas dalam memilih keyakinan, membuat masyarakat Jawa terlihat berbeda dengan beberapa suku lain. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa itu adalah salah satu hal yang akhirnya menjadi ciri utama bahkan warna khusus yang mewarnai kehidupan religiusitas dan tentunya adat istiadat masyarakat Jawa.

Secara fisiknya, mungkin banyak mengira masyarakat Jawa melakukan pemujaan terhadap ruh, dan juga kekuatan lain yang dianggap ghaib, namun jika ditelisik lebih dalam bisa dilihat gambaran bahwa esensi dari keyakinan masyarakat Jawa tetaplah terpusat pada Tuhan yang Maha Esa.

Garis besarnya bisa disimpulkan bahwa agama Jawa yang berlandaskan sikap dan perilaku mistik dalam keyakinan mereka tetaplah tertuju pada Tuhan. Dimana, Tuhan dianggap sebagai sumber anugerah, sementara roh leluhur serta kekuatan sakti hanya dianggap sebagai perantara, agar selama mereka menjalani kehidupan selalu dalam jalan yang sesuai dengan keyakinan.

Ritus Penyembahan Roh Nenek Moyang

Umumnya, konsep masyarakat dalam hal berkeyakinan telah mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa di masa sebelum Hindu dan Budha masuk. Bisa terlihat dari banyaknya warisan hukum adat dan tradisi yang masih menonjol, pengaruh kebudayaan yang kuat serta beberapa poin lain yang hingga kini mampu menjadikan masyarakat Jawa hidup dengan teratur.

Meskipun masyarakat Jawa dikenal dengan keidentikannya dalam kehidupan yang sederhana, maka tidak mengherankan apabila seluruh aktivitas masyarakat kini masih mewarisi sistem religi nenek moyang yakni animisme dan dinamisme. Terlepas dari itu semua, keyakinan ini menjadikan masyarakat Indonesia menjadi lebih memahami makna solidaritas.

Menurut Ahwan Fanani dalam bukunya “Jejak Islam dalam Kebudayaan Jawa” (2020), beberapa pemujaan atau upacara adat dengan menyembah roh tak lain merupakan sebuah sarana komunikasi dengan para leluhur yang mendiami suatu benda atau dengan penguasa alam.

Ritus atau biasanya disebut dengan upacara keagamaan ini biasanya berpusat kepada penyembahan, penghormatan atau pemujaan kepada roh nenek moyang dan juga beberapa benda sakral seperti keris, tombak, batu akik dan pohon-pohon besar.

Tak hanya itu, masyarakat Jawa juga sangat menyakini bahwa ada roh atau kekuatan yang mendiami wilayah atau bahkan tanaman. Seperti roh yang mendiami bukit, gunung, pohon beringin dan juga pohon bambu. Kepercayaan yang begitu kuat itupun akhirnya menjadikan masyarakat meyakini larangan bertindak semena-mena terhadap benda-benda itu.

Sebenarnya ritual Jawa sebelum kedatangan Islam ini bisa dikatakan sebagai langkah negosiasi yang diambil oleh masyarakat dengan para roh, agar para roh jahat yang bersemayam di suatu tempat tidak menggangu kehidupan manusia.

Dimana, ritual itu tak akan lepas dari peran sesajen, yang dilengkapi dengan serangkaian acara ritual yang lain. Seperti salah satu contohnya menyuguhkan beberapa makanan tradisional, beraneka macam bunga bahkan hewan dengan berbagai bagian tertentu.

ritus-grebeg
Potrait Ritus Grebeg/ Gunungan Tahun 1980-an di Yogyakarta /Foto: alamy.com

Sesaji yang telah disiapkan oleh masyarakat ini lantas akan diberi doa-doa menurut keyakinan mereka. Doa-doa ini dianggap bak seperti jembatan agar para roh mau menerima persembahan dari masyarakat. Secara khusus, sesajen disiapkan untuk sing mbahu rekso (roh yang menjaga), mbahe (si kakek), dan tak ketinggalan yakni danyang (makhluk halus) yang diyakini mendiami suatu tempat keramat.

Masuknya keyakinan Hindu akhirnya memberikan warna baru bagi ritus-ritus Jawa. Agama Hindu dan Budha membawa roh leluhur yang disebut “Dewa dan Dewi” sebagai tujuan dari persembahan khas dari upacara adatt yang mereka lakukan.

Contoh yang paling mudah ditemui adalah upacara adat metik yang biasanya dilakukan setelah masa panen padi. Upacara adat ini dilakukan oleh masyarakat dengan sebagai wujud persembahan kepada Dewi Sri atau Dewi Padi dengan membawa nasi dan ayam.

Jika dilihat, beberapa peninggalan ritus masa masa pra Islam masih bisa dilihat hingga sekarang. Sementara, ritus dari mitologi sebelum Islam masuk ke tanah Jawa juga masih hidup di sebagian besar kehidupan orang Jawa. Sifat-sifat magis dari ritus yang diyakini itupun dianggap mampu memenuhi kebutuhan rohani masyarakat.

Membumikan Ajaran Islam dalam Budaya Jawa

Ritual Jawa yang mendapat pengaruh Islam memang cukup nampak dalam berbagai upacara adat yang kerapkali diselenggarakan oleh masyarakat. Clifford Geertz dalam The Religion of Java bahkan telah memetakan berbagai bentuk ritual di masyarakat Jawa, yang mayoritas dipraktikkan oleh kalangan santri dan tokoh agama.

Proses Islamisasi yang terjadi sebenarnya adalah ritus-ritus yang ada sebelum Islam masuk di beri esensi atau muatan dari Islam. Baik itu tentang muatan kepercayaan, muatan nilai atau bahkan muatan ritual. Seperti yang telah banyak diketahui bahwa muatan kepercayaan pra-Islam banyak diwarnai dengan unsur magis dan kepercayaan kepada dewa dan makhluk spiritual.

Jika ditarik garis tengah bisa disimpulkan bahwa ritual sendiri dilakukan untuk membuat makhluk-makhluk ghaib tersebut rela dan mau memberikan bantuan kepada manusia dan tidak menimbulkan kerugian atau kekacauan. Sementara, dalam Islam hanya fokus dengan kepercayaan kepada Allah SWT.

Arah Islamisasi ini terjadi pada beberapa tradisi atau adat yang memang berasal dari masa pra-Islam. Namun sebaliknya, adanya tradisi yang sebelumnya begitu kuat ditanamkan kerapkali terjadi melalui pelaksanaan perayaan Islam dengan tetap menggunakan unsur-unsur budaya Jawa.

Pada perayaan 1 Muharram misalnya, perayaan 1 Muharram dikenal sebagai tradisi yang kental akan nilai-nilai Islam, namun kini memiliki nuansa Jawa karena pada praktiknya banyak unsur poin budaya Jawa yang terlihat pada perayaan 1 Muharram.

Contoh yang paling sering terlihat adalah tradisi pernikahan di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dimana, pengantin di Jawa Timur akan dipertemukan dengan iring-iringan kembang mayang, serta diiringi dengan lantunan shalawat saat menunggu pelaminan.

Hal yang sama terjadi di Jawa Tengah, namun poin pembeda dari tradisi pesta pernikahan ini terletak pada musik iring-iringan yang menggunakan gending Jawa. Secara otomatis, variasi itu menunjukkan keanekaragaman dalam proses Jawanisasi, sehingga penerapan ajaran Islam bisa meyatu dengan nuansa kebudayaan Jawa.

Namun, perlu digaris bawahi bahwa derajat penerimaan budaya Jawa ataupun ajaran Islam di kalangan masyarakat Jawa juga tidaklah tunggal. Lagi-lagi, Clifford Geertz memetakan kelompok kultural santri, priyayi serta abangan sebagai sebuah varian dari muslim Jawa berdasarkan sumbolitas kebudayaannya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: