Kisah Unik Dibalik Tradisi Mudik, Warisan Leluhur Sejak Zaman Mataram Islam

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
jalur-mudik-kolonial
Jalan Cagak Nagreg, Jalur Mudik Legendaris Warga Priangan Sejak Zaman Kolonial /Foto: infogarut.id

santrikertonyonoMudik atau pulang kampung memang sudah menjadi tradisi turun temurun bagi masyarakat Indonesia. Saat mendekati Hari Raya Idul Fitri, hari penuh berkah yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya oleh umat Muslim di seluruh Indonesia bahkan dunia, banyak dari masyarakat akan bersiap-siap mengemas pakaian dan oleh-oleh untuk dibawa ke kampung halaman.

Terkadang, mereka nampak rela antri dan bahkan berdesak-desakan hanya untuk memburu tiket agar bisa pulang semata-mata demi bertemu orang tua dan berkumpul dengan keluarga besar. Bak, seperti obat rindu. Setelah berbulan-bulan berkelut dengan kerasnya kota perantaun, bertemu sosok tersayang di kampung adalah penawar.

Tak hanya moment berkumpul dengan keluarga, moment lebaran juga sebagai ajang mempererat silaturahmi dengan saudara yang memang jarang bertemu karena faktor waktu dan jarak. Saling bertukar cerita selama hidup di kota perantauan, bertemu sepupu serta keponakan menjadi sumber bahagia yang sangat sederhana.

Mudik ataupun pulang kampung memang hal yang sudah dianggap lumrah oleh masyarakat, khususnya bagi umat Islam. Bahkan, untuk memfasilitasinya, pemerintah tak tanggung-tanggung memberikan kemudahan dan penambahan armada sebagai sarana mudik bagi warganya.

Kuatnya tradisi mudik semakin menguat kala banyak perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan pemerintah dengan memberikan hari libur yang cukup panjang menjelang hari Raya Idul Fitri, bahkan setelah hari Raya Idul Fitri telah usai. Terlebih beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah pun semakin mendukung libur cuti Lebaran.

Selain itu, mudik juga dipercaya sebagai terapi psikologis bagi para pemudik yang melakukan perjalanan ke kampungnya masing-masing. Dimana, saat pemudik ini akan memanfaatkan moment Idul Fitri sebagai moment  “refreshing” dari segala hiruk pikuk serta rasa penat selama bekerja di kota besar. Suasana hangat saat berkumpul dengan keluarga bisa menjadikan tenaga dan fikiran kembali jernih saat harus kembali bekerja ke kota perantauan.

Terlebih, pulang kampung juga memiliki manfaat dalam secara historis. Yakni, dengan pulang kampung ini para pemudik akan mengenal dan bahkan mengerti asal-usul mereka atau leluhur-leluhur mereka. Hal itu tentunya akan membuat tali persaudaraan terus terikat kuat dari generasi ke generasi. Mengenal asal-usul juga berarti paham akan tempat pulang saat mereka sudah berusia senja dengan menyadarkan bahwa para perantau ini memiliki keluarga yang besar dan utuh.

Dibalik keseruan mudik, benarkah mudik sebenarnya sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Islam. Beberapa peneliti sejarah sempat mengemukakan bahwa tradisi ini sudah ada sejak lama dan telah menjadi kebiasaan hingga sekarang, terutama saat moment menjelang Hari Raya Idul Fitri.

suasana-mudik-dulu
Suasana mudik di masa lampau /Foto: voi.id

Asal Usul Tradisi Mudik

Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik memiliki dua makna yang berbeda. Masing-masing bermakna pulang ke kampung halaman dan makna lainnya yakni berlayar ke hulu sungai atau pedalaman. Dalam perkembangannya, mudik dalam makna terdahulu memang lebih dikenal dengan berlayar atau hanya sebatas pergi ke hulu sungai. Namun, sekarang tradisi mudik memiliki arti yang lebih luas yakni melakukan perjalanan ke kampung halaman atau daerah asal.

Disisi lain, istilah mudik dalam Bahasa Jawa Ngoko juga memiliki arti yang cukup mendalam. Mudik sendiri berasal dari kata “mulih dilik” yang bermakna pulang sebentar. Kata mudik sendiri juga biasa disebut dengan “udik” yang memiliki arti kampung. Secara garis besar, mudik akhirnya bermakna pulang ke kampung.

Melansir dari idxchannel.com, beberapa sejarawan pernah mengungkapkan bahwa tradisi mudik tak lain merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa yang konon telah berlangsung sejak zaman Kerajaan Majapahit yang kala itu memiliki daerah kekuasaan yang cukup luas, mulai dari kawasan Sri Lanka hingga mencakup Semenanjung Malaya.

Sebelum agama Islam masuk ke Nusantara, tradisi mudik tetaplah tradisi pulang kampung yang dilakukan oleh pejabat kerajaan. Mereka pulang kampung tak hanya bertemu dengan keluarga sekaligus juga membersihkan kuburan atau makam leluhur dengan menyiapkan beberapa barang untuk dipersembahkan kepada para dewa di khayangan, tak lupa mereka juga memanjatkan beberapa doa-doa.

Namun, tak sedikit para ahli sejarah yang beranggapan lain. Bagi mereka, tradisi mudik yang telah menjadi warisan budaya ini telah ada bahkan telah banyak praktiknya sejak zaman Mataram Islam. Hal itu terlihat dari para perantau yang pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam dari para leluhurnya.

Hal itu tentunya dilakukan bukan tanpa alasan. Beberapa perantau yang telah mengabdi atau bekerja di keluarga kerajaan, sejenak mereka akan pulang ke kampung halaman sekedar untuk bertemu keluarga atau bahkan melakukan ziarah makam. Dimana, melakukan hal tersebut sebagai bakti meminta keselamatan dalam mencari rejeki.

Saat masa Kerajaan Islam, tradisi mudik ini banyak dilakukan oleh para pemangku pemerintahan di daerah kekuasaan kerajaan. Kerajaan Mataram Islam yang memiliki wilayah kekuasaan hampir seluruh penjuru Jawa Tengah dan Jawa Timur menempatkan beberapa pejabat untuk memantau kondisi di titik kota yang telah di tentukan.

Dimana saat bulan Syawal, mereka akan pulang untuk menghadap raja sekaligus melakukan beberapa kunjungan kepada handai taulan di pusat Kerajaan. Selain untuk bersilaturahmi, kunjungan tersebut terkadang juga membahas kepentingan-kepentingan kerajaan. Moment mudik yang dilakukan oleh para pejabat kerajaan ini dilakukan secara bergiliran dari hari ke hari secara bergantian.

Setelah itu, para pejabat kerajaan secara bergantian akan pulang kampung ke halamannya masing-masing. Biasanya mereka akan meminta doa kepada orangtua atau leluhur agar pekerjaan mereka selama mengabdi di lingkungan kerajaan bisa membawa rejeki yang berlimpah dan mampu membawa penghidupan yang lebih baik.

Apa yang dilakukan oleh para pejabat itulah yang konon menjadi asal-usul tradisi mudik dimulai. Meskipun beberapa kali terdapat pergeseran makna, namun secara garis besar mudik tradisi mudik tetaplah memiliki makna pulang kampung, dan bersilaturahmi dengan keluarga.

Sementara, bagi penduduk Jawa pada khususnya moment pulang kampung atau mudik biasanya tidak hanya dilakukan untuk bertemu sanak saudara. Lebih dari itu, mereka juga berziarah ke makam-makam saudara yang lebih dulu pulang ke Rahmatullah. Ziarah tersebut biasanya disebut dengan kegiatan “nyekar“. Dihadapan pusara, para perantau ini akan memanjatkan beberapa bait doa serta tak lupa menaburkan bunga sebagai salah satu syarat yang telah dipercaya oleh orang Jawa secara turun temurun.

Mudik dalam Pandangan Agama dan Budaya

Mudik bukan sekedar mudik, mudik memiliki arti dan makna yang mendalam. Tidak hanya sebagai ajang berkumpul dengan keluarga besar. Tetapi mudik memiliki tempat tersendiri di hati para perantau yang mengadu nasib di kota besar. Mudik tak hanya identik dengan membawa oleh-oleh dan suasana suka cita, disisi lain mudik memiliki unsur budaya yang kental dan telah diwariskan dan dilakukan dari dulu hingga sekarang.

Dalam sebuah jurnal yang berjudul “Mudik dalam Perspektif Budaya dan Agama (Kajian Realistis Perilaku Sumber Daya Manusia)” (2018) karya H. Abdul Hamid Arribathi mengungkapkan, mudik sendiri tak lepas dari fenomena sosio-kultural yang telah menyatu dengan tradisi masyarakat Indonesia.

mudik-kereta-api-dulu
Suasana penumpang kereta api di Stasiun Gambir, Jakarta, saat Lebaran tanggal 11 September 1978. /Foto: Perpusnas RI

Dari pandangan agama sendiri, sebenarnya artian mudik cukup sederhana. Yakni bertemu keluarga besar, bersilaturahmi, bermaaf-maafan lantas saling berbagi. Tentunya poin-poin tersebut sudah cukup mencakup nilai-nilai yang jauh sebelumnya telah diajarkan oleh Islam, melalui kitab suci Al-Qur’an. Dimana, sebagai umat Muslim hendaknya selalu berbuat kepada orang tua, keluarga, sanak saudara serta orang-orang di sekitar.

Para pemudik ini biasanya membawa buah tangan dari tanah perantauannya, entah dalam bentuk uang atau bentuk makanan. Bukan sebagai ajang menyombongkan diri, mereka hanya ingin sekedar berbagi sebagai hasil jerih payahnya bekerja selama satu tahun. Itu hal yang wajar, biasanya disebut dengan ungkapan syukur, berbagi kebahagiaan dengan saudara.

Ungkapan syukur itu tak hanya berlaku untuk para perantau yang mudik ke kampung halaman, beberapa daerah di Indonesia bahkan menggelar acara selametan atau kenduri sebagai wujud syukur dengan berdoa bersama. Makanan yang dibawa dari rumah biasanya akan dikumpulkan di musholla atau masjid terdekat untuk didoakan oleh pemuka agama, lantas makanan itu dibawa pulang untuk dimakan bersama anggota keluarga.

Terlebih, banyak masyarakat yang percaya bahwa silaturahmi bisa memperat tali persaudaraan dan melapangkan rezeki. Dalam artian, selain berbagi kepada keluarga dan orang-orang terdekat, ternyata silaturahmi juga memiliki peran penting. Saat hubungan antar anggota keluarga sama-sama renggang karena kesibukan masing-masing, maka silaturahmi-lah yang menjadi perekat diantara kerenggangan itu.

Sedangkan dari perspektif budaya pun, mudik memiliki tepat istimewanya sendiri. Meskipun mudik ini tak ada kaitannya sama sekali dengan agama Islam. Namun tradisi yang telah mendarah daging tersebut dipercaya sebagai salah satu tradisi hasil akulturasi antara agama dengan budaya Indonesia, yang hingga kini mudik menjadi salah satu kebiasaan umat Muslim di Indonesia.

Sangat sempit apabila mudik hanya diartikan sebatas pulang kampung, pada nyatanya mudik memiliki landasan agama dan budaya yang kuat. Terlebih juga saling berkaitan erat dengan dimensi kehidupan manusia. Secara kultural, mudik memang sebuah budaya yang terus dilakukan hingga sekarang, namun secara moral dan spiritual, mudik merupakan wujud bakti anak kepada sang orang tua.

Salam takdzim kepada orangtua semakin nampak saat moment sungkeman sambil bermaaf-maafan. Secara umum, sungkeman tak hanya kontak fisik sebatas meminta maaf kepada orang tua atau orang yang lebih tua, namun juga memiliki makna spiritual yang dalam karena orang tua kerapkali dianggap sebagai perantara antara anak dengan Allah SWT.

Dimana, kebiasaan bersilaturahmi, sungkeman hingga berziarah ke makam cukup menunjukkan bahwa tradisi mudik tak hanya sekedar perjalanan fisik dengan menempuh jarak yang cukup jauh namun juga wujud perjalanan rohani umat Muslim dengan sang Pencipta.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: