Mbah Darso Wari Kusumo Blitar, Sang Arsitek Perang Diponegoro

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Makam Mbah Darso Wari Kusumo Blitar /Foto: Santrikertonyono

Akhir bulan puasa 19 Mei 1825, Pangeran Diponegoro bertemu Rahmanudin, bekas penghulu kraton yang bermukim di Tegalrejo, Yogyakarta. Dua orang sahabat itu bercakap-cakap. Rahmanudin berterus terang, umurnya sudah tua. Fisiknya tidak cukup bertenaga untuk mengangkat pedang bila Raden Mas Ontowiryo (Nama kecil Diponegoro) tetap memilih jalan perang.

“Saya tidak sanggup tinggal, sakit atau mati, sungguh saya ikut, tetapi jika lewat jalan peperangan saya sudah tua, tidak kuat, sudah tidak bisa,” tutur penghulu Rahmanudin seperti diriwayatkan Babad Diponegoro II Pupuh XX Dhandanggula. Pangeran Diponegoro tidak bergeming. Bagi Diponegoro sudah menjadi tugasnya mempersiapkan perang suci, dan mati sebagai martir (syahid).

Perang menumpas kolonialisme, penindasan, kesewenang-wenangan para kafir. “Kakek, saya akan menikmati perang: Kematian (dalam pertempuran) adalah baik, demikian kata orang,” kata Diponegoro (Babad Diponegoro II: 127). Diringi senyuman, Diponegoro juga meminta Rahmanudin menghabiskan sisa umurnya di tanah suci dan bersungguh-sungguh berdoa.

Rahmanudin diminta bersujud di depan Ka’bah, memohon restu atas perjuangan suci yang ia gelorakan. Juga dimintanya memohon doa dari empat Imam Fiqih di Mekkah, agar perjuangan suci memperoleh kemenangan. “Kakek, lebih baik engkau bersyukur, aku berjanji seandainya besok engkau sampai Mekah, jangan pulang wafatlah disana, ” kata Diponegoro. “Kalau engkau mendapat hasil, engkau kirimlah kabar, mohonkanlah doanya para Amin, semoga saya mendapatsyaaf nabi dan izin Allah,” tambahnya.

Setelah Belanda memporak porandakan Tegalrejo, Kamis, 27 Juli 1825 genderang Perang Jawa ditabuh. Pangeran Diponegoro menancapkan panji-panji pemberontakan di Goa Selarong. Diponegoro memaksimalkan seluruh kekuatan lokal pedesaan. Pohon-pohon besar ditebang dan diseladang-seladangkan pada ruas-ruas jalan. Jembatan kayu yang dipakai berlalu lintas direnggut fungsinya.

Semua jembatan kayu dibakar, termasuk membuat jebakan dengan galian-galian yang di dalamnya menanti bambu runcing tajam. Pasukan Diponegoro memutus jalur-jalur komunikasi dan perbekalan Belanda. Pasukan Belanda dibikin kacau balau ketika petani yang bekerja di sawah tiba-tiba menghunus keris, dan melakukan penyergapan. Setelah situasi normal, keris disarungkan, dan mereka kembali menyamar dengan menyatu ke dalam masyarakat sipil.

Louw dan De Klerck dalam Javasche Courant menulis, pasukan tempur Pangeran Diponegoro sangat mahir melakukan penghadangan dan penyergapan. Pasukan Diponegoro biasa bersembunyi di reremputan tinggi pada sisi jalan yang hendak dilewati pasukan Belanda, dan kemudian menembaki dengan formasi setengah lingkaran. Berkali-kali Belanda dibikin kocar-kacir.

Dari berbagai sumber tutur yang berkembang, kehebatan pasukan Diponegoro yang membingungkan Belanda tidak lepas dari peranan Kiai Darso Wari Kusumo atau Mbah Darso. Konon ia merupakan salah satu arsitek tempur laskar Diponegoro. “Kalau Kiai Mojo dan Sentot Ali Basyah Prawirodirdjo adalah penasehat Diponegoro, Mbah Darso merupakan penasehat sekaligus salah satu pengendali strategi perang,” demikian sumber yang berkembang.

Paska kekalahan perang Jawa, Mbah Darso juga hijrah ke Jawa Timur. Setelah melalui jalan pelarian yang panjang, ia memilih menetap di wilayah Desa Tingal, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Saat itu Garum masih berupa kawasan hutan belantara. Mbah Darso yang membabat hutan, membuka permukiman warga dan mengembangkan agama Islam.

Siapa Mbah Darso Wari Kusumo?

Tidak banyak sumber tertulis maupun lisan yang menceritakan asal-usul Mbah Darso Warih Kusumo. Mbah Darso atau sebagian orang memanggil Eyang Darso, konon memiliki nama asli Raden Putut atau Raden Petut. Seorang ulama berdarah bangsawan yang berasal dari wilayah Yogyakarta. Sebelum Perang Jawa (1825-1830) meletus, sumber lain menyebut, Mbah Darso pernah mencicipi pendidikan di Leiden, Belanda.

Saat perang berkecamuk, Mbah Darso bergabung ke dalam laskar tempur Diponegoro. Di dalam pasukan Diponegoro ia berperan sebagai pengatur siasat perang. Semacam arsitek tempur. Karena peran vitalnya tersebut, konon Belanda terus memburunya, meski secara de facto Diponegoro dinyatakan sudah kalah. “Mbah Darso hijrah ke Jawa Timur tidak sendirian. Tapi bersama sejumlah rekan-rekan perjuangannya,” demikian sumber menyebutkan.

Konon, Mbah Darso, Eyang Jugo atau Mbah Jugo dan Eyang Iman Soejono merupakan satu tim elite pasukan tempur Pangeran Diponegoro. Mbah Darso hijrah ke Blitar, sementara Mbah Jugo dan Iman Soejono memilih menetap di lereng Gunung Kawi, Malang. Di Desa Tingal, Garum, Mbah Darso dikenal sebagai ulama penyebar Islam. Konon ia berbagi wilayah dengan Mbah Imam Syafii, rekan seperjuangannya.

Mbah Darso membuka permukiman sisi utara Tingal, dan Mbah Imam Syafii membuka wilayah Tingal sisi selatan. Tidak diketahui pasti kapan Mbah Darso mangkat. Sebuah makam tua yang berada di sebelah barat mushola diyakini sebagai pesarean Mbah Darso Wari Kusumo. Di dekatnya terdapat makam lain yang dipercaya sebagai makam salah satu putra Mbah Darso. Sang putra konon pernah menimba ilmu di Negara Siam, dan pulang ke Jawa untuk mencari ayahnya.

Setiap malam Jumat Legi, banyak peziarah yang berdoa di depan pusara Mbah Darso. Hal itu berlangsung hingga hari ini. Para peziarah biasanya mendaras surat al-Ikhlas sebanyak seribu kali. Selain itu tidak sedikit peziarah yang menggelar pengajian di area pesarean Mbah Darso. Mereka biasanya mengaji sejumlah kitab tasawuf yang menjadi tradisi tarekat sathariyyah dan akmaliyyah.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: