Mbah Muntaha, Eks Pasukan Diponegoro yang Mewariskan Pesantren Kalibeber Wonosobo

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Muntaha
Profil KH. Muntaha al-Hafizh bersama santrinya /Foto: bangkitmedia

santrikertonyonoPada lebaran Idul Fitri lalu tak sengaja berhalal bi halal dengan warga Kalibeber, Kecamatan Mojotengah Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Namanya Ismail, seorang pegawai BUMN yang kurang lima bulan lagi pensiun. Ia bercerita panjang lebar tentang pondok pesantren di Kalibeber Wonosobo.

Disampaikannya Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al-Asyariyyah Kalibeber, sebagai yang tertua dan terbesar. Pesantren yang didirikan Raden Hadiwijaya atau Kiai Muntaha bin Nida Muhammad pada 1832 atau dua tahun setelah Perang Jawa (1825-1830) berakhir.

Selaian menjadi pusat berkembangnya keagamaan dan ilmu pengetahuan, pesantren juga sekaligus berperan sebagai pendorong ekonomi kerakyatan. “Karenanya kalau santri pada pulang saat lebaran seperti ini, yang paling terdampak secara ekonomi adalah warga setempat,” tutur Ismail bercerita.

Pengaruh pesantren terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat, kata Ismail begitu besar. Hadirnya ribuan santri membuat warung makan, pedagang gorengan, penyedia jasa laundry pakaian, ojek pengkolan, dan lain sebagainya, menjadi hidup. Ekonomi kerakyatan tumbuh subur. “Karena sebagian besar konsumennya santri,” katanya.

Begitu juga dengan destinasi wisata alam yang banyak bertebaran di sekitar Kalibeber. Termasuk hotel, penginapan, rumah singgah atau kos-kosan, juga ikut terangkat. Kedatangan wali santri yang berjumlah besar secara besar berpengaruh besar terhadap keberadaan rumah singgah.

“Karenanya, pemulangan santri pada setiap lebaran selalu dilakukan saat mendekati hari H lebaran,” tambahnya. Relasi sosial antara pesantren dengan masyarakat terjalin bagus. Para santri di Kalibeber dibebaskan berbelanja kebutuhan di luar lingkungan pesantren. Pihak pesantren tak pernah mengeluarkan aturan yang bersifat mengharamkan.

Wasiat dari pendahulu bahwa pesantren harus mampu memberi manfaat bagi lingkungan sosial sekitarnya, sampai sekarang masih dipegang erat. “Maaf, mungkin ada pesantren yang melarang santrinya belanja di luar lingkungan pondok. Kalau di Kalibeber dibebaskan,” terang Ismail.

Yang menarik lagi dari cerita Ismail, di wilayah Kalibeber banyak berdiri pondok pesantren. Pesantren Al-Asyariyah sebagai yang tertua dan terbesar membebaskan atmosfer pendidikan santri berkembang bebas. Yang dikedepankan adalah kolaborasi pendidikan.

Karenanya kurikulum yang diajarkan setiap pesantren diminta sama dengan pesantren Al-Asyariyyah. “Antar pesantren tidak saling berkompetisi. Karena kurukulumnya sama. Ini yang membuat Kalibeber dan Wonosobo terbranding sebagai daerah santri,” kata Ismail.

pondok-pesantren
Pondok Pesantren Al-Asyariyah Kalibeber /Foto: alif.id

Pesantren Tertua di Wonosobo

Saat ini Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al-Asyariyah Kalibeber, telah berumur 190 tahun. Pada awal berdirinya (1832), sebagaian besar masyarakat Wonosobo mengenal dengan nama Padepokan Kali Prupuk atau Pesantren Kali Prupuk.

Nama Kali Prupuk merujuk pada posisi pesantren yang bersebelahan dekat dengan aliran sungai Prupuk atau Kali Prupuk. Luapan banjir yang berlangsung terus-menerus memaksa pesantren dengan langgar kecilnya itu, hijrah ke lokasi yang dinilai lebih aman. Yakni wilayah Kalibeber.

Menjadi Pesantren Kalibeber karena berlokasi di Desa Kalibeber,” tulis M Solahudin dalam Napak Tilas Masyayikh Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura.

Lokasi baru dulunya kampung pecinan yang karena kebijakan kolonial lantas ditinggalkan penghuninya. Yang tersisa di kampung tinggal warga muslim. Raden Hadiwijaya atau Kiai Muntaha bin Nida Muhammad mengasuh pesantren Kalibeber selama 28 tahun (1832-1860).

Ia lebih banyak mengajarkan dasar-dasar keislaman dan bela diri. Di periode awal pesantren berdiri, santri lebih banyak dibekali ilmu tauhid, fiqih, tajwid, pengenalan huruf arab dan sebagainya. “Materi yang diajarkan R Hadiwijaya adalah hal-hal yang berkaitan dengan ibadah yang dikerjakan sehari-hari”.

Mbah Muntaha juga menggembleng para santri dengan kemampuan bela diri. Hal itu sebagai modal menghadapi serangan penjajah Belanda yang datang sewaktu-waktu.

Samsul Munir Amin, dalam KH Muntaha al-Hafizh: Pecinta Al-Qur’an Sepanjang Hayat (2010) menyebut, Raden Hadiwijaya atau Mbah Muntaha masih keturunan Kiai Nur Iman Mlangi. Bila dirunut lebih ke atas berdzuriyah kepada Untung Surapati.

Leluhur Mbah Muntaha yang terlacak adalah Kiai Wongso Taruno yang merupakan suami Raden Roro Irawati, putri Untung Surapati. “Dapat disimpulkan bahwa pendiri Pesantren Kalibeber ini adalah keturunan ulama dan bangsawan,” tulisnya.

Dalam Perang Jawa (1825-1830), Raden Hadiwijaya berdiri di samping Pangeran Diponegoro yang berjuang melawan kolonial Belanda. Dalam barisan laskar pejuang, ia dikenal sebagai ulama sekaligus pejuang asal Temanggung. Raden Hadiwijaya seangkatan dengan Abdussalam atau dikenal Mbah Shihah yang kemudian mendirikan Pesantren Tambakberas Jombang, Jawa Timur.

Dua tahun setelah Perang Jawa berakhir, Raden Hadiwijaya berada di Desa Kalibeber, Wonosobo. Untuk menghindari kejaran Belanda, ia bersalin nama menjadi Muntaha dan diterima baik oleh Mbah Glondong Jogomenggolo, tokoh masyarakat setempat. Mbah Muntaha wafat pada tahun 1860 dan dimakamkan di Makam Pare Kranggang, Kabupaten Temanggung.

Estafet Pesantren di Tangan Para Dzurriyah

Kepemimpinan pesantren dilanjutkan Kiai Abdurrahim yang merupakan putra Mbah Muntaha bin Nida Muhammad. Sejak muda Kiai Abdurrahim dikenal sebagai santri yang alim. Kealimannya membuat Kiai Abdullah, pengasuh Ponpes Jetis, Parakan, Temanggung, terpikat.

Sang guru kemudian mengambilnya sebagai menantu. Di bawah pengasuhan Kiai Abdurrahim, Pesantren Kalibeber berkembang pesat. Jumlah santri yang belajar, berlipat. “Kiai Abdurrahim meneruskan sistem pengajaran yang telah dirintis ayahnya”.

Selama 56 tahun (1860-1916) Kiai Abdurrahim memimpin Pesantren Kalibeber. Ia juga menulis Al-Qur’an dengan tulisan tangannya sendiri. Kitab suci tulisan tangan itu dibikin saat Kiai Abdurrahim berada di atas kapal laut yang menuju tanah suci. Mbah Abdurrahim wafat pada tahun 1916 dan dimakamkan di Dusun Karangsari, yakni lokasi di mana awal Pesantren Kalibeber berdiri.

Estafet kepemimpinan selanjutnya dipegang Kiai Asyari, putranya. Sejak muda Kiai Asyari terkenal gemar melakukan rihlah ilmiah dari pesantren ke pesantren. Ia pernah nyantri di Pesantren Sumolangu, Kebumen, Jawa Tengah dan Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur.

Pada masa kepengasuhan Kiai Asyari, Pesantren Kalibeber pernah diserbu pasukan Belanda dan mengakibatkan banyak kerusakan. Bahkan Al-Qur’an tulisan tangan Mbah Abdurrahim musnah dibakar. “Al-Qur’an tulisan tangan dari Kiai Abdurrahim dan beberapa kitab milik pesantren hilang terbakar ikut bangunan pesantren yang dibakar Belanda”.

Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, Kiai Asyari bersama santri Pesantren Kalibeber terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Kiai Asyari mengasuh pesantren selama 33 tahun (1916-1949). Ulama pejuang itu wafat pada tahun 1949 dan dimakamkan di wilayah Desa Deroduwur, Kecamatan Mojotengah.

Kepemimpinan Pesantren Kalibeber berikutnya dipegang Kiai Muntaha al-Hafizh atau Mbah Mun, putra Kiai Asyari. Sebagaimana pendahulunya, Mbah Mun muda banyak melakukan rihlah ilmiah. Ia nyantri di Pesantren Madrasah Darul Ma’arif Banjarnegara, Pesantren Kauman Kaliwungu Kendal, Pesantren Krapyak Yogyakarta, dan Pesantren Tremas, Pacitan.

Di Pesantren Kauman Kaliwungu Kendal, Mbah Mun mendalami ilmu Al-Qur’an sehingga pada umur 16 tahun sudah hafal Al-Qur’an. Ia juga memperdalam qira’ah kepada Kiai Muhammad Munawwir Krapyak Yogyakarta. Seorang kiai yang terkenal sebagai ahli bidang Al-Qur’an.

Pada masa Mbah Muntaha al-Hafizh ini, Pesantren Kalibeber dikenal dengan nama Pesantren Al-Asyariyyah, yakni merujuk dari nama mendiang Kiai Asyari, ayahnya. Pesantren yang dikenal dengan kajian ilmu Al-Qur’annya ini berkembang pesat.

Di pesantren didirikan perguruan tinggi yang bernama Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo, dengan Mbah Muntaha al-Hafizh sebagai rektor yang kemudian dalam perjalanannya digantikan Prof Dr. H Zamakhsari Dhofier M.A.

Pada masa kepengasuhan Mbah Muntaha al-Hafizh, Pesantren Al-Asyariyyah membuat Al-Qur’an tulisan tangan berukuran akbar, yakni 2 x 1,5 meter. Proses penulisan ini selesai pada 2 Juli 1994. “Ide ini timbul karena hilang atau terbakarnya al-Qur’an tulisan tangan Kiai Abdurrahim, kakek Kiai Muntaha, akibat serangan Belanda ke Pesantren Kalibeber,” kata M Solahudin dalam Napak Tilas Masyayikh Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura.

Mbah Muntaha al-Hafizh mengasuh Pesantren Al-Asyariyyah selama 55 tahun (1949-2004). Pada 29 Desember 2004, Mbah Mun wafat dengan usia 94 tahun. Ulama yang terkenal sebagai ahli Al-Qur’an itu dimakamkan di wilayah Desa Deroduwur, sebagaimana Kiai Asyari, ayahnya bermakam.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: