Kisah Waliyullah Mbah Anom Besari Caruban yang Menyamar sebagai Pedagang Gerabah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Makam Kyai Ageng Anom Besari, di Sawahan, Kuncen, Caruban, Madiun /Foto: Googlemap-Dimas Ardiansyah

Kiai Ageng Anom Besari Caruban, Madiun mengubah penampilannya, dengan menyamar sebagai seorang pedagang gerabah. Dengan begitu Mbah Anom Besari leluasa berkeliling kampung. Ia bisa bersilaturahmi ke rumah-rumah warga tanpa khawatir diawasi Belanda.

Kolonial Belanda tak mengira laki-laki yang menjajakan gerabah dari rumah ke rumah warga itu adalah ulama penyebar Islam. “Karenanya banyak yang menyebut Ki Ageng Anom Besari dengan nama Ki Ageng Nggrabahan,“ tutur sumber yang bergetok tular.

Kolonial Belanda sudah lama mengawasi orang-orang Islam di tanah Jawa. Sebelum meletus perang Jawa (1825-1830), Belanda sudah menaruh curiga akan bahaya Islam Jawa. Setiap gerakan Islam termasuk di dalamnya syiar, diawasi secara ketat.

Kekhawatiran kolonial Belanda terhadap Islam Jawa digambarkan dalam novel The Hidden Force (Terbit tahun 1900). Novel terjemahan bahasa Belanda dengan judul asli De Stille Kracht itu, ditulis Louis Couperus.

Couperus melukiskan betapa takutnya Belanda terhadap Islam Jawa yang itu mendapat tanggapan peneliti Nancy K Florida dalam “Jawa-Islam di Masa Kolonial, Suluk, Santri dan Pujangga Jawa”.

Nancy menyebut ketakutan tersebut sebagai wujud ketidakberdayaan Belanda terhadap Islam Jawa.

“Novel ini (The Hidden Force ) secara efektif mengungkap kemustahilan proyek kolonial atas Jawa, menceritakan kelumpuhan yang tak terelakkan seorang pejabat sipil penjajah Belanda,” katanya.

Nancy juga menambahkan , “tulisan Couperus secara efektif memperwujudkan suatu identifikasi rapuh antara esensi kejawaan mistik dan kekuatan berbahaya Islam politik. Dengan cara sugestif ia menggambarkan kekuatan sebagai Jawa yang amat menakutkan itu yang ada di Islam politik”.

Pada konteks kacamata kolonial, Couperus, kata Nancy telah menyingkap sesungguhnya posisi mendua Islam Jawa dalam kesadaran kolonial abad ke-19. Di satu sisi Islam sebagai kenyataan yang berbahaya. Suatu kekuatan yang mampu dan mungkin akan muncul di mana saja dan kapan saja.

“Di sisi yang lain, Islam masih tetap merupakan semacam hantu yang kehadirannya tak diakui, nyaris seperti perlu diruwatnya dari realitas tulen “Jawa”, tambah Nancy K Florida.

Belanda tidak membiarkan Islam Jawa bergerak leluasa. Setiap pergerakan Islam termasuk kegiatan syiar seperti yang dilakukan Mbah Anom Besari, selalu dipelototi. Dalam perjalanan sejarah, apa yang dikhawatirkan kolonial memang terbukti.

Perang Jawa (1825-1830) meletus yang membuat trauma berkepanjangan. Dipimpin oleh seorang Pangeran Jawa yang didukung jaringan tokoh-tokoh Islam pedesaan (kiai kampung), pemberontakan rakyat terhadap kekuasaan kolonial meledak.

Meski pada akhirnya menang, keuangan kolonial bangkrut. Kemudian kehilangan 15.000 orang, yang tewas dalam peperangan.

“..Menunjukkan kepada pada penguasa Belanda, juga penduduk Jawa, kekuatan yang bisa dikerahkan oleh rakyat pribumi ketika dimobilisasi oleh elit bangsawan di bawah panji Islam,” tulis Nancy.

Sayangnya, tidak banyak sumber yang menceritakan bagaimana perjalanan Mbah Anom Besari mengenalkan Islam dalam masyarakat Caruban, Madiun. Sebagian besar masyarakat mengenal Mbah Anom sebagai waliyullah yang makamnya tidak pernah sepi peziarah. Silsilah Mbah Anom Besari

Wasono (45), seorang warga Kota Kediri mengaku sebagai salah satu dzuriyah (keturunan) Kiai Ageng Anom Besari, yang bermakam di Desa Kuncen Kecamatan Caruban Kabupaten Madiun. Ia memperoleh garis silsilah dari ibunya.

Setiap waktu tertentu, terutama menjelang ramadhan dan lebaran, ia bersama istri dan anaknya rutin berziarah ke makam Mbah Ageng Anom Besari. Wasono memang tidak bisa menjelaskan secara rinci, namun ia memiliki seorang bude (kakak kandung ibunya) yang menurutnya bisa menjelaskan lebih gamblang.

Ia juga pernah melihat sendiri namanya tertera pada sketsa pohon silsilah keluarga besarnya. Pada pohon silsilah tersebut tertulis lengkap, mulai yang termuda hingga paling atas, yakni Kiai Ageng Anom Besari.

“Bude saya sempat menjadi kuncen (juru junci) pesarean Kiai Ageng Anom Besari,” tuturnya.

Di wilayah Kediri, nama Mbah Ageng Anom Besari tidak bisa lepas dari nama Syekh Abdullah Mursyad atau Mbah Mursyad. Syekh Abdullah Mursyad merupakan ulama di masa Kerajaan Demak yang memakai kesenian Jemblung untuk menyebarkan Islam di Kediri.

“Syekh Abdul Mursyad diyakini sebagai pelopor tumbuhnya kesenian Jemblung yang zaman dulu sangat lekat dengan kebudayaan lokal Kediri dan sekitarnya,” tulis Sigit Widiatmoko dan Alfian Fahmi dalam artikel Islamisasi di Kediri, Tokoh dan Strategi Islamisasi.

Kiai Ageng Anom Besari merupakan salah satu putera Mbah Mursyad. Mbah Ageng Anom Besari yang menikah dengan Nyai Anom Caruban, dikaruniai tiga anak laki-laki.

Salah satu putranya adalah Kiai Ketib Anom atau Kiai Abdul Rahman. Melalui garis nasab Kiai Ketib Anom lahir Kiai Ali Maklum pendiri ponpes Banjarmlati, Kediri. Kiai Ali Maklum merupakan kakek Kiai Sholeh Banjarmlati Mojoroto Kediri, mertua Mbah Manab atau Kiai Abdul Karim pendiri Ponpes Lirboyo.

Putra Kiai Ageng Anom Besari Caruban lainnya adalah Kiai Muhammad Hasan Besari, Ponorogo. Artinya Mbah Hasan Besari Ponorogo merupakan cucu Mbah Mursyad Kediri. Kiai Hasan Besari Ponorogo memiliki putra, Kiai Zaenal Abidin, yang kemudian menjadi raja Selangor, Malaysia.

Kiai Ageng Anom Besari Caruban menyandang gelar Raden Neda Kusuma. Sejumlah sumber tutur menyebut ia keturunan ke-14 dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.

Pesarean Kiai Ageng Anom Besari berada di area seluas 2,5 hektare. Makamnya berukuran sekitar 11x 11 meter. Di sekitar makam banyak terdapat pundung atau gundukan tanah. Tanah yang menggunduk tersebut ditengarai terkait dengan sebutan Ki Ageng Nggrabahan.

Tanah tersebut ditengarai sebagai bahan gerabah. Di dalam komplek area makam tersebut juga terdapat masjid yang bernama Masjid Agung Anom Besari. Mbah Ageng Anom Besari merupakan waliyullah penyebar Islam yang pesareannya tidak pernah sepi dikunjungi peziarah.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: