Asas Tunggal Pancasila & Kearifan Mbah Kiai Hamid Kajoran

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Mbah Kiai Hamid Kajoran /Foto: quranhebat.xyz

Ketika pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto menetapkan Pancasila sebagai asas tunggal pada dekade 1980-an, sebagian kalangan umat Islam di Indonesia kurang sepakat. Namun tidak demikian halnya dengan Kiai Haji Abdul Hamid Usman. Seperti air yang mengalir, ulama karismatik yang akrab disapa Mbah Hamid Kajoran ini menyikapi gejolak tersebut dengan arif.

Karakter Mbah Hamid Kajoran memang khas: tenang, kalem, menyejukkan, serta mengalir dan mencerahkan seperti aliran air. Setiap kali akan pergi berdakwah, beliau berpamitan kepada keluarganya dengan berucap, “Aku pergi dulu untuk mengalirkan air.”

Bagi Mbah Hamid Kajoran, seperti yang tampak pada karakter dan ciri khasnya, syiar Islam seperti air yang mengalir, ikuti saja alurnya, tidak perlu dipaksakan. Mbah Hamid Kajoran punya gaya dakwah tersendiri: sedikit bicara, banyak bekerja. Beliau tidak suka berbusa-busa, namun langsung menunjukkan dengan perbuatan.

Meskipun lama menetap di Kajoran, Magelang, dan memimpin pondok pesantren di sana hingga lekat dengan namanya, K.H. Abdul Hamid Usman dilahirkan di Temanggung. Magelang dan Temanggung adalah dua wilayah bertetangga di Jawa Tengah.

Abdul Hamid Usman muda belajar ilmu agama kepada beberapa ulama besar di Nusantara, di antaranya adalah Syekh Kholil al-Bangkalani, Kiai Haji Abdul Manan (Pacitan), Kiai Haji Abdullah Dimyathi (Demak), dan lainnya.

Hingga akhirnya, dengan segala keilmuan yang diperolehnya, Abdul Hamid Usman mengasuh Pondok Pesantren Bodho Nahdlatut Tullab, Banjaragung, Kajoran, Magelang. Dari situlah nama sang ulama lebih dikenal sebagai Kiai Haji Hamid Kajoran atau Mbah Hamid Kajoran.

Asas Tunggal Pancasila Bagi Mbah Hamid Kajoran

Penetapan Pancasila sebagai asas tunggal oleh Presiden Soeharto pada dekade 1980-an menimbulkan gejolak di kalangan umat Islam, terutama organisasi kemasyarakatan berbasis agama, termasuk Nahdlatul Ulama (NU).

Dikutip dari buku Piagam Perjuangan Kebangsaan (2011) karya Abdul Mun’in, sebelum penerimaan Pancasila sebagai azas tunggal, para tokoh dan ulama NU melakukan berbagai pertemuan dan diskusi ilmiah atau bahtsul masail untuk mengkaji persoalan tersebut.

Tak hanya melalui forum resmi, ihwal Pancasila sebagai asas tunggal ini juga menjadi bahan diskusi dalam berbagai kesempatan seperti silaturahmi, anjangsana, mujahadah, riyadloh, dan sebagainya. Selain itu, juga dilakukan pendekatan melalui forum tabayyun dan dialog informasi mengenai kajian terhadap Pancasila sebagai asas tunggal.

Al-Zastrouw, seorang akademisi sekaligus budayawan yang pernah menjabat Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) PBNU, melalui artikelnya bertajuk “Nahdlatul Ulama dan Penerimaan Azas Tunggal Pancasila” dalam laman Ansor Jabar Online (5 Maret 2017), mengisahkan tanggapan Mbah Hamid Kajoran mengenai polemik tersebut.

Kisah ini diceritakan oleh putra Mbah Hamid Kajoran yakni K.H. Muhammad Amin Hamid atau Gus Amin. Suatu hari, kenang Gus Amin, sejumlah tokoh dan ulama datang menghadap Mbah Hamid Kajoran, di antaranya ada KH. Ali Maksum dan KH. Saeful Mujab dari Yogyakarta, KH. Mujib Ridwan dan KH. Imron Hamzah dari Surabaya, KH. Fauzi dari Bandung, serta beberapa tokoh lainnya.

KH. Ali Maksum dari Krapyak merupakan anggota badan bentukan PBNU untuk mengkaji asas tunggal Pancasila, bersama beberapa ulama NU lainnya seperti KH. Mahrus Aly (Lirboyo), KH. As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), dan KH. Masykur (Malang).

Kepada Mbah Hamid Kajoran, para ulama dan tokoh yang datang mengatakan bahwa telah dilakukan upaya pemaksaan dari pemerintah Orde Baru untuk menerapkan Pancasila sebagai asas tunggal. Mendengar ucapan itu, Mbah Hamid Kajoran merasa heran dan berkata:

“Lho, kok pemaksaan? Pancasila itu ‘kan milik kita, hasil ijtihadnya para ulama dan kiai kita, terutama Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari. Lha, kalau sekarang mau dijadikan asas tunggal ya alhamdulillah. Itu artinya dikembalikan ke kita, kok malah kita merasa dipaksa.”

Semua yang hadir tertegun mendengar jawaban Mbah Hamid Kajoran. Kemudian, KH. Ali Maksum bertanya, “Ini tafsirnya bagaimana?”

Atas pertanyaan ini, kemudian Mbah Hamid Kajoran menjelaskan soal sejarah dan tafsir Pancasila menurut ulama NU. Dijelaskan bahwa Pancasila merupakan penjelmaan atau sublimasi ajaran Islam yang menautkan syariat, akidah, dan tasawuf.

“Oleh karenanya, kita bisa menjalankan dua sila saja dari Pancasila secara konsisten dan benar Insya Allah kita bisa menjadi wali,” papar Mbah Hamid Kajoran. Dua sila yang dimaksud adalah sila pertama dan kedua Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa serta Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

“Mengamalkan Pancasila sila pertama, artinya kita memahami dan mengerti Tuhan dengan segala kekuasaan-Nya, perintah dan larangan-Nya. Sedangkan mengamalkan sila kemanusiaan artinya kita harus mengerti manusia, memanusiakan manusia, dan merasa sebagai manusia,” beber Mbah Hamid.

Kiai Hamid Kajoran yang biasanya tak banyak bicara kali ini merasa perlu melanjutkan uraiannya. Kepada para tokoh yang hadir di kediamannya, Mbah Hamid menjelaskan tafsirnya secara detail dengan perspektif syariah dan tasawuf. Ketika penafsiran sampai pada pengertian “merasa sebagai manusia”, KH. Ali Maksum menangis.

Pengaruh Besar Mbah Hamid Kajoran

Paparan mendalam yang disampaikan Mbah Hamid Kajoran itu kemudian mengubah pandangan para ulama dan tokoh NU maupun NU sebagai organisasi terhadap Pancasila sebagai asas tunggal. NU pada akhirnya justru tampil sebagai pendukung ditetapkannya kebijakan asas tunggal Pancasila oleh pemerintah.

Dukungan dan penerimaan para tokoh NU tersebut selanjutnya diimplementasikan melalui “Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam” dalam Musyawarah Nasional (Munas) NU di Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, tanggal 21 Desember 1983.

Dinukil dari buku NU & Pancasila (2011) yang ditulis oleh Einar Martahan, dalam deklarasi tersebut termaktub penerimaan atas Pancasila diputuskan sebagai dasar dan jalan bagi NU untuk menjalankan syariat atau hukum agama Islam.

Berkat Mbah Hamid Kajoran, NU mampu menempatkan diri sebagai organisasi Islam yang berdiri di belakang Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Pancasila dan Islam bukanlah dua kutub yang saling bertentangan, tapi justru saling melengkapi dan saling mendukung.

Menjelang Muktamar NU ke-28 yang digelar di Krapyak, Yogyakarta, pada 25-28 November 1989, Mbah Hamid Kajoran jatuh sakit. Sang ulama besar nan karismatik ini mengembuskan nafas terakhir tepat 40 hari setelah dilaksanakannya Muktamar NU tersebut.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: