Kiai Kajoran Ambalik, Ulama Ksatria yang Bikin Kekuasaan Amangkurat I Tumbang

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Kiai-Kajoran-Ambalik
Ilustrasi: Kiai Kajoran Ambalik & Masjid Al Agung Kajoran Kauman, Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten, Di Kompleks Masjid Kajoran juga terdapat makam yang biasa disebut dengan Makam Kajoran /Foto: kemdikbud.go.id

santrikertonyonoJejak perjuangan Kiai Kajoran Ambalik atau  Panembahan Rama tak hanya hidup di dalam ruang narasi. Peninggalan Kiai Kajoran Ambalik yang berwujud artefak bangunan masih bisa dijumpai di wilayah Kajoran, Klaten, Jawa Tengah.

Kajoran merupakan wilayah selatan yang berjarak sekitar empat kilometer dari Kota Klaten. Selama berabad-abad, Kajoran melekat status desa perdikan. Yakni desa yang memiliki hak istimewa, di mana warganya dibebaskan dari pembayaran pajak

Di desa, konstruksi bangunan yang dulu pernah menjadi dalem keluarga  Kajoran itu, masih terlihat. Terletak di atas tanah berukuran luas yang batas-batasnya dikelilingi pagar. Namun kondisi rumah keluarga itu sudah tak terawat, termasuk ruangan yang dulu menjadi tempat berdzikir.

Peneliti asing H.J. De Graaf dalam Runtuhnya Istana Mataram (1987) menyebut, sampai tahun 1940 kemegahan bangunan itu masih tampak, meski kondisinya hendak ambruk. Di lokasi yang sama juga terdapat sumur air di mana mata airnya dipercaya mengandung khasiat pengobatan.

Sumur itu konon buatan leluhur Kajoran. Di timur sumur terdapat tiga pusara sederhana, yakni makam Raden Kajoran Ambalik, Riyamenggala dan Pangeran Bima. Sebuah makam lebih tua berada sekitar 500 meter lebih ke selatan. Kondisinya agak terbengkalai yang ditengarai karena seringnya diterjang banjir.

Hanya makam Pangeran Agung ing Kajoran yang masih agak baik keadaannya,” tulis De Graaf. Artefak yang juga masih terlihat bagus adalah masjid kecil di dekat pesarean Pangeran Agung ing Kajoran. Masjid kecil dengan serambi berukuran besar itu bernama masjid air.

Sejumlah kerusakan yang terjadi, terutama di dalem Kajoran, tak lepas dari sepak terjang Kiai Kajoran Ambalik. Setelah pemberontakan yang gagal, dalem Kajoran disatroni lawan-lawannya. Yakni antek-antek Raja Amangkurat I dan II yang bersekutu dengan kolonial Belanda.

Dalem keluarga setengah raja dan setengah ulama itu dirampok dan dibakar. “Sampai tahun 1682, sekalipun terancam bahaya besar, para pemberontak dari keluarga Kajoran masih melakukan upacara ziarah di makam-makam keramat ini,” demikian berbagai sumber tertulis menyebutkan.

makam-Kiai-Kajoran-Ambalik
Makam Kyai atau Ulama dari Kajoran Klaten yang sangat kharismatik dan dikenal sangat sakti mandraguna yaitu Panembahan Rama Ambalik /Foto: matalensanews.com

Trah Keluarga Raja dan Ulama

Kiai Kajoran Ambalik diyakini sebagai wali tertua keturunan keempat setelah Sayid Kalkum ing Wotgaleh atau dikenal bernama Panembahan Mas ing Kajoran. Konon, ia dianugerahi sifat-sifat yang luar biasa. Ia ulama yang kuat tirakat, termasuk bertapa. Kemudian juga menguasai berbagai ilmu kanuragan dan semacamnya.

Di lingkungan istana Mataram Islam, keahlian Kiai Kajoran Ambalik sangat dihargai. Rakyat dengan ketakdziman tinggi menyebutnya Panembahan Rama yang berarti bapak yang mulia. Kendati demikian orang-orang Belanda memandang sebelah mata, sehingga kurang memperhitungkan kemampuannya.

C. Speelman dalam Notitie tot naarrigtingen van anno 1669 menyebutnya, “ seorang pemburu iblis atau peramal”. Namun dalam eposnya yang berjudul In’t Harte van Java atau di Jantung Jawa (Amsterdam 1881), penyair WJ Hofdijk melukiskan Kiai Kajoran Ambalik sebagai jiwa pemberontakan besar, sebagai raksasa di tengah manusia-manusia kerdil yang berniat merebut Jawa.

Kiai Kajoran Ambalik memiliki banyak nama. Ada yang menyebut Kiai Kajoran, Syekh Kajoran, Raden Kajoran Ambalik atau Panembahan Rama Ambalik. Ambalik sendiri diartikan penyeberang. Ia merupakan cicit Panembahan Mas ing Kajoran, yakni cikal bakal sekaligus penguasa wilayah Kajoran Klaten.

Panembahan Mas ing Kajoran merupakan saudara laki-laki Sunan Pandanaran atau juga dikenal dengan nama Sunan Tembayat atau Sunan Bayat, Klaten. Bila ditarik lebih ke atas lagi, benang silsilahnya akan sampai pada Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit. Ayah Kiai Kajoran Ambalik bernama Pangeran Raden ing Kajoran. Sementara ibunya adalah Raden Ayu Wangsacipta, putri Panembahan Senapati, Raja Mataram Islam pertama.

Keluarga Kajoran sudah memiliki pengaruh besar sebelum Kerajaan Mataram Islam mendapatkan wibawanya. Kebesaran keluarga Kajoran dipengaruhi oleh bangunan pernikahan yang didalamnya mengalir darah bangsawan. Satu sisi keturunan keluarga Kajoran bertalian erat dengan raja-raja awal Mataram Islam. Pada sisi lain memiliki ikatan keluarga dengan pangeran-pangeran terkemuka, yakni keluarga Purbaya dan Wiramenggala.

Kiai Kajoran Ambalik  hidup pada masa pemerintahan Sultan Agung, Amangkurat I dan Amangkurat II. Ulama yang sebelumnya bertahun-tahun hidup di pedalaman itu akhirnya turun gunung setelah mendengar kesewenang-wenangan Amangkurat I. Sultan Mataram Islam keempat (1646-1677) itu memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan ulama.

Amangkurat I tidak menyukai ulama yang dinilai berani menentang kebijakan raja, terutama kebijakan yang dianggap melanggar norma. Kedudukan ulama yang sebelumnya menjadi penasihat di dalam kraton Mataram, dihapusnya. Bahkan Amangkurat I mengumpulkan para ulama beserta keluarganya di alun-alun Plered untuk dibantai.

Peristiwa pembantaian massal itu berlangsung tahun 1670. Diantara yang dihabisi adalah Raden Mas atau Pangeran Aria, kemenakan Amangkurat I sendiri. Kemudian, Tumenggung Natairwana atau Kiai Suta, Tumenggung Suranata atau Tumenggung Demak dan Kiai Ngabehi Wirapatra.

Laporan Van Goen menyebut, jumlah ulama dan keluarganya yang dibunuh di alun-alun Plered sebanyak 6.000 orang, termasuk wanita dan anak-anak. Babad Tanah Jawa hanya menyebut jumlah korban yang dibunuh cukup banyak. Peristiwa mengerikan itu menimbulkan rasa benci Kiai Kajoran Ambalik terhadap Amangkurat I.

Sampailah Kiai Kajoran pada kesimpulan bahwa Amangkurat I harus diturunkan dari tahta,” tulis Habiburrahman dan Moch Nasir dalam Intelektualisme Pesantren, Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Pertumbuhan Pesantren (2003).

Dikhianati Sekutu Sendiri

Dipimpin Kiai Kajoran Ambalik, rakyat Mataram bergolak. Kiai Kajoran menyusun pasukan perang yang terdiri dari para santri dan rakyat pedesaan. Kekuasaan raja yang menyimpangi nilai-nilai moral dan sewenang-wenang terhadap kemanusiaan, dijawabnya dengan pemberontakan.

“Rencana ini diketahui Trunojoyo yang juga menantunya dan Pangeran Adipati Anom, maka iapun bergabung”. Pangeran Adipati Anom merupakan putra Amangkurat I. Motifnya menggulingkan kekuasaan ayahnya sendiri didasari rasa dendam yang terkait peristiwa Roro Hoyi atau Roro Oyi, kekasihnya yang mati dibunuh.

Sementara ikutnya Trunojoyo memimpin pemberontakan lebih didasarkan pada kepentingan politik. Kendati demikian, di depan rakyat Mataram, jargon perlawanan terhadap Amangkurat I beratas nama Islam, ulama dan Mataram. Apalagi Amangkurat I disokong kekuatan kompeni VOC Belanda.

Trunojoyo yang berasal dari Madura memulai perlawanan di wilayah Jawa Timur. Para penguasa daerah (Bupati) yang berpihak pada Amangkurat I lebih dulu ditaklukkan, termasuk memutus bantuan kompeni Belanda dari Surabaya. Sementara Kiai Kajoran Ambalik dibantu Pangeran Adipati Anom mengobarkan perlawanan di Jawa Tengah.

“Termasuk juga kraton Plered dengan membawa pasukan tidak kurang dari 120.000 orang di bawah pimpinan Pangeran Purbaya IV,” demikian yang tercatat dalam dalam Intelektualisme Pesantren, Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Pertumbuhan Pesantren (2003).

Pada tahun 1677 kraton Plered berhasil direbut. Amangkurat I meninggalkan kraton, lari ke arah ke arah Cirebon untuk meminta bantuan VOC. Dalam pelariannya penguasa lalim itu jatuh sakit dan meninggal dunia di Wanayasa Banyumas.

Peristiwa itu berlangsung  pada 10 Juli 1677. Jenazah Amangkurat I  kemudian dibawa ke Tegawangi, Kabupaten Tegal dan dimakamkan di sana. Di luar dugaan, dalam perjuangan yang sudah memperoleh kemenangan itu, Pangeran Adipati Anom tiba-tiba berbalik arah. Ia memilih pecah kongsi dengan terang-terangan mengingkari persekutuan.

Sebelum Amangkurat I wafat, Pangeran Adipati Anom diam-diam telah menjalin komunikasi. Dalam komunikasi itu Amangkurat I menyatakan sudah mengampuni putranya dan menyiapkannya sebagai pelanjut tahta. Pangeran Adipati Anom kemudian memilih bersekutu dengan VOC Belanda untuk merebut tahta yang jatuh di tangan Trunojoyo.

Penghianatan tak terduga itu membuat Kiai Kajoran Ambalik merasa kecewa. Bersama Trunojoyo, ia mengarahkan serangan pasukannya kepada Pangeran Adipati Anom yang telah mentahbiskan diri sebagai Amangkurat II. Sayang, perlawanan itu gagal. Pasukan Kiai Kajoran Ambalik dan Trunojoyo berhasil dipukul mundur kompeni hingga tersudut ke wilayah Gunung Kidul.

“Kompeni di bawah pimpinan J.A Sloot berhasil menangkap Kiai Kajoran dan berhasil membunuhnya pada tanggal 14 September 1679”. Nasib Trunojoyo dan pasukannya tidak kalah menderita. Mereka terkepung di sekitar wilayah Gunung Kelud, Jawa Timur hingga terancam kelaparan.

Pada 2 Januari 1680, Trunojoyo bersama pengikutnya, yakni Pangeran Magatsari, Anggakusuma, Ngabehi Wiradersana yang menyerah pada kompeni Belanda, diserahkan ke Amangkurat II dan dibunuh.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: