Buya Ahmad Syafii Maarif Berpulang, Indonesia Kehilangan Guru Bangsa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
buya-syafii
Sosok Buya Ahmad Syafii Maarif semasa hidup /Foto: muhammadiyah.or.id

santrikertonyonoIndonesia kembali diselimuti kabar duka dengan meninggalnya sosok ulama besar yang telah banyak menorehkan prestasi dan buah pemikiran-pemikiran untuk kemajuan bangsa. Buya Ahmad Syafii Maarif dinyatakan meninggal dunia pada hari Jumat 27 Mei 2022 setelah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sleman Yogyakarta.

Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat yang pernah menjabat dari tahun 1998 hingga 2005 ini sebelumnya mengeluhkan nafas yang terasa sesak. Pihak rumah sakit bersama para dokter yang menangani Buya Syafii Maarif telah melakukan beberapa standar perawatan seperti tindakan diagnostik guna mengecek kondisi kesehatannya secara keseluruhan.

Konon karena kondisi jantung yang memburuk, Buya Syafii akhirnya harus kembali lagi menjalani perawatan di rumah sakit. Beberapa media online juga mengabarkan bahwa kondisi Buya Syafii sempat membaik dan bahkan diperbolehkan untuk pulang kerumah. Namun, dalam beberapa hari terakhir kondisi Buya Syafii semakin drop hingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Semenjak itu, kondisi kesehatannya cenderung menurun drastik hingga dinyatakan kritis sebelum akhirnya meninggal pada pukul 10.15 WIB. Jenazah Buya Syafii dishalatkan di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta selepas ibadah sholat Jumat, lantas disemayamkan terlebih dulu di rumah duka hingga masuk waktu sholat Ashar. Kini, jenazah sang guru bangsa telah dimakamkan di Pemakaman Khusnul Khatimah Kulonprogo.

Kabar meninggalnya salah satu cendikiawan muslim Buya Syafii ini begitu menyita perhatian publik. Seluruh tokoh masyarakat hingga jajaran pemerintahan mengirimkan ucapan bela sungkawa yang mendalam kepada keluarga almarhum. Sosok Buya Syafii semasa hidup yang selalu menebar manfaat kepada orang banyak sekarang bak kembali menjadi doa-doa baik untuk menerangi liang kuburnya.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo bahkan ikut serta melaksanakan sholat jenazah untuk almarhum Buya Syafii. Sebelumnya, Presiden Jokowi masih berkesempatan menjenguk Buya Syafii saat masih menjalani perawatan, terlebih Presiden Jokowi dan Megawati memberikan tawaran kepada Buya Syafii agar menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Jakarta.

Dalam akun media sosialnya, Presiden Jokowi menyampaika ungkapan bela sungkawa yang terdalam atas nama Pemerintah serta rakyat Indonesia. “Buya Syafii telah pergi, tetapi almarhum tetap hidup dalam ingatan kita sebagai guru bangsa yang sederhana. Buya Syafii adalah kader terbaik Muhammadiyah yang selalu terdepan dalam memberikan contoh dan keteladanan. Toleransi dalam keberagaman, serta selalu menyampaikan pentingnya Pancasila bagi perekat bangsa.”

Salah satu tokoh pemerintahanan yang ikut merasakan kehilangan sosok ulama besar Buya Syafii adalah Anies Rasyid Baswedan. Gubernur DKI Jakarta itu mengenang Buya Syafii sebagai tokoh bangsa Indonesia yang memiliki intelektual muslim yang menginspirasi. Bagi Anies, Buya Syafii juga memiliki sisi humanis dan kental akan aspek kedamaian.

Innalilahi wa innalilahi roji’un, turut berduka atas wafatnya Buya Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif . Bangsa Indonesia telah kehilangan sosok intelektual muslim yang selalu memberikan inspirasi. Sisi humanis Buya Syafii dan aspek perdamaiannya begitu kuat, menjadi warisannya bagi kita saat ini.”

Buya-syafii-dan-istri
Kenangan Buya Ahmad Syafii Maarif bersama istri /Foto: tvonenews.com

Rekam Jejak sang Guru

Buya Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif atau yang akrab disapa Buya Syafii ini tak adalah sosok ulama dan cendekiawan muslim di Indonesia ini pernah menjabat sebagai President World Conference on Religion for Peace (WCRP). Pria kelahiran 31 Mei 1935 tersebut merupakan anak bungsu dari empat bersaudara seayah seibu. Tumbuh di tengah-tengah keluarga yang hangat. Buya Syafii berkesempatan menikmati bangku sekolah dari tingkat SD hingga pendidikan tinggi.

Hebatnya, Buya Syafii muda membuktikan semangat belajarnya dengan menempuh pendidikan Program Master di Departemen Sejarah Universitas Ohio Amerika Serikat. Tak berhenti disitu, gelar doktor berhasil di raih oleh Buya Syafii saat ia mengambil Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Chicago Amerika Serikat dengan disertasi Islam as the Basis of State : Poltical Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia”.

Bak menjadi panutan mahasiswa jaman sekarang, selama menjadi mahasiswa di Chicago Buya Syafii secara intensif melakukan pengkajian terhadap Al-Qur’an. Tak lepas dari bimbingan dan bantuan salah seorag tokoh pembaharu Islam Fazlur Rahman, Buya Syafii juga begitu aktif terlibat diskusi intensif dengan Nurchoish Madjid dan Amien Rais yang kala itu sedang mengikuti program doktornya.

Tak lama setelah menanggalkan posisinya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Syafii kembali aktif dalam komunitas Maarif Institute. Sosok yang dikenal gemar menulis ini bahkan pernah menjadi guru besar di IKIP Yogyakarta dan selalu ramai diundang sebagai pembicara dalam seminar. Sebagai seorang yang hobi menulis dengan latar belakang keluarga yang kental akan ilmu agama, tentunya karya-karya Buya Syafii tak jauh dari topik-topik Islam.

Tak sedikit karya dan hasil buah pikir Buya Syafii yang dimuat dan dipublikasikan di sejumlah media cetak. Bahkan, buku-buku hasil karya Buya Syafii juga selalu berhasil menyedot atensi penikmat karya tulisnya. Buku-buku yang telah berhasil diterbitkan seperti “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan : Sebuah Refleksi Sejarah” yang juga dibuat dalam versi Bahasa Inggris pada tahun 2018.

Prosesi pengantaran jenazah dari Masjid Gedhe Kauman menuju Taman Makam Husnul Khotimah, Kulon Progo /Foto: Iqbal santrikertonyono

Semasa hidupnya, Buya Syafii tak hanya dikenal sebagai ulama moderat tetapi juga sosok sejarawan. Sebelum menjadi cendikiawan muslim seperti yang diketahui masyarakat hingga saat ini, Buya Syafii mengawali kariernya dengan menjadi guru di salah satu sekolah Muhammadiyah di pulau Lombok pada tahun 1957 silam.

Buya Syafii Maarif semasa hidupnya dikenal sebagai seorang ulama moderat dan sejarawan. Ia berasal dari Sumpur Kudus, Sawahlunto, Sumatera Barat. Sebelum menjadi cendikiawan muslim, pria kelahiran Minangkabau itu mengawali kariernya dengan menjadi guru di sekolah Muhammadiyah di pulau Lombok pada tahun 1957 silam.

Lambat laun, Buya Syafii semakin aktif dalam kegiatan organisasi keagamaan Muhammad hingga dipercaya mengampu jabatan sebagai Wakil Ketua PP Muhammadiyah pada tahun 1995. Selesai mengabdi sebagai Wakil Ketua, karir Buya Syafii semakin menanjak hingga menduduki puncak pimpinan sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah ke 13 pada tahun 1998 hingga 2000.

Berjalan selama kurang lebih dua tahun, Buya Syafii mendapatkan perhatian publik karena dianggap berhasil membawa organisasi Muhammadiyah ke jalur Khittahnya. Atas prestasinya itulah, para peserta mukhtamar Muhammadiyah kembali menggantungkan harapannya kepada Buya Syafii di sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah periode kedua, yakni pada tahun 2000 hingga 2005.

Disisi lain, pemikiran-pemikiran Buya Syafii ternyata menjadi salah satu pertimbangan bagi Presiden Joko Widodo bahkan bangsa Indonesia secara Indonesia. Ujungnya pada tahun 2015, Presiden Jokowi sempat menawarkan posisi sebagai Dewan Pertimbangan Presiden namun ditolak oleh Buya Syafii. Hal itu dilakukan semata-mata karena Buya Syafii memilih untuk independen.

Suara Keras Buya Syafii Membuka Tabir

Sepak terjang karir Buya Syafii semasa hidup memang selalu menjadi pusat perhatian tokoh-tokoh agama bahkan tokoh yang duduk di kursi pemerintahan. Pemikiran yang tegas dan berani tak jarang malah memicu pro kontra di kalangan publik. Namun, itulah yang menjadi khas dari sosok asal Sumatera Barat ini. Terlepas dari buah pendapatnya, pemikiran sang guru bangsa memang selalu berhasil memikat hati pemerintah.

Salah seorang cendekiawan Muslim bahkan secara berani mengkategorikan Buya Syafii Maarif sebagai salah satu tokoh Muhammadiyah yang sangat mendukung adanya gagasan tentang Islam Liberal atau biasa disebut neomodernisme. Kala itu, gagasan Islam Liberal sendiri diusung oleh Fazlur Rahman yang dulu pernah membimbing Buya Syafii, hingga pada akhirnya Buya Syafii memberikan pujian yang cukup tinggi kepada Fazlur Rahman.

Tak hanya itu, Buya Syafii juga pernah tercatat sebagai salah seorang yang menolak tegas kembalinya Piagam Jakarta ke dalam ranah konstitusi. Bahkan, bersama dengan Hasyim Muzadi, Buya Syafii juga pernah melakukan penolakan keras terhadap pemberlakukan syariat Islam secara formal di Indonesia.

Bahkan, salah satu tokoh yakni Muhammad Afif Bahaf pernah mengatakan bahwa gerakan Islam Liberal mulai terlihat tumbuh subur di organisasi Muhammadiyah saat berada dibawah kepemimpinan Buya Syafii Maarif. Hal itu terlihat pada berdirinya tiga komunitas intelektual di lingkungan Muhammadiyah seperti Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP), Maarif Institute, serta Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM).

Proses pemakaman Buya Syafii Maarif di Taman Makam Husnul Khotimah, Kulon Progo, (27/5/2022) /Foto: Jalu Rahman Dewantara

Di lain waktu, nama Buya Syafii sempat menjadi sorotan. Tepatnya pada bulan November 2016, Buya Syafii secara terang-terangan memberikan pembelaan kepada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat ia disudutkan akan masalah penistaan agama. Buya Syafii mengatakan secara tegas bahwa Ahok sama sekali tidak melakukan penistaan agama.

Tentunya, pandangan Buya Syafii bak berbanding terbalik melawan pendapat mayoritas tokoh Islam lainnya, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sebelumnya telah memfatwakan bahwa Basuki Tjahaja Purnama telah melakukan penistaan agama Islam dan para ulama.

Lalu, pada November 2019, Buya Syafii Maarif kembali menyita perhatian publik. Ia pernah mengomentari usulan Menteri Agama Fachrul Razi terkait larangan penggunaan cadar yang akhirnya hanya berujung kontroversi. Buya Syafii berpendapat bahwa perlu kehati-hatian dalam memberikan larangan terhadap penggunaan cadar dan celana cingkrang di Indonesia.

Buya Syafii menyarankan agar masyarakat Indonesia secara umum memakai pakaian secara nasional. Menurutnya, Indonesia adalah negara yang akan budaya, namun tetap memiliki kultur dan tradisi sendiri dalam mengenakan pakaian. Pakaian yang dipakai hanya mencerminkan Indonesia dan tidak mencerminkan budaya lain.

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: