Wakili Hobby Anak Muda, Gus Reza Singgung Trend Media Sosial di Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
gus reza
Gus Reza (baju dan kopiah putih) saat memberikan ceramah di Ponpes Lirboyo Kediri /Foto : YouTube.com/agnastudio

santrikertonyonoHiruk pikuk dunia media sosial di zaman perkembangan teknologi yang terus mengalami kemajuan memang nampak seperti tak bisa dikendalikan. Bak memegang dunia di atas telapak tangan, setiap orang dari segala golongan, tak peduli faktor umur atau latar belakang semuanya sama dan mampu mengais informasi hingga menciptakan karya menarik nan menghibur.

Kebebasan berpendapat dan kebebasan bermain media sosial nampaknya sedikit banyak membawa banyak manfaat. Tak perlu merasakan kelelahan atau kepanasan saat ingin mneyebar informasi penting kepada masyarakat, cukup sekali “klik” informasi itu akan cepat tersebar hingga ke pelosok Indonesia.

Sebaliknya, dengan satu “klik” itu pula masyarakat bisa mendapatkan informasi dari berbagai sumber, entah dari dalam negeri atau bahkan informasi luar negeri. Satu orang dengan orang lainnya seperti tak ada sekat. Mereka bebas membagikan atau mendapatkan informasi yang mereka cari.

Namun, kembali lagi kepada fitrah kehidupan yang menyatakan bahwa segala sesuatu hal yang berlebihan itu tidaklah baik. Tentunya hal itu juga berlaku bagi dunia media sosial yang menyuguhkan segala hal bingar-bingar dunia lewat layar kaca yang bisa diakses setiap orang tanpa halangan apapun.

Kebebasan dalam bermedia sosial itulah yang terkadang mengkhawatirkan. Kebebasan dalam arti disini tidak ada batasan dalam membagikan atau menerima informasi. Lalu, akan menjadi sangat mengkhawatirkan apabila seseorang itu tidak bisa menyaring informasi yang ia dapat. Ketidakpastian kabar bahkan kabar bohong bisa saja dicerna mentah-mentah oleh masyarakat.

Trendsetter media sosial yang sangat membludak juga turut disinggung oleh Gus Reza dalam pengajian ceramah yang belum lama ini beliau berikan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Segala jenis macam media sosial mulai dari Instagram, YouTube hingga TikTok menjadi perhatian dari tokoh agama yang lahir di Kota Surabaya ini.

Dalam ceramah yang ia berikan, Gus Reza mengakui bahwa ia merupakan pribadi yang terlalu aktif di ranah media sosial. Bahkan, chat WhatsApp-pun hanya membalas perihal-perihal yang penting dan tidak terlalu tertarik untuk bergabung dalam wadah obrolan di media sosial.

Apalagi dengan hal-hal yang berbau viralisme, laki-laki dengan nama asli Reza Ahmad Zahid ini merasa tidak sejajar dengan tokoh yang tengah banyak digandrungi para jamaah. Meksipun begitu, eksistensi Guz Reza di mata beberapa orang tetaplah yang terbaik, terlebih bagi jamaah yang telah lama mengagumi gaya ceramah dari Gus Reza ini.

Sosok Muhammad Ibnu Malik

Kemajuan teknologi dalam bermedia sosial juga diceritakan oleh Gus Reza. Jika kini banyak content creator yang selalu aktif menyebarkan informasi di dunia maya, maka pada zaman dahulu juga ada seorang pemuda yang bernama Muhammad Ibnu Malik. Jika ditelisik, sosok Muhammad Ibnu Malik adalah pengarang kitab Alfiyah yang cukup tersohor.

Menurut Gus Reza, nidhom yang digunakan oleh Muhammad Ibnu Malik dalam kitabnya itu menggunakan fi’il madhi. Jika dalam tata bahasa Inggris, fi’il madhi merupakan konteks kalimat yang digunakan untuk menceritakan kejadian di masa lampau.

Apabila di nalar, seseorang yang akan menulis sebuah buku tentunya akan menggunakan konteks kalimat yang menceritakan kejadian itu sedang terjadi atau akan terjadi. Tetapi berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Muhammad Ibnu Malik, dimana ia menceritakan sebuah kisah dengan menggunakan konteks kalimat lampau.

Meskipun begitu, tata kata fi’il madhi yang digunakan oleh Muhammad Ibnu Malik akhirnya menjadi keunikan tersendiri dalam kitabnya tersebut. Selain berbeda dari kitab-kitab yang lain, kitab yang ditulis oleh Ibnu Malik juga mengandung pedoman dan pegangan bagi umat manusia terkhusus umat Islam.

Tokoh yang merupakan alumni dari Universitas Gadjah Mada ini menceritakan bahwa sosok Muhammad Ibnu Malik berasal dari tanah Andalusia. Jika dilihat, Andalusia memang bukan bagian dari negara Arab dan bahasa sehari-harinya pun juga tidak menggunakan bahasa Arab. Namun, tanah Andalusia berhasil mencetak sosok alim ulama di bidang Khoidatul Lughah Al-Arabiyyah.

Dalam satu riwayatnya, Muhammad Ibnu Malik pernah mengeluarkan pengumuman atau aba-aba kepada masyarakat sekitar yang berisikan informasi bahwa ia menguasai bidang ilmu sharaf dan kaidah bahasa Arab. Bagi siapapun yang mau mengaji dan belajar bisa langsung datang ke kediamannya, Ia pun akan sangat senang membagikan ilmu pengetahuannya kepada masyarakat.

Menurut Gus Reza, hal tersebut menunjukkan bahwa sistem penyebaran informasi melalui media atau pengumuman dari orang satu ke orang lain sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh Muhammad Ibnu Malik pada zaman dahulu. Maka dari itu, melihat penyebaran informasi yang kini masih menggunakan banner atau bahkan media sosial adalah hal biasa dan bukanlah hal baru.

Sementara, masih dalam satu riwayat menjelaskan bahwa tidak ada satupun orang yang datang setelah Ibnu Malik menyebarkan informasi atau pengumuman tersebut. Hingga ada salah satu tetangganya yang mengatakan “Hei, Muhammad Ibnu Malik, kamu sudah menggelar pengumuman tetapi tidak ada yang daftar di pondokmu.

Mendengar hal itu, Ibnu Malik pun menjawab bahwa tidak adanya orang yang mendaftar ke pondoknya bukanlah hal menyakitkan baginya. Ketika Ibnu Malik sudah berusaha menginformasikan kepada masyarakat bahwasanya ia memiliki pengetahuan tentang ilmu nahwu, ilmu shorof, dan ilmu qo’idah bahasa Arab, maka ia merasa sudah lepas tanggungjawab untuk mensyiarkan ilmu yang ia punya.

Dengan begitu, bisa dipastikan bahwa kala itu Muhammad Ibnu Malik adalah sosok alim ulama yang mempunyai sedikit pengikut. Tentunya hal itu juga menampakkan seberapa besar eksistensinya di mata masyarakat. Singkatnya, Gus Reza menegaskan bahwa tingkat keterkenalan seseorang di media sosial bukanlah suatu hal yang penting. “Seseorang yang akhirnya menjadi viral atau terkenal, bukanlah suatu hal yang penting.

Bahkan, banyak orang-orang yang tersembunyi, tidak tampak di permukaan tapi ia bagaikan berlian bagaikan intan. Dan seperti halnya Lailatul Qadar, yang tersembunyi, tidak ada orang yang tahu, tetapi malam Lailatul Qadar penuh dengan keistimewaan, dan lebih mulia dari malam-malam yang tampak.”

Gus Reza juga menambahkan, apabila berbicara tentang suatu yang viral maka Fir’aun pun juga terkenal. Baik di masa lampau, di masa sekarang, bahkan di akhirat nanti nama Fir’aun begitu banyak dikenal manusia. Tetapi, keterkenalan Fir’aun disebabkan akibat semua perbuatannya yang kejam dan tidak berperasaan.

Terkenal Karena Sensasi atau Terkenal Karena Prestasi

Imam al-Ghazali r.a pernah juga pernah mengatakan, jika di dalam keterkenalan tersebut adalah niat kepada Allah, maka usahanya mensyiarkan informasi itu akan dihitung sebagai ibadah. Pasalnya, yang paling sulit sebelum melakukan sesuatu adalah menata hati dan menata niat.

Merujuk pada pernyataan Imam al-Ghazali tersebut, Gus Reza mengingatkan kepada seluruh jamaahnya agar tidak mudah berprangka buruk terhadap konten-konten yang berseliweran di media sosial. Dimana foto atau video yang banyak dibagikan netizen itu tergantung dari niatnya di awal. “Maka apa yang ia lakukan, adalah sebagai bentuk ibadahnya.”

Sama halnya dengan salah satu riwayat, Imam Syafi’i pernah menjelaskan, “Barangsiapa yang ingin mendapatkan kebagusan dari Allah, maka diharuskan untuk selalu berperasangka baik. Barangsiapa yang ingin diakhiri di akhir hidupnya dengan akhir yang khusnul khotimah maka diharuskan selalu berperasangka baik kepada manusia.”

Jika dilihat pada zaman sekarang, jangan sampai konten-konten positif yang bersifat religi ini kalah dengan konten-konten yang banyak mengandung unsur negatif dan berbau kemaksiatan. Sudah banyak terlihat di media sosial, banyak konten yang malah mengarah ke hal-hal kurang baik.

Banyak ditemukan konten-konten tidak bermanfaat yang banyak tampil di media sosial, baik itu video, foto maupun tulisan. Hal tersebut menjadi pekerjaan penting bagi masyarakat khususnya para santri untuk kembali mendominasi konten-konten positif di dunia maya.

Dimana, akan menjadi salah satu kesalahan besar apabila para santri tidak bisa melahirkan konten-konten yang bermanfaat, itu sama saja mempersilahkan konten negatif semakin mendominasi di dunia media sosial.

Sementara, ada juga golongan orang-orang yang tidak pernah membagikan informasi-informasi, bahkan itu informasi positif sekalipun karena alasan tawadhu’. Padahal, informasi atau konten yang ia bagikan sudah benar, niatnya sudah benar, tetapi ia lebih memilih diam dan tidak mensyiarkannya kepada masyarakat agar dianggap orang yang rendah hati.

Tentunya, hal itu juga menyalahi aturan dan termasuk pada perilaku riya’. Sebagai umat Muslim, hal pertama yang harus dilakukan adalah membenahi niat karena Allah SWT, dan tidak ada embel-embel agar dinilai oleh manusia.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: