Kisah Kasunanan Surakarta yang Ikut Andil Dalam Syiar Islam di Tanah Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Surakarta /Foto: cagarbudaya.kemdikbud.go.id

Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan Islam di tanah Jawa hingga menyebar cukup cepat, serta tidak lepas dari campur tangan manusia atau tokoh yang dituakan pada masa itu. Salah satu faktor kenapa Islam begitu mudah diterima ialah syarat masuk Islam yang dinilai cukup mudah yakni mengucapkan kalimat syahadat, upacara keagamaan dalam Islam sangat sederhana, Islam tidak mengenal sistem kasta serta Islam begitu terbuka dan menerima adat serta tradisi masyarakat setempat.

Beberapa wilayah atau kerajaan di Indonesia memiliki peran penting tersendiri saat menyebarkan syiar Islam. Pasalnya, penyebaran Islam di Nusantara didorong oleh meningkatnya kegiatan jaringan perdagangan di luar kepulauan Nusantara. Pedagang dan bangsawan yang berasal dari kerajaan-kerajaan besar di Nusantara biasanya adalah orang pertama yang mengadopsi Islam.

Salah satu kerajaan yang memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa yakni Surakarta atau sekarang biasa dikenal dengan kota Solo. Di kota yang memiliki luas wilayah 44,02 kilometer persegi ini, berdiri dengan kokoh Kasunanan Surakarta yang turut mengambil andil penting dalam penyebaran agama Islam.

Menurut literatur sejarah, Kasunanan Surakarta pada awalnya merupakan pecahan dari kerajaan Mataram Islam. Hal tersebut adalah akibat dari perjanjian Giyanti yang ditandatangani pada tahun 1755, isi dari perjanjian itu diantaranya pembagian wilayah Mataram menjadi dua wilayah masing-masing wilayah Kasunanan Surakarta dan Kasunanan Yogyakarta.

Secara formal, Kasunanan Surakarta merupakan sebuah kerajaan yang bernafaskan Islam. Hal tersebut nampak terlihat pada jabatan dalam birokrasi kerajaan seperti jabatan penghulu dan abdi dalem serta berlakunya peradilan surambi yang juga didasarkan pada hukum dan ajaran Islam. Selain itu, raja sebagai pemimpin dan pengurus agama menggunakan gelar sayyidin panatagama. Disamping itu adanya upacara keraton yang syarat dengan nilai Islam seperti upacara garebeg yang dipercaya sebagai upacara besar.

Jika dilihat langsung, hingga saat ini Kraton Kasunanan Surakarta masih teguh mempertahankan tradisi dan budaya yang kental dengan ajaran agama Islam. Bahkan, beberapa tempat bersejarah yang berhubungan dengan sejarah penyebaran Islam seperti masjid dilakukan penjagaan dan perawatan yang cukup ketat.

Sebagai wilayah yang turut andil dalam penyebaran Islam, Kasunanan Surakarta memiliki sejumlah masjid tua yang kental akan cerita sejarah. Bahkan, masjid-masjid tersebut hingga saat kini masih digunakan oleh masyarakat untuk kegiatan ibadah sehari-hari. Masjid-masjid tersebut selain memiliki nilai sejarah yang tinggi lebih dari itu memiliki nilai penting dalam dakwah Islam.

Beberapa masjid yang menjadi saksi sejarah perjalanan Islam di kota Surakarta diantaranya Masjid Agung Kraton, Masjid Al Wustho Mangkunegaraan dan Masjid Laweyan.

Masjid Agung Keraton

Bila di jabarkan lebih detail, Masjid Agung Kraton Surakarta merupakan masjid yang dibangun pada masa Sunan Pakubuwono III terhitung mulai tahun 1763 dan selesai dbangun pada tahun 1768. Masjid yang berdiri diatas lahan seluas kurang lebih 19.180 meter ini dijaga dan dirawat oleh pengawa masjid atau merupakan abdi dalem keraton dengan berbagai gelar, diantaranya seperti Kanjeng Raden Tumenggung Penghulu Tafsiranom dan Lurah Muadzin.

Masjid yang secara spesifik dikelilingi oleh tembok setinggi tiga meter tersebut kerapkali juga menggelar kegiatan rutin seperti salah satunya perayaan keagamaan Saketanan. Saketanan sendiri adalah acara yang digelar dalam rangka memperingati maulud Nabi Muhammad SAW.

Menariknya, tidak ada satupun bagian bangunan dari masjid ini yang diganti atau dirubah. Beberapa bagian dari masjid masih mempertahankan detail aslinya. Jika dilihat, detail dan ornamen masjid menggunakan material dari kayu jati yang berasal dari hutan Donoloyo yang diperkirakan usianya sangat tua. Selain itu, konon kubah masjid tersebut dahulunya dilapisi emas murni dengan berat 7,5 kilogram, terdiri dari uang ringgit emas sebanyak 192 buah.

Saat pemasangan kubah masjid juga di prakarsai langsung oleh Sri Susuhunan Pakubuwono VIII pada tahun 1786 dengan condro sangkolo “Rasa Ngesti Muji ing Allah”. Diketahui, hingga saat ini masjid Agung Keraton Surakarta masih sering digunakan untuk kegiatan atau upacara keagamaan seperti pengajian, sholat lima waktu maupun sholat Jum’at.

Masjid Laweyan

Masjid Laweyan secara geografis terletak di Dusun Pajang RT 04 RW 04, Laweyan, Solo. Bangunan ini dibangun pada masa Jaka Tingkir atau saat Sultan Hadiwijaya memerintah kerajaan Pajang pada tahun 1546. Meskipun tidak terlalu luas kira-kira hanya 162 meter persegi, masjid yang telah berusia ratusan tahun itu memiliki sejarah yang sangat panjang dan turut berkontribusi dalam penyebaran agama Islam khususnya di wilayah Karesidena Surakarta.

Masyarakat sekitar tidak hanya memfungsikan masjid ini sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai tempat musyawarah, menikah bahkan sebagian lahannya digunakan sebagai area makam. Ada beberapa tokoh dari Kasunanan Surakarta yang dimakamkan di area masjid diantaranya Kyai Ageng Henis, Pakubuwono II, permaisuri Pakubuwono V, pangeran Widjil I Kadilangu, Nyai Ageng Pati dan Nyai Ageng Pandanaran.

Secara tipologi, masjid Laweyan ini memiliki tata ruang dan karakteristik yang sama dengan masji-masjid Jawa. Bila masuk lebih jauh, ruangan masjid dibagi menjadi tiga masing-masing yakni ruang utama dan serambi yang juga dibagi menjadi serambi kanan dan serambi kiri. Dimana serambi kanan digunakan khusus untuk perempuan atau keputren serta serambi kiri adalah hasil dari perluasan untuk shalat berjamaah.

Bangunan masjid Laweyan juga hampir sama dengan ciri arsitektur yang dimiliki oleh masjid Jawa, seperti terlihat pada bentuk atap masjidnya. Atap masjid tersebut terdiri dari dari dua bagian yang bersusun. Susunan batu bata dan semen merupakan material utama dari dinding masjid Laweyan ini. Menurut beberapa literatur, batu bata ini mulai digunakan pada tahun 1800, dimana sebelumnya bangunan masjid Laweyan ini menggunakan material kayu.

Masjid Al Wustho Mangkunegaran

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara I adalah sosok yang memprakarsai berdirinya bangunan masjid Al Wustho Mangkunegaran sebagai masjid Lambang Panotogomo di Kadipaten Mangkunegaran. Nama Al Wustho sendiri merupakan pemberian dari penghulu Pura Mangkunegaran pada tahun 1949.

Berusia ratusan tahun, masjid ini berdiri kokoh diatas lahan seluas 4.200 meter persegi. Para abdi dalem Pura Mangkunegaran merupakan pengelola masjid tersebut. Menurut sejarah, Mangkunegaran VII pernah melakukan renovasi besar-besaran pada masjid ini dengan meminta seorang arsitek berkebangsaan Perancis untuk ikut andil dalam mendesainnya.

Memasuki area masjid, terdapat beberapa bagian notabene tidak jauh berbeda dengan masjid-masih besar di Jawa. Masjid ini terdiri dari beberapa bagian yakni serambi, maligin, ruang sholat utama, dan pawasteren.

Serambi sendiri tak lain merupakan ruangan yang berada tepat di depan masjid, maligin adalah area khusus yang digunakan untuk melaksanakan khitanan bagi putra kerabat Mangkunegaran sedangkan pawasteren adalah bangunan tambahan yang dipergunakan khusus kaum perempuan mendirikan sholatnya.

Sementara itu, di area luar makam terdapat sebuah menara yang dibangun pada masa Mangkunegara VII yang biasanya digunakan untuk mengumandangkan adzan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: