Mengenal Tradisi Sedekah Bumi, Hasil Akulturasi Tiga Budaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Sedekah Bumi (Nyadran) di Kabupaten Sleman Yogyakarta /Foto: jogja.semberani.com

Bagi masyarakat Jawa yang mayoritas berprofesi sebagai petani, tradisi sedekah bumi merupakan kegiatan yang tidak boleh dilewatkan saat setelah para petani memanen hasil pertanian mereka. Tradisi yang kerapkali digelar oleh para petani ini bahkan juga dilaksanakan oleh masyarakat umum di hampir seluruh Indonesia.

Secara umum, tradisi sedekah bumi ini adalah upacar adat yang melambangkan bentu rasa syukur kepada bumi atau semesta yang telah memberikan rezeki berupa hasil bumi yang baik dan melimpah. Ada sebagian masyarakat yang melaksanakan tradisi ini pada hari nahas tahun atau pada awal bulan Muharram/Sura.

Jika awalnya tradisi ini digelar di jalan atau lebih tepatnya di perempatan jalan, maka sekarang tradisi sedekah bumi ini digelar di tempat-tempat yang lokasinya berada di tengah-tengah masyarakat. Seperti contohnya di Masjid, balai desa, lapangan, atau tempat terbuka lainnya. Hal itu tentunya bertujuan agar semakin banyak warga yang berpartisipasi dan saling berdoa bersama.

Tradisi sedekah bumi yang kental dengan unsur sesaji memang tidak bisa dihindari. Sesaji khas yang biasanya dipersembahkan dalam tradisi atau ritual ini adalah bubur sura dan hasil bumi yang nantinya akan dimakan bersama dan sebagian lainnya akan dikuburkan.

Di beberapa daerah, bubur sura yang biasanya digunakan untuk sesaji ini terbuat dari berbagai macam biji-bijian yang konon hanya boleh dimasak didalam kendi kuali yang terbuat dari tanah. Selain itu, juga ada pelengkap sesaji yang lain seperti hasil bumi mulai dari biji-bijian, umbi-umbian, sayuran hingga buah-buahan.

Pelengkap sesaji tersebut akajn dikeluarkan, dan didoakan sebelum akhirnya di santap bersama-sama warga yang lain. Tak ketinggalan, kepala binatang ternak yang juga digunakan sebagai persembahan dalam sesaji. Namun, kepala binatang ternak yang dikurbankan ini tidak akan dikonsumsi dan langsung di kuburkan.

*Budaya Jawa

Ritual sedekah bumi juga bisa dikatakan sebagai sebuah tradisi yang menggambarkan kesuburan alam serta bentuk refleksi dari kemakmuran masyarakat desa. Hal itu bisa dilihat dari pola hidup masyarakat Jawa yang menyambung hidup dari mengolah ladang dan sawah. Dengan menggelar sedekah bumi inilah sebagai perwujudan rasa terimakasih dan syukur atas keberlimpahan hasil panen mereka.

Sebagian dari hasil bumi yang telah dipanen akan diolah menjadi berbagai macam jenis makanan yang kemudian akan di hidangkan dan didoakan selama acara ritual sedekah bumi itu berlangsung. Sebelumnya, berbagai jenis hasil bumi, olahan makanan serta kepala binatang ternak akan dibawa ke pepunden desa sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Selain itu, tradisi sedekah bumi yang digelar pun akan diramaikan dengan beberapa rangkaian acara pokok. Namun, pada intinya hanya ada tiga acara pokok masing-masing yakni ritual nyekar dan berdoa untuk para leluhur, kenduri lalu dilanjutkan dengan makan bersama dan yang terakhir adalah tradisi nayub yang tak lain merupakan bentuk tari-tarian yang dilakukan secara berpasangan.

Pemuliaan terhadap leluhur dan alam semesta yang dilakukan oleh masyarakat merupakan bentuk gambaran keutuhan kosmik sebuah kehidupan bermasyarakat di desa yang sebagian besar hidup bergantung dari alam.

Menurut Rohmat Djoko Prakoso melalui tulisannya di MediaIndonesia.com, itulah mengapa banyak dari masyarakat Jawa yang memercayai mitos ‘bapa angkasa ibu pertiwi’, ‘kaki-dhanyang’, ‘nini-dhanyang’, serta ’mbok sri’ sebagai bagian dari kemakmuran wulu wetu. Jika ditelisik lebih dalam, wulu wetu merupakan bahasa sansekerta yang mempunyai makna tentang penghasilan atau pendapatan.

Bagi masyarakat, hasil bumi merupakan perwujudan dari kemakmuran, kekuatan besar yang dipercayai menaungi kehidupan para petani merupakan bentuk pengungkapan bahasa simbol kesuburan alam bertemu dengan bapa angkasa ibu pertiwi.

Hujan yang jatuh dan membasahi ibu pertiwi bisa menumbuhkan segala jenis tumbuhan, hujan merupakan harapan besar bagi petani untuk memberikan kesuburan pada sawah dan ladang mereka. Seperti halnya padi yang lebih dikenal dengan mbok Sri adalah tanda tercukupinya kebutuhan pangan.

Selain itu, ketersediaan sawah dan ladang yang damai dan nyaman tidak lepas dari jasa para leluhur yang telah merintis keberadaan desa tersebut. Konon, masyarakat percaya bahwa dhanyang adalah orang yang pertama kali membuka hutan dan menciptakan lokasi yang kini menjadi tempat pemukiman seperti sekarang ini.

*Budaya Hindu

Konon, bagi masyarakat Hindu tradisi sedekah bumi ini dipercaya bisa menjadikan panen mereka lebih baik dan memberikan hasil panen yang melimpah berkat bantuan para leluhur dan dewa-dewi. Hingga ketika musim panen tiba, mereka akan memberikan persembahan kepada para leluhur dan dewa-dewi mereka sebagai bentuk ungkapan terimakasih.

Tidak hanya sebagai bentuk ungkapan terimakasih, tradisi sedekah bumi yang digelar oleh masyarakat Hindu ini juga sebagai permohonan para leluhur tetap berkenan menjaga tanaman dan selalu memberikan penjagaan serta memberikan hasil yang melimpah saat panen raya di bulan selanjutnya.

Saat menggelar tradisi sedekah bumi, para masyarakat berkeyakinan Hindu ini membawa hasil panen mereka ke tempat-tempat yang diyakini sebagi tempat bersemayamnya para leluhur mereka. Lalu, hasil panen yang telah ditata sedemikian rupa hingga berbentuk sesajen itu diletakkan di suatu tempat tertentu.

Tak pelak jika agama Hindu yang masuk sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur adat kebiasaan yang berlaku dalam aturan masyarakat Jawa yang kemudian membentuk suatu sistem kebudayaan yang sampai sekarang masih bisa dilihat dan sangat dilestarikan.

Dalam agama Hindu, sebuah ritual itu dilakukan untuk menjaga keseimbangan mikrokosmos serta menghindari dari kegoncangan-kegoncangan yang dapat mengakibatkan turunnya kesejahteraan secara materiil. Namun, sedikit banyak pola ritual tersebut tak lepas dari sebuah pengaruh kepercayaan animisme dan dinamisme.

Tradisi sedekah bumi yang telah mengalami akulturasi dengan agama Hindu bisa dilihat dari sesajen-sesajen yang disiapkan di depan balai desa, didepan tontonan ludruk, serta diberikan kepada sinden sebagai alasan utama syarat agar semua urusan di desa tersebut selalu di beri kelancaran.

Kepercayaan masyarakat Jawa terhadap kekuatan ghaib itu diyakini bisa memberikan perlindungan dan pertolongan terhadapa kelangsungan hidup manusia. Hal serupa juga ada pada kepercayaan agama Hindu yang mempercayai adanya makhluk halus bernama Dewa Batara Kala yang selalu merugikan manusia.

Prosesi upacara tradisi sedekah bumi juga mewajibkan adanya hewan yang harus dikurbankan. Kelengkapan syarat sesajen itu biasanya terdiri dari berbagai macam bunga, kemenyan, kelapa serta tak ketinggalan pertunjukan wayang kulit.

Praktek-praktek dalam agama Hindu bisa diamati dari kebiasaan membawa sesaji yang dimaksudkan sebagai tumbal agar segala hal yang tengah diinginkan atau diperjuangkan bisa cepat tercapai atau terkabul berkat bantuan dari para leluhur atau kekuatan supranatural.

*Budaya Islam

Tradisi sedekah bumi yang kini lebih dikenal dengan istilah Nyadran telah banyak mengalami konvensi atau kesepakatan bersama masyarakat untuk mengakulturasi tradisi Jawa tersebut kedalam agama Hindu dan bahkan agama Islam.

Menurut Ichmi Yani Arinda R. dalam jurnalnya yang berjudul “Sedekah Bumi (Nyadran) sebagai Konvensi Tradisi Jawa dan Islam Masyarakat Sraturejo Bojonegoro”, masyarakat hingga kini masih menggelar tradisi sedekah bumi karena beberapa faktor dan alasan.

Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat-Nya yang telah diberikan melalui hasil panen yang melimpah, tetapi juga untuk menghormati jasa-jasa para leluhur yang telah bekerja keras membuka lahan atau yang biasanya disebut dengan babat alas yang kini bisa menjadi tempat hunian sekaligus tempat mencari kehidupan untuk masyarakat.

Lebih dari itu, pelaksanaan sedekah bumi juga bertujuan untuk memperkuat solidaritas antar masyarakat satu dengan yang masyarakat yang lain serta poin penting disini adalah untuk melestarikan budaya-budaya asli daerah yang telah diwariskan oleh para leluhur sejak turun temurun.

Berkaitan bagaimana sikap Islam memandang sebuah tradisi memang sudah sepantasnya bahwa Islam memiliki tujuan untuk mencapai perdamaian antar umat beragama. Sehingga dalam mengajarkan ajarannya, umat Islam hendaknya dapat saling menghormati dan beradaptasi pada sebuah tradisi tersebut.

Terlebih kepada tradisi yang telah mengakar kuat pada masyarakat, umat Islam seyogyanya bisa mengedepankan toleransi asalkan tetap dalam koridor kaidah Islam dan tidak melampui batas dari ajaran-ajaran Islam yang telah ditetapkan.

Dengan adanya akulturasi dengan budaya Islam, tradisi sedekah bumi yang dianut oleh masyarakat secara turun-temurun dari setiap generasi ini digelar sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Beberapa daerah yang menggelar tradisi sedekah bumi masih melakukan budaya penyajian kemenyan di makam leluhur, tabur bunga dan tanam telur di pemakaman.

Selain itu, juga terdapat prosesi makan bersama di dekat makam leluhur, serta membawa gunungan atau hasil bumi. Setelah itu, masyarakat akan dihibur dengan penampilan beberapa kesenian daerah seperti gamelan Jawa, tayuban atau tarian masal, wayang kulit dan lain sebagainya.

Lalu, prosesi tradisi sedekah bumi ditutup dengan unsur-unsur Islami seperti melakukan sedekah, doa bersama, ziarah makam, membacah tahlil, istighosah, serta tentu ada ceramah agama di malam hari yang biasanya di pimpin oleh tokoh agama setempat.

Hal penting yang harus diingat adalah masyarakat pun juga harus bersahabat dengan alam, karena dari hasil alam lah manusia bias memperoleh rezeki dan menyambung hidup. Namun, secara tidak langsung, hal itu juga sekaligus menjadi pengingat bahwa bumi beserta alam seisinya adalah milik Allah SWT. dan di bumi inilah seluruh manusia menjalani kehidupannya.

Disisi lain, tradisi sedekah bumi juga bisa memperkuat tujuan hidup masyarakat tertentu. Hal itu akan membuat umat manusia kembali tersadar bahwa tujuan manusia hidup adalah hanya untuk beribadah kepada Allah. Tak lain, Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat, nikmat, serta kebahagiaan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: