Jejak Mbah Jugo, Perwira Pasukan Diponegoro di Lereng Gunung Kawi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Padepokan Eyang Jugo, Sanggrahan, Jugo, Kec. Kesamben, Blitar, Jawa Timur /Foto: googlemap-Hakim

Wabah penyakit tengah merajalela. Orang mengeluh greges (panas dingin) di pagi hari, tiba-tiba siangnya sudah tak bernyawa. Begitu juga sakit di siang hari, sore harinya sudah diarak dengan keranda mayat menuju kuburan. Korban yang meninggal dunia karena penyakit aneh, terus berjatuhan. Dari dalam hutan lebat di kawasan Kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar, Mbah Jugo memperlihatkan diri.

Perawakannya jangkung, berkulit bersih dengan kulit muka berwarna kemerah-merahan. Ia mengenakan baju ala kadar, namun tak terlihat sebagai gelandangan. Sepasang daun telinga Mbah Jugo yang besar, mencuri perhatian. Daun telinga yang lebih besar dibanding orang dewasa pada umumnya. Langkah Mbah Jugo berhenti di sebuah kandang sapi milik warga yang sudah lama tak terpakai.

Warga yang melihat kehadirannya kaget bercampur gembira. Mereka seketika berduyun-duyun menghampiri. Terutama yang pernah menerima uluran tangannya. Di depan Mbah Jugo warga merundukkan badan sembari berisak tangis. Mbah Jugo menerimanya, sekaligus mempersilahkan siapa saja yang sakit untuk lebih mendekat.

“Hayo, siapa yang sakit boleh datang kemari, yang tidak bisa jalan boleh suruhan orang saja membawa air di botol atau bumbung. Nanti kuberi obat supaya waras kembali,” kata Mbah Jugo seperti dituliskan Im Yang Tju dalam Riwayat Ejang Djugo Panembahan Gunung Kawi (terbit 1954).

Pada tahun 1820, epidemi kolera melanda Hindia Belanda. Sejarawan Susan Blackburn menyebut, hubungan dagang Jawa- India melalui Selat Malaka sebagai faktor pemicunya. Kolera muncul pertama-tama di kawasan pesisir pantai utara Jawa. Dari Batavia, penyakit mematikan tersebut menjalar ke Semarang hingga mencapai wilayah Surabaya. Termasuk penduduk Malang, Blitar dan sekitarnya, juga menjadi korbannya.

Orang Jawa memaknai penyakit di luar kewajaran itu dengan menyebutnya pagebluk. Pada tahun 1910, sebanyak 60 ribu penduduk Jawa dan Madura tercatat tewas akibat kolera. Mbah Jugo muncul di tengah masyarakat Kesamben sebagai seorang tabib. Ia mengobati dengan menggunakan media air bersih.

Di bekas kandang sapi itu warga datang dengan membawa beragam wadah berisi air bersih. “Ada yang pakai cangkir, ada yang pakai kelowoh, ada yang pakai bumbung,” tulis Im Yang Tju dalam Riwayat Ejang Djugo Panembahan Gunung Kawi. Warga meletakkan wadah di depan Mbah Djugo. Pandangan laki-laki tua itu menyapu seluruh wadah air. Ia berdoa tanpa bersuara. Tak berselang lama, ia meminta semua air untuk dibawa pulang.

Anggota keluarga yang tengah sakit juga boleh meminumnya, termasuk mengoles-oleskan pada bagian yang sakit. Ajaib. Dalam waktu singkat keluhan berkurang. Yang semula sakit berangsur-angsur sembuh, waras seperti sedia kala. Nama Mbah Jugo seketika terkenal. Namanya terdengar sampai ke telinga warga Sumberpucung dan Kepanjen (Kabupaten Malang). Sampai juga kepada warga Wlingi dan Kota Blitar.

Mereka yang datang untuk mencari kesembuhan semakin banyak. “Tak lama wabah penyakit kolera yang melanda Blitar, Tulungagung, Kediri, Wlingi, Kepanjen, Malang dan desa-desa sepanjang pesisir laut selatan, musnah. Rakyat tentram kembali hidupnya,” tulis Im Yang Tju. Kabar tentang orang pintar bernama Mbah Jugo merembes ke telinga Bupati Blitar Kanjeng Pangeran Warsokusumo, dan langsung mendatanginya.

Dalam berbagai sumber lisan menyebut, Bupati Blitar memberi Mbah Jugo sebidang tanah. Tanah bebas pajak sebagai wujud terima kasih itu berlokasi di wilayah Desa Jugo, Kecamatan Kesamben. Mbah Jugo mendirikan sebuah padepokan, dan tamu mengalir tak putus. Mulai dari kalangan rakyat jelata hingga pejabat pemerintahan, semua ingin bertemu Mbah Jugo. Sejak itu Mbah Jugo berhenti berkelana. Ia juga mendapat panggilan Ki Ageng Jugo atau Panembahan Jugo.

Siapa Mbah Jugo ?
Kehadiran Mbah Jugo untuk menyebarkan Islam di Kesamben, Kabupaten Blitar konon mampu meredam Gunung Kelud meletus. Kelud yang di Kitab Negarakertagama terserat dengan nama Kampud, memiliki siklus letusan yang rutin. Bahkan letusan Kelud menandai lahirnya Raja Hayam Wuruk. Setiap meletus, lava dan material panas yang mengiringi selalu menelan korban.

Begitu juga pada tahun 1901. Gunung Kelud yang lama tak erupsi, tiba-tiba kembali meletus. Letusan Kelud terulang pada tahun 1919. Ribuan korban berjatuhan. Sebelum peristiwa alam terjadi, pada tahun 1876 Mbah Jugo hijrah ke Gunung Kawi yang berlokasi di wilayah Kabupaten Malang. Padepokan yang berada di Desa Jugo, Kabupaten Blitar tiba-tiba ia tinggalkan.

Mbah Jugo mendirikan padepokan baru di Dusun Wonosari, Desa Ngajum Kecamatan Kepanjen. Di bawah lereng gunung setinggi 2.860 meter (Gunung Kawi), padepokan baru itu dikelilingi banyak pohon cendana, nagasari, dewandaru, margoutomo, kepel, blimbing, kukusan, jambu dan cerme. Sejumlah sumber menyebut, Mbah Jugo adalah Kanjeng Kiai Zakaria II, bangsawan Kartasura yang juga bekas pengikut Pangeran Diponegoro.

Paska kekalahan perang Jawa (1825-1830), Kiai Zakaria bergeser ke Jawa sebelah timur. Ia memperoleh nama Jugo dari Desa Jugo Kecamatan Kesamben yang ditempati. Dalam “Riwayat Ejang Djugo Panembahan Gunung Kawi”, Im Yang Tju menulis nama Jugo berasal dari Sajugo, kata yang kerap diucapkan Mbah Jugo saat mewejang para pengikutnya.

“Samubarang kang diumunung ing jagat iki, gunung-gunung watu kayu, kang obah lan kang ora obah satemene mung sajugo (Sesuatu yang berada di dalam dunia ini, gunung-gunung batu kayu , yang bergerak dan yang tidak bergerak, sebenarnya hanya satu)”.

Mbah Jugo juga selalu menyembunyikan rapat-rapat identitasnya. Setiap ditanya oleh orang-orang yang ditolongnya Mbah Jugo selalu mengatakan, siapa dirinya dan dari mana asalnya bukan hal penting untuk diketahui. “Tidak penting untuk engkau tahu aku ini siapa dan tempat tinggalku di mana,” kata Mbah Jugo seperti diriwayatkan Im Yang Tju.

Di padepokan di lereng Gunung Kawi, Mbah Jugo ditemani Mbah Iman Soedjono, putra angkatnya. Sejumlah sumber menggambarkan Iman Soedjono berpenampilan lazimnya priyayi agung. Berperawakan sedang, bersorot mata tajam, tutur kata halus penuh sopan santun, mengenakan pakaian ala Mataram dengan ikat kepala serta kain sawit hitam keluaran Solo. “Eyang, saya baru datang eyang,” tutur Iman Soedjono saat bertemu Mbah Jugo di Gunung Kawi. “Iman Sudjono anakku yang bagus, akhirnya engkau datang juga,“ kata Mbah Jugo seperti dituliskan Im Yang Tju.

Sumber lisan menyebut, Iman Soedjono adalah putra Pangeran Semendi, cucu Ratu Serang. Ia bertemu Mbah Jugo yang saat itu kerap berada di makam Sunan Tembayat, Klaten dan diangkat sebagai putra. Sumber lain menyebut Iman Soedjono merupakan bangsawan Surakarta yang juga salah satu putera dari Pangeran Diponegoro. Dalam perang Jawa, Iman Soedjono menjadi salah satu perwira perang.

Sumber lain menyatakan, Mbah Jugo, Mbah Iman Soedjono dan Mbah Darso atau Eyang Darso Wari Kusumo yang bermakam di Desa Tingal, Kecamatan Garum Kabupaten Blitar, merupakan satu tim elite pasukan Pangeran Diponegoro. Mbah Darso atau Raden Putut merupakan seorang ahli strategi perang. Sementara selama di Gunung Kawi, tamu Mbah Jugo datang dari mana-mana. Bukan hanya warga Jawa Timur, tetapi juga warga dari luar Jawa. Termasuk etnis Tionghoa banyak yang datang.

Mereka yang bertamu tidak hanya berikhtiar mencari obat. Mereka juga meminta petunjuk Mbah Jugo untuk memecahkan persoalan hidup yang dialami. Mbah Jugo tutup usia pada tahun 1879, hari Minggu Legi bulan Selo. Ia dikebumikan di sekitar padepokannya di lereng Gunung Kawi. Konon Mbah Jugo sudah menyiapkan liang lahatnya sendiri pada tahun 1872 atau tujuh tahun sebelum meninggal dunia.

Sekitar delapan tahun kemudian, Mbah Iman Soedjono menyusulnya dan dimakamkan bersebelahan dengan makam Mbah Jugo. Hingga saat ini setiap malam Jumat Legi, para peziarah selalu membanjiri makam Mbah Jugo dan Mbah Iman Soedjono. Sebagian besar orang Tionghoa memanggil Mbah Djugo dengan sebutan Thay Lo Su yang berarti Kiai Guru Tua dan Djie Lo Su untuk Mbah Iman Soedjono yang artinya Kiai Guru yang kedua.

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: