Nasihat Ning Jazil Kautsar: Tertawa Lebay Bisa Mematikan Hati

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Gus Kautsar dan keluarga, Ning Jazilah (kanan, hijab cream) beserta kedua anaknya /Foto: instagram-@teras.gubuk

Ning Jazil itu romantis. Itu yang dirasakan para muhibbinnya (pecintanya) yang bertebaran di media sosial. “Pada dasarnya keberadaan kami berdua di sini memang untuk berkhidmah kepada para masyayikh dan pondok pesantren,” tulis akun instagram @zil_hb dalam postingan video dan narasi pada 14 November 2021.

Akun instagram @zil_hb merupakan akun milik Jazilah Annahdliyah atau banyak orang memanggil Ning Jazil. Dalam rekaman video pendek itu, ning Jazil sedang duduk bersebelahan dengan Gus Kautsar. Keduanya bercakap gayeng, hangat.

“Tujuan pertama perjodohan kami memang untuk itu. Bukan sekedar perjodohan namun kisah kami memiliki sejarah dan berhubungan erat dengan para sesepuh-sesepuh kami,” lanjutnya.

“Alhamdulillah barokah dari hikmah itulah menjadikan rumah tangga kami mampu bertahan dengan baik hingga saat ini. Doakan kami selalu ya teman-teman. Semoga dimampukan untuk terus berjuang bersama-sama ..ila yaumil ahir. Amin,” imbuhnya.

Respons dari para muhibbin seketika berloncatan. “Duh niiing….romantisnya melebihi novel dan film manapun iniii. Adem ayem tentrem selama lamanya niiing,” tulis akun @khilma_anis. Ning Jazil merupakan istri KH Muhammad Abdurrahman Kautsar atau Gus Kautsar, ulama muda yang juga pengasuh Ponpes Al Falah Mojo, Kediri.

Serupa  Gus Kautsar suaminya, Ning Jazil juga populer di media sosial. Bedanya unggahan kata-kata Ning Jazil lebih milenial dibanding Gus Kautsar. Setidaknya pada bio akun IGnya ia menyebut diri : Ibu (agak) muda dari 2 anak sholih/hah (amin), happy wife yang hobi berteman dengan tanaman. Setiap Ning Jazil ngaji dan diunggah di akun medsos, followernya juga seketika mengikuti. Mereka mendengarkan, menyimak.

Begitu juga dengan quote-quotenya yang rajin ia unggah di lini masa.  Misalnya soal rumah. Ning Jazil memaknai dengan rangkaian kata puitis. Ia mengartikan rumah bukan sekadar bangunan tempat tinggal. Tapi tempat yang mampu menciptakan rasa nyaman, rasa hangat, sekaligus kebahagiaan dalam hati.

“Rumah itu bukan hanya sebuah bangunan yang ditempati. Rumah memiliki makna yang lebih dalam, seperti aku mengartikan sebuah rumah sebagai suatu hal yang bisa menciptakan kenyamanan, kehangatan dan kebahagiaan dalam hati,” begitu katanya yang diposting ulang akun instagram @brandalantobat.

Sebanyak 736 netizen langsung memberi jejak “like”. Di foto itu Ning Jazil sedang bersantai di atas kursi abu-abu. Gus Kautsar yang bersarung dipadu kopiah hitam, duduk di sisinya. Sementara di bawah kaki mereka bertimpuh seorang remaja putri dengan sebelah kirinya bersila bocah laki-laki. Keduanya putra-putri Ning Jazil dan Gus Kautsar.

Di setiap postingannya, tutur kata Ning Jazil senantiasa terdengar lembut, teduh, namun serius. Seperti ngaji tentang bab “Tertawa yang dilarang”. Dengan didahului sederet dalil, ia menyampaikan bila tertawa berlebihan bisa mematikan hati. “Dawuh kanjeng nabi (Muhammad SAW), tanda-tanda matinya hati adalah tidak merasa bersalah ketika berdosa, tidak takut meninggalkan kewajiban, tidak takut melakukan maksiat,” katanya.

Begitu juga dengan guyonan di dalam masjid, mushola atau langgar, yang bisa mengakibatkan gelap di alam kubur. “Jadi kalau di masjid jangan guyon,” katanya. “Dawuh kanjeng nabi, barang siapa yang tertawa terbahak-bahak, kakehan guyon (kebanyakan bercanda), rame karepe dewe (ramai sendiri), juga bisa mematikan satu bab dalam ilmu kamu”.

Ning Jazil mengatakan tidak anti bercanda. Ia tidak melarang hal-hal yang bersifat jenaka, namun semua harus sesuai takaran. Jangan sampai tertawa terbahak-bahak, atau bergembira yang lebay justru jatuhnya merugikan orang lain dan dosa. Allah SWT akan melaknatnya.

“Dawuhe kanjeng nabi barang siapa yang tertawa terbahak-bahak itu bisa berpotensi mengurangi kecerdasan, kakehan guyon (kebanyakan guyon) bisa mengurangi kecerdasan,” terangnya. “Misalnya pagi diterangkan bab thoharoh (bersuci), bisa lali (lupa),” tambahnya.

Ning Jazil juga menambahkan, barang siapa yang banyak tertawanya, ia berpotensi melakukan dosa atau kesalahan. Tertawa berlebihan tanpa disadari bisa mengganggu orang lain yang sedang beristirahat.  Kata-kata yang terlontar juga berpotensi menyakiti hati orang lain. Di sisi lain, tertawa di luar takaran juga akan memerosotkan wibawa. “Begitu dawuh kanjeng nabi,” paparnya

Kendati demikian dalam postingannya yang lain Ning Jazil juga mengatakan,”Tanpa sadar kita sering kali memaksa orang lain tampak sempurna di mata kita, hingga kita lupa bercermin dan memperbaiki diri”.

Dzuriyah Pangeran Benowo

Di media sosial banyak yang memanggil Ning Jazil. Tapi di lingkungan pesantren dan keluarga, tidak sedikit yang lebih suka menyebut Ning Anna. Ning Anna atau Ning Jazil merupakan putri almarhum KH Abdul Hamid Baidlowi, yang juga sekaligus keponakan almarhum Mbah Moen (KH Maimun Zubair), Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Kiai Abdul Hamid Baidlowi merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Wahdah Lasem. Kiai Abdul Hamid yang wafat 15 Juni 2014 adalah putra KH Baidlowi Lasem. Yakni salah seorang pendiri NU, Raisul Akbar Thariqah NU se-Indonesia dan sekaligus pencetus gagasan status Presiden Soekarno sebagai “Waliyyul Amri ad-Dhoruri bis Syaukah”.

Bila ditarik lebih ke atas, silsilah dzuriyahnya akan sampai pada  Ki Joyotirto, Mbah Sambu dan Pangeran Benowo, putra Jaka Tingkir atau Sultan Pajang Hadiwijaya. Kiai Abdul Hamid tercatat pernah menjabat sebagai DPA (Dewan Pertimbangan Agung) periode 1998-2004. Pernikahan Kiai Abdul Hamid dengan Ning Jamilah, putri Kiai Kholil, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum, Baureno, Bojonegoro,  melahirkan sejumlah putra dan putri.

Kiai Abdul Hamid berbesanan dengan sejumlah pengasuh pondok pesantren. Diantaranya Ponpes Mranggen, Demak Jawa Tengah, kemudian berbesan dengan Kiai Chudori Ponpes Magelang, Jawa Tengah dan Ponpes Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur yakni menikahkan Ning Jazil, putrinya dengan Gus Kautsar, putra KH Nurul Huda Djazuli.

Pada 18 Desember 2021, para dzuriyah Kiai Baidlowi Lasem berkumpul di kediaman KH Abdul Hakim, Surabaya. Kiai Abdul Hakim merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Sebanyak 26.295 warganet langsung memberikan likenya dan ratusan diantaranya memberikan komentar positifnya.

“Alhamdulliah, akhirnya setelah tertunda karena pademi acara pertemuan Bani Baidlowi terlaksana juga,” tulis Ning Jazil. “Semoga silaturahmi ini terus terjalin harmonis agar bisa saling menguatkan dalam meneruskan perjuangan para sesepuh-sesepuh kami. Amin yaa robbal alamin,” demikian untaian kata doa Ning Jazil.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: