Mengenal Sosok Habib Cikini, Keturunan Kedua Al Habsyi yang Berdakwah di Jakarta Pusat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Habib-Cikini
Al Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi (Habib Cikini) /Foto: facebook-@Santrikanzus

santrikertonyonoCerita turun-temurun tentang perjalanan hidup Al Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Habib Cikini tentunya sudah tak asing lagi bagi masyarakat yang berdomisili di tepi Kali Ciliwung, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

Diketahui, Habib Cikini merupakan salah satu tokoh penyiar agama yang sangat tersohor di masa Hindia Belanda.Jika ditarik garis mundur, Habib Cikini merupakan salah satu tokoh ulama generasi kedua dari garis keturunan keluarga al-Habsyi yang sebelumnya telah lama tinggal dan menetap di Indonesia. Sang kakek yakni Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi merupakan orang yang pertama kali dari Hadhramaut dan menetap di Pontianak.

Setelah menetap di Pontianak, beliau akhirnya memutuskan untuk menikahi salah seorang putri dari keluarga Kesultanan Pontianak dan mendirikan Kesultanan Hasyimiyah Pontianak bersama keluarga al-Qadri.

Apabila dilihat dari garis nasab-nya, Habib Cikini mempunyai nasab lengkap Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurrahman bin Husein bin Abdurrahman bin Hadi bin Ahmad Shahib Syi’ib bin Muhammad al-Ashghar bin Alwi bin Abu bakar al-Habsyi.

Sementara, dalam sebuah catatan kitab rujukan yang berjudul “Nasal Alawiyyin” susunan Habib Ali bin Ja’far Assegaf pernah dituliskan bahwa Habib Abdullah yang tak lain adalah ayah dari Habib Abdurrahman merupakan seorang kelahiran Hadhramut, Yaman tepatnya di daerah Tarbeh.

Meskipun pernah menetap di Pontianak, Habib Cikini juga pernah menyandang sebutan sebagai “Putra Semarang”. Hal itu dikarenakan ayah dari Habib Cikini yakni Habib Abdullah semasa hidupnya menetap di Semarang dan memiliki beberapa aktivitas berdagang antar pulau.

Terlebih setelah ditemukannya sebuah naskah yang menyebutkan bahwa ibu Habib Abdurrahman adalah seorang syarifah dari garis keturunan keluarga Assegaf yang berdomisili di Semarang. Secara umum, Al Habib Abdurrahman lahir dari sebuah keluarga besar ak-Habsyi pada cabang keluarga al-Hadi bin Ahmad Shahib Syi’ib di Semarang.

Jalin Persahabatan dengan Habib Syekh dan Raden Saleh

Beberapa literatur sejarah banyak yang menyebutkan bahwa Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi semasa hidupnya pernah bersahabat dengan Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih Botoputih yang berasal dari Surabaya.

Hal tersebut merujuk kepada beberapa catatan kaki yang dicatat oleh Ustadz Dhiya’ Shahab dalam bukunya yang berjudul “Syams azh Zhahirah”. Terlebih, terdapat sebuah pernyataan dalam buku “Le Hadhramout Et Les Colonies Arabes” (1886) yang ditulis oleh penulis asal Belanda yakni L. W. C Van Den Berg yang juga semakin melengkapi catatan kaki dari Ustadz Dhiya’ Shahab.

Dimana, Van Den Berg dalam bukunya itu menyebutkan bahwa Habib Syekh dinilai pernah menetap di Batavia kurang lebih selama 10 tahun. Dimana, saat menetap di Batavia itulah, beliau menjalin persahabatan dengan Raden Saleh.

Disisi lain, saat Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi mulai beranjak dewasa ia memutuskan untuk menikah dengan Syarifah Rogayah binti Husein bin Yahya yang merupakan adik dari sang maestro lukis Nusantara yakni Raden Saleh.

Namun sayangnya, perjalanan pernikahan antara Habib Abdurrahman atau Habib Cikini dengan Syarifah tak berjalan mulus. Pasalnya, hingga beberapa tahun sejak menikah, keduanya belum juga di karuniai keturunan. Lalu, Habib Cikini memutuskan untuk kembali menikah. Pilihan hatinya jatuh kepada sosok perempuan bernama Hajah Salmah dari Jatinegara.

Kisah pernikahan kedua dari Habib Cikini dan Hajah Salmah pun lagi-lagi belum di percaya untuk mendapatkan keturunan. Hingga, Hajah Salmah yang akrab disapa Nyai Salmah ini tiba-tiba suatu malam bermimpi tengah menggali sumur. Semburat air lalu melimpah keluar dari lubang sumur yang digali oleh Nyai Salmah tersebut.

Tanpa menunggu waktu lama, Nyai Salmah langsung menceritakan mimpinya itu kepada sang suami yakni Habib Cikini. Mengetahui hal tersebut, Habib Cikini segera menemui Habib Syekh untuk menanyakan perihal mimpi yang dialami oleh istrinya tersebut.

Habib Syekh pun menjelaskan, mimpi itu tak lain adalah sebuah pertanda bahwa Habib Cikini dan Nyai Salmah akan segera mendapatkan seorang putra shalih yang berlimpah ilmu, penuh keberkahan, serta membawa manfaat bagi orang-orang di sekelilingnya.

Setelah bertahun-tahun menunggu kehadiran seorang anak, akhirnya Nyai Salmah dinyatakan tengah mengandung anak buah cinta dengan Habib Cikini. Tepat pada hari Ahad 20 Jumadil Ula 1286 Hijriah atau 20 April 1870 Masehi, Nyai Salmah melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi.

Sesuai apa yang telah di katakan oleh Habib Syekh sebelumnya, Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi tumbuh menjadi sosok yang sholeh. Semasa hidupnya, ian mengabdikan diri menjadi penyiar agama dan banyak menebar manfaat serta maslahat bagi umat.

Bahkan, salah satu kanal berita online RMOL.ID yang pernah memuat artikel berjudul “’Revolusi Air’ Habib Keramat Cikini” (tayang 19 Januari 2018) pernah menyebutkan bahwa Habib Ali merupakan sosok yang turut berperan dalam mendorong kemerdekaan Indonesia. Hal itu terbukti ketika sebelum proklamasi Ir. Soekarno pernah menyembunyikan diri selama berminggu-minggu di kediaman Habib Ali.

Tak hanya Habib Ali, ternyata Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi juga memiliki putra lainnya yang memiliki nama Habib Abdul Qadir. Menurut beberapa informasi, Habib Abdul Qadir saat dewasa menikahi seorang putri Mufti Betawi. Dari pernikahan itulah, Habib Abdurrahaman bin Abdullah Al Habsyi mempunyai jalinan pertalian kekeluargaan dengan Habib Utsman bin Yahya.

Namun, dari kedua putranya tersebut, hanya dari Habib Ali yang nasab keturunannya masih berlanjut. Hal itu disebabkan karena Habib Abdul Qadir hanya dikaruniai tiga anak perempuan tanpa anak laki-laki satupun.

Diketahui, Habib Ali memiliki 2 anak laki-laki masing-masing Habib Abdurrahman serta Habib Muhammad serta lima anak perempuan yakni Syarifah Rogayah, Syarifah Khodijah, Syarifah Mahani, Syarifah Zahra dan Syarifah Sa’diyah.

Karomah Makam yang Mengeluarkan Semburan Air

Habib Cikini diperkirakan wafat pada tahun 1879. Karena beliau masih mempunyai hubungan saudara dengan Raden Saleh, akhirnya jasad Habib Cikini dimakamkan diatas lahan milik Raden Saleh. Banyak literatur sejarah yang mengatakan bahwa kala itu Raden Saleh memiliki tanah yang sangat luas mencakup Taman Ismail Marzuki, Apartemen Menteng Park hingga Rumah Sakit PGI Cikini.

Nama Habib Cikini semakin dikenal oleh masyarakat sejak adanya peristiwa makam Habib Cikini yang tiba-tiba mengeluarkan air saat akan digusur atau dipindahkan untuk keperluan pembanguan sebuah perusahaan property. Air yang keluar deras dari makam tersebut bahkan diyakini masyarakat sebagai karamah dari Habib Cikini.

Kejadian tersebut terjadi pada bulan Juli 2010, salah satu perusahaan property hendak memindahkan makam Habib Cikini karena dianggap menghalangi jalannya proses pembangunan. Perusahaan yang akan membangun apartemen seluas 1,6 hektar ini berniat untuk mengangkut makam Habib Cikini beserta tanah di sekelilingnya.

Namun, peristiwa aneh pun mulai terjadi. Sebuah mesin yang telah disiapkan untuk mengangkut makam tiba-tiba rusah bahkan ada beberapa bagian yang patah. Naasnya, kejadian aneh itu terjadi berulang kali setiap proses pengangkutan makam akan dilaksanakan.

Semburan air yang keluar dari sekitar liang lahat itu seakan datang memberikan isyarat kepada pihak proyek untuk menghentikan pekerjaannya dan berhenti mengerahkan alat berat untuk menggeruk tanah di sekitar makam.

Kesaksian atas semburan air yang tak pernah mengalir itu di rasakan sendiri oleh keturunan mendiang Habib Abdurrahman yakni Habib Muhammad Amin bin Sholeh bin Muhdor Al Habsyi. Ia mengatakan bahwa air tersebut tidak pernah sekalipun mengalami kekeringan.

Kini, air tersebut dialihkan ke sebuah toren agar bisa dialirkan ke beberapa titik tempat di wilayah makam Habib Cikini. Air tersebut kerapkali digunakan para peziarah untuk mandi, wudhu hingga minum. Peziarah yang datang meyakini air makam Habib Cikini merupakan berkah.

Sejak saat itu, banyak masyarakat dari dalam hingga luar kota berbondong-bondong datang untuk berziarah ke makam Habib Cikini. Tak hanya itu, para peziarah ini kerapkali datang untuk mengambil air tersebut. Sebagian dari mereka percaya bahwa air itu memiliki beberapa khasiat untuk pengobatan beberapa penyakit.

Kini, makam Habib Cikini yang terletak di Kecamatan Menteng ini dianggap keramat oleh banyak masyarakat. Makam tersebut berada di dalam sebuah bangunan yang cukup megah yang memiliki dua lantai.

Selain makam Habib Cikini, dalam bangunan megah tersebut juga terdapat dua makam lainnya. Satu diantaranya merupakan makam istri Habib Cikini yakni Syarifah Rogayah. Sedangkan, satu makam lain hingga saat ini belum diketahui asal usulnya. Namun, masyarakat sekitar percaya makam tersebut adalah makam orang baik.

Makam Habib Cikini sebenarnya tidak jauh dari pintu belakang Taman Ismail Marzuki (TIM), bahkan bagi peziarah yang ingin kesana bisa berpatok pada Apartemen Menteng Park. Selain itu, untuk terus menjaga makam tersebut, Pemerintah akhirnya menjadikan makam Habib Cikini menjadi salah satu cagar budaya di DKI Jakarta.

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: