Kerajaan Demak “Hujan” Konflik, Kisah Sunan Prawoto Tampil Rebut Takhta

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Sunan Prawoto /Foto: kuwaluhan.com

santrikertonyonoTak jauh berbeda dengan kerajaan-kerajaan lainnya, masa kejayaan Kerajaan Demak pun pada akhirnya menemui masa kehancurannya. Pasca wafatnya Adipati Unus pada tahun 1521, Demak dihujani ketidakstabilan akibat perebutan kekuasaan di antara para pangerannya, bahkan Kerajaan Islam Demak mengalami kemerosotan tajam serta pelemahan yang diakibatkan dari konflik perebutan takhta.

Bahkan sebelum terjadinya perang saudara, Kerajaan Demak sempat dikenal sebagai Kerajaan Islam pertama dan terbesar di pesisir pantai Utara Jawa. Letak dan posisi Kerajaan Demak ini sebenarnya berada dalam posisi yang strategis, terutama untuk perdagangan hingga pertanian. Bahkan, pada abad ke 16, Demak diperkirakan menjadi pusat penyimpanan beras yang dihasilkan dari daerah-daerah sepanjang Selat Muryo.

Kejayaan Demak tak hanya terlihat dari bidang ekonominya saja, Raden Patah yang merupakan raja pertama Demak bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah (1500-1518) juga memiliki peranan besar dan signifikan dalam rangka penyebaran agama Islam, khususnya di Pulau Jawa. Sebagai pusat penyebaran Islam, Demak dipercaya sebagai tempat berkumpulnya para wali, seperti salah satunya Sunan Kalijaga.

Hebatnya, kejayaan Islam di masa Kesultanan Demak bukan hanya di Jawa, tetapi juga menyebar hingga ke beberapa pulau lain seperti Kalimantan. Bukti kejayaan Islam di masa Pemerintahan Demak pun bisa di buktikan, hal itu bisa dilihat melalui sebuah bangunan Masjid Keramat Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Beberapa literatur sejarah menyebutkan bahwa Masjid Keramat merupakan masjid peninggalan Demak yang paling tua.

Namun, suasana damai Kerajaan Demak berubah, persaingan panas mulai terasa sejak perebutan kekuasaan antara Pangeran Surowiyoto dan Trenggana yang masih berlanjut dengan terbunuhnya Pangeran Surowiyoto oleh Sunan Prawoto yang tak lain adalah anak dari Trenggana. Beberapa masyarakat masih mengingat kejadian tersebut, tepat berada di tepi sungai saat Surowiyoto pulang dari Masjid setelah menjalankan ibadah sholat Jumat.

Sejak peristiwa naas itu, Surowiyoto akhirnya dikenal dengan sebutan Sekar Sedo Lepen yang mempunyai arti Sekar yang gugur di sungai. Pasalnya perebutan kekuasaan yang terjadi antara keturunan Pangeran Sekar serta Pangeran Trenggana memang seperti hal yang mudah untuk dimaklumi, apalagi Adipati Unus sendiri tidak mempunyai keturunan, sementara kedua saudaranya itu berhak untuk menduduki takhta.

M. Rizal Qosim melalui bukunya yang berjudul “Di Balik Runtuhnya Majapahit, dan Berdirinya Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa” (2019), ia menjelaskan bahwa dalam drama perebutan dan persaingan takhta itu, Pangeran Prawoto yakni Putra dari Pangeran Trenggana dengan sadis membunuh Pangeran Sekar Sedo Lepen karena telah dianggap sebagai penghalang bagi ayahnya untuk naik takhta.

Skandal baru pembunuhan inilah yang konon menjadi pangkal konflik politik tak berkesudahan hingga akhirnya Kerajaan Demak runtuh dan tenggelam dalam masa suram. Tak selan lama, setelah musuh politiknya tewas, Trenggana pun naik takhta. Namun, bak rasa dendam yang telah tertanam, Arya Penangsang yang merupakan anak dari Pangeran Sedo Lepen tak tinggal diam.

Dengan segala rencana dan taktik yang dianggapnya cukup matang, Arya Penangsang berusaha sekuat tenaga menuntut balas atas meninggalnya sang ayah. Terlebih, sikap Arya Penangsang untuk membalas dendam konon mendapat dukungan penuh dari gurunya yakni Sunan Kudus. Bagi Sunan Kudu, apa yang dilakukan Arya Penangsang adalah hal wajar, sebagaimana Sultan Prawoto membunuh Pangeran Sekar Sedo Lepen.

Pertumpahan darah di tanah Demak

Pembunuhan yang dilakukan oleh Sunan Prawoto ini ternyata telah direncanakan secara rapi oleh Prawoto dan orang suruhannya. Setelah rencana matang dan tekad untuk menghabisi Pangeran Sekar semakin bulat, akhirnya Sunan Prawoto mengutus anak buahnya yang bernama Ki Surayata untuk segera membunuh Pangeran Sekar sepulang dari shalat Jumat.

Tak perlu menunggu lama, rencana itu berhasil dengan sangat mulus. Saat Pangeran Sekar atau yang memiliki nama lain Raden Kikin ini berjalan di pinggir sungai setelah menunaikan ibadah shalat Jumat, Ki Surayata menikam Raden Kikim hingga tewas. Adu tikam tak berhenti disitu, para pengawal Raden Kikin yang tak rela melihat pemimpinnya dibunuh, langsung menghunuskan senjatanya ke Ki Suryata hingga meninggal.

Raden Kikin yang meninggal di tepi sungai inipun lalu mendapat julukan Pangeran Sekar Seda ing Lepen dengan makna “Bunga yang gugur di sungai”. Sedihnya, Pangeran Sekar Seda Lepen meninggalkan dua orang putra dari dua orang istri, masing-masing yakni bernama Arya Penangsang dan Arya Mataram.

Setelah musuh politiknya tewas, Trenggana akhirnya bisa melenggang naik dan memegang takhta Demak yang dikukuhkan secara resmi menggantikan Adipati Unus pada tahun 1521. Diketahui, Trenggana yang mempunyai nama lain Tung Ka Lo atau Pate Rodim ini adalah raja Demak ketiga, yang memerintah pada tahun 1505 hingga 1546. Selama Trenggana memimpin, wilayah kekuasaan Demak meluas hingga ke Jawa Timur.

Namun, dibalik masa kejayaan Trenggana yang begitu signifikan dalam memperluas wilayah kekuasaan, ia akhirnya tersandung masalah yang pada hakikatnya akibat ulah dari Trenggana sendiri. Kisah pedih itu berhasil dikisahkan oleh Paul Michel Munoz dalam buku “Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia ; Perkembangan Sejarah dan Budaya Asia Tenggara, Jaman Pra Sejarah-Abad XVI” (2013).

Munoz menjelaskan bahwa Blambangan adalah wilayah tersulit yang belum berhasil ditaklukkan oleh Trenggana. Meskipun sudah melakukan pengepungan selama berbulan-bulan, Demak masih saja belum bisa menaklukan pusat kekuasaan Hindu terakhir itu. Bahkan, perebutan terhadap Blambangan akhirnya hanya membuat Trenggana frustasi.

Emosi Trenggana menjadi tak terkendali, ia secara lantang mengeluarkan kata-kata pedas, menghina, dan merendahkan para anak buahnya di hadapan umum. Penghinaan dan penistaan yang dilakukan oleh Trenggana sangat sadis hingga membuat anak buahnya murka dan tak terima. Kepalang sakit hati, para anak buah Trenggana nekat menikam Trenggana dari belakang hingga tewas.

Sepeninggal Sultan Trenggana, Sunan Prawoto secara otomatis mewarisi takhta Kerajaan Demak. Sebagai seorang putra dari Trenggana, Prawoto mempunyai niat yang sangat kuat untuk meneruskan dan mengembangkan perjuangan ayahnya dalam menaklukan Pulau Jawa. Apalagi, saat Trenggana belum berhasil menundukkan wilayah Blambangan.

Namun, ketrampilan politik Prawoto memanglah kurang memadai, banyak yang menyebutkan bahwa ia hanya orang yang lebih memfokuskan diri untuk bergelut dengan ilmu-ilmu agama dan lebih kental dikenal sebagai ulama daripada seorang raja. Hanya saja, kala itu Prawoto mengambil kebijakan politik dengan memindahkan pusat pemerintahan dari kota Buntoro menuju bukit Prawoto.

Saat menduduki takhta, Sunan Prawoto pun diselimuti rasa was-was. Pasalnya, ia harus menghadapi dua orang tokoh kuat yang akan menjadi rivalnya yakni Arya Penangsang Bupati Jipang dan Hadiwijaya Bupati Pajang. Tak lain masing-masing adalah keponakan dan menantu Trenggana. Rivalitas tak bisa di hindari, Arya Penangsang tampil dan menolak keras kepemimpinan Sunan Prawoto.

Pemerintahan Sunan Prawoto yang Singkat

Sunan Prawoto yang memiliki nama asli Raden Mukmin ini diketahui merupakan raja Demak keempat, yang memerintah pada tahun 1546 hingga 1549. Masa pemerintahan Sunan Prawoto sangatlah singkat, kurang lebih hanya berjalan sekitar tiga tahun, karena lebih dulu dibunuh oleh Arya Penangsang, anak dari Pangeran Sedo Lepen.

Dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi, Sunan Prawoto dinyatakan tewas setelah dibunuh oleh orang suruhan dari Bupati Jipang Arya Penangsang yang lain adalah sepupunya sendiri. Tak lama setelah kematian Sunan Prawoto, Sultan Hadiwijaya yang kala itu masih menjabat sebagai Bupati Pajang langsung memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang, sehingga Kerajaan Demak pun berakhir.

Dalam sebuah catatan yang tulis oleh Manuel Pinto asal Portugis menceritakan bahwa Ia sempat bertemu dengan Sunan Prawoto dan mendengar rencananya untuk mengislamkan seluruh Jawa. Pertemuan yang ia tulis saat ia singgah ke Jawa pada tahun 1548 ini bahkan juga mendengar bahwa Sunan Prawoto mempunyai niatan untuk berkuasa bak Sultan Turki.

Tak hanya itu, puncaknya Sunan Prawoto juga mempunyai agenda untuk menutup jalur perdagangan beras ke Malaka hingga menaklukan Makassar. Namun ternyata, rencana politik Sunan Prawoto ini berhasil digagalkan oleh Minto. Dimana, Sunan Prawoto terbujuk oleh kata-kata Manuel Pinto untuk tidak menutup beras ke wilayah Malaka.

Selama menduduki singgasana kerajaan, nyatanya Sunan Praowoto tidak pernah mewujudkan satupun cita-citanya. Meskipun sudah diangkat menjadi raja, Sunan Prawoto malah lebih menekuni ilmu-ilmu keagamaan daripada ilmu politik. Alih-alih ingin mempertahankan posisinya sebagai raja, malah justru semakin menenggelamkan kerajaan dalam tradisi-tradisi keagamaan.

Akhirnya, banyak daerah kekuasaan Demak yang memilih untuk melepaskan diri. Satu per satu wilayah ini akhirnya memilih untuk berdiri diatas tanah pemerintahannya sendiri seperti Banten, Cirebon, Surabaya, dan Gresik. Wilayah-wilayah itu berkembang bebas, dan Demak tidak bisa menghalanginya. Yang lebih parah daripada itu adalah saat Sunan Prawoto juga tak sempat meneruskan proyek politik sang ayah untuk menaklukan Blambangan.

Rivalitas antara Sunan Prawoto dan Arya Penangsang memuncak pada tahun 1549. Kala itu, Arya Penangsang mengirimkan anak buahnya yang bernama Rangkud untuk menghabisi Sunan Prawoto sebagai wujud balas dendamnya. Tak menunggu lama, Rangkud berangkat menuju istana Prawoto untuk menjalankan tugasnya.

Dalam Babad Tanah Jawi, suatu malam Rangkud menyusup ke kamar tidur Sunan Prawoto. Namun, kedatangan Rangkud nampaknya sudah diketahui, tepat di hadapan Rangkud Sunan Prawoto mengakui kesalahannya karena telah membunuh Pangeran Seda Lepen ayahanda dari Arya Penangsang. Sebagai bentuk penebusan atas kesalahannya di masa lalu, Sunan Prawoto rela dihukum asal keluarganya di ampuni.

Bak melihat kesempatan emas, Rangkud menyetujuinya. Rangkud langsung menikam dada Sunan Prawoto yang pasrah tanpa perlawanan hingga kerisnya tembuh ke belakang punggung Prawoto. Naas, tanpa disadari ternyata dibelakang Prawoto ada sang istri tercinta yang ingin terhunus keris di bagian lambungnya. Melihat kejadian itu, Prawoto tak terima. Di sisa-sisa tenaganya, Prawoto masih bisa membunuh Rangkud. Sepeninggal Prawoto dan istrinya, sang anak yang masih kecil yakni Arya Pangiri. Arya Pangiri lantas dirawat oleh sang bibi Ratu Kalinyamat dari Jepara.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: