Mengenal Sosok Batoro Katong, Sang Penyiar Islam di Tanah Ponorogo 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Makam Batoro Katong yang berada di Desa Setono, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, kerap menjadi pilihan bagi umat Islam di Indonesia untuk dikunjungi sebagai tempat wisata religi. Peziarah dari berbagai pelosok Tanah Air silih berganti mengunjungi kawasan tersebut.

Saat memasuki area pemakaman akan disuguhkan dengan adanya penampakan yang unik, yaitu tujuh gapura pintu masuk yang melambangkan lapisan langit. Setiap gapura dengan yang lainnya berjarak sekitar 200 meter.

Bagi Anda yang ingin berziarah ke sana, diminta untuk tak membawa bunga tabur yang komposisinya tidak terdapat pandan wangi sedikit pun, karena berdasarkan cerita masyarakat sekitar, Batoro Katong tak menyukainya.

Dikutip dari berbagai sumber, juru kunci makam, Mukim menjelaskan, Batoro Katong memiliki nama asli Lembu Kanigoro. Dia adalah seorang putra dari Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V dari selir Putri Campa.

Berdasarkan catatan sejarah keturunan generasi ke-126 yaitu Ki Padmosusastro, disebutkan bahwa Batoro Katong dimasa kecilnya bernama Raden Joko Piturun atau disebut juga Raden Harak Kali.

Batoro-Katong
foto : detik.com

Status sebagai anak seorang raja besar membuat Bathara Katong memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Ponorogo. Oleh sebab itu, para peziarah pun tak henti-hentinya mengunjungi pemakamannya.

Selain dikunjungi masyarakat biasa, makam ini termasuk tempat favorit bagi para pejabat. Intensitas kunjungan pun semakin ramai ketika kontestasi Pilkada akan dimulai.

“Sebelum menjalankan tugasnya sebagai pejabat di Ponorogo, minta restu pada Kanjeng Bathara Katong sudah menjadi kewajiban bagi para pejabat di sini. Karena bagaimanapun juga, beliau adalah orang yang mbahurekso wilayah ini. Beliaulah bupati pertama Kota Ponorogo,” ujarnya.

Baca juga : Etika Syekh Subakir Mengislamkan Tanah Jawa

Semasa hidupnya Bathara Katong juga dikenal sebagai seorang tokoh yang sakti mandraguna. Salah satu kisah yang menggambarkan kesaktiannya adalah pertempurannya dengan Ki Ageng Kutu.

Ki Ageng Kutu adalah tokoh umat Hindu yang membangun peradaban baru di tenggara Gunung Lawu sampai lereng barat Gunung Wilis, yang kemudian dikenal dengan nama Wengker atau saat ini dikenal Ponorogo.

Konon, waktu itu Ki Ageng Kutu tidak bisa menerima kehadiran Bathara Katong yang mengemban misi menyebarkan agama Islam. Karena itulah kemudian dia memutuskan untuk beradu kesaktian guna mempertaruhkan wilayah Ponorogo.

Pertempuran antara Ki Ageng Kutu dengan Batoro Katong terjadi hingga berhari-hari, soalnya keduanya sama-sama sakti dan sama-sama kuat. Namun, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah.

Meski begitu, Batoro Katong tak putus asa ketika mengetahui kalau Ki Ageng itu bisa dikalahkan dengan pusakanya sendiri yaitu tombak Korowelang. Dia pun memutar otak untuk mencari strategi yang ampuh agar Ki Ageng bisa dilumpuhkan.

Sebuah siasat akhirnya didapatkan oleh Bathara Katong yaitu dengan meminang putri Ki Ageng Kutu yang bernama Niken Gandini. Dari tangan Niken Gandini inilah konon Tombak Korowelang yang belakangan diakui sebagai senjata pusaka Bathara Katong ini berhasil didapatkan.

Setelah mendapatkan tombak tersebut, Bathara Katong dengan mudah mengalahkan Ki Ageng Kutu.

Dengan kemenangannya atas Ki Ageng Kutu, berarti sudah tidak ada lagi hambatan bagi Batara Katong. Hingga kemudian dia memutuskan untuk mendirikan Ponorogo.

Batara Katong pun dinobatkan sebagai Adipati pertama Ponorogo pada 1496. Penobatan dilakukan di atas dua buah batu gilang yang diberi ukiran tahun terjadinya peristiwa itu.

Batu gilang itu kini diletakkan tepat di depan gapura ke lima makam Batara Katong.[]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: