Pengaruh Keislaman Kiai Imam Syuhodo dalam Serat Wulangreh PB IV

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
serat-wulangreh
Naskah jawa tembang serat wulangreh pakubuwana iv cegah dhahar lawan guling /Foto: Museum Tamansiswa Dewantara Kirti Griya

santrikertonyonoCampur tangan Kiai Imam Syuhodo telah “membersihkan” unsur klenik (mistik) Jawa dalam penerbitan serat atau pustaka Islam Jawa di lingkungan Keraton Surakarta masa Pakubuwono IV (PB IV). Penyusunan pustaka keraton disaring ketat. Ruang narasi untuk semua yang berbau klenik, ditutup rapat.

Supriyadi dalam Kyai, Priyayi di Masyarakat Transisi (2001) menyebut Kiai Imam Syuhodo sebagai ulama pertama yang berhasil menetralisir ajaran Islam dalam pustaka Islam keraton dari unsur mistik Jawa. “Ini ditandai dengan keberhasilannya membimbing Sultan Pakubuwono IV ketika menyusun Serat Wulangreh”.

Dibanding pustaka piwulang yang ditulis kesultanan sebelumnya, isi Serat Wulangreh dinilai berbeda. Serat Wulangreh yang ditulis tahun 1808 itu lebih bersih dari pengaruh klenik atau aliran kebatinan. Hal itu sekaligus memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh klenik atau aliran kebatinan di lingkungan keraton.

Misalnya Serat Wedhatama, Serat Bima Suci, Serat Cebolek, Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Jayeng Baya dan Serat Kalatida. Isinya banyak dipengaruhi unsur mistik Jawa. Sementara Serat Wulangreh karya PB IV lebih menonjolkan aspek syariat, akal dan moral yang sesuai dengan ajaran agama.

Wulangreh juga mengedepankan aspek tafsir yang sekaligus menjadi bukti dalam proses penyusunannya sangat dipengaruhi intisari pemikiran Mbah Imam Syuhodo.

“Pada dasarnya Serat Wulangreh ditulis berdasarkan hasil diskusi yang dilakukan antara Pakubuwono IV dengan Kiai Imam Syuhodo,” demikian yang tersebut dalam Intelektualisme Pesantren, Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Pertumbuhan Pesantren (2003).

Serat Wulangreh terdiri atas 13 pupuh (tembang). Wulang memiliki persamaan kata dengan pitutur atau ajaran. Sedangkan Reh dalam bahasa Jawa kuno bermakna jalan, aturan, dan laku. Wulangreh diterjemahkan sebagai ajaran untuk menggapai sesuatu atau hidup yang harmoni atau sempurna.

Ngelmu iku kelakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara”(Ilmu itu bisa dipahami atau dikuasai harus dengan cara, cara pencapainnya dengan cara kas. Artinya kas berusaha keras memperkokoh karakter, kokohnya budi (karakter) akan menjauhkan diri dari watak angkara”.

Pada masing-masing pupuh Wulangreh, seperti Dhandanggula, Kinanthi, Gambuh, Pangkur, Maskumambang, Megatruh, Durma, Wirangrong, Pucung, Mijil, Asmaradana, Sinom dan Girisa, PB IV berposisi sebagai subyek penutur. PB IV merupakan Raja Surakarta yang lahir 1768, bertahta mulai 1788 dan wafat pada 1 Oktober 1820.

Darusprapta dalam Serat Wulangreh (1992) menyebut, isi serat wulangreh adalah pitutur baik terkait dengan etika, moral maupun syariat yang berujung penemuan atas intisari Al-Quran yang berupa rasa jati. “Serat ini disusun dan diperuntukkan kepada kerabat raja”.

Pendapat senada disampaikan Simuh dalam Sufisme Jawa (1999). Petuah-petuah PB IV dalam Serat Wulangreh terpengaruh ajaran Imam Ghazali. PB IV bertutur bahwa jenjang tinggi rendahnya kualitas kemakrifatan sangat tergantung atas tingkat-tingkat kesucian hati para sufi.

Ia mengambil analogi yang bersifat metafora. “Pamoring kawula gusti itu laksana pembuatan suwasa, yaitu apabila tembaganya bersih dan emasnya tua, tentu hasilnya akan menjadi cemerlang”. Pada bait-bait yang mendedahkan pentingnya mempelajari Al-Qur’an, terlihat jelas pengaruh pemikiran Mbah Imam Syuhodo.

Wulangreh juga menyebut betapa pentingnya kehadiran seorang guru dalam belajar Al-Qur’an dan ilmu hakikat. Dalam pituturnya, PB IV menekankan kehati-hatian dalam belajar ilmu agama, dan Al-Qur’an adalah sumber kesuksesan hidup sekaligus jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat.

PB IV yang ditengarai pengamal tarekat Syathariah menuturkan keharusan seseorang yang menempuh jalan Tuhan untuk mencari seorang guru. Dijabarkannya seperti apa seseorang yang pantas disebut guru.

Berikut kutipannya:

Namun yen sira ngguru kaki, amilaha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing kungkum, kang ngibadah lan kang wirange, sokur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes sira guranano kaki, sartane kaweruhane

Terjemahannya:

Tetapi jika kamu berguru. Pilihlah orang yang sudah nyata ilmunya. Yang baik martabatnya. Serta tahu tentang hukum agama. Yang ahli beribadah dan meninggalkan segala dosa. Sukur jika mendapat seorang pertapa. Yang sudah tidak terpengaruh kehidupan dunia. Dan tidak memikirkan pemberian orang lain. Orang seperti inilah yang pantas dijadikan guru. Karena memenuhi persyaratan.

Dalam tesisnya yang berjudul Mistikisme dan Nilai Islam dalam Serat Wulangreh (1996), M. Muslih menyebut ajaran Wulangreh tidak hanya bersifat teori belaka. Serat Wulangreh berorientasi pada aspek persiapan dalam usaha manusia mencapai kesempurnaan hidup lahir batin hingga pengetahuan manunggaling kawulo gusti. “Melalui penghayatan nilai-nilai ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan hadist”.

Didampingi Mbah Imam Syuhodo, PB IV juga menghasilkan banyak karya tulis lain. Diantaranya Serat Wulang Sunu, Serat Wulang Dalem, Serat Brata Sunu, Serat Wulang Putri, Serat Wulang Tatakrama, dan serat empat panji. Yakni Panji Raras, Panji Sekar, Panji Dhadap dan Panji Blitar.

Pakubuwono-IV
Sri Susuhunan Pakubuwono IV, raja Kasunanan Surakarta antara 1788-1820 /Foto: kompas.com

Perjalanan Keilmuan Kiai Imam Syuhodo

Kiai Imam Syuhodo atau Imam Syuhodo Apil Qur’an lahir tahun 1745 di wilayah Kedu, Bagelenan, Jawa Tengah. Ayahnya Kiai Trunosuro bin Kiai Ageng Baidhlowi seorang ulama yang sangat berpengaruh. Dari ayahnya, Mbah Imam Syuhodo menerima pendidikan agama.

“Setelah itu ia dikirim ayahnya untuk nyantri di pondok pesantren kakeknya, Kiai Ageng Baidhlowi di Purworejo,” demikian yang tertulis dalam Intelektualisme Pesantren, Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Pertumbuhan Pesantren (2003).

Mbah Imam Syuhodo melanjutkan rihlah ilmiahnya dari pesantren ke pesantren. Setelah nyantri di pesantren kakeknya, ia melanjutkan berguru kepada Kiai Khotib Iman, pengasuh pesantren Jatisobo di wilayah Surakarta. Saat itu pesantren Jatisob sama terkenalnya dengan pesantren Kiai Kasan Besari, Tegalsari Ponorogo.

Berbagai pelajaran di pesantren diserapnya. Pelajaran kitab kuning, pendalaman tafsir dan menghafal Al-Qur’an, diselesaikan dengan sangat baik. Hanya dalam waktu dua tahun, Mbah Imam Syuhodo mampu menghafal 30 juz Al-Qur’an di luar kepala. Atas kelebihannya itu masyarakat menambahkan sebutan “Apil Qur’an” di belakang namanya.

Sang guru, Kiai Khotib Iman yang jatuh hati dengan kealimannya, kemudian mengambilnya sebagai menantu. Mbah Imam Syuhodo dikenal sebagai kiai muda yang mumpuni, cerdas dan alim di bidang tafsir. Setiap mertuanya berhalangan, ia kerap menggantikan sebagai pengajar maupun pimpinan sementara pesantren.

Popularitas nama Mbah Imam Syuhodo didengar PB IV dan raja pun merasa penasaran. Di acara pisowanan agung, di mana Mbah Imam Syuhodo sengaja diundang, PB IV dibikin terkagum-kagum dengan keilmuwan agamanya. Ia pun diminta PB IV untuk menjadi guru pribadinya. Maka kemudian Mbah Imam Syuhodo menjadi guru spiritual raja.

“Dan mulai saat itulah di antara keduanya resmi terjalin hubungan guru dan murid,” tulis Khamami Zada dan Mujiburrahman dalam Intelektualisme Pesantren, Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Pertumbuhan Pesantren (2003). Meski sebagai guru spiritual raja, keraton tidak membatasi aktifitas keagamaan Mbah Imam Syuhodo.

Ia tetap melakukan dakwah ke masyarakat umum. Pada tahun 1700 saat Mbah Imam Syuhodo menginjak usia 45 tahun, ia diminta mendirikan pondok pesantren oleh gurunya. Lokasinya berupa kawasan hutan di wilayah Wonorejo. PB IV yang mengetahui hal itu, memberinya restu.

Bantuan pun diberikan. Mulai penyangga tiang, tiang, kubah, mimbar dan lampu katrol. Sebab di lokasi itu Mbah Imam Syuhodo juga mendirikan sebuah masjid. Dikutip dari radarsolo.jawapos.com, Masjid Agung Imam Syuhodo dibangun Kiai Imam Syuhodo Apil Qur’an, yakni seorang wedono perdikan di masa pemerintahan raja Keraton Kasunanan Surakarta Pakubuwono (PB) IV.

Mbah Imam Syuhodo memiliki tiga orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Putra sulungnya yang bernama Kiai Imam Suhodo Som yang kemudian melanjutkan perjuangannya sebagai pengasuh pesantren di Wonorejo. Sedangkan dua putranya yang lain menjabat Demang di Pingit, Karanganyar dan Demang di Pilang, Sragen. Sementara putri satu satunya menikah dengan seorang kiai di Bekonang dan dikenal sebagai Nyai Guru.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: