Intelijen Andalan Mataram, Nyimas Utari Sosok Berparas Cantik dan Berakal Cerdik

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Nyimas-Utari-Mataram
Nyimas Utari Intelijen Kerajaan Mataram /Foto: today.line.me

santrikertonyonoEksistensi keberadaan Kerajaan Mataram di mata Nusantara dan para kolonial Belanda tak luput dari para abdi dan orang-orang hebat yang berada didalamnya. Tak hanya memiliki rasa kesetiaan yang tinggi terhadap kerajaan, orang-orang terpilih ini mempunyai peran dan tugas yang tidak ringan namun dijalankan dengan apik dan sempurna.

Salah satu diantaranya yakni Raden Ayu Utari Sandi Jaya Ningsih atau Nyimas Utari yang dianggap sebagai mata-mata atau agen intelijen Kerajaan Mataram. Sikapnya yang berani mengambil keputusan dan cerdik dalam membaca keadaan menjadikan Nyimas Utari salah satu sosok yang wajib diperhitungkan.

Sosok Nyimas Utari sendiri merupakan cicit pendiri sekaligus raja pertama dari Kerajaan Mataram, yang tak lain adalah Panembahan Senopati atau Danang Sutawijaya yang kala itu berkuasa pada tahun 1586 hingga 1601 Masehi. Bahkan, Nyimas Utari juga dipercaya merupakan keponakan dari Sultan Agung Hanyokrokusumo atau Raden Mas Jatmika, raja ketiga Kerajaan Mataram yang memerintah pada tahun 1593 hingga 1645.

Tak banyak yang mengetahui, bahwa perempuan berparas cantik nan anggun ini adalah pejuang di Kerajaan Mataram. Sebagai salah satu pelaku sejarah, Nyimas Utari bertugas sebagai mata-mata atau pada jaman dulu lebih dikenal dengan istilah telik sandi yang bekerja bersama pasukan Mataram.

Kisah keberanian Nyimas Utari melanglangan buana hampir ke seluruh penjuru Kerajaan Mataram. Pasalnya, dengan ketangguhannya itu, Nyimas Utari begitu berani meracuni Gubernur Vereenide Oost Indische Compagnie (VOC) Jan Pieterszoon Coen pada 20 September 1629.

Cerita perjuangan Nyimas Utari konon tertulis rapi pada sebuah catatan kecil prajurit telik sandi Mataram, dimana catatan kecil itu adalah warisan leluhur almarhum Kong Minggu yang ditulis dengan menggunakan aksara Jawa. namun sangat disayangkan, ketika Kong Minggu wafat, kitab beserta seluruh benda pusaka dar leluhurnya turut dikubur bersama jasadnya.

Namun, ada yang mengkisahkan bahwa di kitab tersebut Nyimas Utari merupakan putri dari Raden Bagus Wanabaya, putra Raden Ayu Roro Pembayun serta Ki Ageng Mangir. Konon, keberadaan mereka di tempat tersebut berawal dari sebuah peperangan Mataram dengan VOC yang berlangsung di Jepara pada tahun 1618.

Akibat peperangan itu, pos dagang VOC di Jepara hancur berkeping-keping. JP Coen pun tak terima, ia bersama pasukan VOC kembali melancarkan serangan namun pada akhirnya kembali gagal. Meskipun gagal menguasai Jeparan, JP Coen tak kehabisan akal. Ia berganti menyerang Keraton Jayakarta dan mengubah nama kotanya menjadi Batavia.

Dilansir dari Detik.com, kondisi perpolitikan VOC tengah tidak bagus karena sedang bermusuhan dengan Kesultanan Banten. Kesempatan itupun lantas tak di sia-siakan oleh Mataram untuk menjalin kerjasama melakukan penyerangan ke benteng VOC di Batavia.

Strategi Perang Sultan Agung dan Para Telik Sandinya

Tepat pada awal tahun 1627, Sultan Agung menyusun strategi perang, namun akibat ulah pengkhianat yang tinggal di dalam lingkungan Mataram, rencana itu gagal. Tak berputus asa, Sultan Agung kembali menyusun strategi perang kedua atau biasa dikenal dengan Kolono II pada tahun 1628.

Kala itu ia memerintahkan sepupunya yakni Raden Bagus Wanabaya untuk melakukan pertemuan dengan Sultan Iskandar Muda di Samudra Pasai. Pertemuannya tersebut berbuah manis, pasalnya Raden Bagus Wanabaya mendapatkan dari Sultan Iskandar Muda yang mengutus telik sandi andalannya yakni Wali Mahmudin ke Jawa.

Setelah Raden Bagus Wanabaya tiba kembali di Mataram, Sultan Agung langsung memerintahkan bala tentaranya yang kala itu dipimpin oleh Aria Wirasaba untuk segera menyerang benteng VOC. Pasukan ini tak sendiri, konon pasukan Aria Wirasaba mendapatkan bantuan dari beberapa di daerah di Jawa Tengan dan Priangan.

Setelah itu, barulah Sultan Agung memerintahkan para telik sandi Mataram untuk membunuh Gubernur VOC yakni JP Coen beserta keluarganya. Pembunuhan terhadap Gubernur VOC yang mendapat panggilan Murjangkung ini merupakan misi terakhir dalam rangkaian penyerangan ke benteng VOC di Batavia.

Misi terakhir dengan mengerahkan telik sandi Mataram ini pun dipimpin langsung oleh Raden Bagus Wanabaya. Ia tak sendiri, ia berangkat bersama Tumenggung Kertiwongso dari Tegal, Wali Mahmudin serta anaknya sendiri yakni Nyimas Utari yang telah dilatih telik sandi sejak kecil.

Selama berhari-hari mereka berada di tengah hutan, tepat di bekas wilayah perbatasan Pakuan Pajajaran mereka membangun sebuah pos pertahanan untuk memantau aktivitas di Kota Batavia. Selama disitulah siapa sangka benih-benih cinta Nyimas Utari dan Wali Mahmudin bersemi, dan akhirnya mereka dinikahkan.

Wali Mahmudin dan Nyimas Utari bertugas untuk menyusup ke dalam benteng VOC dengan menggunakan nama sandi “Dom Sumuruping Banyu” dan berkamuflase sebagai saudagar kaya raya dari Aceh. Nyimas Utari dengan mudah merangsek masuk benteng VOC dengan kemampuan bernyanyinya.

Bahkan demi melancarkan aksinya, Nyimas Utari sampai rela menjadi penyanyi di salah satu tempat hiburan yang biasanya digunakan para perwira VOC berkumpul. Dengan mudah, kehadiran Nyimas Utari menarik perhatian setiap orang tak terkecuali istri JP Coen yakni Eva Ment.

Tak selang lama, Wali Mahmudin dan Nyimas Utari mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan bisnis meriam milik Belanda. Disaat Nyimas Utari berhasil keluar masuk benteng bahkan bergaul dengan Eva Ment, sang suami Wali Mahmudi diangkat sebagai juri tulis JP Coen.

Rencana selanjutnya yang dijalankan oleh Nyimas Utari dan suaminya adalah menyingkirkan pengawal andalan JP Coen yang bernama Pieter Jacobszoon Courtenhoeff. Ia melaporkan kasus perselingkuhan yang dilakukan Courtenhoeff dengan Sara Specx didalam kamarnya.

Atas laporan dari Utari, Courtenhoeff dihukum mati melalui sidang yang digelar oleh Dewan Pengadilan Batavia pada Juni 1629. Sedangkan, Sara Specx mendapatkan hukuman cambuk di depan Staadhuis Plein atau yang sekarang dikenal dengan Museum Fatahillah.

Makam-Nyimas-Utari
Makam Nyimas Utari, Tapos, Kota Depok, Jawa Barat /Foto: googlemap-Iyan Revs II

Aksi Nyimas Utari Meracuni Keluarga JP Coen

Rencana Nyimas Utari untuk menyingkirkan pengawal JP Coen berhasil, namun ia tak berhenti. Selanjutnya ia merencanakan pembunuhan terhadap Eva Ment yang kala itu tengah berbadan dua. Tak segan-segan, Nyimas Utari mencampurkan racun ke makanan yang dihidangkan untuk Eva Ment dan anak-anaknya.

Eva Ment dan anak-anaknya tewas, JP Coen yang melihat kejadian itu merasa tak terima dan mengalami depresi berat. Sepanjang hari-hari berlalu, ia hanya mabuk-mabukan dengan meminum alkohol. Bak melihat kesempatan emas, Nyimas Utari kembali melancarkan aksinya dengan menuangkan racun ke minuman milik JP Coen.

Seketika JP Coen semakin mabuk dan tiba-tiba ambruk setelah Nyimas Utari membopongnya ke dalam kamar. Tak disangka, Wali Mahmudin yang kala itu sudah berada di kamar, tiba-tiba mengeluarkan pedangnya dan menebas leher JP Coen.

Pasangan suami istri langsung membawa potongan kepala JP Coen secara diam-diam keluar dari benteng VOC. Diluar benteng sudah ada Tumenggung Surotani yang menunggu. Lantas, Tumenggung Surotani inilah yang membawa potongan kepala JP Coen ke hadapan Sultan Agung di Keraton Mataram yang terletak di Kotagede.

Namun, usaha Nyimas Utari dan sang suami untuk keluar dari benteng VOC menemui kegagalan. Tembakan meriam dari para pasukan VOC membabi buta hingga membuat badan mereka kewalahan. Wali Mahmudin berhasil selamat, tapi Nyimas Utari harus meregang nyawa akibat tembakan meriam.

Atas perintah Sultan Agung, potongan kepala milik JP Coen diawetkan lalu dikuburkan di baris ke 716 anak tangga menuju makam para raja-raja Imogiri.

Meskipun begitu, pro dan kontra para sejarawan tak henti-hentinya mengalir atas dugaan kematian JP Coen. Beberapa sejarawan asal Belanda ada yang mengakui bahwa penyebab kematian JP Coen dikarenakan penyakit kolera. Namun, tak sedikit sejarawan mengatakan bahwa banyak arkeolog yang belum berhasil menemukan tulang belulang milik JP Coen.

Hal serupa pun terjadi, dimana para arkeolog belum pernah mencoba melakukan penggalian di anak tangga menuju makam Imogiri untuk membuktikan Babad Jawa tentang terbunuhnya JP Coen dan kepalanya tertanam disana.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: