Kisah Mbah Zainuddin Nganjuk yang Datangi Kiai Hasyim Asy’ari Lewat Mimpi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Kiai-Zainuddin-bin-Mu’min
Kiai Zainuddin bin Mu’min /Foto: halaqoh.net

santrikertonyonoKiai Zainuddin bin Mu’min atau Mbah Zainuddin Pengasuh Pesantren Mojosari Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, tidak pernah melarang orang berkesenian. Ulama yang terkenal saleh itu bahkan begitu mencintai seni.

Pada setiap Mulud (Rabi’ul Akhir), Pesantren Mojosari selalu menggelar berbagai petunjukan Mulai dangdutan, wayang kulit, pencak silat, dan beberapa kesenian rakyat lain, semuanya ada.

Begitu musik terdengar, masyarakat sekitar Ponpes sontak berbondong-bondong datang. Bersama para santri, warga menikmati hiburan. Mereka menikmati irama dendang dangdut.

Bagi yang suka wayang kulit, menyimak lakon yang dimainkan sang dalang. Begitu juga yang gemar olah kanuragan, mereka asyik menonton pertandingan pencak silat. Bahkan tidak sedikit yang terjun ke gelanggang. Kiai Zainuddin juga turut menikmati.

Biasanya pesantren Mojosari kembali menggelar kesenian rakyat pada akhir tahun atau sekitar Sya’ban. Tradisi yang dihidupi Kiai Zainudin menjadi hiburan tersendiri, khususnya warga yang bertempat tinggal di sekitar pesantren. Kendati demikian, tidak semua bisa menerima.

Ada sejumlah kiai di wilayah Mojosari, Nganjuk yang merasa terganggu dengan kegiatan seni itu. Mereka menilai hiburan rakyat yang dihadirkan Kiai Zainuddin berbau munkarat. Para kiai yang resah itu lantas mengadu kepada Kiai Hasyim Asy’ari.

Mereka melaporkannya kepada Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari di Ponpes Tebuireng Jombang,” tulis M Solahudin dalam buku “Napak Tilsa Masyayikh, Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa–Madura”.

Dalam cerita tutur yang berkembang, Kiai Hasyim tidak langsung mengambil keputusan. Ulama pendiri NU itu, lebih dulu mendiskusikan dengan para kiai lainnya, tapi menemui jalan buntu.

Kiai Hasyim kemudian berniat menulis surat secara pribadi kepada Kiai Zainuddin. “Isinya adalah peringatan kepada Kiai Zainuddin agar menghentikan acara pertunjukan-pertunjukan yang berbau munkarat tersebut,” tulis M Solahudin.

Surat pribadi itu rencananya dikirim esok hari. Pada malam hari Mbah Hasyim bermimpi sedang menunaikan salat berjamaah. Yang mengejutkan, dalam mimpi tersebut, imam salat berjamaah itu adalah Kiai Zainuddin. Sementara Mbah Hasyim sendiri menjadi makmum berdiri di barisan kesepuluh.

Begitu terjaga, kakek Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) itu menyimpulkan, mimpinya adalah isyaroh dari langit. Disimpulkan juga, Kiai Zainuddin bukan orang yang sembarangan. Ia memiliki tingkat spiritual yang tinggi.

Sehingga apa yang dilakukakannya kepada santrinya, yakni membiarkan hadirnya berbagai macam pertunjukan di pesantren, bukanlah tindakan yang ngawur begitu saja. “Tentu Kiai Zainuddin memiliki pertimbangan tersendiri,” tulis M Solahudin.

Pesantren Tua di Pulau Jawa

Ponpes Mojosari, Nganjuk yang diasuh Kiai Zainuddin berdiri pada tahun 1720 dan menjadi salah satu pesantren tua di Jawa. Kiai Ali Imron yang mula-mula mendirikan pesantren Mojosari.

Mbah Ali Imron yang berasal dari Demak, Jawa Tengah mendirikan sekaligus mengasuh pesantren Mojosari selama 71 tahun (1720-1791). Cerita tutur yang berkembang, Mbah Ali Imron merupakan dzuriyah (keturunan) Brawijaya, Raja Majapahit.

Mbah Ali Imron merupakan menantu Kiai Salimin Bendungan. Kiai Salimin sendiri adalah menantu Syekh Arfiyah Awal bin Jamaluddin, yakni cucu Sayyid Abdurrahman Basyaiban Lasem atau dikenal Pangeran Sambu alias Mbah Sambu.

Makam Mbah Salimin berada di Desa Bendungrejo, Berbek, Nganjuk. Sedangkan pesarean Syekh Arfiyah Awal bin Jamaluddin berada di Mojoduwur, juga di wilayah Nganjuk.

Pendirian pesantren Mojosari berawal dari keinginan Mbah Salimin kepada Mbah Ali Imron, menantunya. Ali Imron diminta mencari tempat yang angker atau banyak dihuni makhluk halus.

Di tempat itu, Kiai Salimin ingin menantunya mendirikan pondok pesantren. “Pada hari itu juga Kiai Ali Imron memulai pengembaraanya mencari tempat yang angker, “ tulis M Solahudin dalam buku “Napak Tilsa Masyayikh, Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa – Madura”.

Mbah Ali Imron dalam keadaan berpuasa. Ia memang terkenal tekun beriyadhah (tirakat). Dalam pengembaraanya, ia hanya berbekal sepotong jagung, meski sejumlah sumber lain menyebut padi.

Tiap waktu berbuka, konon Mbah Ali Imron hanya membatalkan puasa dengan sebutir jagung. Tempat yang dicari akhirnya ditemukan. Sebuah kawasan yang masih banyak tumbuh pohon besar.

Sebelum menebang pohon, Mbah Ali Imron lebih dulu berpuasa selama 40 hari. Potongan kayu terbesar yang konon sebelumnya dihuni makhluk halus, dijadikan pengimaman masjid. “Di lokasi inilah kemudian didirikan Pesantren Mojosari pada 1720”.

Dalam mengasuh pesantren, Mbah Ali Imron lebih menekankan santri-santrinya fokus belajar daripada riyadhah. Cukup Mbah Ali Imron sendiri yang melakukannya.

Mbah Ali Imron wafat pada tahun 1791 dan dimakamkan di Desa Bendungan, Nganjuk Kepemimpinan pesantren Mojosari dilanjutkan Kiai Abdul Mu’id, menantu Mbah Ali Imron.

Kiai Abdul Mu’id berasal dari Magelang, Jawa Tengah. Konon Kiai Abdul Mu’id yang mengasuh pesantren Mojosari selama 30 tahun (1791-1821) memiliki ilmu laduni. Yakni ilmu yang diberikan langsung oleh Allah SWT kepada hambanya tanpa melalui proses belajar.

Setelah Kiai Abdul Mu’id, pengasuh Pesantren Mojosari dilanjutkan oleh Kiai Zainuddin bin Abror. Sebelum pindah ke Cepoko, Kiai Zainuddin memimpin pesantren selama 39 tahun (1821-1860).

Kepemimpinan pesantren Mojosari dilanjutkan oleh Kiai Nur Muhyidin. Kiai Nur Muhyidin yang mengasuh pesanten selama 20 tahun (1860-1880) merupakan dzuriyah Syekh Arfiyah Awal bin Jamaluddin.

Setelah Kiai Nur Muhyidin, tongkat estafet kepemimpinan pesantren Mojosari Nganjuk berlanjut di tangan Kiai Zainuddin bin Mu’min. Pada era Kiai Zainuddin bin Mu’min, pesantren Mojosari makin bersinar.

Kejayaan Pesantren Mojosari di Era Kiai Zainuddin

Kiai Zainuddin bin Mu’min berasal dari Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Ia lahir pada 1850 dengan nama Mas’ud, dan saat menginjak usia 15 tahun nyantri di Pondok Pesantren Langitan Tuban asuhan Kiai M Sholeh.

Sejak remaja Mas’ud terkenal tekun bertirakat. Saat berangkat mondok, ia kerap berjalan kaki dari Padangan ke Tuban yang jaraknya tergolong jauh. Mas’ud selalu membawa bekal beras dan kitabnya ia simpan di dalam udeng-udeng (ikat kepala kain) yang dikenakan.

Di pesantren Langitan Tuban, Mas’ud juga terkenal sangat tawadu’ dengan kiainya. Pernah suatu ketika Kiai Sholeh Langitan menyuruh Mas’ud belanja ke pasar Tuban dengan membawa kuda. Mas’ud langsung berangkat, namun tidak segera kembali.

Setelah ditunggu lama, ia akhirnya muncul dengan memikul barang-barang belanjaan sambil menuntun kuda. Semua santri yang melihat tercengang. Begitu juga dengan Kiai Sholeh Langitan.

Seperti diriwayatkan dalam buku “Napak Tilsa Masyayikh, Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa – Madura”. Saat ditanya, Mas’ud menjawab, ” Kiai Sholeh menyuruhnya membawa kuda, bukan menaiki kuda”.

Selama ngaji di pesantren, Mas’ud juga memiliki ketekunan dalam belajar. Konon kitab yang ia pelajari tidak pernah lepas dari dampar (meja kecil untuk belajar). Karenanya saat masih santri, ia mendapat julukan “Mas’ud dampar”.

Terpikat oleh kejujuran dan ketekunannya, Kiai Sholeh Langitan kemudian mengambil Mas’ud sebagai menantu. Nama Mas’ud berubah menjadi Zainuddin setelah ia pulang dari tanah suci.

Ibadah haji yang kedua dilakukan Kiai Zainuddin setelah bertempat tinggal di Mojosari Nganjuk. Kiai Zainuddin bin Mu’min memimpin pesantren Mojosari mulai tahun 1880.

Tidak ada sumber yang menyebutkan bagaimana Kiai Zainuddin tiba-tiba berada di Mojosari dan menjadi pengasuh pesantren. Kiai Zainuddin atau Mbah Zainuddin terkenal sebagai sosok ulama yang alim dan sabar.

Saat di bawah pengasuhannya, santri pesantren Mojosari terkenal bandel-bandel. Namun Mbah Zainuddin tidak pernah mempelihatkan kemarahannya. Ia mengibaratkan santri sebagai padi muda, yang masih mudah diombang-ambingkan angin.

“Namun jika padi ini telah tua, telah berisi, tentu ia akan diam “menunduk”, “ demikian dawuhnya. Kealiman Mbah Zainuddin terlihat dari aktifitasnya yang rajin melaksanakan salat malam dan membaca Al-Qur’an. Kemudian ia berkeliling di kebunnya, yang banyak tumbuh buah-buahan.

Mbah Zainuddin mengumpulkan buah-buahan yang jatuh untuk dipakai makanan ternak. Ketika menjelang subuh, ia menuju bilik-bilik para santri untuk membangunkan mereka. Satu-persatu nama santri dipanggilnya.

“Hal ini menunjukkan kedekatan Kiai Zainuddin dengan para santrinya,” demikian cerita tutur yang berkembang. Pagi hari usai mengaji kitab, Mbah Zainuddin langsung bergegas berganti baju. Ia menyapu pekarangan rumah, termasuk kandang-kandang ternak sapi, kuda, kambing, ayam dan bebek.

Setelah itu Mbah Zainuddin pergi ke sawah untuk mencangkul dan menanam. Di bawah asuhan Mbah Zainuddin bin Mu’min nama pesantren Mojosari Nganjuk terkenal.

Kiai Wahab Chasbullah pendiri Pesantren Tambakberas Jombang pernah nyatri kepada Mbah Zainuddin. Demkian halnya dengan Kiai Marzuqi Dahlan (ayah Kiai Idris Marzuqi) Lirboyo dan Kiai Djazuli Utsman (pendiri pesantren Ploso Kediri) , juga pernah nyantri kepada Mbah Zainuddin.

Mbah Zainuddin bin Mu’min mengasuh pesantren Mojosari selama 74 tahun. Mbah Zainuddin wafat pada tahun 1954, Minggu Pahing. Dawuh Mbah Zainuddin yang terkenal diantaranya adalah: “Saat susah maupun senang, kita harus tetap mengaji (mengajar). Jika tidak ada temannya (muridnya), ya berteman dengan tiang atau dinding”.

Sepeninggal Mbah Zainuddin pesantren Mojosari diasuh Kiai Zaini Shobir bin Shidiq (1954-1957), Kiai Syamsul Anam bin Kiai Zaini (1957), Kiai Imam Ahmad Manshur Sholeh (1958-2006), Kiai Basthomi Zaini (1987-2004), Kiai Mujab Mujib (2006-2010) dan Kiai Muhammad Nasih al-Basthomi (2006-sekarang).

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: