Kunjungi Anies Baswedan, Cucu Pendiri NU “Ngobrol” Transformasi Pendidikan dan Pondok Pesantren

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Anies Baswedan saat menerima kunjungan Gus Salam di Balai Kota DKI Jakarta /Foto: kempalan.com

santrikertonyonoSuasana hangat menjelang peringatan harlah 100 tahun Nahdlatul Ulama sudah mulai atmosfernya di beberapa wilayah, khususnya di Jawa Timur. Tak hanya satu atau dua kegiatan, direncanakan akan banyak rangkaian acara yang cukup meriah dan khidmat untuk menyambut hari penting salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.

Salah satu kegiatan yang telah terselenggarakan untuk menyambut acara besar tersebut ada Mujahadah Kubro yang belum lama ini digelar di Masjid dan makam Kiai Muhammad Besari. Tepatnya terletak di Desa Tegalsari, Jetis, Ponorogo pada Minggu malam.

Acara ini pun berhasil menarik simpati ribuan orang dari berbagai daerah, tak mengherankan jika lokasi acara di serbu warga Nahdliyin se Jawa Timur dan beberapa daerah di sekitarnya. Sebagai salah satu rangkaian peringatan Satu Abad NU, panitia mengundang sebanyak 11 ulama pesantren sepuh yang hadir untuk memimpin doa bersama.

Beberapa kiai yang tampak hadir diantaranya seperti Rais Aam PBNU KH. Miftahul Akhyar, Rais Syuriah PWNU Jatim KH. Anwar Mansur, Ketua PWNU Jatim KH. Marzuki Mustamar, KH, Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali), Ketua MUI Jatim KH. Mutawakkil Alallah, serta KH. Atho’illah Anwar Lirboyo.

KH. Abdussalam Shohib yang tak lain merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang ini didapuk menjadi ketua panitia peringatan Satu Abad NU menjelaskan bahwa Mujahadah Kubro merupakan rangkaian pembuka dari seluruh rangkaian acara yang akan dilaksanakan oleh PWNU Jawa Timur.

Sosok kiai yang akrab disapa Gus Salam ini bahkan menegaskan, seluruh rangkaian kegiatan hingga menuju puncak acara akan banyak mengundang massa dari berbagai daerah. Acara ini juga murni doa bersama dan ceramah agama sebagai upaya batiniah kalangan Nahdliyin agar bangsa segera bangkit dari pandemi.

Terlepas dari rentetan acara yang telah disiapkan, pemilihan Desa Tegalsari sebagai tempat acara pembuka bukanlah tanpa alasan. Cucu Rais Aam PBNU KH. Bisri Syansuri Denanyar tersebut menyebut bahwa adanya keterikatan sejarah yang kuat antara Nahdlatul Ulama dengan Kiai Muhammad Besari.

Gus Miftah Jadi Pusat Atensi Para Nahdliyin

Kegiatan pembuka Haul Kubro ke 275 Ki Ageng Muhammad Besari yang telah digelar selama empat hari berturut tepatnya pada tanggal 11 hingga 14 Juni 2022 ini merupakan hajat besar bagi warga Nahdlatul Ulama. Terlebih untuk masyarakat Tegalsari sebagai tuan rumah, acara ini tentu dikemas dengan cukup besar namun tak meninggalkan esensi dari kegiatan itu sendiri.

Berbagai kegiatan mulai dari pertunjukan kesenian tradisional, karnaval napak tilas, pasar malam hingga ceramah selalu berhasil mencuri atensi massa dari beberapa daerah di sekitar Ponorogo. Tak hanya para Nadliyin yang bergotong royong mengusung kegiatan ini, bahkan pemerintah kabupaten pun ikut memberikan dukungannya.

Pada moment khidmat dengan nuansa yang penuh keberkahan ini, keluarga besar Tegalsari mengungkapkan harapan dan keinginannya terhadap Anies Baswedan agar bisa hadir di tengah-tengah acara. Namun, nampaknya rejeki bicara lain, orang nomor satu di DKI Jakarta itu masih belum berkesempatan untuk berkumpul dengan ribuan Nahdliyin di acara tersebut.

Dengan mengangkat tema “NU Membangun Sanad Jamiyyah, Menyambung Sanad Keilmuan dan Perjuangan”. Mujahadah Kubro juga menghadirkan salah satu penceramah kondang yang namanya sudah dikenal di hampir seluruh Indonesia, siapa lagi kalau bukan Gus Miftah.

Sosok Gus Miftah di mata jamaahnya memang memiliki karismatik yang tinggi. Memiliki nama lengkap Miftah Maulana Habiburrahman, Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman Yogyakarta ini mempunyai gaya yang khas saat membawakan ceramahnya.

Di kalangan masyarakat, Gus Miftah ini memang diakui mempunyai gaya dakwah yang cukup unik. Tak seperti kiai atau ulama yang membawakan ceramah pada umumnya, gaya Gus Miftah selalu menjadi berhasil menjadi sorotan. Tak hanya selalu memakai kaca mata hitam, kiai berambut panjang ini juga kerapkali memakai blangkon dan membawa tongkat kayu.

Terlebih, latar belakang Gus Miftah yang merupakan keturunan dari Ki Ageng secara tidak langsung memberikan legitimasi yang semakin kuat di tanah Mataraman. Jika bisa ditarik garis kesimpulan, hal itu menjadi salah satu alasan yang membuat penceramah kondang Gus Miftah selalu dibanjiri jamaah Nahdlatul Ulama.

Selama berceramah, Gus Miftah tak lupa melempar sedikit bumbu-bumbu humor kepada para jamaahnya. Tak jarang isu yang diangkat menjadi bahan ceramah merupakan kegelisahan-kegelisahan yang dirasakan orang orang-orang secara umum, tak ketinggalan Gus Miftah selalu menyerukan shalawat di sela-sela ceramahnya.

Namun, ada poin menarik yang bisa diambil dari ceramah Gus Miftah di acara Mujahadah Kubro ini. Dimana, Gus Miftah “nyentil” salah seorang anak politikus yang mengaku sebagai keturunan Ki Ageng Besari. Hal itupun lantas membuat Gus Miftah tak sepakat.

Gus Miftah sendiri langsung menegaskan bahwa salah seorang anak politikus ini secara jelas bukanlah satu garis keturunan dengan Ki Ageng Besari, namun ia merupakan keturunan dari Kiai Basri yang tentu secara penyebutan nama sudah berbeda, serta runtutan silsilah yang berbeda cukup jauh.

Terlepas dari hal itu semua, Gus Miftah tentunya tak berdiri sendiri untuk membuat naskah ceramah tersebut. Meskipun terkesan cukup sensitif, tapi Gus Miftah berani menyuarakan fakta yang sebelumnya telah disiapkan oleh Mbah Icuk. Mbah Icuk sendiri tak lain adalah guru dari Gus Miftah serta sosok sepuh yang dihormati di Tegalsari.

Sosok Mbah Icuk memang terkenal sangat cerdas serta mampu membuat atau mengatur konten dan suasana sedemikian rupa. Apa yang dilakukan oleh Mbah Icuk bukanlah untuk ambisi pribadi, namun semata-mata untuk menyelamatkan “nilai” Tegalsari di mata masyarakat dan pemerintahan khususnya.

Secara tersirat, bak seperti moment “perlawanan” keluarga Tegalsari terhadap orang-orang yang terus menerus berusaha mendekat hanya karena kepentingan pribadi. Bahkan, tak sedikit banyak yang melakukan pendekatan politik berkedok “sowan”.

Terkait keikutsertaan Anies Baswedan dalam kegiatan ini, pejabat pemerintah setempat mengaku sangat bersimpati. Tak sedikit yang ingin bertemu secara langsung dengan pria berkacamata tersebut, sekedar bersilaturahmi atau diskusi bersama terkait pembangunan Kota Ponorogo.

Meskipun sudah banyak yang mengincar industrialisasi di bumi Ponorogo, pemerintah bersama masyarakat setempat tetap menginginkan kota reog ini berkembang ke arah kebudayaan dan wisata religius. Mengingat Kota Ponorogo ini mempunyai potensi besar dalam hal aset budaya dan religi.

Pertemuan Anies dengan Gus Salam

Keberangkatan Gus Salam ke Jakarta akhirnya berbuah manis, sesampainya di sana ia di fasilitasi bertemu dengan Anies Baswedan di Balai Kota DKI Jakarta. Kedatangannya pun disambut langsung oleh Anies, saling bersalaman dan menanyakan kabar.

Anies Baswedan memang sosok laki-laki yang hangat dan mudah bergaul dengan siapa pun, senyumnya yang lebar bak ingin menunjukkan bahwa ia sedang bertemu teman lama. Dengan pakaian batik berwarna hijau dan tak lupa kacamatanya, Anies mulai berbincang-bincang santai dengan ketua panitia harlah 100 tahun NU tersebut.

Bukan Anies namanya, jika selama perbincangan ia tak tersenyum. Ini membuat lawan bicaranya yakni Gus Salam semakin nyaman berdiskusi dengan Anies. Gus Salam pun semakin lega menceritakan maksud kedatangannya ke Jakarta. Bahkan terlihat seperti bukan pertemuan dua tokoh penting, mereka membaur satu sama lain dengan hangat.

Tak ingin menyia-nyiakan waktu yang diberikan, Gus Salam pun lantas menjelaskan hulu hingga hilir rangkaian kegiatan harlah 100 tahun NU. Mulai dari kegiatan pembuka Mujahadah Kubro yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Mbah Kiai Hasan Besari di Ponorogo hingga puncak acara pada bulan Februari 2023 mendatang.

Tak hanya perihal harlah NU, Gus Salam juga mengutarakan harapannya agar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bisa memberikan sumbangsih baru dan besar terhadap dunia pendidikan di Indonesia di masa mendatang. Hal itu tak terlepas dari sepak terjang dan pengalaman Anies yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Rektor Universitas Paramadina.

Diskusi ringan dan saling bertukar pikiran tak lepas dari pertemuan dua tokoh ini, tantangan-tantangan pendidikan yang semakin lama semakin besar turut membuat Nahdlatul Ulama mencari strategi ampuh untuk masa-masa yang akan datang.

Hal itupun menjadi poin Gus Salam yang secara langsung meminta Anies Baswedan melakukan transformasi ilmu yang ia dapatkan selama ini ke dunia pendidikan, terlebih pondok pesantren. Tentunya hal ini menjadi angin segar, pendidikan Indonesia cepat atau lambat akan mendapatkan “kemasan dan isi” yang baru.

Selain itu, adik sepupu dari Gus Dur ini juga berharap Anies bisa menjadi salah satu calon pemimpin Indonesia yang akan terus berkomitmen bersama para stakeholder, terkhusus Ulama dan Umaro. Semata-mata satu tujuan, yakni mewujudkan cita-cita Muassis Jamiyah Nahdlatul Ulama.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: