Dahsyatnya Sholawat Nariyyah Gus Shonhaji Blitar

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Sholawat Nariyah bersama Gus Shon, rangkaian peringatan HSN di Kab Blitar /Foto: Aunur Rofiq/BlitarTIMES

Para jamaah Sholawat Nariyyah sudah tahu Gus Shon pasti datang. Karenanya mereka bertahan tidak beranjak dari duduknya, meski malam semakin larut. “Gus Shon akan datang setelah para pedagang kecil puas menjajakan dagangannya,” tutur salah seorang jamaah Sholawat Nariyyah, sebut saja dengan Jefri. “Gus Shon selalu memberi kesempatan para pedagang kecil berjualan dulu,” imbuhnya.

Gus Shon yang dimaksud adalah Gus Shonhaji Nawal Karim Zubaidi. Pimpinan Sholawat Nariyyah Mustaghitsu Al Mughits yang juga pengasuh pondok pesantren Mambaul Hikam, Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. Sejak muncul sekitar tahun 2012, jam’iyah Sholawat Nariyyah Mustaghitsu Al Mughits langsung menyedot perhatian. Banyak jamaah yang mengikuti.

Ke manapun Gus Shon bersholawat diikuti ribuan orang. Begitu juga para pedagang yang kehadirannya selalu mendahului jamaah. Jumlah mereka juga selalu tumpah ruah. Ada yang menjajakan dagangan dengan membuka tenda di pinggir jalan. Yang paling banyak jualan makanan dan minuman. Ada yang berjalan keliling dengan menghampiri setiap jamaah.

Karenanya Gus Shon sengaja menunggu para pedagang puas menjajakan dagangannya. Sebab saat acara sholawat dimulai, semua jamaah akan berkonsentrasi dan tidak ada lagi pedagang yang berkeliling menjajakan dagangannya. “Selain beribadah, dalam sholawat nariyyah secara tidak langsung ada ekonomi kerakyatakan yang berdenyut,” kata Jefri yang juga seorang pedagang.

Para jamaah biasanya mulai berdatangan selepas sholat isya’. Begitu tiba di lokasi mereka langsung mengambil tempat, bersimpuh di atas tikar yang dibawa dari rumah. Banyak juga yang memakai alas kaki plastik dari membeli di lokasi Sholawat Nariyah.

Para jamaah yang hadir kebanyakan sekalian membawa keluarga. Seorang bapak datang beserta anak istrinya. Kemudian ibu-ibu yang mengajak anak perempuannya. Ada juga yang datang berombongan bersama tetangga. Mereka rata-rata berpenampilan dengan pakaian warna putih. Laki-laki berbaju takwa putih. Peci dan sarung yang dikenakan juga berwarna putih.

Jamaah perempuan juga memakai baju dipadu jilbab berkelir serupa. Dipimpin Gus Shon, semuanya mendaras yasin dan sholawat nariyyah langsung. Kemudian berlanjut mendengarkan pengajian (ta’lim) Gus Shon. Tema yang diusung menyangkut persoalan fiqih, muamalah, yakni hal-hal yang banyak terjadi di kehidupan masyarakat. Biasanya Gus Shon menyelipkan materi tasawuf.

Bagi para jamaah, sholawat nariyyah merupakan siraman rohani yang menyejukkan. Mereka mendapat rasa damai sekaligus merasa lebih optimis menjalani hidup. Hal itu yang membuat mereka rutin mengikuti ke mana pun sholawat nariyyah digelar. Intinya mereka merasa lebih kuat menghadapi persoalan duniawi.

“Setiap mengikuti sholawat nariyyah, ada perasaan ayem, nyaman, damai,” tutur Jefri.

Tradisi Pesantren Yang Dibawa ke Luar

Jamaah sholawat nariyyah Mustaghitsu Al Mughits datang dari mana-mana. Bukan hanya warga Kabupaten Blitar, tapi juga banyak dari luar daerah. Mereka juga datang dari berbagai latar belakang sosial. Tidak sedikit yang berasal dari kelompok sosial menengah ke atas. Namun ekonomi menengah ke bawah tetap terbanyak. Ada yang pedagang kaki lima, pedagang bakso keliling, pedagang cilok, petani, buruh tani, kuli bangunan, buruh kandang ayam, dan lain sebagainya.

Semuanya mendengarkan dawuh Gus Shon. “Intinya yang terbesar dari jamaah adalah wong cilik,” tutur salah satu jamaah sholawat nariyah. Shonhaji Nawal Karim Zubaidi merupakan putra almarhum KH Zubaidi Abdul Ghofur, pengasuh pondok pesantren Mambaul Hikam Mantenan Udanawu, Kabupaten Blitar. Gus Shon adalah putra keenam dari tujuh bersaudara.

Ia terbilang ulama muda, namun diikuti banyak jamaah. Lahir pada 27 Agustus 1978, Gus Shon sejak kecil tumbuh di lingkungan pondok pesantren. Sebagaimana saudara-saudaranya, Gus Shon langsung mendapat gemblengan ilmu agama dari orang tuanya yang merupakan ulama terkenal. Selepas menamatkan pendidikan sekolah dasar, ia nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, hingga lulus aliyah (setingkat SMA).

“Begitu tamat, Gus Shon langsung berkhidmad mengajar di Lirboyo,” tutur sejumlah sumber di lingkungan jamaah sholawat nariyyah. Pada tahun 2002, KH Habibullah Zaini, Kepala Madrasah Pondok Pesantren Lirboyo mengambil Gus Shon sebagai menantu. Kiai Habibullah Zaini merupakan salah satu cucu Mbah Manab atau KH Abdul Karim, pendiri Ponpes Lirboyo. Dari pernikahannya, Gus Shon memiliki empat anak.

Sebagai dzuriyah Ponpes Mambaul Hikam Matenan, Udanawu, Gus Shon melanjutkan perjuangan leluhurnya dengan menjadi pengasuh pesantren Mambaul Hikam. Di tengah kesibukannya memimpin sholawat nariyyah, Gus Shon tetap melaksanakan kebiasaanya mengajar santri.

Rasa tawadu’ yang tinggi kepada guru-gurunya, ia tetap rutin mengajar di Ponpes Lirboyo, yakni dua kali dalam seminggu.

“Nasihat para kiai, bahwa di mana pun, kapan pun serta apapun kesibukannya, tetap harus mengajar meski hanya mengajar alif ba ta”.

Gus Shon juga mendapat amanah sebagai wakil ketua Forum Bahsul Masaail Jawa Madura (FMPP) yang pemrakarsanya para alumni santri Lirboyo Kediri. Mengenai Sholawat Nariyyah Mustaghitsu Al Mughits, awalnya merupakan tradisi yang berlangsung di Pondok Pesantren Mambaul Hikam Matenan, Udanawu. Setiap malam Selasa, almarhum Kiai Zubaidi Abdul Ghofur, ayah Gus Shon mengamalkan wirid sholawat nariyyah bersama santri-santrinya.

Sepeninggal ayahnya, Gus Shon mencoba membawa amalan tersebut di lingkaran teman-teman dekatnya. Dalam perjalanannya ia mencoba membawa ke masyarakat umum, dan tidak menyangka jika mendapat respon bagus. Jumlah jamaah sholawat nariyyah dari hari ke hari terus bertambah, dan yang hadir selalu mencapai ribuan orang. Bahkan beberapa kali sholawat nariyyah tampil di luar negeri, seperti Hongkong dan Macau.

Gus Shon mengatakan, dirinya hanya mengajak masyarakat membaca dzikir dan sholawat bersama-sama. Ia merasa tidak memiliki keistimewaan apa-apa. Kalau ajakan berdzikir dan bersholawat tersebut mendapat respon bagus, Gus Shon sangat bersyukur.

“Alhamdulillah, responnya sangat bagus,” tutur Gus Shon dikutip dari berbagai sumber.

Penulis: Arif Kertonyono

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: