Lemah lembut, Cara Mbah Manab Santrikan Penduduk Lirboyo Kediri 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Mbah Manab, Pendiri Pesantren Lirboyo Kediri /Foto:bangkitmedia.com

LIRBOYO Kediri Jawa Timur masih menjadi “kawasan gelap” saat Mbah Manab atau Kiai Abdul Karim pertama kali menjejakkan kaki. Maksiat merajalela, hobi bertaruh nasib di atas meja judi, menyabung ayam, menjadi kebiasaan sehari-hari. Menenggak arak, mencuri, maupun main perempuan, juga menjadi kesenangan yang lumrah.

Saat Mbah Manab memutuskan bertempat tinggal, jumlah penghuni kampung Lirboyo masih belum banyak. “Saat itu ada 41 keluarga yang tinggal di Lirboyo,” tutur M Solahudin seperti dikisahkan dalam Napak Tilas Masyayikh, Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura. Mbah Manab yang berusia 52 tahun dan Nyai Dlomroh 15 tahun, baru setahun menikah.

Di atas lahan kosong seluas 1.785 meter persegi, pasangan suami istri itu menempati rumah yang didirikan oleh Kiai Sholeh Banjarmlati, Mojoroto, Kediri, mertua Mbah Manab. Sebuah rumah bambu berdinding anyaman daun kelapa.

Baca juga: Sejarah Hari Santri Nasional

Warga Lirboyo menganggap Mbah Manab yang alim, berbeda dengan mereka. Agar tak betah, warga berkali-kali mengusiknya. Berulangkali mereka mencuri barang milik Mbah Manab. Bahkan ada yang terang-terangan merampok. Alih-alih melawan, Mbah Manab justru menanggapi semua gangguan itu dengan sikap lemah lembut. Ia mendiamkan dan mengatasi dengan berpuasa.

Ajaib. Warga yang bersikap memusuhi, berubah melunak. Rasa tak suka itu luntur, karena tertarik belajar agama Islam, warga mulai mendekat. Tahun 1910, Mbah Manab mendirikan mushala yang tiga tahun kemudian diperluas menjadi masjid. Dakwah melalui pengajian semakin gencar. Mereka yang berminat belajar agama terus bertambah, datang dari mana-mana.

Dalam waktu cepat, Ponpes Lirboyo yang didirikan Mbah Manab pada tahun 1910, berkembang pesat hingga sekarang.

Zuhud Sampai Akhir Hayat

Mbah Manab sudah 23 tahun nyantri kepada KH Syaikhona Kholil, Bangkalan, Madura. Di lingkungan santri, Manab dikenal sebagai santri yang tekun sekaligus alim. Itu yang membuat santri lain kerap menjadikannya sebagai rujukan tempat bertanya. Sampai pada suatu hari, Mbah Kholil memanggil Manab, dan “mengusirnya” pergi.

“Nab, ilmuku sudah habis, kamu pulang saja,” kata Kiai Kholil seperti dikisahkan dalam Napak Tilas Masyayikh, Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura.  Mbah Manab berasal dari Desa Diangan, Kawedanan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Ia adalah putra ketiga dari empat bersaudara pasangan Abdurrahim dan Salamah. Manab lahir tahun 1856. Abdurrahim, ayahnya, seorang petani kecil. Modalnya bercocok tanam hanya sepetak sawah serta memiliki beberapa ekor ternak. Untuk menambah penghasilan, Abdurrahim berdagang di Pasar Muntilan, Magelang.

Sampai suatu ketika, Abdurrahim yang masih relatif muda, meninggal dunia. Di usia yang belum remaja, Manab dan saudara-saudaranya menjadi yatim. Salamah yang dalam perjalanannya menikah lagi dan dikaruniai tiga anak, mengganti peran suaminya. Salamah melanjutkan dagang di pasar Muntilan.

Di tengah hidup serba terbatas, Manab bercita-cita hidup mandiri dan ingin terus menuntut ilmu. Pada tahun 1870. Manab yang masih berusia 14 tahun, diajak Aliman, kakak sulungnya berkelana. Keduanya berniat mengangsu ilmu di pondok pesantren Jawa Timur. Manab pun gembira, sebab itulah yang sudah lama ia idamkan.

Setiba di Desa Babadan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Manab dan kakaknya belajar pada seorang kiai kampung pemangku mushala. Masa belajar di Gurah tidak lama. Dari Gurah, Kediri, kedua santri kelana itu melanjutkan belajarnya di pesantren di wilayah Cepoko, sekitar 20 kilometer dari Nganjuk.

Enam tahun menimba ilmu di Cepoko, kakak beradik tersebut melanjutkan lelaku di Pesantren Trayang Bangsri, Kertosono. Dari Kertosono Nganjuk, perburuan ilmu berlanjut ke Timur. Di Pesantren Sono Sidoarjo, Manab tujuh tahun menyerap ilmu nahwu sharaf. Berharap besar adiknya bisa berkonsentrasi, Aliman melarang Manab ikut bekerja. Suatu kebiasaan santri yang dilakukan di sela waktu ngaji.

Aliman yang mencukupi semua kebutuhan Manab sehari-hari. “Aku iso nyantri kerono diangkat kakangku (Aku bisa belajar di pesantren karena jasa kakakku),” kata Mbah Manab suatu hari seperti diriwayatkan dalam Napak Tilas Masyayikh, Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura.

Dari Ponpes Sono Sidoarjo dan Ponpes Kedungdoro, Sepanjang Sidoarjo, Manab melanjutkan nyantri ke Kiai Syaikhona Kholil, Bangkalan Madura. Nama Mbah Kholil sudah lama ia dengar. Sosok Kiai besar yang banyak melahirkan kiai-kiai besar nusantara.

Di pesantren Mbah Kholil, Manab yang menjalani hidup serba terbatas juga menyempatkan ke sawah. Di sela waktu ngaji, ia membantu para petani. Biasanya saat musim panen di mana para petani sedang mengetam padi, Manab ikut bekerja.

Ia menerima gabah sebagai upah, yang kemudian disimpannya sebagai bekal makanan. Saking terbatasnya, selama nyantri di Mbah Kholil, Manab konon hanya memiliki sepotong baju yang melekat di tubuh. Saat baju kotor, ia mencucinya di sungai. Di sela waktu menanti baju kering, Manab berendam di sungai seraya menghafal Alfiyyah Ibn Malik.

Manab juga pernah tak sadarkan diri saat mengikuti pengajian tafsir al-Jalalain. Usut punya usut, ia ternyata belum makan sejak berbuka hingga sahur. Manab sebenarnya masih ingin terus belajar di pesantren Bangkalan. Namun karena tawadu’ kepada kiai, ia hanya bisa patuh saat Mbah Kholil memintanya pergi.

Dari Bangkalan Madura, Manab melanjutkan nyantri ke Ponpes Tebuireng, Jombang. Ia mendengar, di Tebuireng ada seorang kiai ahli ilmu hadist yang juga pernah nyantri di Mbah Kholil, Bangkalan. Namanya Kiai Hasyim Asy’ari. Selama lima tahun nyantri di Tebuireng, Mbah Manab bertemu dengan banyak santri lain yang kelak mendirikan  pesantren di Jawa. Diantaranya KH Wahab Hasbullah, KH As’ad Syamsul Arifin, KH Chudlori dan KH Bisri Syansuri.

Sampai mendirikan Ponpes Lirboyo, Mbah Manab istiqomah menjaga sikap zuhudnya. Saking sederhananya, ada cerita seorang santri baru pernah memerintah Mbah Manab membawakan kopernya. Santri baru itu mengira Mbah Manab bukan siapa-siapa. Si santri sontak kaget begitu tahu laki-laki sederhana yang melayaninya dengan sopan itu ternyata Pengasuh Ponpes Lirboyo.

Di Ponpes Lirboyo, setiap santri belajar kitab kuning sebagai pegangan. Tidak seperti pesantren lainnya yang selalu menyampaikan maksud kata ganti (isim dlamir dan isim Isyarah) dalam setiap menerjemahkan kata per kata, Mbah Manab tidak pernah menjelaskan. Kata Mbah Manab : Al-dlamir fi al-dlamir fa man lam ya’rif marji’ al-dlamir fa laisa lahu dlamir (Kata ganti itu di dalam hati, barang siapa tidak tahu maksud kata ganti, maka dia tidak mempunyai hati).

Metode yang dilakukan Mbah Manab secara tidak langsung mengajari santri berfikir dan belajar menemukan maksud kata ganti. “Ya memang begini saya mendapatkan makna dari Kiai Kholil. Kalau masih mau mengaji, ya seperti Ini,” tutur Mbah Manab seperti dikisahkan dalam Napak Tilas Masyayikh, Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura.

Kepada para dzuriahnya (anak dan cucu), Mbah Manab selalu meluangkan waktu mengajar sendiri. Tanpa gengsi, ia mengajarkan pelajaran tingkat dasar. Mbah Manab tidak pernah putus melakukan riyadhah atau tirakat yang sudah ia lakukan sejak santri.

Setiap hari Jumat, ia berkebiasaan makan nasi yang porsinya hanya satu lepek. Konon setiap harinya Mbah Manab hanya meneguk secangkir kopi. Sementara malam hari banyak ia habiskan waktu untuk berdizikir, nderes Al Quran atau menelaah kitab kuning. Usai salat subuh Mbah Manab memiliki tradisi membaca wiridan hauqalah dan tahlil bersama santri.

Di saat menghadapi situasi genting, ia membiasakan santri-santrinya mendaras Qashidah Munfarijah, Hizib Nashar, Hizib Nawawi, Dalail al-khairat serta beberapa shalawat. Kendati demikian ia tidak menganjurkan santri terlalu banyak membaca wirid atau ikut tarekat tertentu yang justru mengganggu belajar.

Bagi Mbah Manab tugas utama santri adalah belajar. Pada masa revolusi fisik tahun 1945. Bersama Kiai Ma’roef Kedunglo dan Kiai Abu Bakar Bandar Kidul, Mbah Manab pernah berangkat ke Surabaya untuk memberi doa dan menggembleng pasukan Sabilillah dan Hizbullah. Seiring terbitnya Resolusi Jihad yang disuarakan KH Hasyim Asy’ari. Mbah Manab mengirim ratusan santri Lirboyo untuk bertempur melawan penjajah di Surabaya.

Sepulang haji, Mbah Manab yang dari pernikahannya dengan Nyai Dlomroh dikaruniai delapan anak, mengganti nama Abdul Karim. Tahun 1954, di bulan ramadhan yang baru berjalan seminggu, Mbah Manab jatuh sakit. Kepada setiap penjenguknya Mbah Manab selalu mengatakan,” Doakan aku diakui sebagai santri Kiai Kholil”. Mbah Manab tutup usia pada hari Senin. Hari kematian yang ia harapkan sebagaimana hari wafatnya Nabi Muhammad SAW.[]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

1 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: