Kosmologi Islam-Jawa Ki Gede Sala dan Riwayat Berdirinya Kraton Surakarta

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Pendirian Kota Surakarta atau Solo (Sala) di Jawa Tengah terkait erat dengan sosok Ki Gede Sala. Ki Gede Sala merupakan tokoh masyarakat yang menyebarkan agama Islam di daerah Solo dan sekitarnya pada periode sebelum berdirinya Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Menurut Purwadi dalam Sejarah Sultan Agung: Harmoni antara Agama dengan Negara (2004), ada dua tokoh yang diketahui bernama Ki Gede Sala dalam sejarah Mataram. Pertama adalah Ki Gede Sala yang hidup pada era Kesultanan Pajang (1560-1586 Masehi), dan kedua adalah Ki Gede Sala yang dikenal pada periode selanjutnya yakni masa Kraton Kartasura (1680-1742 M).

Ki Gede Sala yang pertama merupakan seorang pamong (bekel) pada zaman Kesultanan Pajang. Pajang sendiri adalah kelanjutan dari Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa yang runtuh pada 1547 M. Setelah riwayat Pajang berakhir, sebagai penerus Wangsa Mataram adalah Kesultanan Mataram Islam yang mulai berdiri tahun 1586 M.

Estafet kekuasaan Mataram Islam selanjutnya berpindah ke Kartasura. Dikutip dari Islamic States in Java 1500–1700: Eight Dutch Books and Articles by Dr H.J. de Graaf (1976) yang ditulis oleh Theodore Gauthier Thomas Pigeaud, Kraton Kartasura didirikan oleh Amangkurat II pada 1680 akibat polemik yang melanda trah Mataram Islam.

Semasa era Kartasura inilah, tepatnya di masa pemerintahan Pakubuwana II (1726-1742 M), mulai dikenal sosok Ki Gede Sala sebagai lurah di Desa Sala. Nantinya, Desa Sala menjadi pusat pemerintahan kerajaan penerus Wangsa Mataram yang baru setelah ambruknya Kraton Kartasura, yakni Kasunanan Surakarta.

Kosmologi Tata Ruang Jawa-Islam ala Ki Gede Sala

Sosok Ki Gede Sala atau Kiai Gede Sala yang hidup di era Kartasura diyakini sebagai salah satu pendakwah ajaran Islam di wilayah tersebut. Ia merintis pembukaan Desa Sala yang semula berupa hutan dan rawa-rawa.

Anita Chairul Tanjung dalam buku Pesona Solo (2013) menuliskan, desa tersebut dinamakan Sala karena banyak ditumbuhi pohon sala, sejenis pinus. Sedangkan penyebutan Sala dalam pelafalan bahasa Jawa berubah menjadi Solo.

Bersama dua rekan seperguruan sekaligus sahabatnya, yakni Kiai Carang dan Nyai Sumedang, Ki Gede Sala kemudian melakukan syiar Islam di daerah itu sekaligus mengelola Desa Sala yang semakin lama semakin ramai dan makmur.

Seluruh warga desa amat menghormati Ki Gede Sala lantaran memiliki pengetahuan agama yang lebih mendalam serta dipercaya punya ilmu linuwih. S.N. Zaida dan N. Arifin melalui risetnya bertajuk “Surakarta: Perkembangan Kota Sebagai Akibat Pengaruh Perubahan Sosial pada Bekas Ibukota Kerajaan di Jawa” yang terhimpun dalam Jurnal Lanskap Indonesia (2010) mengungkapkan, Ki Gede Sala diyakini sebagai pusat keseimbangan antara hal-hal yang empiris maupun duniawi.

Ki Gede Sala, lanjut penelitian itu seperti dinukil oleh Arnindya Afifah Urfan dan kawan-kawan dalam buku Morfologi Kosmologi Pusat Pemerintahan Jawa: Kota Surakarta Sebagai Pusat Budaya Jawa (2021), mengatur tata ruang desa dengan memadukan konsep Jawa dengan Islam.

Kosmologi yang diterapkan oleh Ki Gede Sala adalah konsep mancapat. Tempat tinggal Ki Gede Sala sebagai pusat, pasar di bagian timur sebagai lambang duniawi, serta jalan lurus yang menghadap ke arah Gunung Merapi di bagian barat sebagai simbol akhirat atau rohani.

Konsep yang dicetuskan Ki Gede Sala ini diadaptasi ketika Kasunanan Surakarta membangun istana di Desa Sala. Kosmologi perpaduan Jawa dan Islam dalam pola mancapat digunakan sebagai konsep untuk menata dan mengatur kota yang menjadi pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

foto : museumnusantara.com/keraton-surakarta/

Ki Gede Sala dan Berdirinya Kraton Surakarta

Ki Gede Sala era Pajang dan Ki Gede Sala era Kartasura diperkirakan menghuni kawasan yang sama namun pada periode waktu yang berbeda. Kendati begitu, jika dikaitkan dengan berdirinya Kota Solo atau Surakarta, yang patut menjadi perhatian utama adalah Ki Gede Sala era Kartasura.

Alkisah, Susuhunan Pakubuwana II mencari lokasi baru untuk mendirikan istana setelah hancurnya Kraton Kartasura. Dikutip dari Genealogi Kerajaan Islam di Jawa: Menelusuri Jejak Keruntuhan Kerajaan Hindu dan Berdirinya Kerajaan Islam di Jawa (2021) yang ditulis Peri Mardiono, Pakubuwana II memerintahkan beberapa orang kepercayaannya untuk melakukan tugas tersebut.

Tim pencari lokasi istana baru itu segera bekerja dan akhirnya menawarkan tiga opsi tempat kepada Susuhunan Pakubuwana II, yakni Desa Kadipolo (sekarang Taman Sriwedari), Desa Sasewu (sebelah barat Kecamatan Bekonang), dan Desa Sala. Dengan berbagai pertimbangan, Pakubuwana memilih Desa Sala sebagai lokasi dibangunnya istana baru nanti.

Salah satu alasan utama dipilihnya Desa Sala adalah letaknya yang strategis dan dekat dengan Bengawan Solo yang kala itu menjadi jalur transportasi dan perdagangan yang cukup penting. Faktor dekatnya dengan mata air sebagai sumber kehidupan juga menjadi pertimbangan.

Susuhunan Pakubuwana II memberikan ganti untung kepada warga Desa Sala lantaran mereka harus pindah tempat tinggal seiring pembangunan kraton baru. Kepada Ki Gede Sala II selaku lurah sekaligus perintis dibukanya Desa Sala, Pakubuwono II menganugerahinya dengan 10 ribu keping emas.

Kraton baru ini akhirnya berdiri pada 1745 M dan menjadi pusat kekuasaan Wangsa Mataram dengan nama Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sebelum pembangunan istana selesai, Ki Gede Sala meninggal dunia dan dimakamkan tidak jauh dari kraton. Makam Ki Gede Sala berada dalam satu kompleks dengan tempat peristirahatan terakhir dua sahabatnya, yakni Kiai Carang dan Nyai Sumedang.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: