Kiai Ali Maksum, Ulama yang Pernah Mengasuh Tiga Pesantren

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Kiai Ali Maksum (Peci warna putih kemeja batik) sedang berada ditengah anak-anak /Foto: el-zeno.com

 Kiai Ali Maksum lahir di Lasem pada 2 Maret 1915. Ayahnya adalah Mbah Maksum, pengasuh Pesantren Al Hidayah di Lasem, Jawa Tengah. Sejak belia Ali diberi pelajaran kitab fiqh oleh Mbah Maksum. Alasan Ayahandanya memberi pelajaran kitab fiqh, karena menghendaki Ali kelak menjadi ahli fiqh. Namun demikian, sosok Ali Maksum lebih suka mempelajari kitab-kitab nahwu dan sharaf.

Dalam buku yang berjudul 99 Kiai Kharismatik Indonesia jilid II (tahun2020) karya KH Abdul Aziz Masyhuri, Kiai Ali sangat mahir berbahasa Arab. Sampai-sampai sebagian orang memberinya julukan “Munjid” yang berarti kamus bahasa Arab berjalan.

Setelah menikah pada 1938, dengan putri Kiai Munawir, yang bernama Hasyimah, Ali langsung bertolak ke Makkah. Kepergiannya ke Tanah Suci itu karena mendapat tawaran untuk menunaikan haji secara gratis. Selama dua tahun bermukim di Tanah Suci, ia berguru kepada Sayyid Alwi dan Syekh Umar Hamdan untuk memperdalam ilmu tafsir dan bahasa Arab.

Pernah Mengasuh di 3 Pesantren

Kiai Ali dan dunia pesantren sebagaimana disinggung di atas adalah seperti dua sisi mata uang, di mana antara yang satu dengan lainnya tidak bisa dipisahkan.

Ali remaja menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur. Di Pesantren yang saat itu diasuh oleh Kiai Dimyati tersebut, Ali tidak pernah pulang kampung selama tiga tahun berturut-turut. Selama nyantri di sana, Ali muncul sebagai santri yang menonjol ketimbang santri kebanyakan.

Dia tidak hanya mempelajari kitab-kitab yang selama ini dianggap muktabar, tapi juga kitab-kitab kontemporer karya para pemikir kontemporer di Timur Tengah, khususnya dari Mesir. Apa yang dijalani Ali muda itu ketika itu belum banyak dilakukan oleh para santri atau ulama.

Pada tahun 1928, Kiai Ali memiliki ide untuk mendirikan madrasah di Tremas, Pacitan. Hal ini untuk meneruskan ide dari Sayyid Hasan. Namun sayangnya, Kiai Dimyati tak menyetujui gagasan dari muridnya Ali.

Tak pantang menyerah, Ali pun dengan gigih meyakinkan adik Kiai Mahfudz at Termas itu. Akhirnya madrasah yang digagas itu berdiri pada tahun 1932. Selain mengajarkan kitab-kitab kuning klasik, kurikulum yang diajarkan di madrasah memasukkan juga kitab-kitab baru. Selain itu, pesantren juga melakukan kegiatan kepanduan bagi para santri.

Di Pesantren Tremas, telah muncul istilah empat serangkai yang menjadi tokoh pengembangan pesantren tersebut. Keempat serangkai itu adalah Gus Hamid, Gus Rahmad (Putra kedua Kiai Dimyati), Gus Huhammad bin Syekh Mahfudz dan Kiai Ali Maksum sendiri. Model pendidikan dan perkembangan madrasah di Pesantren Tremas masih terus berjalan sampai saat ini.

Sepulang dari Pesantren Tremas sekitar tahun 1938, Kiai Ali mengabdi di Pesantren milik orangtuanya, Al Hidayah di Lasem. Pada waktu itu terjadi penurunan jumlah santri yang sangat drastis di berbagai pondok pesantren. Menurunya jumlah santri itu juga dialami oleh Pesantren Al Hidayah.

Kiai Ali Maksum (kanan: menggunakan sorban dan peci putih) /Foto: el-zeno.com

Kiai Ali Maksum bersama orangtuanya melakukan berbagai upaya agar para santri bisa kembali belajar. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memberikan pengajian rutin kepada masyarakat sekitar bahkan keluar daerah. Upaya ini membuahkan hasil yang signifikan. Banyak santri mulai berdatangan kembali untuk belajar di pesantren.

Peningkatan kuantitas santri sesungguhnya bukan menjadi tujuan utama dari Kiai Ali Maksum. Kiai Ali Maksum lebih mengedepankan tentang arti penting sebuah pendidikan Islam. Bahka pendidikan Islam itulah yang menjadikan motivasi utama Kiai Ali Maksum.

Argumentasi Kiai Ali Maksum, karena keshalehan seseorang tidak bisa diwujudkan hanya degan penyampaian materi tentang Islam. Kiai Ali Maksum memiliki pemahaman bahwa pendidikan Islam harus dipratikkan sejak dini dan dilakukan secara terus menerus.

Pada tahun 1942, sang mertua, Kiai Munawwir, dipanggil ke pangkuan Illahi. Saat itu, Kiai Ali Maksum diminta untuk mengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir. Awalnya ia menolak. Pada akhirnya Kiai Ali Maksum menyanggupi karena diminta langsung oleh ibu mertuanya, Sukis.

Manajemen Pesantren Al-Munawwir tak sepenuhnya diserahkan kepada Kiai Ali. Dia juga dibantu oleh dua orang putra Kiai Munawwir, yakni Abdul Qadir dan Abdullah Afandi.

Langkah pertama yang dilakukan oleh Kiai Ali Maksum adalah melakukan kaderisasi ke beberapa orang, yaitu keluarga Kiai Munawir dan beberapa tetangga. Selama dua tahun berturut-turut (1943-1944) mereka mengikuti pengajian dari waktu Shubuh sampai pukul sembilan, kecuali waktu sholat dan makan.

Selain pengkaderan, Pesantren juga mengalami banyak kemajuan seperti perluasan tanah pesantren, bangunan fisik, penambahan lembaga baru seperti TK, Madrasah Diniyah Awaliyah, Wustha, Ulya, Madrasah Tsanawiyah, Aliyah, Program Takhasus/spesialisasi keilmuan dan Tahfidz al-Qur’an. Bukan hanya itu, Ponpes Al Munawwir juga merambah penerimaan santri putri.

Wafatnya Kiai Ali Maksum

Tepat setelah adzan Magrib berkumandang pada 7 Desember 1987, Kiai Ali Maksum mengembuskan nafas terakhir di RSU Sardjito Yogyakarta. Kiai Ali Maksum meninggal dunia dalam usianya yang telah menginjak 74 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Dongkelan, Bantul, Yogyakarta.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: