Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari, Ulama Tegalsari Simpul Nusantara 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari /Foto: uinsuka.kmnu.or.id

Tahun 1773 masehi, seorang Ulama besar berdarah keturunan Majapahit berpulang kehadirat Allah SWT. Ulama keturunan Brawijaya V dari garis ayah dan masih segaris dengan Rasulullah SAW itu berpulang saat Pondok Pesantren yang dia rintis sedang didatangi oleh banyak santri. KH Ageng Muhammad Besari namanya, sosok yang dikenal sebagai mahaguru para Raja Jawa dan Ulama yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur.

Kiai Ageng Hasan Besari tinggal dan menjalankan aktivitas dakwah hingga akhir hayatnya di Jinontro, Tegalsasi, Jetis, Ponorogo, Jawa Timur. Pesantrennya dinamakan sesuai nama daerahnya yakni Pesantren Tegalsari atau Pesantren Gerbang Tinatar.

Model penamaan ini adalah cara khas ulama nusantara yang menamai pesantrennya sesuai daerah tempat dia mendirikan lembaga pendidikan agama Islam pada awal 18.

Seorang Antropolog Belanda Martin van Bruinessen bahkan menyebutkan bahwa sebelum ada Pesantren Tegalsari belum ditemukan bukti apapun yang menyatakan bahwa sudah ada pondok pesantren lain. Seperti dilansir dari Jatim.nu.or.id, salah satu dzurriyah Tegalsari, Mbah Kicuk Suparnun mengatakan, semua pondok pesantren yang ada di Jawa rata-rata didirikan oleh keturunan dari Tegalsari.

“Banyak pondok di Jawa yang memiliki hubungan erat dengan Mbah Besari, seperti Pondok Lirboyo, Ploso,  Jampes, Tremas, dan lain-lain masih mempunyai nasab sampai Tegalsari,” demikian keterangan Mbah Kicuk.

Dalam Buku yang ditulis KH Abdul Aziz Masyhuri berjudul 99 Kiai Kharismatik Indonesia jilid I (tahun 2017), dijelaskan Kiai yang merupakan keturunan Kiai Anom Besari Caruban Madiun dan Nyai Anom Besari ini berguru pada Kiai Danapura. Bersama adiknya Kiai Nur Shodiq selama 4 tahun ia mendalami ilmu agama ke ulama besar yang tinggal di tenggara Kota Ponorogo.

Menantu Kiai Nur Salim ini juga dikenal ulama yang sangat sakti. Sebab, kala itu ia berhasil mengalahkan semua magi (ilmu mistik) yang dikuasai oleh para warok, pemimpin Reog Ponorogo. Praktis karena masyhurnya kesaktiannya, banyak orang berdatangan untuk mendalami ilmu. Apalagi, sepeninggal Kiai Danapura, praktis seluruh masyarakat beralih memburu ilmu agama pada ulama yang semasa dengan ulama kharismatik asal Tasikmalaya, Syekh Abdul Al Muhyi itu.

Masih mengutip tulisan Kiai Abdul Aziz Masyhuri, seorang Belanda bernama F.Fokkens telah meneliti Pesantren Tegalsari yang diberi judul “De Priesterschool te Tegalsari” (Sekolah Ulama Tegalsari).

Dalam buku itu, Fokkens menguraikan bahwa pada 1742 masehi, susuhunan Paku Buwono II menghadapi pemberontakan orang China-Jawa dan perlawanan Mas Garendi, di Ponorogo. Saat itu tersiar kabar ada ulama besar yang tinggal menyendiri dan mengasingkan diri di daerah Gunung Wilis.

Saat menepi itulah, ia seperti ulama besar lainnya melakukan “Ngrowot” hanya makan akar-akaran dan mengabdikan hidupnya hanya pada Allah semata. Barulah kerabat dan para murid berdatangan mempelajari ajaran Islam. Pesantren itulah dikenal Tegalsari yang didirikan Kiai Ageng Muhamad Hasan Besari.

Kemasyhuran ketokohan Kiai Ageng Muhamad Besari tidak hanya diakui masyarakat bawah. Saat itu, para kalangan kerajaan setelah kekuasannya berhasil direbut oleh Mas Garendi menemui Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari. Saat itu, Paku Buwono II meminta bantuan untuk merebut kembali Kartasura.

Setelah berhasil direbut kembali, Kiai Ageng Muhammad Besari tidak hanya diberikan Tanah perdikan dan Jabatan Bupati Ponorogo, melainkan pernah tercatat sebagai Penghulu kerajaan.

Tidak hanya itu, dari nasab Kiai Ageng tercatat lahir sosok Begawan Kesultanan Kartasura Raden Ngabehi Ronggowarsito dan simbol tokoh bapak pendiri bangsa H.O.S Cokroaminoto.

Selain itu, ulama yang juga memiliki tonggak sejarah penting bagi jejaring ulama nusantara, Pendiri Ponpes Tremas, Pacitan, KH Abdul Manan tercatat pernah menjadi santri Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari.

Sampai saat ini pun pemakaman Kiai Ageng pun ramai didatangi para peziarah, mulai masyarakat biasa hingga tokoh penting nasional. Bahkan para tokoh penting itu tidak sedikit yang meyakini bahwa untuk menjadi pemimpin nusantara, salah satu tempat yang wajib didatangi untuk tabarukan atau ngalap berkah adalah makam beliau dan beberapa anak keturunannya di komplek makam tersebut.[]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

1 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: