Bolehkah Kaum Perempuan Ziarah Kubur? Begini Penjelasan Gus Baha

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
gus baha
Gus Baha menyampaikan mauidloh hasanah pada Haul ke-33 Almaghfurlah KH Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta /Foto: Youtube-Krapyak TV

Setiap makhluk hidup yang ada di alam jagat raya ini akan mengalami apa yang disebut dengan kematian. Jika sudah tiba gilirannya ruh dicabut dari jasad, maka kematian itu tidak dapat ditolak, dimajukan dan dimundurkan.

Dalam QS Al-Anbiya: 35, Allah berfirman, “Setiap jiwa pasti akan merasakan mati.” Lalu kapan datangnya, di mana, dan dengan cara bagaimana kematian itu menghampiri adalah rahasia Allah. Hanya Allah yang mengetahui akhir dari kehidupan seseorang di dunia.

Betapa peristiwa kematian itu dapat menjadi pengingat bagi yang masih dikaruniai nikmat berupa kemampuan menghela napas kehidupan. Bahwa dunia ini hanya sebagai persinggahan sementara saja, dan kehidupan abadi adalah di alam akhirat. Ketika ajal menjemput, ruh seseorang itu tidak mengenal kematian melainkan hanya berpindah dunia. Terpisah dari jasad atau raga.

Selanjutnya, menjadi kewajiban bagi seorang muslim terhadap jenazah untuk memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkannya. Hukumnya fardhu kifayah. Dan, waktu pun terus berjalan. Lalu pada momen-momen tertentu orang-orang berdatangan ke makam untuk berziarah.

Dari para peziarah tersebut, selain ada para kaum Adam, juga didapati adanya para kaum Hawa. Dan, mengemukalah polemik boleh tidaknya perempuan melakukan ziarah kubur.

KH Ahmad Baha’uddin Nursalim atau lebih dikenal dan karib disapa Gus Baha, dalam kesempatan menyampaikan mauidloh hasanah pada Haul ke-33 Almaghfurlah KH Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta, sebagaimana diunggah dalam channel YouTube KRAPYAK TV, menjelaskan perkara ziarah kubur yang kerap dipersoalkan sebagian orang.

Gus Baha menjelaskan dengan menukil Kitab Hujjah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karangan KH Ali Maksum. Kitab tersebut, kata Gus Baha, ditulis KH Ali Maksum ketika terjadi polemik paham orang-orang yang menolak atau melarang ziarah.

“Apakah saya ini sudah gila menghalangi umat untuk bertemu Rasulullah Saw,” ujar KH Ali Maksum ditirukan Gus Baha.

Logika yang dibangun KH Ali Maksum sederhana. Orang yang melarang ziarah kubur sama saja dengan menahan pertemuan antara Kanjeng Nabi dengan umatnya.

Sayid Muhammad ketika mengarang Kitab Haulal Ihtifal bi Maulidir Rasul, mengatakan, “Jika Anda menyoal Maulid Nabi (kelahiran Nabi) itu sama saja dengan pertanyaan, kenapa Anda senang dengan Nabi?”.

Padahal seorang anak yang dari lahir belum jelas masa depannya, tetap disambut dengan gembira. Sementara Kanjeng Nabi yang sudah jelas lahir untuk menyelamatkan umat, kok dipertanyakan mengapa senang dengan Kanjeng Nabi.

“Jika Anda punya anak, lahir keriting, gendut, iku yo seneng padahal tidak jelas prospeknya. Lah ini kelahiran Kanjeng Nabi yang jelas menyelamatkan kita, kok dipertanyakan kenapa kamu senang dengan Kanjeng Nabi?,” Gus Baha memberikan gambaran.

Nah, Mbah Ali termasuk orang yang berpikir simpel. Kalau kamu menghalangi ziarah Kanjeng Nabi, bagaimana Anda punya pikiran wong kok ngalangi umate ketemu Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Gus Baha juga memberikan penjelasan tentang hadits La’ana Allahu zawwaratil kubur. Dalam hadits ini terdapat sighot mubalaghoh. Kata zawwarat artinya perempuan-perempuan yang sering ziarah, bukan sekadar pernah tetapi sering. Karena terlalu sering ziarah, akhirnya melupakan kewajiban-kewajiban sebagai istri. Inilah yang dilarang oleh Kanjeng Nabi.

Kalau semua peziarah perempuan itu haram, berarti tidak mungkin ada riwayat seperti ini, kata Mbah Maksum. Andaikan semua perempuan itu haram ziarah, Kanjeng Nabi tidak mungkin menjawab pertanyaan Sayyidah Aisyah.

Dalam sebuah riwayat, Sayyidah Aisyah bertanya apa yang perlu ia baca ketika ziarah. Pertanyaan tersebut dijawab oleh Kanjeng Nabi bahwa bacaan ketika ziarah adalah Assalamu’alaikum ahlad diyaril mukminin. Artinya Kanjeng Nabi membolehkan Sayyidah Aisyah ziarah, dan kita tahu Sayyidah Aisyah adalah seorang perempuan.

Gus Baha juga menjelaskan riwayat lain yang menyebutkan Kanjeng Nabi juga sering bertemu perempuan yang menunggui atau ziarah ke makam putranya, dan tidak mengingkarinya. Diriwayatkan pula bahwa Sayyidah Fatimah juga berziarah ke makam Sayyid Hamzah setiap Jumat.

Jadi, tegas Gus Baha seraya mencontohkan kaum perempuan seperti halnya Fatayat dan Muslimat, melakukan ziarah, itu ya ada dalilnya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: