Cerita Joglo Mbah Hasan Besari yang Diwarisi Anies Baswedan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Anies Baswedan mendapatkan warisan Joglo dari keluarga ulama besar Kyai Ageng Muhammad Besari /Foto:Youtube: @anies baswedan

Sebuah bangunan joglo yang menjadi “ikon” channel youtube “Dari Pendopo” milik Anies Baswedan, telah mencuri perhatian. Rumah joglo kuno yang terawat baik. Kayu-kayunya tampak utuh, bersih, dengan politur yang mengkilat. Semuanya kayu jati lawas. Bangunan berarsitektur Jawa tersebut diperkirakan berumur lebih 500 tahun. Gubernur DKI Jakara itu memboyong dari Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo, Jawa Timur.

“Joglo yang diamanahkan itu adalah warisan dari keluarga ulama besar Kyai Ageng Muhammad Besari, wafat 1747 masehi yang merintis padepokan Gebang Tinatar sekitar tahun 1700-an. Pusat pendidikan agama ini lalu membesar dan berperan sentral di masanya,“ tulis Anies dalam akun instagram @aniesbaswedan (27/4/2021).

Pada langit-langit joglo atau blandar terlihat banyak ukiran. Terlihat motif belah ketupat. Orang menyebutnya motif sengkulun yang berpadu dengan motif wajikan dan lunglungan. Wajikan merupakan motif yang merujuk pada jajan pasar wajik. Sementara istilah lunglungan menurut R. Ismunandar K dalam “Joglo, Arsitektur Rumah Tradisional Jawa” berasal dari kata lung, yakni batang tumbuhan yang masih muda.

Bentuk motif lunglungan biasanya terdiri dari tangkai, daun, bunga dan buah. “Tapi stilirannya berbeda-beda sesuai dengan daerah asalnya, seperti stiliran model Mataram, Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, Jepara, Madura dan lain-lainnya,” tulis R. Ismunandar K. “Bahkan gaya Bali juga sudah mulai tersebar”.

Pada blandar, tumpang, pengeret, dan dhadhapeksi, juga tampak ukiran tlacapan. Apa itu tlacapan? Hiasan yang berwujud deretan segitiga sama kaki, sama tinggi dan sama besar. Ukiran pada Joglo “keramat” di kediaman Anies Baswedan di Lebak Bulus Jakarta itu tanpa bersungging warna.

Anies Baswedan bercerita dan berbagi perspektif dalam Pendopo. Pendopo ini merupakan warisan dari keluarga ulama besar Kyai Ageng Muhammad Besari /Foto: Youtube: @anies baswedan

Lunglungan selalu berkelir kuning emas yang berasal dari prada. Sebagai dasarannya biasanya memakai warna hijau tua. Semuanya tidak ada. Seluruhnya polos sesuai kayu jati pada umumnya. Kendati demikian, semua tahu karya seni kriya tersebut hasil sentuhan tangan pinilih (pilihan).

Anies bercerita dirinya mendapat amanah merawat Joglo peninggalan Mbah Hasan Besari itu sejak tahun 2009 dan resmi menempatinya sebagai rumah mulai tahun 2012. Begitu menerima amanah, Anies langsung memboyong ke Jakarta dan merawatnya baik-baik. Seperti terlihat dalam video channel youtube “Dari Pendopo”, joglo itu memang terlihat terawat baik.

Dari berbagai sumber, rumah joglo itu awalnya suwung (kosong) lebih dari 30 tahun. Dzuriyah (keturunan) Mbah Hasan Besari tidak ada yang menempati. Karena hendak roboh, keluarga kemudian memutuskan membongkarnya. Kayu-kayu bongkaran yang masih baik, ditumpuk. Ada yang memiliki panjang hingga 11 meter. Seluruhnya kayu jati tua, yang beberapa diantaranya sempat hendak dijadikan meja kursi.

Keluarga Mbah Hasan Besari di Tegalsari Ponorogo sengaja tidak memasarkan. Mereka memilih menunggu datangnya pembeli. Singkat cerita, seorang warga Yogyakarta penyuka kebudayaan Jawa yang kemudian menjadi pemiliknya. Yang bersangkutan merupakan sahabat Anies Baswedan sejak keduanya masih di bangku SMA. Joglo yang sejak awal terlihat istimewa itu lalu berpindah ke tangan Anies, dan dibawa ke Jakarta.

Rumah joglo peninggalan Mbah Hasan Besari itu kini berdiri di atas tanah seluas 1.800 meter persegi. Anies sengaja tidak memakai keramik untuk lantainya, melainkan semen yang dihaluskan. Lantai semen. Pada dinding ruangan yang serba kayu jati, ia memajang lukisan Bung Karno dan Bung Hatta. Telrihat juga ukisan pensil Pangeran Diponegoro yang berukuran besar.

Di depan rumah Joglonya, Anies juga menanam pohon sawo kecik sebagaimana yang ada Tegalsari Ponorogo. Pohon sawo merupakan penanda para pengikut Pangeran Diponegoro setelah mereka kalah dalam Perang Jawa (1825-1830). Di setiap tempat baru, mereka memiliki ciri sebuah pohon sawo di halaman rumah. Pada kahir tahun 2021 lalu, Anies yang melakukan kunjungan ke Jawa Timur, menyempatkan menziarahi makam Mbah Kasan Besari, Ponorogo.

Anies juga sempat shlat tarawih di masjid yang didirikan Mbah Hasan Besari pada tahun 1725. Di luar dugaannya, dzuriah Mbah Hasan Besari yang menerima kehadirannya, memintanya untuk menginap semalam. Gubernur DKI Jakarta tersebut dipersilahkan tidur di Ndalem Njero. Yakni sebuah kamar yang dulu menjadi tempat peristirahatan Mbah Hasan Besari.

“Tuntas sudah niat silaturahmi dengan dzuriah Kiai Ageng Besari. Sebuah kehangatan silaturahmi yang luar biasa. Dan pengalaman bermalam di kamar itu adalah pengalaman yang menyenangkan, yang extra ordinary, “ tutur Anies seperti dikutip dari berbagai sumber. []

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: