Moloekatan Gus Miek, Gus Thuba: Kita Semua Masih Jauh dari Allah SWT

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Gus Thuba /Foto: instagram: @moloekatan_pacitan

Gus Thuba duduk bersila. Di sampingnya sejumlah orang duduk bersimpuh dengan takzim. Beberapa orang mengambil tempat di belakangnya. Rambut ikal Gus Thuba yang gondrong tertutup peci hitam.

Peci berukuran tinggi itu sepertinya menjadi ciri khasnya. Posisinya ambles di bagian depan. Malam itu Gus Thuba mengenakan kemeja lengan panjang warna merah dengan kancing terbuka. Terlihat kaos oblong hitam polos melekat di dalamnya.

Ia juga membiarkan cambangnya tidak tercukur. Agus Thuba Topo Broto Maneges sedang mengimami syiiran Molekatan Dzikrul Ghofilin Gus Miek. Sambil melafal syiiran, kepalanya terus menunduk. Suaranya tebal.

Pada nada-nada tinggi, terdengar serak. Banyak yang menyamakan suara Gus Thuba dengan almarhum KH Hamim Jazuli atau Gus Miek, kakeknya. “Suarane wibawane gus miek muda (Suaranya, wibawanya Gus Miek muda) ,” tulis salah satu akun di channel youtube yt.

“Apa itu dzikrul ghofilin?,” tanya Gus Thuba tiba-tiba di depan para jamaah. Dzikrul ghofilin merupakan aktifitas dzikir atau wirid dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Nama dzikrul ghofilin mengutip dari Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 172 dan 205. Di awal-awal, Gus Miek selaku mursyid tunggal dzikrul ghofilin melakukan wirid dengan membaca Al-Fatihah sebanyak 100 kali setiap hari setelah salat.

Kemudian dalam perjalanannya bacaan Al-Fatihah tersebut dipadukan dengan bacaan lain, seperti Asmaul Husna, Ayat Kursi, Istighfar, Shalawat dan Tahlil.

“Proses berjalannya naskah dzikrul ghofilin hingga mencapai proses cetak membutuhkan waktu sangat panjang, yakni dari 1971 sampai 1973,” tulis Muhamad Nurul Ibad dalam buku “Perjalanan dan Ajaran Gus Miek”.

Sejumlah sumber menyebut, dzikrul ghofilin dirumuskan tiga orang kiai. Yakni Kiai Abdul Hamid bin Abdullah Pasuruan, Kiai Achmad Siddiq Jember, dan Kiai Hamim Jazuli (Gus Miek) Kediri.

Inti dari ajaran wirid dzikrul ghofilin adalah mengajak manusia untuk selalu ingat kepada Allah SWT. Sebab lupa sudah menjadi sifat relatif manusia.

Gus Thuba mengatakan, masih banyak orang yang belum memahami makna dzikrul ghofilin. Intinya dzikrul ghofilin adalah upaya mencari pegangan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebab selama ini, kata dia dirinya dan semua yang hadir di majelis taklim, masih jauh dari Allah SWT. “Ngemuti kulo dan panjenengan tiyang ingkang taksih tebih kaleh Alloh (Teringat kalau saya dan anda semua adalah manusia yang masih jauh dengan Allah SWT),” kata Gus Thuba

Kersane gadah kapital. Supados mbenjing mati saget khusnul khotimah. (Supaya punya modal. Supaya kalau meninggal dunia nanti bisa khusnul khotimah),” tambahnya.

Gus Thuba juga mengatakan kalau pengamal wirid dzikrul ghofilin harus memiliki keyakinan dan kemantapan hati. Sebagai makhluk harus senantiasa merasa jauh dari Allah SWT dan karena itu terus berusaha mendekatkan hati.

Sebagai makhluk harus menyingkirkan jiwa keakuan dan terus merasa banyak dosa dan salah. Untuk itu terus berusaha mendekat kepada Allah SWT sekaligus meminta ampunannya. Karenanya para pengamal dzikrul ghofilin bukan sekedar berburu ganjaran pahala.

Nyedekke ati dateng pengeran. Kulo kaliyan panjenengan punika tiyang ingkang taksih tebih saking pengeran. Solih mawon taksih tebih. (Mendekatkan hati kepada Allah SWT. Saya dan kalian semua adalah manusia yang masih jauh dengan Allah SWT. Bahkan soleh saja masih jauh),” ungkapnya.

Di media sosial, nama Gus Thuba lagi moncer. Tidak hanya suara. Banyak akun yang menanggapi cara dakwah Gus Thuba yang menyerupai gaya dakwah Gus Miek, kakeknya. “Pembawaan syiirnya muirip si Mbah yai Miek,” tulis akun lain. “Subhalllah semoga terus bisa istiqomah” dan “Mugi barokah dzikrul ghofilin”.

Tidak berhenti di situ. Para muhibbin yang bertebaran di media sosial juga banyak mengunggah foto Gus Thuba yang diikuti poster berisi tausiyah. Diantaranya , “Di saat istri marah saja kita sudah bingung kenapa di saat Tuhan marah kita biasa-biasa saja?”. Di bawah kalimat yang bersifat quote itu tertulis : dawuh Gus Thuba.

Kemudian ada lagi: Akeh menungso kokehan ilmu kurang amal, menang ilmu kalah ibadah (banyak manusia kelebihan ilmu tapi kurang beramal, menang ilmu tapi ibadah kalah).

“Mengharap surga tanpa tindakan adalah dosa”. Pengungah kata-kata Gus Thuba itu adalah akun instagram @moloekatan_gusmiek.

Seolah tak mau kalah. Akun @moloekatan_banyuwangi mengunggah petuah Gus Thuba lainya, yakni, “ Keseimbangan antara roja’ (berharap rohmat) kepada Allah, dan khouf (takut) kepada alloh , harus seimbang, karena jika berat sebelah salah satunya akan berakibat fatal”.

Gus Thuba dalam tausiyahnya juga mempertegas seperti apa sikap manusia di hadapan sang khalik. “Merasa hina adalah hal paling mulia di hadapanNya,” kata Gus Thuba. “Ingat akan salah dan dosa aja tidak, apalagi ingat tuhan?,” tambahnya.

Dzikrul Ghofilin Moloekatan Gus Miek

Moloekatan merupakan terminologi kuno yang kerap dipakai Gus Miek untuk menyebut ibadah tirakat, ibadah yang murni atau suluk, yakni ibadah khusus yang mengikat dan mengangkat masalah dunia dan akhirat.

Gus Thuba melanjutkan perjuangan Gus Miek dalam dakwah Islam dengan memakai istilah Moloekatan Dzikrul Ghofilin Gus Miek. Gus Thuba merupakan salah satu dari empat cucu Gus Miek.

Gus Thuba adalah putra dari Kiai Tijani Robert Saifunnawas atau akrab dipanggil Gus Robert. Gus Robert merupakan putra ketiga Gus Miek dari enam bersaudara.

Bila ditarik lebih ke atas, Gus Thuba merupakan dzuriyah Raden Muhammad Usman. Dari Raden Muhammad Usman yang merupakan seorang penghulu, lahir Kiai Ahmad Djazuli Usman, pendiri Ponpes Al Falah, Ploso Kediri.

Pernikahan Kiai Djazuli Usman dengan Nyai Rodliyah melahirkan lima orang anak, di mana Gus Miek berada pada urutan ketiga. Dari pihak ibunya, Gus Thuba merupakan cucu Kiai Ahmad Siddiq Jember.

Saat ini didampingi Gus Robert, ayahnya, Gus Thuba memimpin barisan jam’iyah Dzikrul Ghofilin Moloekatan Gus Miek. Sebelum lahir dzikrul ghofilin, dalam sejarahnya Gus Miek lebih dulu mendirikan Jam’iyah Lailiyah atau Jamaah Mujahadah Lailiyah pada tahun 1962.

“Gus Miek pernah menyatakan, salah satu alasan dia mendirikan Jam’iyah Lailiyah adalah karena selama ini dia menangis melihat berbagai perpecahan yang terjadi di antara pengikut tarekat,” tulis Muhamad Nurul Ibad dalam buku “Perjalanan dan Ajaran Gus Miek”.

Dari Jam’iyah Lailiyah kemudian dalam perjalanannya lahir dzikrul ghofilin. Gus Miek menciptakan ramuan amalan yang mampu mewadahi dan bisa dilaksanakan oleh berbagai pengikut tarekat dan berbagai umat, baik yang sudah ikut tarekat atau belum.

Amalan Gus Miek juga diperuntukkan bagi orang yang masih awam, orang alim dan pelaku maksiat. Dalam tulisannya yang berjudul “Dzikrul Ghofilin untuk orang-orang yang ingin dikumpulkan dengan para wali dan shalihin”, Gus Miek mengatakan amalannya sangat sederhana dalam praktik dan pengamalannya.

Amalannya juga sangat sederhana dalam menjanjikan apa yang hendak didapat oleh para pengamalnya. “Yakni berkumpul dengan para wali dan orang-orang saleh, baik di dunia maupun di akhirat”.

Gus Miek juga pernah menyatakan, kelak Jantiko dan Dzikrul Ghofilin bisa menjadi tempat duduk-duduk santai dan hiburan bagi anak dan cucu kita. Dzikrul Ghofilin kini berganti nama Moloekatan Gus Miek atau Dzikrul Ghofilin Moloekatan Gus Miek.

Dari berbagai sumber yang dihimpun, pengubahan nama tersebut bertujuan untuk memperjelas kemurnian dan pakem amaliyah Gus Miek. Di Jam’iyah ini, Gus Robert bertindak penanggung jawab dan Gus Thuba sebagai wakil penanggung jawab.

Gus Thuba dalam tausiyahnya mengingatkan pada ajaran-ajaran Gus Miek. Gus Thuba menyatakan, “ono ngaji ilmu, ono ngaji laku (ada mengaji ilmu dan mengaji atau perbuatan).

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: