Ikhtisar Buang Jong dan Relevansinya Terhadap Pemeliharaan Lingkungan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Upacara-Tradisional-Buang-Jong
Upacara Tradisional Buang Jong, yakni upacara ritual dari Suku Sawang, Belitung /Foto: gpriority.co.id

santrikertonyonoBuang jong merupakan upacara adat yang secara turun-temurun dilakukan oleh masyarakat suku Sawang, pulau Belitung, hingga saat ini. Secara teologis, masyarakat suku Sawang masih memiliki kepercayaan yang kuat bahwa laut memiliki kekuatan magis sehingga perlu perlakuan-perlakuan khusus dalam melakukan aktivitas penangkapan ikan agar keselamatan dan hasil tangkapan semakin terjamin.

Secara geografis, suku Sawang adalah suku sekak atau suku laut yang dulunya selama ratusan tahun menetap di lautan, kemudian sekitar tahun 1985 suku Sawang bermigrasi dan menetap di daratan dan hanya pergi ke laut apabila ingin mencari hasil laut.

Secara harfiah, Buang Jong dapat berarti membuang atau melepaskan perahu kecil (Jong) yang di dalamnya berisi sesajian dan ancak yang dibuat semacam rumah-rumahan kecil penduduk Sawang.

Sebagaimana yang dikemukakan Haris Setiawan Kepala Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga, Kabupaten Bangka Selatan, dalam artikel Viva, “Buang Jong, Ritual Suku Anak Dalam Sebelum Melaut” (https://www.viva.co.id/gaya-hidup/travel/940296-buang-jong-ritual-suku-anak-dalam-sebelum-melaut), bahwa Buang Jong dilakukan suku Sawang ketika hendak memulai melaut.

“Mereka punya kebiasaan sebelum melaut melakukan ritual ini. Ritual ini ditandai dengan melepaskan kapal sebagai simbol atau kepercayaan mereka,” kata Haris.

Menurut berbagai sumber, Buang Jong biasanya dilakukan menjelang angin musim barat berhembus, yaitu antara bulan Agustus – November. Pada bulan-bulan tersebut, angin dan ombak laut sangat ganas dan mengerikan. Gejala alam ini seakan mengingatkan masyarakat suku Sawang bahwa sudah waktunya untuk mengadakan persembahan kepada penguasa laut melalui upacara Buang Jong.

Tari-Buang-Jong
Tari Ancak, Bagian Upacara Buang Jong /Foto: belitungisland.com

Upacara ini sendiri bertujuan untuk memohon perlindungan agar terhindar dari bencana yang mungkin dapat menimpa mereka pada saat berlayar ke laut untuk mencari ikan. Upacara Buang Jong ini dapat memakan waktu hingga dua hari dua malam.

Dalam jurnal Festival Buang Jong Sebagai Kearifan Lokal dan Modal Sosial, Nani Diana mengungkapkan, sebagai pranata sosial, upacara adat Buang Jong penuh dengan simbol-simbol yang berperan sebagai alat media untuk berkomunikasi antara sesama manusia dan juga menjadi penghubung antara dunia nyata dengan dunia gaib. Melalui simbol-simbol, nilai-nilai etis, pesan-pesan ajaran agama dan norma yang berlaku dalam masyarakat dapat disampaikan kepada semua warga masyarakat.

Di sisi lain, ada yang menarik antara relevansi Buang Jong dengan pemeliharaan lingkungan. Upacara ini merupakan refleksi dari keinginan suku Sawang untuk hidup harmonis dengan alam. Mereka percaya bahwa jika mereka memperlakukan laut dengan tidak baik maka laut akan marah kepada mereka sehingga kehidupan sosial budaya mereka akan terganggu.

Memang Buang Jong secara ilmiah tidak dapat dibuktikan kebermanfaatannya. Namun, setidaknya, berkat Buang Jong tersebut, suku Sawang bisa menghargai laut dan tidak merusak laut dengan keserakahannya mengambil ikan.

Relevansi Buang Jong

Fenomena relevansi Buang Jong dengan pemeliharaan lingkungan ini mempunyai kesamaan dengan penelitian yang dilakukan Faris Ahmad. Dalam jurnal Mengakhiri Perdebatan Kearifan Lokal Dan Modernitas, Menurut Faris Ahmad, tumbuh suburnya lokalitas akan membawa pada lingkungan yang terjaga.

Jika ada orang yang mengedepankan sisi naturalisme metodis dalam meninjau suatu budaya, maka akan menciptakan orang rakus. Membantah Buang Jong karena tidak dibuktikan secara ilmiah, maka sama saja dengan menumbuh suburkan orang rakus tanpa memikirkan menjaga lingkungan. Hingga akhirnya ekosistem laut akan hancur.

Sesaji-Buang-Jong
Perahu Jong dan Simbol Sesaji /Foto: belitungisland.com

“Sekarang terancam karena modernitas yang akarnya adalah naturalisme metodis. Memang sudah jamak diketahui bahwa kerusakan alam yang sedang melanda umat manusia diakibatkannya,” kata Faris.

Sebagai bukti, mari lihat Banyuwangi. Sebagai kabupaten penghasil ikan yang melimpah, pesisir pantai Kecamatan Muncar, Banyuwangi, bermunculan Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) industri ikan kaleng (sarden). Namun pemerintah kabupaten Banyuwangi tidak siap dengan perkembangan UMKM tersebut yang sangat masif. Akibatnya, banyak limbah cair yang dibuang begitu saja ke laut.

Akhirnya banyaknya limbah cair tersebut berdampak serius terhadap ekosistem laut. Trafik hasil tangkap memiriskan. Menurut Unit Pelaksana Teknis Pengujian Mutu dan Pengembangan Produk Kelautan dan Perikanan Muncar Banyuwangi, jumlah ikan lemuru dalam 10 tahun terakhir terus mengalami penurunan.

Pada tahun 2008 dan 2009 rata-rata produksi ikan lemuru mencapai 27.883 ton, jumlah ini mengalami penurunan drastis pada tahun 2011 yaitu sebesar 1.651 ton. Produksi ikan lemuru sempat naik pada tahun 2015 yaitu 10.267 ton, namun kembali menurun pada 2016. Tahun 2017, produksi ikan lemuru di pelabuhan Muncar hanya 54 ton.

Islam, memberikan “perhatian” penuh terhadap lingkungan. Allah dalam surah Al-A’raf ayat 85, berfirman “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya, yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.”

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: