Mbah Dalhar Watucongol dan Syiar Islam Metode Tarekat Syadziliyah 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
foto : www.nu.or.id

Perjuangan masyarakat Indonesia dalam merebut kemerdekaan tentu tak lepas dari kegigihan umat Islam ketika mengusir para penjajah dari pangkuan bumi pertiwi. Salah satu pertempuran yang banyak melibatkan kalangan santri dalam bertarung melawan penjajah saat itu bernama Perang Jawa.

Dikutip dari berbagai sumber, Perang Jawa kala itu dikomandoi oleh seorang kiai bernama Hasan Tuqo serta putranya Syekh Abdurrauf. Perjuangan mereka akhirnya diteruskan oleh cucunya, Kiai Dalhar bin Abdurrahman atau lebih dikenal Mbah Dalhar.

Mbah Dalhar yang lahir pada 10 Syawal 1286 H/ 12 Januari 1870 di kawasan pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang itu dipercaya untuk berjuang dalam mengawal santri pada masa kemerdekaan.  Ilmu kepemimpinan Kiai Dalhar mewarisi semangat dakwah dan perjuangan dari ayah dan kakeknya. Sejak kecil, ia haus akan ilmu agama, dengan mengaji dan belajar di pesantren. Pada umur 13 tahun, Nahrowi-nama kecil Mbah Dalhar, mulai belajar mondok.

Kiai Dalhar belajar agama kepada Mbah Kiai Mad Ushul di kawasan Mbawang, Ngadirejo, Salaman, Magelang. Di pesantren ini, Kiai Dalhar belajar ilmu tauhid selama 2 tahun. Setelah itu, Dalhar kecil  melanjutkan perjalanan spiritualnya dengan mengaji di kawasan Kebumen, tepatnya di Pesantren Sumolangu.

Di sana, ayahnya menitipkannya di bawah asuhan Syaikh as-Sayyid Ibrahim bin Muhammad al-Jilani al-Hasani, atau dikenal sebagai Syaikh Abdul Kahfi ats-Tsani.  Ketika mengaji di pesantren Sumolangu, Kiai Dalhar mengabdi di ndalem sang Syaikh selama delapan tahun.

Hal ini, merupakan permintaan Kiai Abdurrahman kepada Syaikh Abdul Kahfi ats-Tsani. Pada tahun 1314 H/1896, putra Syaikh Abdul Kahfi at-Tsani berniat untuk belajar di Makkah. Tahun pertama, Kiai Dalhar mengaji di Tanah Suci, saat itu terjadi peristiwa penyerangan Hijaz oleh tentara Sekutu. Tanah Hijaz yang masuk dalam kuasa Turki Utsmani diserang oleh tentara sekutu.

Syekh Muhammad al-Jilani mendapat tugas untuk berjuang membantu perlawanan tanah Hijaz, setelah 3 bulan mengaji. Sedangkan, Kiai Dalhar beruntung dapat terus mengaji selama 25 tahun di tanah suci.

Di tanah Hijaz, nama “Dalhar” menemukan sejarahnya, yakni pemberian dari Syaikh Sayyid Muhammad Babashol al-Hasani, hingga tersemat nama Nahrowi Dalhar.

Saat perperangan berlangsung, sang Syaikh memerintahkan Kiai Dalhar agar menemani putranya, yaitu Sayyid Muhammad al-Jilani al-Hasani.  Di Makkah, mereka diterima oleh Syaikh Sayyid Muhammad Babashol al-Hasani, yang merupakan kerabat dari Syaikh Ibrahim al-Hasani.

Mbah Dalhar juga dikenal sebagai kiai yang cukup disegani banyak kalangan lintas golongan, para ulama, dan pejabat. Sejak kecil, ia dikenal memiliki ilmu yang tidak dimiliki para kiai pada umumnya.

Selain itu, dia juga mencatatkan sejarah dalam jaringan ulama Nusantara, sebagai rujukan keilmuan, perjuangan serta sufisme dalam tradisi pesantren.

Kiai Dalhar wafat pada 23 Ramadhan atau tepatnya 8 April 1959. Dia dimakamkan di pemakaman Gunungpring, Watucongol, Muntilan, Magelang. Kisah perjuangan dan keteladanan Kiai Dalhar menjadi bukti betapa penting jaringan ulama-santri dalam mengawal negeri, menjemput kemerdekaan Indonesia.

Metode Tarekat Syadziliyah

Salah satu kiai yang menjadi rujukan umat Sufi di Tanah Air dalam menuntun agama ialah Kiai Dalhar.  Cucu dari Kiai Hasan Tuqo itu dikenal sebagai ulama sufi Indonesia memilih mensyiarkan Islam dengan metode Tarekat Syadziliyah.

Tareqat Syadziliyah terutama menarik di kalangan kelas menengah, pengusaha, pejabat, dan pengawai negeri. Mungkin karena kekhasan yang tidak begitu membebani pengikutnya dengan ritual-ritual yang memberatkan seperti yang terdapat dalam tareqat-tareqat yang lainnya.

Setiap anggota wajib mewujudkan semangat tareqat di dalam kehidupan dan lingkungannya sendiri, dan mereka tidak diperbolehkan mengemis atau mendukung kemiskinan. Oleh karenanya, ciri khas yang kemudian menonjol dari anggota tareqat ini adalah kerapian mereka dalam berpakaian.

Ilmu itu diperoleh Kiai Dalhar ketika dirinya mengenyam pendidikan agama di Makkah dan memperoleh ijazah mursyid Thariqah Syadziliyyah dari Syaikh Muhtarom al-Makki dan ijazah aurad Dalailul Khairat dari Sayyid Muhammad Amin al-Madani.

Kiai Dalhar menurunkan ijazah thariqah syadziliyyah kepada 3 orang muridnya, yakni Kiai Iskandar Salatiga, Kiai Dhimyati Banten, dan Kiai Ahmad Abdul Haq. Ketika mengaji di Makkah, secara istiqomah Kiai Dalhar tidak pernah buang hadats di tanah suci. Dikisahkan, dahulu saat ingin berhadats, Kiai Dalhar memilih pergi di luar tanah Suci, sebagai bentuk penghormatan. Inilah bentuk ta’dzim sekaligus sikap istiqomah Kiai Dalhar yang telah teruji.

Selain itu, dia juga menulis beberapa kitab di antaranya: Kitab Tanwir al-Ma’ani, Manaqib Syaikh as-Sayyid Abdul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar as-Syadzili al-Hasani, Imam Tariqah Saydziliyyah. Kiai Dalhar juga menjadi rujukan beberapa kiai yang kemudian menjadi pengasuh pesantren-pesantren ternama.

Di antara murid Kiai Dalhar, yakni Kiai Ma’shum (Lasem), Kiai Mahrus Aly (Lirboyo), Abuya Dhimyati (Banten), Kiai Marzuki Giriloyo serta Gus Miek. Gus Miek juga dikenal dekat dengan Kiai Dalhar.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: