Gus Yahya, Dari Santri Krapyak Hingga Diamanahi Ketua Umum PBNU

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
KH.Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya - kanan) sedang berbincang bersama Syaikhuna KH.Habib Ihsanudin (menggunakan sorban-kiri) /Foto: instagram-alhuda_doglo1963

Gus Yahya atau yang memiliki nama lengkap KH Yahya Cholil Staquf lahir ini di Rembang pada tanggal 16 Februari 1966. Gus Yahya merupakan putra KH M. Cholil Bisri yakni salah satu pendiri PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) serta pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin di Leteh. Rembang, Jawa Tengah.

Beliau juga merupakan kakak kandung dari Yaqut Cholil Qoumas yang kini menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia. KH M Cholili Bisri sendiri merupakan seorang sosiolog, sedangkan kakek Gus Yahya KH Bisri Mustofa seorang tokoh besar Nahdlatul Ulama sekaligus penyusun Kitab Tafsir Al Ibris.

Karena lahir dan besar di lingkungan Pondok Pesantren, sejak kecil Gus Yahya sudah digembleng dengan pengetahuan agama yang cukup kental. Bahkan, beliau dikirim untuk belajar agama di Madrasah Al Munawwir Krapyak, Bantul Kota Yogyakarta di bawah asuhan K.H. Ali Maksum. Tidak berhenti di situ, Gus Yahya melanjutkan studinya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada dengan mengambil program studi Sosiologi. Selama menjadi mahasiswa, beliau aktif dalam beberapa organisasi seperti organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta.

Santri Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak

Bagi Gus Yahya, Pondok Pesantren Al Munawwir memiliki arti yang sangat penting. Hal tersebut terlihat saat Gus Yahya resmi terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Utama, berselang satu minggu beliau menggelar tasyakuran di pondok pesantren yang dulu menjadi tempat menimba ilmu pada tahun 1980-an. Bagi warga Yogyakarta khususnya, pesantren yang berdiri tak jauh dari Keraton Yogyakarta tersebut merupakan pesantren tua yang berdiri atas restu Sultan Mataram Jogja.

Pesantren Krapyak sendiri didirikan oleh KH. M. Munawwir pada awal dekade pertama abad ke-20. Kiai Munawwir mendirikan pesantren sepulang dari belajar di Makkah dan Madinah selama 20 tahun. Bahkan, saat belajar di Makkah, KH. Munawwir juga sezaman dengan KH Hasyim Asy’ari yang mendirikan Jamiyah Nahdlatul Ulama. Ia juga erteman dekat dengan KH Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah.

Semakin berkembangnya Pesantren Krapyak tidak lepas dari berkembangnya Yogyakarta sebagai kota pelajar. Di bawah asuhan KH Ali Ma’sum yang tak lain adalah menantu KH Munawwir, Pondok Pesantren Krapyak menjadi pondok pesantren yang penting dan utama di Yogyakarta. Selain itu, pengajian cara ‘bondongan’ dan ‘sorogan’ merupakan tradisi baru dalam pembelajaran kitab kuning yang dibawa oleh Kiai Ali yang kemudian mampu mengimbangi dominasi model pengajian Alquran yang diwarisi KH M Munawwir.

Selanjutnya, murid Kiai Ali dan juga KH A Waron Munawwir yang tak lain adalah putra dari Kyai Munawwir berhasil membuat kamus Arab-Indonesia paling lengkap yang diberi nama kamus Al-Munawwir. Dimana, penulisan kamus tersebut juga tidak lepas dar dukungan KH Bisri Mustofa yang merupakan kakek dari Gus Yahya.

Sebelum memutuskan untuk menimba ilmu di Pesantren Krapyak, Gus Yahya bersama paman-pamannya sempat mengikuti pondok kilat saat liburan sekolah. Namun saat menjalani pondok kiilat tersebut, Gus Yahya tidak diinapkan dengan teman-temannya yang sebaya melainkan diinapkan dengan senior-senior yang merupakan pelajar di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Diketahui, Gus Yahya diinapkan dengan pelajar yang sama-sama berasal dari Rembang dan masih memiliki hubungan keluarga dengan Gus Yahya.

Selain menimba ilmu di Pesantren Krapyak, Gus Yahya juga mengenyam pendidikan umum di SMP Negeri 13 Yogyakarta dan melanjutkan sekolahnya di salah satu SMA di Yogyakarta. Jadi, sejak kecil Gus Yahya sudah mengenyam pendidikan agama dan pendidikan umum sekaligus.

Untuk memperdalam pengetahuannya, berbagai macam buku pemikiran klasik Islam hingga buku Islam kontemporer dibaca dan dipahami oleh Gus Yahya. Memang bukan hal baru, buku-buku tersebut sebagian besar merupakan buku wajib yang dibaca oleh mahasiswa Muslim di Yogyakarta.

Setelah tamat SMA, Gus Yahya memilih melanjutkan studinya ke Universitas Gajah Mada dengan mengambil program studi Sosiologi. Hal tersebut tentunya sangat berbeda dengan santri lain yang notabene memilih melanjutkan studi di IAIN atau Timur Tengah. Keputusan lain yang cukup mengejutkan orang-orang terdekatnya, yakni saat Gus Yahya memilih aktif dalam organisasi HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) di kampusnya. Kekhawatiran juga dirasakan ayahnya yakni Kyai Cholil yang risau apabila Gus Yahya sudah melenceng dari Nahdlatul Ulama.

Namun, kekhwatiran orang-orang terdekat Gus Yahya tidak terbukti. Semakin lama, ke-NU-an Gus Yahya semakin terlihat, salah satunya dengan keakraban Gus Yahya saat ikut menghadiri Muktamar NU ke-26 di Semarang. Bahkan, Gus Yahya dipercaya menjadi peninjau dalam penyelenggaraan muktamar tersebut. Jiwa Nahdlatul Ulama Gus Yahya terbentuk sejak kecil saat ibunya seringkali mengajak Gus Yahya pada kegiatan-kegiatan NU seperti rapat akbar Partai NU di Rembang.

Perjalanan Karir

Sosok yang kini juga menjadi salah satu pengasuh di Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin itu merupakan salah satu penggagas Bait ar-Rahmah li ad-Da’wa al-Islamiyah Rahmatan li al-‘Alamin di California Amerika Serikat yang mengkaji agama Islam untuk tujuan perdamaian pada tahun 2014. Jabatan sebagai Juru Bicara Kepresidenan saat era Presiden KH Abdurrahman Wahid juga pernah diduduki oleh Gus Yahya pada tahun 1999 hingga tahun 2001.

Saat masa kepemimpinan Presiden Indonesia di tangan Ir. H. Joko Widodo, Gus Yahya mengemban amanah menjadi Dewan Pertimbangan Presiden mulai tahun 2018 hingga tahun 2019. Lalu, sebelum diamanahi Muktamirin ke-34 NU menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk masa khidmat 2022-2027, Gus Yahya sebelumnya menjabat sebagai Katib ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dari tahun 2015 hingga tahun 2021.

Tidak hanya di Indonesia, Gus Yahya berhasil menjajaki kancah global diantaranya dengan menjadi pembicara di beberapa forum seperti American Jewish Committee (AJC) di Israel. Dalam forum tersebut, Gus Yahya menyerukan perdamaian dunia dengan cara penguatan terkait pemahaman Islam sebagai solusi dari beberapa konflik yang yang terjadi.

Selain itu, saat perhelatan Internasional Religious Freedom (IRF) Summit di Washington DC Amerika Serikat, Gus Yahya mendapatkan apresiasi dari tokoh-tokoh perdamaian dunia saat memberikan pidato dengan judul “The Rising Tide of Religious Nationalism”.

Tak hanya itu, apresiasi dari tokoh-tokoh dunia juga ditujukan kepada Gus Yahya saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT). Pasalnya, Gus Yahya banyak menjabarkan tentang metode pertahanan ketika suatu kelompok agama merasa terancam secara budaya merupakan bagian dari bentuk dinamika bangkitnya nasionalisme religius.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: