Makna Tradisi Sungkeman, Warisan Budaya Jawa Sejak Masa Keraton Solo

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Sungkeman, Jawa 1925 /Foto: id.pinterest.com

santrikertonyonoMasyarakat Jawa memang selalu berhasil menunjukkan keunikannya hampir di segala sendi kehidupan. Setiap jengkal kebiasaan orang Jawa, itu ada budaya dan setiap detik tutur kata orang Jawa itu adalah tradisi. Hebatnya, tradisi-tradisi tersebut selalu berhasil menyita perhatian para ahli sejarah untuk kembali mengorek sisa-sisa sejarah Jawa di masa lalu.

Tak hanya itu, tradisi orang Jawa selalu berhasil diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Meskipun berisiko mengalami pergeseran karena perkembangan teknologi, namun itu tak membuat berkurangnya makna yang terkandung dalam setiap tradisi yang telah dibentuk atau diciptakan oleh para leluhur yang lebih dulu merasakan pahit manisnya kehidupan.

Salah satu tradisi Jawa yang hingga kini masih diwariskan kepada generasi muda yakni tradisi sungkeman. Sungkeman sendiri sangat mudah ditemui di tengah-tengah masyarakat Jawa, khususnya saat moment tertentu pada perayaan hari besar Islam dan lainnya. Meskipun, hanya terlihat di saat-saat tertentu, namun tradisi sungkeman ini masih memiliki makna yang utuh.

Secara umum, sungkeman memiliki makna sebuah tanda bakti seorang anak kepada orang tuanya atau orang yang lebih tua. Dimana, sungkeman ini bertujuan agar orang tau dan anaknya saling memaafkan kesalahan satu sama lain, dan sama-sama kembali ke keadaan yang suci atau bersih. Harapan dan doa tentunya tak lepas dari proesesi sungkeman agar kedepannya menjadi manusia yang lebih baik.

Saat Idul Fitri, sanak saudara yang masih berusia muda akan berkunjung ke rumah saudara yang lebih tua atau pinisepuh untuk melakukan prosesi sungkeman. Dimana, mereka akan duduk bersimpuh sambil memberikan salam kepada orang tua. Lantunan kata permohonan maaf akan keluar dari para anak-anak yang sungkem ini. Memang terlihat sederhana, prosesi sungkeman biasanya ditutup dengan sang anak yang mencium tangan orang tua.

Tak hanya pada moment Idul Fitri saja, tradisi sungkeman juga bisa dilihat saat acara perkawinan. Namun di acara perkawinan ini, tradisi sungkeman memiliki makna yang sedikit berbeda. Apabila di moment lain, sungkeman hanya untuk meminta maaf, maka di acara perkawinan tradisi sungkeman ini bertujuan untuk meminta doa restu kepada orang tua kedua belah pihak.

Dimana, para pengantin ini akan duduk bersimpuh di hadapan sang orang tua dari kedua belah pihak secara bergantian sebagai wujud bakti dan ungkapan terimakasih karena telah membimbing dan membesarkannya hingga ke titik ia sekarang. Selain itu, terbesit juga permohonan doa restu dalam menjalani kehidupan pernikahan dan mendapatkan rahmat dari Allah SWT.

Warisan Filosofi Jawa

Budaya sungkeman yang notabene dibawa dan dikenalkan oleh masyarakat Jawa nampaknya sudah sangat menjamur di Indonesia. Sebenarnya, prosesi sungkeman ini merupakan kearifan lokal milik masyarakat suku Jawa yang selalu diwariskan dan dibiasakan kepada anak-anak generasi muda. Namun, kini nampaknya sungkeman menjadi budaya yang banyak ditiru oleh masyarakat yang sebenarnya bukan dari suku Jawa.

Secara teknis, sungkeman digambarkan dengan seseorang yang duduk bersimpuh atau berjongkok di hadapan orangtua sambil mencium tangannya. Namun secara definisi, sungkeman berasal dari bahasa Jawa yang berarti sujud sebagai tanda bakti kepada seseorang yang lebih tua, entah dengan orangtua atau saudara lain yang berumur lebih tua.

Lantas, sungkeman ini adalah adat yang dilakukan oleh seseorang biasanya yang berusia lebih muda kepada orang yang lebih tua dengan tujuan memberikan hormat serta sebagai bentuk permintaan maaf guna membersihkan diri dan hati seperti halnya sungkeman Idul Fitri.

Dimana tujuan dari sungkeman Idul Fitri ini tak lain adalah memohon maaf dan juga saling memaafkan. Hal itu sesuai dengan istilah Jawa yang biasanya disebut dengan “nyuwun ngapuro”. Jika ditelusuri lebih dalam, kata “ngapuro” berasal dari kata bahasa Arab yakni “ghafura” yang memiliki arti tempat pengampunan.

Dilansir dari website resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, budaya sungkeman pada dasarnya merupakan bagian dari “agama suku” Kejawen. Seperti yang telah diketahui, bahwa Kejawen sendiri adalah ajaran kebatinan yang telah ada sejak orang Jawa ada di dunia. Meskipun tidak diketahui pasti kapan datangnya, namun ajaran-ajaran itu erat kaitannya dengan filosofi Jawa.

Jika dilihat, penganut agama suku Kejawen selalu melaksanakan segala kegiatan yang telah diatur dengan sangat baik dan benar. Kebiasaan-kebiasaan itulah pada akhirnya akan membawa manfaat serta dampak positif yang cukup besar. Seperti halnya sungkeman yang menempatkan nilai penghormatan menjadi posisi utama dalam budaya Jawa.

Makna yang mendalam dari tradisi sungkeman ini pun terlihat sangat jelas. Dalam prosesi ini, secara tidak langsung wujud dari sebuah kerendahan hati. Hal itu nampak saat seseorang yang masih berusia muda menunjukkan gesture merendah di hadapan orang yang lebih tua saat prosesi sungkeman berlangsung. Wujud kerendahan hati ini juga identik dengan masyarakat Jawa.

sultan-sungkem
Sungkeman Sultan XIV dengan Ibunda (Permaisuri Sultan XIII) tahun 1956 /foto: mmc.kotawaringinbaratkab.go.id

Perwujudan rasa syukur dan terimakasih juga nampak pada prosesi sungkeman ini. Mereka akan duduk bersimpuh sambil mengucapkan terimakasih atas apa yang telah diberikan dan dikorbankan orangtua untuk masa depan mereka. Wujud rasa terimakasih ini juga diselimuti rasa syukur karena telah diberi umur panjang hingga bisa kembali menggelar sungkeman bersama orang tua.

Dan yang terakhir, makna sungkeman yang mendalam juga disebut sebagai upaya penyadaran diri atau moment intropeksi jiwa-jiwa muda yang kerapkali lupa cara memperlakukan orangtua dengan baik. Dengan sungkeman ini mereka akan menyadari asal usul mereka dan memyadari posisi mereka di hadapan orang yang lebih tua. Apalagi, jika dilihat banyak anak muda yang lupa jati diri karena terseret ombak perkembangan zaman.

Sehingga tak bisa dipungkiri lagi bahwa moment sungkeman seperti ini dimanfaatkan sebagai sarana dalam membangun kembali komunikasi dan tali silaturahmi antara seorang anak dan orang tuanya, atau orang yang lebih muda dengan orang yang lebih tua. Eratnya tali silaturahmi yang kembali utuh pun bisa menciptakan suasana hangat dan kekompakan diantara satu sama lain.

Secara garis besar, sungkeman Idul Fitri ini merupakan wujud dari sebuah rasa penyesalan atas kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu terhadap orang yang lebih tua. Dengan prosesi sungkeman itu, terdapat pengharapan bahwa kesalahan masa lampau bisa termaafkan dan diampuni. Orang Jawa banyak yang mempercayai bahwa hubungan orang tua dan anak yang renggang bisa diperbaiki dengan cara sungkeman.

Disisi lain, budaya sungkeman ini pun juga harus tetap dijaga kesakralannya, meskipun nantinya akan semakin tergerus dengan perkembangan zaman dan perubahan perilaku generasi muda yang tidak bisa ditebak. Namun, kesakralan sungkeman ini bisa tetap dilestarikan dengan cara mengetahui urutan sungkeman yang benar mulai dari cara berjalan didepan orang tua, sungkem, cara duduk, cara menyalami hingga cara berbicara.

Sungkeman Sejak Masa Keraton Solo

Hingga saat ini, beberapa orang belum juga mengetahui dari mana dan kapan sebenarnya asal-usul munculnya tradisi sungkeman ini. Beberapa orang hanya mempercayai bahwa tradisi ini dibawa oleh masyarakat asli yang pertama kali menjajaki tanah Jawa. Namun, bagaimana spesifiknya masih saja belum terpecahkan. Beberapa dari peneliti pun tak kehabisan ide, pencarian ujung tombak budaya sungkeman tetap dilakukan.

Dilansir dari Kronika.id, budaya sungkeman atau saling memaafkan ini sebenarnya berasal dari Solo. Hal tersebut merujuk pada keterangan dari Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger, Pengageng Kasentan Keraton Surakarta, dimana tradisi itu awalnya diterapkan oleh Kadipaten Pura Mangkunegaran. Saat itu, Kanjeng Gusti Pangeran Agung (KGPA) Mangkunegara I tengah berkumpul bersama seluruh punggawanya setelah shalat Ied dan kemudian saling bermaaf-maafan.

Saat prosesi sungkeman, mereka akan mengenakan pakaian adat Jawa lengkap, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sedangkan sang Raja akan duduk di kursi singgasana dan menerima permintaan maaf yang diucapkan dengan kalimat berbahasa Jawa halus dan baku.

Namun, seiring banyaknya pergolakan yang terjadi di Nusantara, akhirnya pihak Keraton Solo semakin lama semakin tak nyaman melakukan prosesi sungkeman. Tak lain, hal itu disebabkan karena ulah Belanda yang menganggap bahwa sungkeman merupakan acara penggalangan massa untuk melakukan perlawanan kepada penjajah.

Sang Raja tak kehabisan akal, ia menjelaskan begitu cukup detail bahwa prosesi sungkeman hanya tradisi orang Jawa yang dilakukan sesaat setelah Idul Fitri, bukan untuk menggalang massa. Saat itu, Belanda pun percaya. Akhirnya, Keraton Solo kembali meneruskan tradisi sungkeman beriringan dengan “open house” bagi masyarakat sekitar yang ingin berkunjung.

Sementara, salah seorang budayawan senior asal Yogyakarta pernah menjelaskan bahwa sebenarnya tradisi sungkeman ini hasil dari akulturasi budaya Jawa dengan Islam yang dahulu telah banyak dilakukan oleh para pemuka agama.

Pada zaman dahulu, para pemuka agama melakukan tradisi sungkeman agar tujuan utama dari menjalankan puasa Ramadhan ini benar-benar tercapai, yakni dosa-dosa yang melekat pada diri dan tubuh mereka bisa jatuh berguguran. Itulah yang menjadi salah satu alasan untuk saling memaafkan dan kembali mempererat tali silaturahmi.

Bisa dikatakan sejak saat itulah tradisi sungkeman mulai dikenal oleh masyarakat luas. Terlebih, sungkeman akhirnya menjadi kebudayaan baru yang secara terang-terangan diterima oleh masyarakat. Tradisi sungkeman semakin meluas dan semakin dikenal seiring dengan perkembangan Islam di Nusantara.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: