Yahya Muhaimin Tutup Usia, Banjir Ungkapan Duka dari Para Tokoh

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Prof. Dr. Yahya A Muhaimin /Foto: gontornews.com

Untuk sekian kalinya Indonesia kembali kehilangan sosok ulama serta seorang tokoh panutan seluruh masyarakat yakni Yahya Muhaimin. Tokoh Muhammadiyah yang dikenal sebagai sosok intelektual muslim ini dinyatakan meninggal dunia pada tanggal 9 Februari 2022 sekira pukul 10.00 WIB di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Jawa Tengah.

Diketahui, Yahya Muhaimin tak lain merupakan anggota PP Muhammadiyah pada periode 2000-2005 serta pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada tahun 1999-2001.

Kabar duka atas meninggalnya Yahya Muhaimin ini begitu cepat tersebar ke telinga para tokoh di Indonesia yang notabene pernah mengenal dekat serta memiliki hubungan baik dengan almarhum. Ungkapan belasungkawa nampak membanjiri media sosial serta di berbagai pemberitaan, bahkan beberapa tokoh sempat mengenang beberapa aktivitas yang pernah dilakukan bersama almarhum.

Kabar duka tersebut disampaikan langsung oleh Sekjen Kemendikbudristek Suharti yang menjelaskan bahwa jenazah akan disemayamkan di Bumiayu. “Mohon doanya untuk Almarhum semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT,” ungkap Suharti dikutip dari Suara.com
Ungkapan Duka Cita dari Beberapa Tokoh

Ungkapan belasungkawa nampak disampaikan oleh Anies Baswedan Gubernur DKI Jakarta melalui postingan di akun media sosial Instagram-nya. pada postingannya tersebut, Anies mengunggah foto saat menghabiskan waktu bersama Alm. Yahya Muhaimin.

Didalam caption fotonya, orang nomor 1 di DKI Jakarta ini juga menceritakan kenangan yang pernah dilalui bersama Almarhum, mulai dari kenangan saat Anies disuruh menetap di rumah milik Almarhum hingga saat Anies berkesempatan mengunjungi Almarhum ke rumahnya yang berada di Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah.

Anies saat mengunjungi Yahya Muhaimin, di Bumiayu, Brebes, April 2021 /Foto: suaraislam.id

Saya sedang menulis makalah pagi itu, saat pak Yahya menelpon, meminta saya pindah dari apartemen dekat kampus University of Maryland ke rumah belaiu sebagai Atase Pendidikan di Washington DC. Beberapa kali beliau mengulang, sampai akhirnya saya pindah dan tinggal di lantai atas rumahnya di kawasan elit di Bethesda, Maryland,” ujar Anies di caption foto yang Ia unggah.

Selain itu, Ketua Umum PP Muhammdiyah Haedar Nashir turut menyampaikan bela sungkawa atas kepergian mantan Menteri Pendidikan itu. Ia mengatakan bahwa Almarhum adalah sosok intelektual teladan, guru serta tokoh yang rendah hati, mudah bergaul dan ramah menyapa kepada kader muda Muhammadiyah yang lain.

Masih kata Haedar Nashir, Almarhum Yahya Muhaimin merupakan sosok intelektual yang menunjukkan kata sejalan tindakan. Meski mempunyai pemikiran yang sangat kritis, tetapi Almarhum tetap rendah hati dan tak nampak aura arogansi dengan keilmuan mumpuni yang Almarhum miliki.

“Almarhum Prof. Yahya telah membangun pondasi baik bagi organisasi maupun untuk kajian akademis di Indonesia. Bahkan, sebagian besar karya-karyanya menjadi rujukan bagi para akademis. “Selamat jalan Pak Yahya Muhaimin, jejakmu adalah suluh kecendekiawanan yang autentik bagi kami. Semoga Almarhum khusnul khotimah, diterima amal ibadahnya, diampuni kesalahannya serta ditempatkan di jannatun na’im,” kata Haedar.

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Mahadjir Effendy juga ikut mengucapkan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya melalui akun media sosialnya. Pada postingannya tersebut, Muhaimin Effendy mengungkan bahwa Ia juga mengikuti takziah virtual untuk mengenang kebaikan dan keteladanan semasa hidup almarhum serta mendoakannya.

Turut berduka cita yang mendalam atas wafatnya Prof. Yahya Muhaimin (Menteri Pendidikan Nasional 1999-2001, pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Semoga Almarhum khusnul khotimah, diterima seluruh amal ibadahnya dan menjadi penghuni surga. Aamiin,” tulis Muhadjir Effendy.

Tak ketinggalan, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan juga mengaku saat kehilangan saat mendengar kabar meninggalnya Yahya Muhaimin. Ia mengaku, Almarhum Yahya Muhaimin merupakan sosok orangtua, senior, serta keluarga dekat PAN yang sering memberikan nasehat dan inspirasi-inspirasi. Kepergian Almarhum merupakan kehilangan yang meninggalkan kesedihan bagi seluruh keluarga besar PAN.

Zulkifli Hasan yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ini juga mengakui bahwa Almarhum merupakan sosok teladan yang mempunyai ilmu tinggi namun selalu menunjukkan akhlak yang mulia, rendah hati, selalu mengayomi dan membimbing.

Semoga prestasi dan teladan yang telah beliau contoh semasa hidup bisa kita ikuti, cita-citanya yang belum terwujud untuk bangsa dan negara bisa kita lanjutkan perjuangannya,” ujar Zulkifli.

Sementara, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie turut juga menyampaikan duka cita yang mendalam dan mendoakan yang terbaik untuk Almarhum. Meskipun tidak lama menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Jimly mengaku bahwa Almarhum pernah memberikan sumbangan di dunia ilmu politik yang cukup besar.

Sementara, mantan Duta Besar Indonesia untuk Kamboja Dr. Nazaruddin, MA hanya bisa terpaku saat mendengar kabar duka bahwa Yahya Muhaimin telah berpulang kepada sang Pencipta. Ia mengenang saat pertama kali diperkenalkan kepada Almarhum oleh KBRI Washington sebagai Deputy Chief if Mission (Wakil Ketua Besar) pada tahun 1997.

Beliau adalah tipikal orang Jawa yang halus dan sopan. Meskipun ilmunya tinggu namun low profile dan tidak arogan. Yahya Muhaimin adalah penulis andal. Bahkan, skripsinya yang berjudul “Perkembangan Militer dalam Politik di Indonesia 1945-1966” (1982) dinobatkan sebagai skripsi terbaik UGM. Buku itu juga dianggap buku legendaris dan sering dijadikan buku wajib,” ujar Nazaruddin.

Riwayat Kisah Yahya Muhaimin

Kiprah Prof. H. Yahya A Muhaimin yang lahir di Bumiayu pada tanggal 17 Mei 1943 ini sungguh luar biasa. Almarhum berhasil meraih gelar sarjananya pada tahun 1971 dari Universitas Gadjah Mada dan gelar doktor dari Massachusetts Institute of Technology pada tahun 1982. Sebelum diangkat menjadi menteri pada era Presiden Abdurrahman Wahid, Almarhum pernah menjabat sebagai dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Gajah Mada.

Selain itu, juga pernah menjabat sebagai Pengelola Program S2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM dari tahun 1982 hingga 1984, Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM tahun 1996 hingga 1999 serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Washington DC.

Tak hanya itu, Almarhum Prof. Yahya Muhaimin juga pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Azhar Indonesia tahun 2002 hingga tahun 2013 dan sebagai Rektor Universitas Peradaban Bumiayu dari tahun 2014 hingga sekarang.

Perlu diketahui bahwa Universitas Peradaban adalah Universitas yang Almarhum dirikan bersama Yayasan Tallumul Huda yang merupakan pengembangan dari STIE dan STKIP Islam Bumiayu yang didirikan pada tahun 2012.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: