Hobi Menulis, Ini Daftar Kitab yang Ditulis Kiai Ihsan Jampes

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Kiai Ihsan Jampes. Ulama Kediri yang karya kitab kuningnya mendunia Foto: Wikipedia

Pada tahun 1901 masehi, di Jampes lahir seorang ulama besar bernama Kiai Ihsan. Ia merupakan putra pendiri pesantren di Dusun Jampes, Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Ayah dari Kiai Ihsan bernama Kiai Dahlan bin Sholeh. Sedangkan kakeknya bernama Kiai Saleh yang berasal dari Bogor, Jawa Barat.

Dalam Buku yang ditulis KH Abdul Aziz Masyhuri berjudul 99 Kiai Kharismatik Indonesia jilid II (tahun 2020), Kiai Ihsan memiliki nama kecil, Bakri.

Sejak usia belia, ia telah mempunyai kecerdasan pikiran dan ingatan serta daya tangkap yang mengagumkan. Kepintaran yang dimiliki Kiai Ihsan tentu merupakan warisan dari ayahnya, Kiai Dahlan.

Pada tahun 1923, Kiai Dahlan menghadap ke pangkuan Ilahi. Saat itu, Pesantren Jampes dipegang oleh adiknya, Kiai Kholil. Kemudian, sembilan tahun berselang atau 1932, Kiai Ihsan resmi memegang kepemimpinan pesantren tersebut.

Sebagai pengasuh pesantren, Kiai Ihsan tentu memiliki tanggung jawab moral atas santri-santri yang diasuhnya. Ia menghabiskan waktu sehari-harinya untuk muthala’ah, menulis kitab, mengajar dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kegiatan agama.

Kiai Ihsan menulis kitab ketika malam hari, tak ada tamu, duduk di belakang mejanya sembari minum kopi dan merokok hingga waktu menjelang fajar.

Bahkan, kitab-kitab yang ditulis Kiai Ahsan terhitung dalam waktu yang singkat di tangah usianya yang masih relatif muda, yaitu 32 tahun. Ia menulis dalam bahasa Arab, padahal dirinya tak pernah mengenyam pendidikan formal.

Sebelum menjadi pimpinan Pesantren Jampes, yaitu tahun 1930 Kiai Ihsan sudah mulai menulis kitab di bidang falak (astronomi) Tasrih al-Ibarat Syarh Natijat al-Miqat dan sudah pernah diterbitkan.

Kemudian, pada tahun 1932 saat ia menduda dari pernikahan yang keempat, Kiai Ihsan menulis kitab di bidang ilmu tasawuf, yaitu kitab Siraj at-Thalibin syarh Minhaj al-Ghazali. Kitab ini membuat Kiai Ahsan terkenal hingga seantero dunia.

Kitab ini pertama kali diterbikan atas kerja keras dari Salim Nubhan (Penerbit An-Nabhaniyah, Surabaya) oleh penerbit besar Kairo, Mesir, Musthofa al-Babi al-Halabi.

Kitab tersebut dicetak dalam satu jilid yang terdiri dari dua bagian. Juz pertama berisi 419 halaman, sedang yang kedua sebanyak 400 halaman.

Selanjutnya, kitab tersebut diterbitkan pula oleh Dar Al-Fikr, sebuah penerbit besar di Beirut, Lebanon. Dalam terbitan ini, tiap juz dibuat satu jilid. Yang pertama berisi 544 halaman dan jilid kedua 554 halaman.

Imbas beredarnya kitab ciptaan Kiai Ihsan di Indonesia dan beberapa negara, agama Islam kian tersebar di Tanah Air dan sejumlah negara lainnya.

Bahkan, di Amerika Serikat, Kanada , dan Australia, dapat dipastikan kitab Siraj at-Thalibin, tersedia di perpustakaannya sebagai bahan kajian ihwal Islam, khususnya Islam Nusantara.

Tak berhenti sampai di situ, Kiai Ihsan terus kembali menulis lagi sebuah kitab dalam bidang tasawuf pada tahun 1940.

Saat itu, kitab yang ditulisnya diberi judul Manahij al-Imdad yang tak lain adalah syarah atas kita Irsyad al-Ibad karya Syekh Zainuddin al-Malibari. Kitab ini terdiri dari dua jilid, masing-masing berisi 537 halaman dan 561 halaman.

Manahij al-Imdad merupakan kitab yang mengandung tiga pokok ajaran Islam, yaitu keimanan, hukum-hukum syariat dan tasawuf/akhlak. Dalam kitab Manahi al-Imdad, juga berisi berbagai penjelasan tentang keutamaan amal, mauidzah, dan kisah-kisah para sufi.

Karya lainnya adalah sebuah kitab yang diberi judul Irsyad al-Ikwan. Kitab ini membahas tentang minum kopi dan merokok ditinjau dari segi hukum Islam.

Tentunya kitab tersebut layak dijadikan referensi untuk memahami seluk-beluk dan silang pendapat soal rokok agar bisa saling menghargai.

Kegemaran menulis kitab, dalam pandangan Kiai Ihsan, dinilai sebagai rasa tanggung jawab dirinya sebagai ulama dalam mensyiarkan ilmunya kepada para jemaah.

Sehingga, ini membuat nama Kiai Ihsan menjadi harum, tak hanya di dalam negeri, tapi juga di kancah dunia internasional. Sosok Ihsan Jampes sangat dikenal di negeri Arab yang mayoritas penduduknya pemeluk Islam.

Sekitar tahun 1936 hingga 1952, penguasa Mesir saat itu, yakni Raja Faruq mengirim utusannya untuk pergi ke Jampes demi menyampaikan keinginan sang raja yang meminta Kiai Ihsan untuk ikut membantu mengajar di Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir.

Namun sayangnya, tawaran dari Raja Faruq itu ditolak secara halus oleh Kiai Ihsan. Alasan Kiai Ihsan kala itu, dirinya masih ingin mengabdi kepada bangsanya sendiri.

Kiai Ihsan Wafat

Tepat pada hari senin pukul 12 tanggal 25 Dzulhijjah 1371 H atau 16 September 1952, KH Ihsan dipanggil oleh Allah swt untuk selama–lamanya. Kepergiannya diiringi deraian air mata dari para keluarga dan santri yang masih sangat membutuhkan bimbingan dan pendidikan dari Kiai Ihsan.

Jenazahnya dimakamkan pada sore hari itu juga di sebelah makam ayahnya di pemakaman khusus di desa putih yang berjarak 1KM di sebelah selatan Jampes, tempat dimana di situ para keluarga dimakamkan.

Kiai Ihsan meninggal pada usia yang masih belum terlalu tua, yaitu 51 tahun. Namun, yang bersangkutan sudah banyak mewarisi ilmu agama yang amat bermanfaat bagi pemeluk agama Islam di Indonesia maupun dunia.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: