Jalan Berliku Syekh Ibrahim Asmarakandi, Peletak Pondasi Islam Nusantara

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Makam Syekh Maulanan Ibrahim Asmoroqondi /Foto: Googlemap - Sulthon Rif'an

santrikertonyonoSyekh Ibrahim Asmarakandi tak mengalami penderitaan seperti awal-awal menginjakkan kaki di negeri Champa. Di Palembang Sumatera, ia mendapat sambutan hangat.

Wilayah Palembang merupakan bekas pusat Kerajaan Sriwijaya. Sebuah kerajaan Budha terbesar di Nusantara yang sudah pudar, dan digantikan Majapahit. Arya Damar, seorang penguasa Palembang yang berkedudukan adipati, menerima Syekh Ibrahim Asmarakandi dengan baik.

Arya Damar adalah putra Raja Majapahit Brawijaya V dari seorang istri yang bernama Endang Sasmitapura. Ibu Arya Damar konon penganut ajaran tantra bhairawa yang taat, yakni madzab Syiwa-Budha yang dalam ritualnya mengorbankan daging manusia.

Syekh Asmarakandi ditemani dua orang putranya, yakni Raden Rahmat atau Ali Rahmatulloh yang kelak dikenal sebagai Sunan Ampel dan Ali Musada (Ali Murtadho). Seorang kemenakannya yang bernama Raden Burereh (Abu Hurairah) juga turut serta.

Syekh Asmarakandi dan keluarganya cukup lama di Palembang. Selama di Palembang mereka juga melakukan syiar Islam kepada Arya Damar dan keluarganya.

Thomas W Arnold dalam “The Pearching of Islam” (1977) menyebut mereka menjadi tamu Arya Damar selama dua bulan. “Untuk memperkenalkan agama Islam kepada Adipati Palembang Arya Damar”.

Sejumlah sumber sejarah mencatat, Arya Damar yang semula penganut ajaran tantra bhairawa, lantas melepas keyakinannya. Arya Damar memutuskan masuk Islam dan bersalin nama menjadi Aryo Abdillah.

Lebih jauh disebut dalam sumber historiografi lokal, Arya Damar memiliki andil besar dalam proses islamisasi di Palembang hingga ke Jambi, Bengkulu dan Riau Daratan.

Syiar di Wilayah Kekuasaan Majapahit

Setelah dua bulan di Palembang, Syekh Ibrahim Asmarakandi beserta putra dan kemenakannya melanjutkan perjalanan ke tanah Jawa. Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo menuliskan kedatangan mereka ke Jawa diperkirakan pada tahun 1440 Masehi atau 1362 Saka.

“Dengan tujuan menghadap Raja Majapahit yang menikahi adik istrinya, yaitu Dewi Darwati”. Wilayah Gisik (sekarang Kecamatan Palang Kabupaten Tuban), sebelah timur bandar Tuban, Syekh Ibrahim Asmarakandi pertama kali menjejakkan kaki di tanah Jawa.

Bandar Tuban merupakan bandar pelabuhan utama Kerajaan Majapahit. Di tempat yang berjarak lumayan jauh dari pelabuhan, Syekh Ibrahim Asmarakandi mengenalkan Islam kepada penduduk setempat.

Dalam Islam dan Pergumulan Budaya Jawa, Prof. Dr. Simuh menuliskan, di Jawa penyebaran agama Islam dihadapkan kepada dua jenis lingkungan budaya kejawen.

Peta Wilayah Kekuasaan Kerajaan Majapahit /Foto: idschool.net

“Yaitu lingkungan budaya istana (Majapahit) yang telah menyerap unsur-unsur Hinduisme dan budaya pedesaan (wong cilik) yang masih hidup dalam bayang-bayang animisme-dinamisme, dan hanya lapisan luarnya saja yang terpengaruh oleh Hinduisme”.

Simuh juga mengatakan, dalam perjalanan sejarah proses islamisasi di Jawa, Islam sulit diterima di lingkungan budaya Jawa istana. Lingkungan istana Majapahit berusaha mempertahankan warisan budaya kejawen yang dipandang lebih unggul daripada budaya pesantren yang bersifat kearaban.

“Bahkan dalam cerita babad tanah Jawa dijelaskan bagaimana Raja Majapahit menolak agama baru itu,” tambah Simuh.

Situasi sulit itu yang membuat para penyebar agama Islam di awal, memilih lingkungan masyarakat pedesaan, terutama kawasan pesisir pulau Jawa. Masyarakat pesisir ternyata lebih bisa menerima Islam dengan penuh gairah. Hal itu diikuti dengan munculnya kitab-kitab berbahasa Arab.

Dalam Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto menyebut, selain berdakwah Syekh Ibrahim Asmarakandi juga menyusun sebuah kitab. Sebuah kitab bertulisan tangan yang di kalangan pesantren dikenal bernama Usul Nem Bis, diyakini karya Syekh Ibrahim Asmarakandi.

“Yaitu sejilid kitab berisi enam kitab dengan enam bismillahirrahmanirrahim ditulis atas nama Syekh Ibrahim Asmarakandi”.

Berdasarkan cerita tutur, Syekh Ibrahim Asmarakandi tidak lama berdakwah di Gisik. Ia berniat mengunjungi ibu kota Majapahit sekaligus bertemu dengan Raja Brawijaya. Namun sebelum niatnya terkabul, Syekh Ibrahim Asmarakandi meninggal dunia.

Jasad ulama peletak Islam mula-mula di tanah Jawa itu bermakam di wilayah Gisik, tidak jauh dari pantai. “Makam Syekh ibrahim as-Samarkandi dikeramatkan masyarakat dan dikenal dengan sebutan makam Sunan Gagesik atau Sunan Gesik,” tulis Agus Sunyoto.

Samarkand, Champa atau Kazakhtan?

Babad Cirebon menyebut Syekh Ibrahim Asmarakandi putra dari Syekh Karnen yang berasal dari Karnen yang migasi ke Samarkand. Tulen atau Tyulen merupakan sebuah kepulauan kecil yang terletak di tepi timur Laut Kaspia.

Tyulen berada di arah barat laut Samarkand, tepatnya masuk wilayah Kazakhtan. Sumber lain menyatakan Syekh Ibrahim Asmarakandi lahir di Samarkand, Asia Tengah pada paruh kedua abad ke-14.

Babad Tanah Jawi menyebut namanya Makdum Brahim Asmara. Hal itu mengikuti pelafalan lidah Jawa. As-Samarkandy pun berganti menjadi Asmarakandi. Babad Ngampeldenta bercerita bahwa Syekh Ibrahim Asmarakandi dikenal dengan sebutan Syaikh Molana, seorang penyebar Islam di negeri Champa., yakni di Gunung Sukasari.

Sisa Peninggalan Reruntuhan Kerajaan Champa /Foto: sejarahlengkap.com

Ia berhasil mengislamkan Raja Champa, dan kemudian diambil menantu. Dari istri putri Raja Champa tersebut lahir Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Keterangan tersebut diperkuat oleh Babad Risakipun Majapahit dan Serat Walisana Babadipun Parwali.

Diceritakan juga, saat Syekh Ibrahim Asmarakandi datang ke Champa, Raja Champa belum memeluk Islam. Syiar yang dilakukan Syekh Ibrahim Asmarakandi kepada penduduk Champa, membuat sang raja murka.

Raja memerintahkan para pengikutnya untuk memburu sekaligus membunuh Syekh Ibrahim Asmarakandi. “Namun, usaha raja itu gagal, karena ia keburu meninggal sebelum berhasil menumpas Ibrahim Asmara dan orang-orang Champa yang memeluk Islam”.

Dalam cerita babad juga disampaikan, Raja Champa yang menggantikan raja yang meninggal dunia, bersedia masuk Islam. “Bahkan Ibrahim Asmara kemudian menikahi Dewi Candrawulan, puteri Raja Champa tersebut”.

Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat dalam Sejarah Banten Rante-Rante, menuliskan bahwa Kerajaan Champa kemudian binasa setelah mendapat serangan Raja Koci (Vietnam). Peristiwa itu bersamaan dengan bertolaknya Syekh Ibrahim Asmarakandi dan putranya ke Nusantara, terutama Jawa.

Champa atau Kamboja secara geografis berada di wilayah Indocina yang berdekatan dengan teluk Siam (Thailand). R Soekmono dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid-III menyebut Champa memiliki hubungan dengan Jawa sejak lama.

Prasasti dari Po Sah di Hindia Belanda menyatakan adanya persekutuan antara Champa dengan Kerajaan Singasari. Raja Champa Jaya Simhawarman III mempunyai dua orang permaisuri. “Seorang di antara permaisuri itu adalah putri Jawa, yang mungkin adalah saudara perempuan Kertanegara (Raja Singasari)”.

Hubungan politik dan kekeluargaan itu terus berlanjut hingga jaman Kerajaan Majapahit. Bahkan salah satu istri Brawijaya merupakan putri Champa dan yang tak lain dari bibi Sunan Ampel, putra Syekh Ibrahim Asmarakandi.

Sementara sepeninggal Syekh Ibrahim Asmarakandi, perjuangan dakwah Islam dilanjutkan putra dan kemenakannya, terutama Raden Rahmat yang kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel.

Raden Rahmat menikahi putri Adipati Tuban Arya Teja yang juga cucu Arya Lembu Sura Raja Surabaya yang beragama Islam. Babad Ngampeldenta menyebut, Raja Majapahit Brawijaya V yang mengangkat Raden Rahmat sebagai imam di Surabaya dengan gelar Sunan sekaligus diberi kedudukan wali di Ngampeldenta.

Dalam syiar Islamnya, Sunan Ampel membawa tradisi negeri Champa ke Jawa. Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo menyebut, pengaruh dakwah Islam Sunan Ampel beserta putra, saudara, menantu, kemenakan, kerabat dan murid-muridnya telah tersebar di berbagai tempat.

“Tidak diragukan lagi telah memberikan kontribusi tidak kecil bagi terjadinya perubahan sosio-kultural-religius pada masyarakat yang sebelumnya mengikuti adat dan tradisi keagamaan Majapahit yang terpengaruh Hindu-Buddha dan Kapitayan,” tulisnya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: