Sholawat Badar Bergema Pada Detik Kemenangan Gus Yahya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
KH Yahya Cholil Staquf (kanan bermasker putih) & KH Said Aqil Siroj (kiri bermasker biru) sedang berbincang bersama dalam acara Muktamar NU ke-34 di Lampung /Foto: Santrikertonyono

Sholawat Badar menggema sayup-sayup pada detik-detik akhir perhitungan suara pemilihan Ketua Tanfidziah PBNU dalam Muktamar NU ke-34 di Lampung, Sumatera Jumat (24/12). Berikut potongan sholawat badar yang digaungkan berulang-ulang.

Shalaatullaah Salaamullaah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah
Shalaatullaah Salaamullaah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah
Tawassalnaa Bibismillaah Wabil Haadi Rasuulillaah
Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Ilaahi Sallimil Ummah Minal Aafaati Wanniqmah
Wamin Hammin Wamin Ghummah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Di whiteboard, petugas panitia pencatat perhitungan suara terus mencoretkan hasil piliha di surat suara yang dibuka satu persatu dan dibacakan terbuka. Perolehan suara Gus Yahya atau KH Yahya Cholil Staquf terlihat melaju jauh. Deretan angka berbentuk garis yang diguratkan petugas sudah bershaf tiga. Sedangkan perolehan suara KH Said Aqil Siroj yang menjadi rivalnya dalam pemilihan Ketua Tanfidziah PBNU masa khidmat 2021-2026, terpaut jauh dan berusaha mengejar.

Sisa surat suara dalam kotak suara terakhir yang dibacakan petugas panitia masih beberapa kali menyebut nama Kiai Said. “Kiai Said!,” teriak petugas membacakan isi surat suara beberapa kali.

Tapi kemudian secara beruntun petugas menyebut, “Gus Yahya Cholil Staquf!”. Bersama dengan nama Gus Yahya yang beruntun disebut, sholawat badar terus berkumandang. Dari sebelumnya lirih, gema pengagungan kepada Nabi Muhammad SAW menjadi lebih keras, dan muktamirin dalam ruangan mengikuti.

Sholawat Badar yang berkumandang lebih kencang, diringi beberapa teriakan takbir. Pada saat itu, hasil perhitungan surat suara telah selesai dan Gus Yahya dinyatakan keluar sebagai pemenang. Mantan jurubicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tersebut meraup dukungan 337 suara yang sekaligus mengalahkan KH Said Aqil Siroj yang didukung 210 suara.

Dalam perhitungan tersebut, tercatat total surat suara yang masuk 548 surat suara dengan 1 surat suara rusak. KH Yahya Cholil Staquf resmi sebagai Ketua Umum PBNU periode 2021-2026. Gus Yahya berdampingan dengan KH Miftachul Ahyar yang terpilih sebagai Rais Aam pada Kamis malam (23/12).

KH Yahya Cholil Staquf (kanan) sedang menjabat tangan (sungkem) dengan KH Said Aqil Siroj (kiri) dalam acara Muktamar NU ke-34 di Lampung /Foto: Santrikertonyono

“Ini kemenangan NU,” teriak petugas panitia yang membacakan hasil akhir perhitungan surat suara pemilihan Ketua Tanfidziah PBNU. Sholawat Badar bergema semakin keras. Dalam memberikan sambutan, M Nuh selaku pimpinan sidang Muktamar NU-34 M, menangis haru.

Ia terharu sekaligus bersyukur Muktamar NU ke -34 di Lampung bisa selesai dengan baik dan penuh kesejukan. M Nuh menyampaikan, dirinya jauh hari diwanti-wanti para kiai sepuh untuk bisa menjaga Muktamar ke-34 berjalan dengan sejuk. Jangan sampai terulang Muktamar ke-33 yang suasananya menyedihkan.

“Alhamdulillah bisa membawa Muktamar 34 dengan penuh kesejukan. Apa yang berlangsung merupakan bukti kecintaan semua kepada nahdlatul ulama. Selamat kepada Gus Yahya. Ini sebagai hadiah memasuki abad terakhir, menyiapkan 100 tahun NU ke dua,” kata M Nuh.

Manfaat Sholawat Badar

Sementara Sholawat Badar yang bergema pada detik-detik kemenangan Gus Yahya merupakan sholawat yang memiliki arti yang besar bagi warga nahdliyin. Dalam sejarahnya Sholawat Badar banyak digaungkan kaum nahdliyin pada peristiwa konflik politik antara NU melawan PKI di Banyuwangi pada tahun 1963.

KH Ali Manshur Shiddiq menciptakan Sholawat Badar pada tahun 1960, untuk menandingi lagu genjer-genjer PKI. Kiai Ali Manshur merupakan cucu dari Kiai Muhammad Shidiq Jember.

Pada saat itu Kiai Ali Manshur juga mencemaskan situasi politik yang semakin tidak menguntungkan NU. Kekuatan PKI semakin berkembang hingga ke desa-desa, dan itu menimbulkan kegelisahan.

Dalam suasana gelisah itu, Kiai Ali Mansur sedang menjabat sebagai Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Banyuwangi dan Ketua PCNU Banyuwangi.

Dalam membuat syair Sholawat Badar, Kiai Ali Mansur Siddiq terinspirasi dari kitab Manddzumah Ahl al Badar al Musamma Jaliyyat al Kadar fi DFadhail Ahl al Badar karya Imam As Sayyid Ja’far al Barzanji.

Ulama asal Tuban yang juga pernah nyantri Lirboyo, Kediri itu dari berbagai cerita tutur, ia menulis syair Sholawat Badar setelah sebelumnya bermimpi didatangi sosok berjubah putih hijau.

Kiai Ali Manshur menyenandungkan syair Sholawat Badar yang ia tulis seperti halnya menyenandungkan lagu dan puji-pujian. Dalam sekejap warga nahdliyin bisa mengahafalnya di luar kepala.

Isi dari sholawat badar adalah puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabat yang telah gugur dalam perang Badar. Selain itu juga berisi permohonan keselamatan, menghilangkan semua kesusahan, kesempitan dan segala hal yang menyakitkan. Sholawat

Sholawat badar juga diyakini memiliki fadhilah menyelamatkan dari bahaya musuh, menangkis orang-orang yang berbuat maksiat dan kerusakan, dihindarkan dari marabahaya dan bencana, meluaskan rezeki dan keuntungan serta mendapat keberkahan hidup.

“Ya Allah semoga Engkau selamatkan kami dari semua yang menyakitkan, dan semoga Engkau (Allah) menjauhkan tipu daya musuh-musuh”.

Penulis: Arif Kertonyono

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: