Jejak Panembahan Bodho dalam Sejarah Tiga Kerajaan Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Masjid Sabilurorsyad/Net

Panembahan Bodho hidup dalam rangkaian tiga babak kerajaan besar di Jawa, dari Kesultanan Demak, Kesultanan Pajang, hingga Kesultanan Mataram Islam. Namun, ulama keturunan Majapahit ini pantang melibatkan diri dalam pusaran kekuasaan.

Nama asli Panembahan Bodho adalah Raden Trenggana, keponakan Raden Patah (berkuasa 1475-1517 Masehi), pendiri Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Ayah Raden Trenggana bernama Raden Kusen (Husein), saudara tiri Raden Patah.

Raden Kusen adalah putra Arya Damar, wakil Majapahit yang ditempatkan di Palembang. Arya Damar merupakan putra dari Brawijaya V (1474-1498 M) yang menurut Babad Tanah Jawi adalah raja terakhir Majapahit. Dengan demikian, Raden Trenggana adalah cucu Arya Damar sekaligus cicit Raja Brawijaya V.

Raden Patah dan Raden Kusen dibesarkan di Palembang. Setelah beranjak dewasa, kakak-beradik beda ayah ini memutuskan kembali ke Jawa dan sempat berguru kepada Wali Songo. Di Majapahit, Raden Patah ditunjuk sebagai Adipati Bintara (Demak), sedangkan Raden Kusen sebagai Adipati Terung (Sidoarjo).

Ketika Raden Patah mendirikan Kesultanan Demak pada 1475 M yang berarti merupakan bentuk pembangkangan terhadap Majapahit yang saat itu masih berdiri, Raden Kusen tetap berdiri di pihak Brawijaya V.

Raden Patah dan Raden Kusen beragama Islam, sementara Majapahit merupakan kerajaan bercorak Hindu. Namun, dikutip dari buku Sidoardjo Tempo Doeloe (2013) karya Dukut Imam Widodo, Majapahit kala itu merupakan kerajaan yang terbuka untuk agama apa pun, termasuk para penganut Islam.

Terjadi polemik antara Kesultanan Demak dengan Kerajaan Majapahit. Babad Tanah Jawi mengisahkan, Raden Kusen bersedia mati membela Majapahit meskipun harus melawan pasukan yang dipimpin kakaknya sendiri.

Singkat cerita, perang saudara itu akhirnya usai. Majapahit kalah dan perlahan tapi pasti menuju keruntuhan. Kesultanan Demak pun tampil selaku kekuatan baru, sebagai kerajaan terbesar di Jawa menggantikan Majapahit yang sudah di ambang tamat.

Raden Trenggana, putra Raden Kusen, muak dengan kemelut yang terjadi di dalam keluarga besarnya dan menyebabkan pertumpahan darah antara ayah dengan pamannya. Ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan istana dan politik kerajaan.

Rangkaian peralihan pemerintahan di Jawa, dari Kesultanan Demak, Pajang, hingga Mataram Islam, tidak membuat Raden Trenggana tertarik ikut mencicipi nikmatnya kekuasaan. Ajakan turut mengelola pemerintahan yang datang silih berganti dari tiga kerajaan tersebut selalu ditolaknya. Ia memilih berkelana untuk memperkenalkan ajaran Islam agar dekat dengan rakyat.

Dalam buku Wisata Ziarah (2013) yang disusun oleh Gagas Ulung disebutkan bahwa Raden Trenggana sempat berguru kepada Sunan Kalijaga dan menjadi salah satu murid yang paling disayangi oleh anggota Wali Songo itu. Sunan Kalijaga pun berkenan menikahkan salah satu putrinya dengan Raden Trenggana.

Hingga pada suatu ketika, Raden Trenggana tiba di suatu desa di Mataram (Yogyakarta) bagian selatan, tepatnya di daerah yang kemudian dikenal dengan nama Desa Wijirejo, kini termasuk wilayah Pandak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Asal-Usul Nama Panembahan Bodho

Ada beberapa versi terkait asal-usul nama Panembahan Bodho yang disematkan kepada Raden Trenggana. Salah satunya seperti yang ditulis Gagas Ulung dalam buku Wisata Sejarah (2013). Disebutkan, Raden Trenggana selalu beralasan bahwa ia orang yang bodoh dan tidak tahu apa-apa setiap kali datang utusan dari kerajaan yang ingin mengajaknya bergabung dengan pemerintahan.

Panembahan Senopati (1586-1601), pendiri Kesultanan Mataram Islam, konon beberapa kali datang langsung ke Wijirejo untuk membujuk Raden Trenggana. Panembahan Senopati utamanya meminta kepada Raden Trenggana agar membantunya menyelesaikan masalah dengan Ki Ageng Mangir yang menolak tunduk kepada Mataram.

Permintaan tersebut selalu ditolak secara halus oleh Raden Trenggana. Dengan merendah, Raden Trenggana mengatakan bahwa ia hanya orang biasa, orang bodoh yang tidak paham dengan urusan politik. Dari sinilah kemudian nama Panembahan Bodho mulai lekat dengan Raden Trenggana.

Versi lainnya, seperti dikutip dari artikel bertajuk “Wayang Panembahan Bodho” dalam website resmi Desa Wijirejo, disebutkan bahwa sebutan bodho atau bodoh kepada Raden Trenggana dilontarkan oleh Sunan Kalijaga lantaran muridnya itu salah kaprah dalam menyikapi suatu persoalan.

Menurut penuturan Nur Jauzak, takmir Masjid Sabilurrosya’ad di Pandak, Bantul, yang diyakini sebagai peninggalan Panembahan Bodho, Raden Trenggono pernah salah mengira gemuruh ombak Pantai Selatan sebagai bunyi meriam serangan Portugis.

“Selain itu, saat disuruh Sunan Kalijaga bertapa, Raden Trenggono masih membawa bekal makanan. Karena dinilai kurang pengalaman, maka Sunan Kalijaga memberi sebutan Raden Trenggono dengan Ki Bodho,” ungkap Nur Jauzak, dikutip dari artikel bertajuk “Masjid Sabilurrosya’ad, Dipercaya Peninggalan Raden Trenggono di Bantul” dalam Detik.com (15 Mei 2019).

Sedangkan gelar Panembahan kepada Ki Bodho diberikan oleh Panembahan Senapati setelah wilayah Terung dikuasai Kesultanan Mataram Islam. Seperti diketahui, Raden Trenggono adalah putra Raden Kusen yang pernah menjabat sebagai Adipati Terung.

Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun melalui tulisannya berjudul “Mengapa Tidak Kudeta? Bedhol Negoro (3)” yang terhimpun dalam buku Pemimpin yang “Tuhan” (2018) punya tafsiran tersendiri mengenai Panembahan Bodho.

“Ada yang pensiun dini seperti Adipati Terung yang menyepi sebagai Panembahan Bodho. Perhatikan, dia menyebut dirinya ‘bodho’. Di puncak ilmu, pengetahuan, dan pengalamannya, manusia menemukan ‘bodho’-nya. Itu tradisi ‘zuhud’, tidak diperbudak oleh dunia, tidak mengemis pada dunia,” tulis Cak Nun.

Makna versi Cak Nun tersebut sangat cocok dengan jalan hidup Raden Trenggana yang memilih keluar dari istana untuk melakoni perjalanan spiritual. Hanya saja, Cak Nun menyebut Panembahan Bodho adalah Adipati Terung yang sebenarnya adalah Raden Kusen alias ayahanda Raden Trenggana.

Panembahan Bodho mengabdikan diri di Desa Wijirejo hingga akhir hayatnya. Peninggalan cicit Brawijaya V ini masih bisa ditemukan, begitu pula dengan sejumlah kearifan lokal yang masih dijalankan oleh masyarakat hingga saat ini.

Salah satu warisan Panembahan Bodho adalah Masjid Sabilurrosya’ad yang berada di Dusun Kauman, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Masjid ini berangka tahun 1485 Masehi.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: