Jejak Toleransi Sunan Kudus: Menukar Hewan Kurban Sapi dengan Kerbau

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
sunan-kudus
Sunan Kudus atau Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan /Foto: metrojateng.com

santrikertonyonoJa’far Shodiq Azmatkhan atau Sunan Kudus tidak menginginkan sapi disembelih untuk perayaan Hari Raya Idul Adha. Ketidakmauan menyembelih dan memakan daging sapi Sunan Kudus juga dilakukan pada hari-hari biasa, terutama saat hajatan. Sebagai ganti, dipilih lah kerbau atau kambing.

Wali Songo yang dikenal tegas urusan syariat itu juga menganjurkan umat Islam di Kudus melakukan hal yang serupa. Sunan Kudus menghormati tradisi keagamaan umat Hindu yang begitu memuliakan sapi. Baginya, menyembelih sapi sama halnya menggores perasaan umat Hindu. Karenanya sudah sepatutnya untuk dihentikan.

“Demi menjaga perasaan, disebutkan ia menganjurkan kepada yang sudah masuk Islam agar jangan menyembelih sapi untuk keperluan pesta, melainkan kerbau saja,” tulis Seno Gumira Ajidarma dalam buku Sembilan Wali & Syekh Siti Jenar (2007).

“Fatwa” untuk tidak menyembelih sapi diumumkan Sunan Kudus kepada umat Islam secara terbuka. Saat itu jumlah umat Islam di Kudus masih minoritas. Meski sapi bukan termasuk binatang yang dihukumi haram, kebiasaan menyembelih dan mengonsumsi daging sapi di Kudus, berhenti.

Umat Islam Kudus beralih menyembelih kerbau atau kambing, termasuk saat berlangsungnya hari raya kurban. Sikap toleran Sunan Kudus yang sekaligus menjadi simbol penghormatan itu mengundang simpatik umat Hindu. Karena terpikat dengan toleransi Sunan Kudus, tak sedikit dari mereka yang lantas memilih hijrah menjadi muslim.

“Dengan metode seperti itu akhirnya sebagian besar pemeluk agama Hindu menjadi simpati kepada Sunan Kudus dan bersedia masuk Islam,” kata Sri Indrahti dalam buku Kudus dan Islam: Nilai-Nilai Budaya Lokal dan Industri Wisata Ziarah.

Sumber lain menyebut keputusan Sunan Kudus menghentikan menyembelih sapi untuk dimakan tersebut, diawali dari adanya dialog terbuka dengan umat Hindu di halaman masjid Menara Kudus. Kehadiran umat Hindu disambut gembira dan penuh rasa hormat.

Setelah berceramah yang intinya mengganti sapi dengan kerbau atau kambing, seekor sapi yang sebelumnya diikat dan siap disembelih, dilepaskan. Sumber lain lagi mengatakan, Sunan Kudus pernah ditolong seorang pendeta Hindu saat mengalami dahaga. Si pendeta Hindu memberi Sunan Kudus minuman susu sapi. “Sebagai ungkapan terima kasih dari Sunan Kudus, maka masyarakat Kudus dilarang menyembelih sapi,” tulis Sri Indrahti.

Dalam Sembilan Wali & Siti Jenar, Seno Gumira Ajidarma mengatakan, peristiwa pelarangan penyembelihan sapi oleh Sunan Kudus juga menjelaskan munculnya tradisi kuliner khas di Kudus. Di Kudus banyak ditemukan orang menjual soto dan sate kerbau. Sementara umumnya kuliner soto di daerah lain, hampir selalu menggunakan daging sapi. “Yang rupanya juga menjadi ciri kota itu”.

Jejak toleransi Sunan Kudus juga terlihat pada pembangunan masjid Menara Kudus. Bangunan Menara Masjid Kudus dan Lawang Kembar Masjid Kudus menunjukkan kompromi antara arsitektur Islam dengan arsitektur berciri Hindu. Seorang musafir asing Antonio Hurd yang melakukan ekspedisi pada tahun 1678, mengungkapkan rasa takjubnya. Dia menyebut menara raksasa sebagai bangunan yang kukuh tampan dan arsitekturnya yang jelas- jelas diilhami candi-candi masa pra Islam.

Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo mengatakan, Sunan Kudus dalam berdakwah selalu berusaha mendekati masyarakat untuk menyelami serta memahami kebutuhan apa yang diharapkan masyarakat. “Itu sebabnya, Sunan Kudus dalam dakwahnya mengajarkan penyempurnaan alat-alat pertukangan, kerajinan emas, pande besi, membuat keris pusaka, dan mengajarkan hukum-hukum agama yang tegas”.

Dakwah Pendekatan Surat an-Nahl 125

Sunan Kudus merupakan putra Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung yang bertempat tinggal di Jipang Panolan (sekarang Cepu Kabupaten Blora). Menurut Babad Tanah Jawi, Naskah Drajat, ayah Usman Haji adalah Ali Murtadho alias Raja Pandhita, kakak Sunan Ampel.

Usman Haji dan Sunan Ampel merupakan putra Ibrahim Asmarakandi. Sementara Ibrahim Asmarakandi adalah putra Maulana Jumadil Kubro yang bila dirunut akan sampai pada Sayidina Husein, cucu Nabi Muhammad SAW. Semasa muda Sunan Kudus dikenal sebagai santri kelana.

Dalam sumber tutur ia dikisahkan gemar mengembara ke berbagai negeri yang jauh. Mulai dari tanah hindustan hingga ke tanah suci Mekah, sudah ia datangi. Sunan Kudus juga cukup lama nyantri ke Ampel Denta Surabaya. Sebagai bagian Wali Songo, Sunan Kudus melanjutkan cara dakwah penyebaran Islam seperti dilakukan para pendahulunya.

Pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, wali penyebar Islam menggunakan pendekatan sesuai firman Allah Swt, yakni Surah an-Nahl ayat 125.“Hendaknya engkau mengajak orang ke jalan Allah dengan hikmah, dengan peringatan yang ramah tamah serta bertukar pikiran dengan mereka melalui cara yang sebaik-baiknya”.

Sunan Kudus dalam berdakwah ke masyarakat yang sebagian besar Hindu, melakukan pendekatan persuasif. Masyarakat ia dekati, diselami dan mencoba memahami apa yang dibutuhkan. Untuk melakukan hal itu, Sunan Kudus banyak memanfaatkan jalur seni dan budaya serta tekhnologi terapan yang bersifat tepat guna.

Menurut Primbon milik Prof.K.H.R Moh. Adnan, sebagai anggota Wali Songo, Sunan Kudus dalam berdakwah mendapat tugas memberi bimbingan dan keteladanan kepada masyarakat. “Sunan Kudus menyempurnakan alat-alat pertukangan yang berguna untuk bekerja, membuat keris pusaka dan sejenisnya, menyempurnakan perkakas pande besi, menyempurnakan perkakas untuk tukang emas, menyusun peraturan perundang-undangan yang bisa diterapkan sebagai produk hukum di pengadilan”.

Sepeninggal Sunan Ngudung, Sunan Kudus menggantikan kedudukan ayahnya sebagai imam Masjid Demak. Ia juga menggantikan kedudukan Sunan Ngudung sebagai pemimpin barisan santri. Dalam Serat Kandaning Ringgit Purwa digambarkan, bagaimana Sunan Giri menghadiahinya pusaka Ki Suradadi. Kemudian Sunan Gunung Jati memberinya badhong atau golok bertuah.

“Yang paling dahsyat, Arya Damar Adipati Palembang membekali Raden Ja’far Shodiq dengan memberi sebuah peti, yang jika dibuka tutupnya akan menimbulkan hujan dan angin serta memunculkan pasukan siluman yang akan mengusir musuh”.

Sunan Kudus wafat dan dimakamkan di belakang komplek Masjid Agung Kudus di Kota Kudus. Seperti makam Wali Songo yang lain, pesarean Sunan Kudus berada di dalam tungkub yang diselubungi kelambu tipis warna putih. Di luar tungkub makam Sunan Kudus terdapat makam Raden Kusen dan istrinya.

Kemudian Panembahan Palembang, Panembahan Kuleco, Panembahan Mangahos, Panembahan Condro, istri Sunan Muria, Pangeran Pedamaran I-V, Pangeran Sujoko, Pangeran Pradabinabar dan Pangeran Palembang.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: