Nasihat Mbah Mahrus Lirboyo: Ngajarlah Ngaji, Kalau Nanti Tak Bisa Makan, Kethoken Kupingku!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Kyai Mahrus Aly /Foto: id.wikipedia.org

Salah satu sisi kekiaian terpenting dari Kiai Mahrus Aly (8 Februari 1906–26 Mei 1985) adalah seorang ulama pengkaji kitab kuning yang mumpuni. Mbah Mahrus tekun mendalami kitab kuning bersama santri-santrinya. Hari-hari Mbah Mahrus nyaris habis hanya untuk mendalami kitab-kitab.

Mbah Mahrus merupakan pelanjut tongkat estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Setelah KH Marzuqi Dahlan wafat (wafat tahun 1975), ia menerima amanah sebagai pimpinan pesantren. Mbah Mahrus dikenal begitu mendalami kitab Mughni Labib. Kitab Mughni Labib merupakan kitab nahwu terbesar karya Syekh Ibnu Hisyam al-Anshari.

Ibnu Hisyam yang bergelar Jamaluddin lahir di Kairo, Timur Tengah 708 Hijriyah atau 1306 Masehi. Ucapan Ibnu Hisyam yang terkenal : “Siapa pun yang bersabar dalam menuntut ilmu, ia akan menggapai pencapaian. Siapa pun yang meminang kebaikan, hendaklah bersabar dalam pengorbanan. Siapa pun yang tidak menundukkan nafsunya dalam menggapai sesuatu yang mulia, maka ia akan hidup lama sebagai orang yang hina”.

Mbah Mahrus merupakan menantu Mbah Manab atau Kiai Abdul Karim pendiri Ponpes Lirboyo. Ia juga tekun mendalami kitab Uqudul Juman (Kitab balaghah). Kitab syarah uqudul juman adalah buah karya Al Syekh Al Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar Al Suyuthi. Kitab uqudul juman menjelaskan tentang ilmu maani dan ilmu bayan yang menjadi penjelasan ilmu balaghah (tata bahasa arab).

Begitu juga dengan kitab Ghayatul Wushul (Kitab ushul fiqh), Mbah Mahrus mendarasnya berulang-ulang, seolah tak pernah merasa puas. Ghayatul wushul merupakan karya Syekh Islam Zakaria al-Anshari. Seorang ulama besar madzhab Syafii yang lahir di Kairo 826 Hijriah. Kitab Ghayatul Wushul terkenal sebagai kitab ushul fiqh yang sulit dipahami.

Isinya tentang berbagai permasalahan berat yang disampaikan dengan bahasa singkat dan padat. Termasuk dengan kitab Fathul Wahhab (kitab fiqih). Mbah Mahrus selalu mendarasnya. Di dunia pesantren kitab Fathul Wahhab dikenal sebagai salah satu dari kitab “trio fathu”. Yakni Fathul Al-Qorib karya Ibnu Qosim al-Ghozi, Fathul al- Muin karya Zainuddin al-Malibari dan Fathul Wahhab karya Zakariyya al-Anshori.

Pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, Mbah Mahrus memiliki peranan yang tidak kecil. Ia mengirimkan santri Lirboyo untuk bertempur di medan laga, mengusir penjajah Inggris dan Belanda. Ada sebanyak 97 santri pilihan yang ia perintah untuk angkat senjata. Kiprahnya di jam’iyah (organisasi) Nahdlatul Ulama (NU) juga besar.

Pada tahun 1958 Mbah Mahrus mendapat amanah sebagai Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Di PBNU ia juga diamanahi sebagai Mustasyar. Setiap Mbah Mahrus berdawuh, umat Islam khususnya para santri nahdliyin, selalu mendengarnya. Dikutip dari akun facebook Lirboyo republik santri, ada sejumlah mauidhoh (nasihat) Mbah Mahrus yang sampai sekarang terus diingat baik.

Nasihat mulai perihal berumah tangga, menjadi pemimpin, menimba ilmu, hingga bagaimana hidup mulia di dunia dan akhirat. Soal rumah tangga, Mbah Mahrus dawuh, “Kalau orang berumah tangga ingin sukses, kuncinya menghormati istri”. Soal bagaimana hidup mulia Mbah Mahrus memberi nasihat, “Orang kalau ingin hidup mulia, hormati orang tua, khususnya ibu”.

Kemudian kepada setiap pemimpin, Mbah Mahrus memberi nasihat untuk menghindari dua hal. Apa itu?, pertama tidak mata duitan atau berlebihan mencintai materi. Kedua tidak tergoda dengan perempuan. “Kalau bisa bertahan dari dua hal ini, Insyaallah kamu bakal selamat,“ pesannya. Nasihat berikutnya terkait dengan perjuangan dan kesuksesan.

Mbah Mahrus mencontohkan Nabi Sulaiman sukses setelah melalui perjuangan 90 tahun. Sedangkan Nabi Nuh mencapai sukses setelah berjuang 900 tahun. Namun yang mendapat sebutan ulul azmi dalam Al- Qur’an adalah Nabi Nuh. “Ini menunjukan perjuangan dilihat dari kesulitan, bukan dari jumlah murid”. Mengenai ilmu, Mbah Mahrus memberi nasihat untuk selalu meriyadlohi (tirakat). Karena ilmu yang diriyadlohi dan tidak, kata Mbah Mahrus hasilnya berbeda.

“Riyadloh yang paling utama adalah istiqomah,“ begitu pesan Mbah Mahrus. Melalui ceritanya, Mbah Mahrus secara tidak langsung menyampaikan pesan akhirat lebih penting dari dunia. Ia mengatakan dulu waktu di pondok tidak pernah membayangkan menjadi kiai. Tidak pernah membayangkan akan menjadi orang kaya.

Menjadi orang mulia secara duniawi, bagi Mbah Mahrus justru menakutkan. “Jangan-jangan bagian saya ini saja. Di akhirat tidak dapat bagian apa-apa,” katanya. Mbah Mahrus juga tidak lelah meminta santri-santrinya untuk senantiasa mengamalkan ilmu yang diperoleh di pesantren, khususnya mengajar ngaji. “Ngajarlah Ngaji. Kalau nanti kamu tidak bisa makan, ketho’en kupingku (Potong kupingku),“ pesan Mbah Mahrus.

Sejak Kecil dari Pesantren ke Pesantren

Pada hari Senin tahun 1954, Mbah Manab atau KH Abdul Karim, pendiri Ponpes Lirboyo Kediri, wafat. Dalam buku “Napak Tilas Masyayikh, Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura” menyebutkan, di dekat liang lahat yang berada di sebelah barat masjid Lirboyo, berdiri Mbah Mahrus Aly, Mbah Marzuki Dahlan dan Mbah Ahmad Hafizh Abdullah.

Mbah Mahrus Aly dan Mbah Marzuki Dahlan merupakan menantu Mbah Manab. Sedangkan Mbah Ahmad Hafizh adalah cucu tertua Mbah Manab. Dalam prosesi pemakaman itu, pembacaan talqin dilakukan KH Wahab Hasbullah, Rais Am Syuriah PBNU yang juga sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas Jombang.

Sepeninggal Mbah Manab, kepemimpinan pesantren Lirboyo dilanjutkan Mbah Marzuki Dahlan hingga tahun 1975. Setelah Mbah Marzuki wafat, Mbah Mahrus yang menggantikan estafet kepemimpinan pesantren Lirboyo. Mbah Mahrus Aly merupakan putra bungsu Kiai Ali dan Nyai Hasinah, yang lahir 8 Februari 1906 di Cirebon, Jawa Barat.

Mbah Mahrus mencicipi kehidupan pesantren sejak kecil. Ia mulai belajar ngaji di surau pesantren di mana ayahnya dan kakak kandungnya, yakni Kiai Afifi, yang langsung menggemblengnya. Menginjak usia remaja 18 tahun, Mbah Mahrus nyantri di Pesantren Panggung, Tegal Jawa Tengah. Pengasuh pondok yang bernama Kiai Muhlas, masih kakak iparnya.

Di Tegal inilah, Mbah Mahrus mulai memperlihatkan minatnya yang dalam terhadap ilmu nahwu. Mbah Mahrus juga sempat belajar bela diri pencak silat kepada Kiai Balya, Cirebon. Pada tahun 1929, ia giliran nyantri di Pesantren Kasingan, Rembang Jawa Tengah. Di pesantren yang diasuh Kiai Kholil Harun, Mbah Mahrus nyantri selama lima tahun.

Pada tahun 1936 Mbah Mahrus mulai nyantri di Ponpes Lirboyo Kediri. di Lirboyo ia didapuk sebagai pengurus pondok sekaligus mengajar sebagai guru. Di setiap sela waktunya, Mbah Mahrus juga menyempatkan mondok di Pesantren Tebuireng Jombang, Pesantren Watucongol, Magelang, Pesantren Langitan Tuban, dan Pesantren Sarang Rembang.

Sejak masih santri, Mbah Mahrus terkenal sebagai santri yang tidak pernah letih mengaji. Tiap memiliki waktu senggang selalu ia gunakan untuk tabarukan dan mengaji di pesantren lain. Mbah Mahrus Aly menikah dengan Nyai Zainab, putri Mbah Manab dan dikaruniai sejumlah putra dan putri.

Mbah Mahrus merupakan perintis berdirinya Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri pada tahun 1966. Setelah menjalani perawatan di rumah sakit Dr Soetomo Surabaya, pada 26 Mei 1985 Mbah Mahrus Aly wafat. Mbah Mahrus meninggal dunia pada usia 79 tahun.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: