Jalan Terabas Gus Miek Mendekati Allah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
KH Chamim Thohari Djazuli (Gus Miek) Tengah sedang berdoa bersama /Foto: ngopibareng.id

Seorang ulama besar KH Hamim Tohari Djazuli yang lebih dikenali dengan nama Gus Miek, mengungkapkan bahwa jalan menuju Tuhan itu banyak. Tidak tunggal. Dari banyak jalan itu, ada yang bersifat pintas (terabas), yang bisa mengantarkan seseorang lebih cepat untuk dekat dengan Tuhan.

“Kalau kamu belum bisa dekat dengan Allah, hendaknya kamu dekat dengan orang-orang yang dekat dengan Allah,” nasihatnya.

Sebagai jalan terabasnya, hal itu dapat ditempuh dengan mendekati para wali (kekasih) Allah. Dengan begitu, dalam menempuh kehidupan ini dapat menjadi lebih terbimbing.

Di sinilah arti pentingnya bagi generasi anak bangsa masa kini dan mendatang menilik jejak perjalanan penuh perjuangan dan ajaran para ulama besar di Tanah Air. Di antara para ulama besar itu, ada Gus Miek yang dalam berdakwahnya mengembangkan kegiatan yang menyedot keterlibatan masyarakat dengan mengunjungi dari satu makam ke makam lain para wali.

Ia mengajukan konsep dan pedoman hidup yang sangat sederhana dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, yaitu berkumpul dengan para wali dan orang-orang saleh. M. Nurul Ibad, salah seorang pengikut setia Gus Miek, menyebut, sebagai pembimbing umat Gus Miek telah mewariskan sebuah kerangka pemikiran yang sederhana sebagai wujud kepeduliannya kepada para pengikutnya, bisa diterima umat dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan santri dan ulama, orang-orang awam, orang-orang berpendidikan modern, hingga para pelaku maksiat yang ingin bertobat.

Mengutip penjelasan dari buku Suluk Jalan Terabas Gus Miek (2007), Gus Miek mempunyai kerangka berpikir yang diajarkan kepada para pengikutnya yang disebutnya sebagai Jalan Terabas. Jalan itu dirumuskan pada tahun 1964.

Dengan jalan terabas inilah Gus Miek menentukan garis perjuangan dalam membimbing umat menuju jalan kebahagiaan yang sejati. Selain itu, juga mewujudkan tujuan yang sulit diwujudkan orang lain dan oleh ulama pada masanya.

Ada banyak Jalan Terabas yang dilakukan Gus Miek sesuai dengan perjalanan hidupnya. Dan, yang menarik di ketengahkan di sini adalah berkenaan dengan bagaimana Gus Miek menentukan pilihan umat dan mengenai kemaksiatan.

Sejak usia dini Gus Miek telah berbaur dan bergaul dengan dengan berbagai kalangan terlebih dahulu sebelum memulai seruannya. Di samping sering mengunjungi pengajian, Gus Miek juga sering melakukan perjalanan jauh, bergaul dengan para pengemis dan gelandangan, para penjual kopi di pinggir jalan, tukang becak hingga para pemberi jasa hiburan.

Nah, karakter umat dalam menerima seruan kebenaran adalah akan lebih menerima dari orang yang menjadi bagian dari kehidupannya. Orang miskin dan juga para pelaku maksiat, sama sekali tidak akan mau mendengar seruan kebenaran dari orang yang berdiri di seberang dunianya. Adalah sesuatu yang mustahil mengharapkan kedatangan seorang penjudi atau pelacur dalam sebuah majelis pengajian untuk mendengarkan informasi kebenaran.

Maka dapat dimaklumi, ketika Gus Miek dengan Jalan Terabasnya berhasil mengentaskan kalangan penjudi dan bromocorah dari lumpur dosa menju pintu tobat. Praktik yang dilakukan Gus Miek adalah dengan tetap membungkus dirinya dalam kehinaan karena tidak mungkin ditempuh dengan jalan kekiaiannya memasuki tempat perjudian dan diskotik, atau berbaur dengan tukang becak dan penjual kopi di pinggir jalan sehingga mereka merasa bahwa Gus Miek adalah orang biasa yang sama seperti mereka.

Gus Miek dikenal luas di berbagai kalangan masyarakat sebagai seorang yang banyak menerjuni dunia malam ketimbang memberikan bimbingan kepada umat Islam yang telah mapan keimanannya.

Satu hal yang menjadi bagian tugas terpenting seorang pembimbing adalah memerangi kemaksiatan dengan mencegah para pengikutnya melakukan kemaksiatan. Nah, apa yang dilakukan Gus Miek adalah terjun dan mengenali dunia kemaksiatan, dekati dan kenali para pelaku kemaksiatan, dan selanjutnya hancurkan sumber kemaksiatan itu sendiri.

Gus Miek dalam perjalanannya menjaring umat dan menyampaikan kebenaran serta kebahagiaan kepada mereka yang memasuki dunia maksiat. Beberapa kalangan itu seperti tempat perjudian, diskotik, menemui para pemabuk, dan tempat mangkal pekerja seks komersial (PSK).

Jalan Terabas dalam konteks tersebut, bahwa untuk mencegah sesuatu harus mengenal betul sesuatu yang dicegahnya itu. Dengan memasuki tempat maksiat, seseorang dimungkinkan mengetahui berbagai karakter dari sumber maksiat tersebut dan berbagai keburukan yang ditimbulkannya.Sehingga ketika menyampaikan pencegahan akan bersifat total dan benar-benar menguasai.

Dengan memasuki tempat maksiat, berarti datang untuk memainkan bola sebelum membawanya keluar karena tidak mungkin terjadi permainan atau pertarungan bila masing-masing menjaga jarak. Tempat maksiat tak mungkin disajikan di kawasan pelaku kebaikan, demikian juga sebaliknya, pelaku kebaikan tidak mungkin tinggal di kawasan kemaksiatan karena antara keduanya ada kekuatan untuk saling menolak.

Gus Miek yang telah sekian lama memasuki dunia penuh kemaksiatan kemudian memahami berbagai sumber kemaksiatan dalam beragam karakternya untuk kemudian merumuskan sebuah jalan pintas yang lain untuk menghancurkannya. Tentu saja, cara pendekatan yang ditempuh Gus Miek unik dan tidak frontal.

Dalam konteks tersebut, muatan Jalan Terabasnya adalah ketika pelaku kemaksiatan sudah sedemikian dekat dengan orang yang pada akhirnya diketahui sebagai pembimbing, maka tanpa diperintah pelaku kemaksiatan memiliki kesadaran sendiri untuk mengakhiri kemaksiatannya.

Prinsip-Prinsip Jalan Terabas

Dalam buku Suluk Jalan Terabas Gus Miek, disebutkan ada lima prinsip dasar yang harus dikuasai setiap orang yang ingin menerapkan kerangka pemikiran Jalan Terabas. Kelima prinsip dasar ini saling mempengaruhi dan menentukan serta dapat diterapkan dalam berbagai kasus kehidupan.

Pertama, kemampuan membaca potensi diri (terdiri potensi harta, nasab/keturunan, agama, dan kepribadian). Kedua, pentingnya mengerti tujuan (antara lain tentang surga, meraih kedudukan dan kebesaran, ilmu pengetahuan). Ketiga, kemampuan membaca potensi subjek. Keempat, kemampuan membaca potensi sarana (jalan yang ditempuh atau dunia usaha yang dimasuki). Dan kelima, kesiapan dan keberanian mengambil risiko.

Menurut M. Nurul Ibad, kerangka pemikiran Jalan Terabas yang ditempuh dan diajarkan Gus Miek selama ini adalah ajaran yang penting untuk dibaca dan dipelajari oleh siapa saja.

“Sebab yang selama ini kita terima dari pembimbing umat hanyalah sebatas perintah, larangan, dan anjuran yang lebih menekankan aspek tuntutan ketimbang cara mencapai kebahagiaan dalam dan selama hidup,” demikian M. Nurul Ibad.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: