Berdiri Sejak Tahun 1750, Pondok Pesantren Jamsaren Banyak Lahirkan Tokoh Bangsa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Pondok-Pesantren-Jamsaren-Surakarta
Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta (Solo) /Foto: penasantri.id

santrikertonyonoBangsa kalangan masyarakat Jawa secara umumnya pasti sudah tidak asing lagi dengan keberadaan Pondok Pesantren Jamsaren yang terletak di Kota Solo ini. Pondok pesantren yang lebih tepatnya berlokasi di Jalan Veteran 263 Serengan Solo tersebut sudah ada sejak tahun 1750 silam. Konon, banyak sumber yang mengatakan bahwa pondok ini telah melewati dua masa setelah vakum hampir 50 tahun, antara tahun 1830 hingga 1878.

Jika ada yang mengakui bahwa Pondok Pesantren Jamsaren ini adalah salah satu dari sekian banyaknya pondok pesantren tertua di tanah Jawa, mungkin itu memang bisa dibenarkan. Jika pondok ini berdiri sejak tahun 1750 maka sudah 272 tahun Pondok Pesantren ini banyak didatangi oleh para santri yang ingin belajar dan menggali ilmu agama.

Nama besar Pondok Pesantren Jamsaren memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Pondok pesantren ini bak menjadi rujukan santri dari berbagai daerah. Hebatnya, para santri ini tidak hanya datang dari Solo dan sekitarnya, bahkan ada santri yang berasal dari beberapa daerah di pulau Jawa. Diantaranya seperti Tegal, Semarang, Mojokerto hingga Banten.

Sementara, materi yang di ajarkan di pondok pesantren ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan pondok pesantren pada umumnya. Materi yang diajarkan pun bervariasi seperti kitab-kitab klasik atau kitab kuning berbahasa Arab dengan terjemahan bahasa Jawa Pegon atau biasanya disesuaikan dengan susunan bahasa Arab seperti Nahwu Shorof dan Qiroah.

Selain itu, juga ada Tafsir, Fiqh, Mantiq, Hadits, bahkan Tarikh dan Tassawuf. Secara garis besar, materi yang diberikan mempunyai kesamaan dengan pondok pesantren yang lain. Metode yang digunakan dalam pengajaran di Pondok Pesantren Jamsaren ini pun menggunakan cara sorogan atau maju satu per satu menghadap guru, namun ada sebagian yang lain menggunakan cara wekton atau Blandongan dengan berkelompok.

Dalam perjalanan sejarahnya, tepat pada tahun 1908, bangunan musholla yang berada di dalam area pondok pesantren mengalami pergantian. Bak seperti di renovasi, musholla itu diganti dengan bangunan masjid yang bisa dilihat hingga sekarang. Sedangkan pada tahun 1913, sistem pengajian yang dulu menggunakan metode sorogan kini diubah menjadi sistem kelas.

Disisi lain, Pondok Pesantren Jamsaren berhasil mencetak tokoh besar yang berhasil menduduki kursi pemerintahan dengan bekal ilmu yang telah diperoleh. Diantaranya seperti Munawir Sazali mantan Menteri Agama Republik Indonesia dan Miftah Farid mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Barat. Dalam perkembangannya kini, Pondok Pesantren Jamsaren melakukan kerjasama dengan Yayasan Perguruan Al-Islam Surakarta.

Berawal dari Kegundahan Paku Buwana IV

Sebenarnya sejarah dibalik berdirinya Pondok Pesantren Jamsaren ini tak lepas dari campur tangan Pakubuwana IV yang menduduki takhta sejak tahun 1788 hingga tahun 1820. Awalnya, Paku Buwana IV ini begitu amat gelisah dengan kehidupan keagamaan yang ada di lingkungan istana. Dimana, beberapa tokoh sejarawan menafsirkan bahwa sikap keagamaan kelompok darah biru yang relatif kurang.

Hal itu bisa saja terjadi akibat dari mereka-mereka yang masih banyak melakukan upacara ritual yang biasanya dilakukan saat masa sebelum Islam masuk ke tanah Jawa. Namun, ini bisa bisa saja dimaklumi karena memang budaya itu telah mendarah daging dengan masyarakat Jawa sebelum Islam masuk. Hanya butuh sedikit waktu dan kesabaran agar masyarakat Jawa berangsur meninggalkan budaya lama.

Saat Islam sudah masuk ke setiap sudut kehidupan masyarakat Jawa, tentulah sebagai orang tua hanya berharap anaknya bisa belajar agama secara mendalam, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi agar bisa menebar manfaat ke orang lain. Seperti halnya membaca Al-Qur’an, menghafal surat-surat pendek, serta bisa melaksanakan sholat secara istiqamah.

Sama seperti layaknya orang tua yang lain, Paku Buwana IV pun menginginkan hal yang sama untuk anaknya. Selain, mengirim sang putra ke pondok pesantren agar mendapatkan suntikan ilmu pendidikan agama, raja pun lantas mempunyai gagasan untuk mengundang guru agama, Kiai atau bahkan agar datang langsung ke istana. Memang terlihat upaya serius sang raja untuk menanamkan tiang agama pada putranya.

Tanpa menunggu lama, konon Paku Buwana IV langsung mengundang Kiai Jamsari dan Kiai Minhad untuk datang ke istananya. Kedatangan dua tokoh ulama ini disambut baik oleh raja dan seisi istana, sebab Kiai Jamsari dan Kiai Minhad inilah yang akan diangkat sebagai guru agama untuk putra raja. Karena dipandang sebagai ulama yang ahli, kedua tokoh ini sangat dihormati oleh banyak pejabat kerajaan.

Semenjak kehadiran dua tokoh ulama itu, banyak naskah Arab pada periode Pakubuwana IV yang berhasil diterjemahkan dalam bahasa Jawa. Hal itu dilakukan tak lain agar wejangan dan pemahaman Islam mudah diserap dan dimengerti oleh masyarakat. Berkat pengabdian yang dilakukan oleh Kiai Jamsari, raja akhirnya memberikan sebuah sepetak tanah untuknya.

Lantas, Kiai Jamsari memilih sebuah tanah kosong di sisi selatan keraton. Inilah yang konon menjadi awal sebuah kampung Jamsaren berdiri. Nama kampung Jamsaren sendiri menilik dari nama Kiai Jamsari, tak lain adalah tokoh yang “babad alas” sebelum kampung ini ada.

Setelah berjalannya waktu, melakukan pendekatan dengan beberapa masyarakat setempat, akhirnya Kiai Jamsari memutuskan untuk mendirikan pondok pesantren di atas lahan itu. Lahan yang semula hanya sebuah sawah dan pemakaman, kini disulap menjadi sarana tempat belajar mengaji serta mengasah Ilmu pengetahuan tentang Islam.

Pesantren-Jamsaren
Gerbang depan Pondok Pesantren Jamsaren /Foto: newsreal.id

Pondok Sempat Vakum

Dahulu, Pondok Pesantren Jamsaren ini sering dikunjungi oleh para tokoh ulama besar Ahlussunnah Wal Jama’ah atau biasa disebut Aswaja. Namun, seiring berjalannya waktu pondok pesantren ini semakin jauh dari budaya ke-Aswajaan-nya. Suatu fenomena yang memang sedikit mengagetkan.

Dilansar dari nu.co.id, salah satu penghulu keraton menuturkan penyebab hal itu bisa terjadi. Menurutnya itu disebabkan karena selama perkembangannya Pondok Pesantren Jamsaren sudah jarang ada ulama atau tokoh agama khususnya bdari golonga ulama Aswaja yang mau mendekat ke Keraton.

Jika ditelisik, itu tentu hal yang cukup kontras apabila dibanding dengan kebiasaan para tokoh agama pada zaman dahulu. Bahkan, banyak dari mereka, para tokoh-tokoh ulama bahkan Wali Songo terhitung sering mengunjungi keraton dan bertemu dengan raja.

Selain itu, perjalanan sejarah Pondok Pesantren Jamsaren juga pernah tertulis bahwa pondok yang dahulunya hanyalah sebuah surau kecil ini pernah mengalami masa vakum. Menurut beberapa literatur sejarah, vakumnya pondok yang terjadi pada tahun 1830 disebabkan karena terjadinya operasi tentara Belanda.

Operasi itu dilakukan lantaran Belanda kalah perang dengan Pangeran Diponegoro yang terjadi pada tahun 1825 di Yogyakarta. Karena harus menelan pil kekalahan yang pahit, akhirnya Belanda melancarkan serangkaian tipu muslihat hingga berhasil menjebak Pangeran Diponegoro.

Melihat kondisi Pangeran Diponegoro, para Kiai, pembantu Pangeran Diponegoro, dan Paku Buwana IV di Surakarta memutuskan untuk keluar dan bersembunyi di daerah lain. Bahkan tak terkecuali Kiai Jamsari II ya.h tak lain anak dari Kiai Jamsari beserta santrinya.

Waktu berlalu, setelah hampir 50 tahun kosong, seorang Kiai alim dari Klaten yang juga merupakan keturunan dari pembantu Pangeran Diponegoro membangun kembali surau atau pondok pesantren itu. Siapa lagi kalau bukan Kiai H. Idris. Kiai H. Idris membuat pondok semakin lebih lengkap dan diperluas. Bersamaan dengan hal itu, Sunan Paku Buwana X tengah mendirikan sebuah Madrasah yang lalu diberi nama Madrasah Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.

Namun, ada sumber sejarah lain yang menyatakan bahwa kekosongan di Pondok Pesantren Jamsaren ini diakibatkan karena banyaknya tokoh ulama yang menghilang setelah meletusnya Perang Jawa. Banyak santri dan keluarga yang kehilangan jejak. Akhirnya roda kehidupan pondok pesantren diteruskan oleh Kiai Jamsari III sampai akhir hayat.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: